Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Gerbang Sunyi
WUSSSHHH!
Cahaya merah menyambar dari balik helm Penjaga Kuno Berzirah Hitam.
Lu Mingseng bahkan tidak sempat melihat gerakan pedang lawannya secara utuh. Ia hanya merasakan hawa dingin membekukan melintas di depan dadanya, disusul rasa perih yang menjalar dari bahu hingga pinggang.
Darah menyerap cepat ke dalam jubah hitamnya.
Sebuah luka panjang kembali menganga di tubuh Mingseng.
"Kecepatannya meningkat lagi!" seru Gao Renshan dengan wajah pucat pasi.
Penjaga itu berdiri tegap di tengah formasi, pedang pendar merahnya terangkat lurus. Tubuh zirah hitamnya tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan sedikit pun. Sebaliknya, pendar cahaya di balik celah helmnya kian terang membara, seolah-olah percikan darah Mingseng baru saja membakar bangkitnya sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun.
Pintu batu raksasa di belakang mereka telah terkunci rapat tanpa celah.
Di permukaannya, terukir barisan piktogram kuno yang berpendar:
UJIAN PERTAMA DIMULAI.
MEREKA YANG TIDAK MEMAHAMI ATURAN AKAN MENJADI KORBAN.
Seorang kultivator kurus yang tersisa di dekat Gao Renshan menelan ludah dengan tenggorokan kering. "Pemimpin Gao, kita tidak bisa menghindar terus! Kita harus menghancurkannya bersama-sama atau kita membusuk di sini!"
Gao Renshan menggertakkan gigi, kemarahannya membakar rasa takutnya. "Benar! Semua orang, serang bersama!"
Dua pendekar pedang tersisa langsung mengerahkan seluruh Qi mereka. Dua tebasan cahaya spiritual meledak, menghantam zirah hitam dari dua sudut berbeda.
Pada saat yang sama, kultivator kurus melemparkan kompas spiritualnya ke udara. Jarumnya berputar liar sebelum memancarkan pendar jaring kuning yang mengikat kedua kaki Penjaga Kuno.
Untuk sepersekian detik, gerakan monster berzirah hitam itu tampak tertahan.
"Sekarang!" teriak Gao Renshan melesat cepat, mengayunkan pedang besarnya lurus ke leher sang penjaga.
KLANG!
Dentuman logam mengguncang seluruh aula batu.
Pedang Gao Renshan terhenti tepat satu inci dari leher zirah hitam—ditahan murni oleh satu cengkeraman telapak tangan kosong Penjaga Kuno!
Mata Gao Renshan membelalak lebar. "Apa...?!"
Penjaga Kuno memiringkan helmnya sedikit, lalu mengayunkan tangan kirinya dengan kecepatan tak masuk akal.
BUUM!
Gao Renshan terlempar bagaikan batu yang ditembakkan katapel raksasa! Tubuhnya menghantam pilar batu, memuntahkan seteguk darah segar sebelum roboh berlutut.
Dua pendekar pedang berusaha melompat mundur, namun bilah pedang merah Penjaga Kuno berkelebat dua kali dalam satu tarikan napas.
SLAASSH!
Seorang pendekar terlempar menghantam dinding dengan dada hancur, sementara pendekar lainnya mendapati pedangnya terpotong bersih menjadi dua bagian!
Kultivator kurus yang memegang kompas gemetar hebat. "M-monster... Ini bukan sesuatu yang bisa dipotong pedang biasa!"
Penjaga Kuno berpaling padanya. Pendar merah di balik helmnya berdenyut dingin.
WUSSH!
Sosok berzirah hitam itu mendadak lenyap dari tempatnya berdiri. Sesaat kemudian, kultivator kurus itu telah terlempar tinggi ke udara sebelum jatuh terhempas dengan kompas hancur berkeping-keping.
Hanya dalam hitungan belasan tarikan napas, kelompok Serigala Besi pimpinan Gao Renshan telah dilumpuhkan total.
***
Lu Mingseng menarik napas perlahan, menata detak jantungnya.
Kalau aku terus menghadapinya dengan adu kekuatan kasar... aku hanya akan menambah daftar mayat di tempat ini.
Mingseng merendahkan kuda-kudanya. Teknik Tubuh Naga Darah bergejolak di dalam jaringan ototnya, memadatkan kepadatan tulangnya. Namun, ia tidak terburu-buru melancarkan serangan balasan.
Matanya yang tajam di balik topeng hitam menelusuri secara mendalam: lantai batu, pilar, ukiran dinding, serta alur pendar merah yang berkedip di bawah kaki Penjaga Kuno.
Ada yang tidak biasa.
Setiap kali Penjaga Kuno hendak bergerak melancarkan tebasan, alur benang merah di lantai batu akan berkedip dalam irama teratur:
Satu kedipan sebelum ia bergeser.
Dua kedipan saat ia mengubah tumpuan.
Tiga kedipan saat tebasan mematikan dilepaskan.
Mingseng menyipitkan matanya. Formasi lantai inilah yang mendikte dan menyuplai setiap gerakannya!
'Mingseng! Menghindar!' seru Kaisar Abadi memecah fokusnya.
Mingseng membungkuk secepat kilat!
WUSH!
Sabetan pedang merah melintas hanya sebaris rambut di atas topengnya, memotong beberapa helai rambutnya dan membelah pilar batu di belakangnya hingga hancur berkeping-keping.
Mingseng berguling efisien, lalu melompat jauh ke sisi kanan.
BAM!
Lantai tempatnya berdiri sebelumnya hancur menyemburkan serpihan batu.
'Jangan coba-coba menahan tebasannya secara langsung,' pangkas penjaga Balai Penempaan Darah. 'Fisikmu memang makin padat, tapi zirah itu disokong sumber energi yang tak terbatas.'
'Lalu apa kuncinya, Guru?'
'Pahami alasan mengapa ia menyerang!'
Jawaban sang penjaga balai membuat Mingseng tertegun sejenak.
Mengapa ia menyerang?
Mingseng kembali mengamati interaksi Penjaga Kuno. Monster itu tidak menyerang secara acak. Setiap kali ada kultivator yang mengerahkan Qi berlebih atau memancarkan niat membunuh yang pekat, pendar merah di helmnya akan langsung mengunci target tersebut.
Namun ketika Mingseng hanya bergerak pasif menahan napas dan menekan fluktuasi energinya, tempo gerakan Penjaga Kuno terdeteksi sedikit melambat!
"Gao Renshan!" teriak Mingseng pada pimpinan penjelajah yang merangkak di dekat pilar. "Tahan Qi-mu! Jangan memicu reaksi formasinya!"
Gao Renshan meringis menahan sakit. "Bocah bertopeng! Kau pikir kau siapa mengaturku?!"
"Kalau kau ingin membusuk di sini, silakan serang lagi!" balas Mingseng dingin.
Mingseng melirik ke arah jubin batu di bawah kaki Gao Renshan. Garis merah di sana berkedip tiga kali secara intens!
"Jangan bergerak!" seru Mingseng.
Terlambat. Gao Renshan menggeser kaki kanannya untuk bangkit.
Syuuuung!
Penjaga Kuno seketika berbalik, pedang merahnya terangkat siap membelah Gao Renshan menjadi dua!
Mingseng tidak tinggal diam. Dengan dorongan Tubuh Naga Darah, ia melesat dari samping, menghantam bahu Gao Renshan dan mendorongnya keluar dari garis merah!
DUARR!
Pedang Penjaga Kuno menghantam tanah yang baru saja ditinggal Gao Renshan, membelah jubin batu menjadi parit dalam.
Gao Renshan terbaring di tanah dengan napas memburu, menatap Mingseng tak percaya. "Kau... menyelamatkanku?"
"Jangan salah paham," kata Mingseng datar sambil merapikan jubahnya. "Aku hanya tidak ingin korban bodoh menambah kekacauan sebelum aku memecahkan pola tempat ini."
Mingseng kembali memusatkan perhatiannya pada pola jubin di lantai.
Lantai aula ini terbagi menjadi puluhan alur benang energi. Ada jalur yang berpendar membara, dan ada alur tipis yang tetap gelap. Setiap kali seseorang menginjak jalur yang menyala, Penjaga Kuno akan mendapatkan akselerasi kecepatan instan untuk membantai sasaran.
Namun, alur pendar itu berpindah siklus setiap beberapa tarikan napas!
Mingseng menghitung iramanya di dalam hati:
Satu... Dua... Tiga...
Pada hitungan ketiga, alur benang di dekat pilar kiri mendadak gelap total selama dua detik.
Mingseng melangkah cepat menapakkan kakinya di atas jalur gelap tersebut.
Penjaga Kuno tidak bereaksi!
Mingseng melangkah lagi menyusuri garis gelap berikutnya.
Tetap tidak ada serangan!
Mata Mingseng berkilat tajam di balik topengnya. Berhasil! Ada jalur aman yang tak terjangkau oleh sensor formasinya!
Namun sebelum Mingseng sempat memandu yang lain, suara mekanis yang teramat dingin bergema dari balik helm zirah hitam Penjaga Kuno:
"Pengamatan yang cermat, Pemuda Bertopeng..."
Penjaga itu perlahan mengangkat kepalanya.
"Namun memahami satu alur dasar... bukan berarti kau telah lulus ujian."
***
Syuuung!
Pendar merah di balik helm Penjaga Kuno mendadak berubah menjadi hitam pekat!
Seketika itu juga, seluruh garis pendar di lantai padam total. Ruang aula bundar itu tenggelam dalam kegelapan yang mencekam.
DUM!
Sebuah gelombang kejut spiritual yang sangat dingin menyapu seluruh ruangan.
Mendadak, bayangan semua orang di atas tanah lepas dan berdiri sendiri!
Bayangan Gao Renshan berdiri tegap memegang pedang bayangan, meski tubuh aslinya masih tergeletak terluka. Bayangan pengawal yang tersisa mengangkat senjata.
Dan tepat di hadapan Mingseng, bayangannya sendiri perlahan berdiri dan menoleh padanya.
