NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Lingga 33.

Dua hari yang lalu, dunia Stella resmi berubah. Status baru itu tidak datang dengan kembang api atau musik latar yang dramatis, melainkan dengan tidurnya yang mendadak sangat nyenyak.

Namun tetap saja, saat alarm pukul lima pagi berbunyi, ada sengatan listrik kecil di dadanya. Stella tidak butuh waktu lama untuk berguling malas seperti biasanya. Ia langsung melompat dari kasur.

Pukul enam lewat lima belas menit. Stella sudah berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap pantulan dirinya yang mengenakan seragam putih abu-abu. Ia merapikan anak rambutnya untuk kelima kali.

'Gue lebay enggak, ya?' pikirnya. Cowok seperti Lingga bukan tipe orang yang akan mengomentari jepitan rambut baru atau wangi parfum yang berbeda. Lingga itu datar, misterius, dan irit bicara. Mengingat bagaimana cowok itu menyatakan perasaannya semalam dengan suara bergetar sudah merupakan keajaiban terbesar tahun ini.

Bunyi klakson motor yang khas—berat dan pendek—terdengar dari depan pagar rumahnya.

Tepat pukul enam lewat tiga puluh menit. Lingga tidak pernah terlambat, sebuah konsistensi yang selalu berhasil membuat Stella kagum.

Stella menyambar tas ranselnya, berpamitan singkat pada ibunya yang hanya membalas dengan senyuman penuh arti, lalu setengah berlari keluar.

Di sana, di balik pagar besi yang separuh terbuka, sebuah motor matic hitam besar sudah terparkir. Lingga duduk di atasnya.

Cowok itu mengenakan jaket denim kedodoran di atas seragam sekolahnya. Helmnya sudah terpasang, menyembunyikan sebagian wajahnya yang selalu terlihat tenang dan sulit ditebak.

Namun, mata Stella tidak langsung tertuju pada mata tajam di balik kaca helm itu. Pandangannya justru terpaku pada spion sebelah kiri motor Lingga.

Di sana, terselip sebatang bunga daisy kecil. Kelopaknya yang putih sedikit bergoyang tertiup angin pagi, kontras dengan warna hitam legam tangkai spion motor.

Bunga itu tidak dibungkus kertas kado mewah. Benar-benar hanya satu tangkai, tampak seperti baru dipetik dari pekarangan rumah.

Stella menghentikan langkahnya tepat di samping motor. Ia menunjuk bunga itu dengan dagunya, mencoba menahan senyum yang nyaris pecah. "Ini... apa sayang? Ya ampun"

Lingga berdeham kecil. Ia membuka kaca helmnya, menatap Stella datar, namun ada semburat merah tipis yang samar di area telinganya yang tidak tertutup helm.

"Daisy," jawab Lingga pendek. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Gue lihat di depan pagar rumah pas mau berangkat. Inget lo."

"Inget gue karena mirip bunga ini, atau karena apa?" goda Stella. Sisi defensifnya yang biasa mencair, berganti dengan keberanian baru yang muncul karena status mereka sekarang.

Lingga terdiam sesaat. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jalan raya, lalu kembali menatap Stella. "Karena kecil, ringkih, tapi tetep hidup mau sekeras apa pun anginnya. Kayak lo." Gombal ala si cowok pendiam.

Jawaban itu telak menghantam dada Stella. Tidak ada kata 'cantik' atau 'manis', tapi maknanya jauh lebih dalam. Lingga benar-benar memperhatikannya selama ini.

"Makasih sayang" bisik Stella jujur. Ia menjangkau bunga itu, mencabutnya pelan dari selipan spion, lalu menyelipkannya di antara saku seragamnya.

Lingga menyerahkan helm cadangan berwarna putih ke arah Stella. "Pake. Udah mau setengah tujuh. Nanti jalanan macet."

Interaksi itu berjalan sangat natural. Tidak ada adegan Lingga yang tiba-tiba memakaikan helm secara romantis seperti di drama televisi, tangan Lingga sedang menahan beban motornya yang berat, dan Stella bukan cewek manja yang tidak bisa mengklik pengait helm sendiri.

Realitas ini justru membuat Stella merasa nyaman. Lingga tetaplah Lingga yang efisien dan tidak bertingkah berlebihan.

Setelah memastikan helm Stella terpasang pas, Lingga memutar kunci kontak. Mesin motor menderu halus.

"Pegangan bee," ucap Lingga pelan sebelum menarik gas.

Stella sempat ragu selama dua detik. Biasanya, ia hanya memegang ujung besi belakang motor saat berboncengan dengan teman cowoknya.

Namun sekarang, ia memajukan tubuhnya sedikit, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lingga. Jemarinya bertumpu pada jaket denim cowok itu.

Stella bisa merasakan tubuh Lingga sempat menegang sedetik saat kulit mereka bersentuhan, sebelum akhirnya cowok itu mengembuskan napas panjang dan mulai melajukan motornya membelah jalanan pagi.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, tidak ada percakapan.

Angin pagi yang dingin menembus kain seragam, namun dada Stella terasa hangat karena bersandar pada punggung lebar di depannya.

Mereka tiba di parkiran sekolah sepuluh menit sebelum bel berbunyi.

Parkiran sudah mulai ramai oleh murid-murid lain. Begitu motor berhenti, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka. Semua orang di SMA Pancasila siapa Lingga—si penyendiri yang tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke radarnya.

Dan melihat Stella turun dari motornya jelas memicu kasak-kusuk instan.

Stella merasakan kecemasan lamanya mendadak naik ke permukaan. Ia benci menjadi pusat perhatian. Ia benci dinilai orang lain.

Lingga mematikan mesin motor, lalu melepas helmnya. Ia langsung menangkap perubahan ekspresi di wajah Stella yang mendadak kaku. Tanpa memedulikan bisikan-bisikan di sekitar mereka, Lingga melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka.

"Bee" panggil Lingga, Oh iya bee ini panggilan sayang lingga untuk Stella. Lingga memotong kecemasan yang mulai berputar di kepala gadis itu.

Stella mendongak.

Lingga tidak menggenggam tangannya di depan umum—dia tahu Stella akan semakin tidak nyaman jika menjadi tontonan. Sebaliknya, Lingga hanya berdiri tegap di depan Stella, menghalangi pandangan orang-orang dari arah koridor utama.

"Nanti istirahat kita ke kantin bareng bee, jangan pisah" Pinta Lingga datar namun tegas. Suaranya cukup keras untuk mengusir keraguan di hati Stella, sekaligus mempertegas batasan bagi siapa pun yang sedang berbisik.

Ketakutan Stella perlahan surut, digantikan oleh rasa aman yang kokoh.

Cowok misterius di depannya ini mungkin tidak pandai pamer kemesraan, tapi dia tahu persis cara melindungi dengan otaknya sendiri.

Stella tersenyum kecil, melepaskan helmnya lalu menyerahkannya pada Lingga. "Iya, okey sayang"

"Ayo, masuk bee"

Hari pertama ini tidak diisi dengan kejutan besar yang meledak-ledak. Semuanya berjalan tenang, nyata, dan apa adanya. Namun bagi Stella, justru dalam ketenangan itulah ia menemukan kepastian yang selama ini ia cari.

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!