Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cakra Sudah Keterlaluan
Cakra mendorong sebotol alkohol ke depan Naura.
Melihat itu, Naura mengerutkan dahinya, "Apa maksudnya ini?" tanyanya.
"Minum," jawab Cakra mantap.
"Tidak!" Naura tidak habis pikir, apa yang ada di benak pria itu.
"Kalau aku bilang minum, ya minum!"
"Tidak! Aku tidak mau, dan jangan paksa aku. Aku mau pulang," lalu berdiri dengan cepat dari kursinya.
Lagi-lagi Cakra menarik pergelangan tangannya untuk memaksa Naura kembali duduk.
Cakra tiba-tiba berdiri dan berbicara yang menarik perhatian beberapa teman-temannya.
"Hei, lihat sini. Wanita ini bilang dia mau meminumnya," ucap Cakra, mengangkat sebotol alkohol ditangannya memperlihatkan pada teman-temannya yang langsung bersorak girang.
"Benarkah? Wow, aku tidak menyangka wanita bercadar bisa minum juga!"
"Iya?"
Naura menoleh pada Cakra, dengan tatapan murka.
"Aku tidak mau! Aku mau pulang. Kalau kalian masih mau tinggal, tinggal saja!"
"Ayolah, Naura, jangan sok suci," ujar Nada ikut menimpali.
"Aku bukan sok suci, tapi aku memang tidak mau! Aku mau pulang, titik!" tegas Naura.
Salah satu teman Cakra tertawa sinis.
"Kalau kau tidak mau minum, bagaimana kalau semua minuman ini dimandikan aja ke kepalamu? Gimana, teman-teman?"
"Iya, benar!"
"Minum! Minum! Minum!" Mereka semua mulai berteriak-teriak, kompak mendesak Naura.
Naura tahu Cakra akan semakin menggila, dan ia harus segera menghentikan semua kegilaan itu.
"Aku mau pulang!"
"Baiklah, kalau kau bilang tidak mau. Maka sesuai taruhan tadi, maka semua minuman ini akan dituangkan ke kepalamu," ucap Nada sembari meraih sebotol alkohol di atas meja siap ingin menumpahkan di kepala Naura.
Belum sempat Nada menyiramkannya, Cakra dengan gerakan cepat merebut botol itu dari tangan Nada.
Lalu dengan tatapan tanpa belas kasihan, Cakra sendiri yang menuangkan sebotol penuh cairan beralkohol itu langsung ke atas kepala Naura yang dibungkus hijab, hingga tandas.
Buk!
Pukulan mendarat di wajah Cakra dengan keras!
Bar yang tadinya riuh, tiba-tiba berubah menjadi senyap. Musik yang menghentak mendadak seperti mati di telinga orang-orang terpaku melihat kejadian itu.
Cakra terhuyung ke belakang, tangannya refleks memegangi pipinya. Ia mendongak dengan rahang mengeras, tapi dia justru melihat Anggara berdiri di sana, menatapnya. Karena kali ini Cakra benar-benar sudah keterlaluan.
Alih-alih takut, Cakra justru tersenyum miring, menantang kemarahan sang kakak yang entah dari mana tiba-tiba muncul di bar tersebut. Padahal pria itu sangat membenci tempat seperti itu.
"Kenapa? Bagaimana rasanya? Sakit?" Tersenyum meremehkan.
"Udah mulai rasa sakitnya? Saat wanita yang kita cintai dipermainkan?" lanjut Cakra, sengaja melemparkan kalimat tersebut untuk mengingatkan Anggara.
Anggara bergeming. Tatapannya sama sekali tidak goyah. Dia tak ingin meladeni ucapan adiknya, beralih menoleh pada Naura yang berdiri kaku, basah oleh alkohol.
Sorot mata wanita itu menatap Anggara dengan sorot mata kebencian.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Anggara meraih pergelangan tangan Naura dan menarik wanita itu melangkah pergi meninggalkan bar.
Cakra menatap punggung mereka dengan senyum yang terukir di bibirnya, tapi berbanding terbalik dengan hatinya yang terbakar.
Anggara terus menarik Naura keluar hingga menjauhi dari keramaian.
Setibanya di luar parkir bar.
Plak!
Tamparan keras mendarat telak di rahang tegas pria itu.
"Semua ini gara-gara kamu! Hidup aku jadi begini gara-gara kamu! Kalian berdua bersaudara, sama saja! Menjadikan aku panggung sandiwara kalian!" air mata Naura tumpah, merasa terhina, dan di injak-injak oleh kedua bersaudara itu.
Mendapat tamparan dari Naura, reaksi Anggara hanya diam membisu sembari menatap gadis itu tanpa berniat untuk membalas.
Usai memaki, Naura bergegas pergi meninggalkan Anggara, juga memutuskan pulang. Tapi dia tidak pulang kerumah suaminya, melainkan ke rumah sang Kakek.
_______
Tok, tok, tok!
Kakek Rama yang mendengar ketukan mendesak di malam hari langsung membuka pintu. Namun, saat pintu terbuka, bau alkohol yang menyengat langsung tercium dari tubuh cucu kesayangannya itu.
"Naura? Kamu kenapa, Cu?" Tanya Kakek Rama khawatir melihat kondisi cucunya.
Bugh!
Tak menjawab, Naura langsung memeluk Kakek Rama dengan tangis pecah.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls