Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH TIGA
"Sssstttt... Sakit..."
Amara mendesis kesakitan saat kucuran air dingin dari keran wastafel membasahi punggung tangan kanannya yang memerah. Rasa panas menyerang permukaan kulitnya yang iritasi karena percikan cairan asam, namun perih di tangannya sama sekali tak sebanding dengan rasa sesak yang menggumpal erat di dadanya.
Amara menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, memejamkan mata erat-erat demi menahan bulir air mata agar tidak menetes. Ia berulang kali menarik napas panjang, berusaha keras menenangkan dadanya yang kembang kempis ditumpangi emosi. Teguran kaku Zain di depan seluruh mahasiswa laboratorium tadi masih bergema nyaring, menghancurkan harga dirinya hingga berkeping-keping.
"Amara?"
Sebuah suara hangat menyapa dari arah samping. Amara terkejut, berburu-buru mematikan keran dan mengusap wajahnya yang merona. Ketika ia menoleh, sosok Bayu berdiri di sana dengan raut wajah kaget sekaligus khawatir.
"Kak Bayu?" cicit Amara parau.
Bayu melangkah mendekat, matanya langsung tertuju pada punggung tangan Amara yang memerah basah. "Tanganmu kenapa, Mara? Kenapa memerah begitu?"
"A-aku... tidak apa-apa, Kak," sahut Amara, berusaha menyembunyikan tangannya di balik lipatan kemeja. "Tadi cuma tidak sengaja tertumpah sedikit cairan asam saat praktikum di laboratorium."
"Tertumpah cairan asam kamu bilang tidak apa-apa?" potong Bayu dengan nada cemas yang teramat jujur. Pemuda itu tanpa ragu menyambar pergelangan tangan Amara dengan sangat pelan dan hati-hati. "Ini bisa iritasi parah kalau cuma dibasuh air. Sekretariat BEM kan dekat dari sini, di sana ada salep khusus luka bakar. Ayo ke sana sebentar."
"Tapi, Kak—"
"Tidak ada tapi-tapi, Amara. Kulitmu bisa melepuh dan sangat sakit kalau dibiarkan," tegas Bayu lembut namun tak membantah, menggiring Amara melangkah keluar menuju ruang sekretariat BEM yang berada di lantai dasar gedung utama.
Suasana ruangan sekretariat BEM sedang lengang. Bayu mendudukkan Amara di atas sofa kain, lalu bergegas mengambil kotak P3K dari atas lemari kayu. Pemuda itu mengambil tabung salep khusus luka bakar dan kapas steril, lalu duduk di kursi kecil tepat di hadapan Amara.
"Tahan sedikit ya, agak dingin. Kalau perih atau sakit bilang ya," bisik Bayu penuh kehati-hatian.
Dengan telaten dan perlahan, jemari Bayu mengoleskan salep putih itu di atas punggung tangan Amara yang membengkak kemerahan. Sentuhannya sangat lembut, seolah-olah Amara adalah barang porselen berharga yang gampang retak jika ditekan terlalu keras.
Amara meringis tipis, namun rasa perih itu perlahan melumer berganti sensasi sejuk yang menenangkan.
"Nih, minum dulu," kata Bayu seusai menutup kembali kotak P3K. Ia mengangsurkan botol air mineral dan beberapa lembar tisu bersih ke atas pangkuan Amara. Bayu menatap manik mata Amara yang berkaca-kaca dengan pandangan amat teduh. "Kalau mau menangis, menangis saja, Mara. Jangan ditahan sendirian. Tempat ini sepi kok."
Pertahanan Amara yang rapuh mendadak terguncang oleh kehangatan ucapan itu. Satu bulir air mata akhirnya lolos menelusuri pipinya. Amara buru-buru menyekanya dengan tisu, menundukkan kepala dalam-dalam.
"Maaf ya, Kak Bayu... aku malah jadi cengeng begini," bisik Amara seraya mengukir senyum sumbing.
Bayu tersenyum hangat. Tanpa sadar, tangannya terulur mengelus pelan puncak kepala Amara, memberikan rasa nyaman dan dorongan semangat yang tulus. "Tidak perlu minta maaf. Menangis itu manusiawi, Mara. Bukan tanda kalau kamu lemah."
Amara mengangguk pelan, berusaha menenangkan napasnya yang masih sesenggukan. Guna mengalihkan kecanggungannya, Amara memberanikan diri menatap Bayu. "Ngomong-ngomong... Kak Bayu kok bisa jalan-jalan di koridor jam segini? Memangnya tidak ada jadwal kuliah?"
Bayu terkekeh tipis, menarik tangannya dari kepala Amara lalu bersandar santai di kursinya. "Di jurusan Hukum, jadwal kelas tatap muka tidak sepadat di Farmasi atau Kedokteran, Mara. Kami jarang sekali ada pertemuan penuh di kelas. Lebih banyak riset mandiri, menyusun makalah, atau menganalisis kasus-kasus hukum di perpustakaan dan lapangan."
"Oh... begitu ya," sahut Amara manggut-manggut polos. "Pantas saja Kak Bayu sering kelihatan di sekretariat BEM."
