Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Dibalik Senyuman Shinta
Langkah tongkat Eyang yang bergema pelan di sepanjang koridor lantai dua menandai berakhirnya malam bagi sang matriark. Begitu pintu kamar utama Eyang tertutup rapat dan perawat pribadinya berjaga di depan pintu, suasana di ruang keluarga lantai bawah yang tadinya hening seketika berubah pekat.
Arsyila masih berdiri di dekat sudut ruangan dengan wajah merah padam. Matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah yang meluap setelah dipermalukan habis-habisan di depan seluruh klan Wijaya. Rasa takut pada Rian dan gertakan pencabutan tunjangan membuat dadanya bergemuruh hebat.
Melihat situasi itu, Shinta—ibu tiri Rian—tersenyum tipis. Dengan langkah anggun yang tenang, wanita paruh baya berbusana mewah itu mendekati keponakannya. Ia mengisyaratkan pada kerabat lain untuk meninggalkan mereka, lalu merangkul bahu Arsyila lembut.
"Sudahlah, Syila... jangan menangis. Tidak ada gunanya meratapi ucapan Rian," bisik Shinta halus, mengarahkan Arsyila menuju area balkon samping yang lebih sepi.
"Tante Shinta! Aku tidak terima!" geram Arsyila dengan suara tertahan, jemarinya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. "Bagaimana bisa Rian mempermalukanku demi membela perempuan panti asuhan murahan itu? Dia bahkan mengancam akan mencabut posisi Papa!"
Shinta mengusap punggung Arsyila dengan raut wajah yang seolah-olah dipenuhi keprihatinan dan rasa empati. Namun, di balik manik matanya yang tajam, tertanam niat licik untuk memanfaatkan kemarahan gadis muda di hadapannya.
"Tante sangat paham perasaanmu, Nak," ujar Shinta dengan nada manis beracun. "Rian itu memang sudah dibutakan oleh perempuan itu. Kamu tahu sendiri, kan? Kirana itu datang dari latar belakang yang tidak jelas. Mana ada gadis panti biasa yang bisa memikat pria sekelas Rian Wijaya dalam waktu semalam jika tidak memakai cara-cara licik?"
Arsyila mendongak, matanya membelalak menatap Shinta. "Maksud Tante Shinta, dia memang pakai pelet atau jebakan?"
"Siapa yang tahu?" Shinta terkekeh pelan, melempar pandangan dingin ke arah jalanan malam. "Wanita dari kalangan bawah seperti dia pasti akan melakukan apa saja demi bisa merayap naik ke klan Wijaya. Dia mengincar harta, posisi, dan kekuasaan Rian. Dan yang paling berbahaya, dia berhasil mengambil hati Eyang."
Shinta memegang kedua bahu Arsyila, menatap lurus tepat ke dalam matanya untuk menyuntikkan kebencian yang lebih dalam.
"Kalau kita biarkan Kirana terus berada di samping Rian dan makin disayang Eyang, posisi keluargamu—bahkan posisi Tante—bisa tergeser sepenuhnya. Dia itu ancaman besar untuk kita semua, Syila."
Kata-kata Shinta meresap sempurna ke dalam benak Arsyila yang sedang terbakar emosi. Rasa malu yang ia rasakan tadi malam kini berubah menjadi dendam membara terhadap Kirana.
"Aku tidak akan biarkan perempuan itu tenang, Tante," desis Arsyila tajam, matanya menyipit penuh kedengkian. "Aku akan cari tahu siapa sebenarnya Kirana dan menjatuhkannya sampai dia diusir dari klan ini!"
Shinta tersenyum puas di balik remang lampu balkon. Benih ketidaksukaan telah tertanam sempurna, siap menjadi racun yang akan mengusik kehidupan Kirana di masa mendatang.
Matahari pagi bersinar terang menembus celah jendela kamar utama mansion Wijaya. Kirana telah rapi sejak pukul tujuh pagi, mengenakan kemeja putih bersih dengan tatanan rambut diikat rapi yang memancarkan aura kesegaran dan kecerdasan alaminya. Di atas meja belajar, laptop perak pemberian Rian telah menyala, menampilkan antarmuka aplikasi ruang pertemuan daring Google Meet yang siap memfasilitasi hari pertama kegiatan PKKMB.
Setelah memastikan koneksi internet berkecepatan tinggi berjalan mulus, Kirana mengeklik tautan utama dan bergabung ke dalam ruangan digital yang diisi oleh ratusan mahasiswa baru Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari universitas negeri ternama tersebut.
Di tempat lain, di dalam kamar mewahnya di kediaman klan Wijaya, Arsyila sedang duduk menyandar di atas ranjang dengan wajah dongkol. Dengan malas, ia membuka laptop mewahnya dan menekan tautan masuk ke acara pembukaan PKKMB yang sama. Sebagai anak dari keluarga berada yang terbiasa dimanjakan, Arsyila tidak terlalu peduli pada materi orientasi; ia hanya ingin memenuhi kewajiban kehadiran.
Namun, saat layar monitor menampilkan deretan grid dari puluhan kamera mahasiswa baru yang aktif, jemari Arsyila yang menelusuri papan ketik mendadak terhenti seketika.
Mata Arsyila membelalak lebar. Ia mendekatkan wajahnya ke layar laptop, mengamati salah satu kotak tampilan video di sudut tengah layar.
Di sana, di antara ratusan wajah mahasiswa baru yang penuh antusiasme, tampak sosok Kirana yang duduk anggun di depan latar belakang dinding kamar yang elegan. Wajah cantiknya tampak polos tanpa riasan tebal, namun memancarkan keanggunan alami yang sangat menonjol. Nama akun yang tertera di bawah videonya tertulis jelas: Kirana.
Dunia memang terasa begitu sempit.
"Tidak mungkin..." desis Arsyila dengan napas tertahan, suaranya dipenuhi keterkejutan sekaligus rasa tidak percaya yang membuncah. "Perempuan ini... satu fakultas denganku?!"
Rasa amarah dan dendam yang disuntikkan oleh Shinta semalam seketika berkobar kembali di dalam dada Arsyila. Mangkuk kebenciannya kini menemukan wadahnya. Mengetahui bahwa gadis panti yang sangat ia benci itu berada di fakultas yang sama dan angkatan yang sama dengannya, Arsyila tersenyum sinis dengan sorot mata penuh intrik.
Di layar kaca yang dingin itu, sebuah persaingan dan benih ancaman baru di lingkungan kampus resmi membayang-bayangi langkah awal Kirana.