Mingseng membeku. Bayangan itu tidak memiliki raut wajah yang jelas, namun di bagian dadanya terdapat satu titik pendar merah yang pekat.
Titik merah itu berada di posisi meridian yang sama sekali tak terdeteksi oleh pindaian Kaisar Abadi maupun dua guru lainnya!
'Mustahil...' bisik Kaisar Abadi di jiwa Mingseng dengan nada berguncang hebat. 'Formasi ini... memperlihatkan proyeksi struktur batin yang tak sanggup kami jangkau!'
Wanita misterius berbisik lirih penuh peringatan: "Jangan percaya pada apa yang tampak di balik bayangan, Mingseng... Di tempat terlarang seperti ini, bayangan kerap kali menyimpan kedengkian masa lalu."
Bayangan Mingseng melangkah maju, menghalangi jalannya. Suara gaib bergema dari segala penjuru ruangan:
"UJIAN PERTAMA BUKANLAH ADU KEKUATAN."
"PILIHLAH... SIAPA YANG AKAN KAU SELAMATKAN SAAT HANYA ADA SATU JALAN KELUAR?"
KRAAAK!
Dinding sebelah kanan membelah, menampilkan sebuah lorong sempit yang dipenuhi pendar cahaya putih yang menenangkan.
Sementara di sisi kiri, sebuah pintu hitam raksasa terbuka pelan, memancarkan ratapan histeris jutaan jiwa yang terperangkap.
Di saat yang sama, bayangan Gao Renshan mencengkeram leher Gao Renshan yang asli, menyeretnya perlahan menuju lubang kematian!
"Aaargh! Tolong aku! Mingseng!" jerit Gao Renshan histeris.
Mingseng hendak melangkah menolong, namun bayangan hitamnya sendiri bergerak cepat menghadang setiap sudut langkahnya dengan gerakan yang identik!
Bayangan tanpa wajah itu tiba-tiba mengukir senyuman mengerikan di kegelapan, berbisik langsung ke dalam kesadaran Mingseng:
"Pemilik jejak... Jika kau ingin menyelamatkan jiwa lain, buktikan dahulu bahwa kau mengenali jati dirimu sendiri..."
Mingseng mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia tidak panik. Ia memejamkan matanya, mengabaikan teriakan Gao Renshan dan bisikan gaib di sekitarnya.
Ia mendengarkan ritme alam batinnya sendiri.
Denyut pertama... Denyut kedua... Denyut ketiga...
Tepat pada denyut ketiga, Mingseng menangkap gema gesekan mekanisme kuno di bawah tanah—sebuah jeda sirkulasi mikro selama sepersekian detik!
Mingseng membuka matanya lebar-lebar. Tanpa keraguan sedikit pun, ia melangkah menerobos lurus menembus bayangannya sendiri!
Syuuung!
Bayangan hitam itu bergetar hebat, hancur berkeping-keping menjadi asap hitam karena tidak memperkirakan ketetapan hati Mingseng!
Pada saat yang sama, cakram kelabu di balik jubah Mingseng memancar panas. Tablet hitam warisan Balai Penempaan Darah mengukir sebaris tulisan merah membara:
JEJAK PERTAMA: RESPONS TERDETEKSI.
IDENTITAS PEMILIK: BELUM DAPAT DITENTUKAN.
UJIAN KEDUA: AKSES DITOLAK.
BOOOM!
Mendadak, seluruh aula bundar itu berguncang dahsyat!
Pintu hitam di sisi kiri terbuka lebar secara mandiri! Di balik pintu itu, tidak ada lorong batu atau ruangan... melainkan hamparan pemandangan langit berbintang yang terbalik, dengan sebuah kota kuno raksasa yang menggantung di kejauhan!
Di pusat kota kuno yang menggantung itu, berdiri sebuah menara hitam raksasa.
Di puncak menara tersebut, sebuah mata merah raksasa perlahan-lahan terbuka, memancarkan tatapan dari masa lampau yang menembus batas dimensi dan waktu, menatap lurus ke arah tempat Mingseng berdiri!
KRAK!
Penjaga Kuno Berzirah Hitam yang tadi begitu perkasa, seketika jatuh berlutut menghadap ke arah pintu hitam tersebut!
Gao Renshan dan pengawalnya gemetar kaku di atas tanah, tak sanggup menggerakkan satu jari pun di bawah tekanan aura gaib yang teramat masif.
Bahkan ketiga guru kuno di dalam jiwa Mingseng terdiam dalam keheningan total. Mereka tidak mengenali kota menggantung itu, tidak mengenali menara hitam itu, dan tidak tahu wujud apa yang sanggup membuat Penjaga Kuno berlutut!
Cakram kelabu di dada Mingseng kian membara panas. Tiga titik merah di permukaannya menyala terang, membentuk garis setengah lingkaran baru.
Tablet hitam warisan melepaskan barisan kalimat terakhir yang menggetarkan batin Lu Mingseng:
JEJAK PERTAMA TELAH MEMBUKA JALAN.
JANGAN BIARKAN IA MENEMUKANMU!
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