Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kak Arlan! Kak Arlan, bangun!" Karin menepuk pipi Arlan pelan.
Arlan membuka matanya perlahan. Tatapannya berkabut, tidak fokus. "Karin..." suaranya serak, hampir seperti bisikan. "Kepalaku... berat."
Dia butuh pertolongan pertama! Obat penurun panas, kompres, dan cairan hangat! batin Karin.
Sebagai mantan mahasiswa kedokteran yang gagal karena pingsan melihat darah di semester dua, ia tahu persis apa yang harus dilakukan. Tapi ia tidak bisa melakukannya seperti perawat profesional. Jika ia tiba-tiba cekatan mengukur suhu dan memberi dosis obat yang tepat, Arlan akan tahu ia berpura-pura.
Harus pakai logika idiot! Logika idiot!
Karin berlari ke dapur. Ia mengabaikan kotak P3K. Ia mengambil panci, memasukkan jahe, madu, lemon, dan air, lalu merebusnya dengan api besar. Sambil menunggu, ia membuka freezer dan mengambil satu bungkus edamame beku.
Lima menit kemudian, Karin kembali ke ruang kerja dengan nampan berisi mangkuk sup jahe yang masih mengepul, handuk kecil, dan bungkus edamame beku.
"Kak Arlan!" panggil Karin, duduk di lantai dan menyandarkan kepala Arlan di pangkuannya. "Kamu kenapa? Kamu meleleh ya? Karena AC-nya 22 derajat tapi kamu panas? Jangan meleleh, Kak! Nanti kalau meleleh, kamu jadi air, terus aku minum, terus kamu hilang!"
Arlan mendengus pelan, meski wajahnya masih meringis kesakitan. "Karin... obat..."
"Obat itu buat robot, Kak! Kamu kan manusia, jadi kamu butuh makanan!" Karin menyodorkan mangkuk sup jahe itu. "Nih, minum Sup Naga Pembakar Lemak ini. Jahe sama lemonnya bakal bakar demam kamu dari dalam! Ayo, buka mulutnya, ahhh!"
Arlan terlalu lemah untuk berdebat. Ia membiarkan Karin menyuapinya. Sup jahe hangat itu meluncur turun, memberikan sedikit kelegaan di tenggorokannya yang sakit.
Setelah mangkuknya habis, Karin mengambil bungkus edamame beku. Ia membukanya, lalu langsung menempelkan beberapa butir edamame beku yang keras dan dingin ke dahi Arlan, tepat di atas kain handuk tipis.
"Mbak Marta biasanya pakai es batu," gumam Karin sambil merapikan edamame di dahi Arlan. "Tapi es batu itu membosankan. Kalau edamame, nanti pas demamnya turun, kita bisa makan edamenya. Hemat, kan? Dua dalam satu!"
Arlan menatap istrinya dari jarak dekat. Wajah Karin yang biasanya penuh dengan ekspresi konyol, kini terlihat sangat fokus dan... cemas. Tangan Karin yang memegang handuk di lehernya sedikit gemetar.
"Kau... cemas?" tanya Arlan pelan, suaranya masih serak.
Karin tersentak. Sial, ketahuan panik! "Nggak kok! Aku cuma takut kalau Kak Arlan meleleh, nanti aku nggak punya siapa-siapa buat beliin es krim. Terus aku harus kerja jadi tukang parkir!"
Arlan tidak tertawa. Ia perlahan mengangkat tangannya yang berat, lalu menggenggam pergelangan tangan Karin. Jari-jari Arlan panas, tapi genggaman itu cukup kuat untuk membuat Karin tidak bisa bergerak.
"Karin," bisik Arlan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Karin. Tidak ada tatapan dingin, tidak ada ejekan. Hanya ada Arlan yang rapuh dan sangat nyata. "Terima kasih."
Jantung Karin berhenti berdetak. Hah? Terima kasih? Untuk apa? Untuk sup naga dan edamame di dahi?!
"Kamu tidak perlu berpura-pura bodoh saat aku sakit," lanjut Arlan, suaranya nyaris tak terdengar di atas suara hujan di luar. "Tanganmu... terlalu hangat. Terlalu hati-hati. Orang yang benar-benar bodoh tidak akan tahu cara membuatkan sup jahe yang sempurna dengan takaran madu yang pas untuk meredakan demamku."
Napas Karin tercekat. Dia tahu. Dia sadar sepenuhnya. Topengku hancur. Aku diceraikan. Aku mati di jalanan.
"Tapi..." Arlan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang sangat tipis, sangat lelah, tapi sangat indah. "Jangan berhenti. Aku... lebih suka caramu yang bodoh. Karena saat kamu bersikap bodoh, aku merasa... tidak sendirian."
Mata Karin memanas. Air mata yang asli bukan air mata palsu untuk menghindari masalah? menggenang di pelupuk matanya. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di dada Arlan, berharap pria itu tidak melihat pipinya yang memerah.
"Aku... aku tetap bodoh kok, Kak," bisik Karin, suaranya bergetar. "Besok kalau Kak Arlan udah sembuh, aku bakal ngajarin Kak Arlan cara ngitung pakai jari kaki."
Arlan tertawa kecil, yang berujung pada batuk. "Baiklah. Tidurlah di sini. Temani aku."
Malam itu, Karin tidak kembali ke kamar. Ia tidur di atas karpet bulu di samping sofa Arlan, dengan edamame yang kini sudah tidak beku lagi dan akhirnya dimakan oleh Karin karena lapar.
***
Keesokan paginya, demam Arlan sudah turun. Pria itu duduk di meja makannya, tampak jauh lebih segar, meski masih sedikit pucat. Karin duduk di seberangnya, pura-pura menggambar pesawat dari serbet kertas.
Arlan menatap Karin lekat-lekat. "Karin."
"Iya, Kak?"
"Mulai hari ini, sahammu tidak akan diwakilkan suaranya olehku lagi. Kau akan belajar duduk di rapat direksi. Dan aku akan mengajarmu sendiri."
Karin menjatuhkan serbetnya. *Belajar rapat direksi?! CEO dingin mau ngajarin aku bisnis?! Ini bukan plot novel! Ini plot thriller di mana istri idiotnya bakal dibunuh sama direktur lain karena salah ngomong di rapat!*
"Tapi Kak Arlan... aku cuma tahu cara gambar pesawat dari serbet..."
"Besok kita mulai dengan cara membaca neraca keuangan menggunakan pesawat dari serbet," potong Arlan datar, meneguk kopinya. "Habiskan sarapanmu. Kita punya banyak pekerjaan."
Karin menatap piringnya dengan tatapan ngeri. Sistem, tolong restart. Aku rasa aku baru saja menandatangani vonis kematianku sendiri di meja rapat.
lanjut kn thor💪