"Iya, makanya jadwalku agak luang," balur Bayu seraya tersenyum ramah. "Yang penting tanganmu itu diobati dulu sampai membaik."
Sementara itu, di Laboratorium Toksikologi, suasana perkuliahan telah berakhir sepuluh menit yang lalu. Seluruh mahasiswa dan asisten laboratorium sudah berhamburan keluar ruangan.
Namun, Profesor Kaellan Zain Alfatih masih berdiri mematung di tengah ruangan yang mulai sepi. Wajahnya yang biasanya kaku dan tak tersentuh kini dipenuhi oleh kecemasan yang luar biasa dahsyat. Napasnya memburu kasar, dan jemari tegapnya mengepal kencang di samping tubuhnya.
Amara tidak kembali lagi ke laboratorium hingga praktikum usai.
Zain berusaha mati-matian mempertahankan topeng ketenangannya di depan para mahasiswa, namun di dalam jiwanya, badai kepanikan sedang mengamuk hebat. Pria itu menyambar ponselnya dari dalam saku jas laboratorium, lalu memanggil sebuah nomor dengan tombol cepat.
"Jaya!" tegur Zain begitu sambungan terhubung, suaranya terdengar amat tegap namun bergetar oleh kegelisahan yang tertahan.
"Ya, Profesor Zain? Ada apa?" sahut Jaya dari seberang telepon.
"Cari Amara sekarang juga di seluruh area kampus," perintah Zain tanpa jeda basa-basi. "Tangannya terkena percikan cairan asam saat praktikum tadi dan dia berlari keluar dari laboratorium. Pastikan di mana dia berada sekarang!"
"Baik, Profesor! Saya akan keliling seluruh lorong dan area taman sekarang juga!" jawab Jaya sigap sebelum memutus panggilan.
Zain menghembuskan napas berat, meremas ponsel di tangannya. Rasa penyesalan yang membakar jiwa merayapi dadanya. Mengapa lidahnya yang kaku itu selalu saja melontarkan kata-kata pedas saat sebenarnya ia ingin merengkuh dan melindungi istrinya.
Zain memutar tubuhnya, berniat melangkah cepat menuju area taman belakang tempat Amara biasa menenangkan diri. Namun, baru saja ia keluar menerobos pintu koridor utama, sosok wanita berpakaian rapi dengan senyum merekah mendadak menghadang jalan langkahnya.
Bu Silvia.
"Profesor Zain!" sapa Silvia dengan nada suara gembira yang dibuat seramah mungkin, melangkah tepat di depan Zain hingga memotong jalur jalannya.
Zain menghentikan langkahnya secara mendadak, merapikan letak kacamatanya dengan kerutan dahi yang makin dalam. "Ada apa, Bu Silvia? Saya sedang ada urusan terdesak."
Silvia tersenyum manis, membetulkan letak tatanan rambutnya. "Aduh, Profesor Zain sampai lupa ya? Hari ini kan jadwal rapat bulanan seluruh staf pengajar dan pimpinan fakultas! Rapatnya akan dimulai sepuluh menit lagi di ruang rapat rektorat lantai tiga."
Zain mengepalkan tangannya di balik saku jas. "Saya bisa menyusul nanti. Ada hal penting yang harus saya selesaikan sekarang."
"Tidak bisa begitu, Profesor," potong Silvia cepat dengan gestur penuh perhatian yang sengaja dibuat-buat. "Rapat hari ini membahas evaluasi anggaran dan akreditasi penting. Bapak Dekan sendiri yang meminta agar seluruh senat hadir tepat waktu sebelum jam makan siang. Lagipula, dokumen yang kemarin Profesor tanda tangani sudah saya siapkan di meja rapat."
Silvia menatap wajah tampan Zain dengan binar mata yang sarat akan obsesi tersembunyi. Bagi Silvia, rapat bulanan hari ini adalah kesempatan emas yang sangat langka untuk bisa duduk berdekatan dan mencuri perhatian sang profesor dingin yang selama ini sangat sulit untuk digapai. Ia tidak akan membiarkan kesempatan ini menguap begitu saja.
Zain menatap Silvia dengan pandangan mata yang begitu dingin dan menusuk, seolah-olah wanita di hadapannya ini adalah penghalang terbesar dalam hidupnya saat ini. Namun, sebagai seorang profesional dan pejabat senior akademis di universitas tersebut, Zain tidak bisa mengabaikan kewajiban rapat rektorat tanpa alasan yang sah.
Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat sejenak, menahan gemuruh kepanikan di dalam dadanya. Di dalam kedalaman benaknya yang kacau, gema jeritan batin Kaellan Zain Alfatih meraung-raung frustrasi menembus batas kesabarannya.
’Sialan! Kenapa rapat bodoh ini harus diadakan sekarang juga? Istriku sedang terluka dan menderita sendirian di luar sana, sementara aku harus terjebak mendengarkan perdebatan anggaran bersama wanita menyebalkan ini? Tuhan... Tolong lindungi Amara sampai aku bisa merengkuhnya kembali!’