Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 - TANDA PERTAMA
Bai datang menjelang sore dengan selembar kertas berlipat di tangan. Ia mengenakan baju bersih, meski debu jalan masih melekat pada sepatu. Lin sedang menyalin hasil timbang ketika lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
“Dari wajahmu, aku tidak tahu apakah kau diterima atau disuruh menyapu halaman,” kata Lin.
“Dua-duanya mungkin terjadi.” Bai menyandarkan pedangnya di dinding. “Mercenary Hall belum memberiku status pengawal penuh. Tapi mereka menerima laporanku dan mengizinkanku mengambil satu tugas percobaan lagi.”
Mo yang sedang memeriksa sebuah keranjang menoleh. “Apa yang mereka tanyakan?”
“Bukan soal berapa kali aku mengayunkan pedang.” Bai mengangkat kertasnya. “Mereka meminta kusir menjelaskan apa yang terjadi saat roda retak. Lalu mereka membandingkannya dengan laporanku. Aku menyebut bunyi yang kudengar dan muatan yang bergeser sebelum kusir menghentikan gerobak.”
“Apakah keterangan kalian cocok?” tanya Lin.
“Sebagian. Aku mengira bunyi pertama berasal dari roda. Kusir bilang itu dari gandar. Tapi aku tetap melaporkan kapan bunyi itu muncul dan apa yang kulihat setelahnya.”
Mo mengangguk. “Berarti kau menyebut batas pengamatanmu.”
“Aku belajar dari seseorang yang mencatat semua hal yang belum ia ketahui.” Bai tersenyum ke arah Lin. “Mereka bilang aku tidak bertindak ceroboh, tapi masih kurang pengalaman membaca jalan. Tugas berikutnya tetap di bawah pengawasan pengawal senior.”
“Itu masuk akal,” kata Lin. “Kau baru menjalani satu perjalanan.”
“Dan aku pulang tanpa kehilangan pedang.” Bai menepuk sarungnya. “Mereka memberiku tanda sementara. Katanya harus kukembalikan kalau tugas kedua gagal atau aku melanggar aturan.”
Ia menunjukkan sebuah keping kayu tipis berbentuk persegi panjang. Nama Bai Xiao terukir di satu sisi; pada sisi lain terdapat cap Mercenary Hall dan satu garis pendek yang menandakan status percobaan. Tidak ada batu berkilau atau lambang besar, hanya kayu yang cukup ringan untuk digantungkan pada tali pinggang.
Lin memperhatikan tulisan itu. Di permainan, ia mengingat status anggota biasanya muncul sebagai ikon di layar. Di dunia ini, ada keping kayu yang bisa basah, patah, atau hilang. Tanda itu tidak membuat Bai lebih kuat, tetapi orang lain dapat membacanya dan menilai keberadaannya.
“Jangan hilangkan,” katanya.
“Kalau hilang, aku harus membayar penggantian. Aku sudah diberi tahu tiga kali.”
“Berarti mereka menganggapmu mudah lupa.”
“Mereka menganggap semua pemula mudah lupa.” Bai memasukkan tanda itu kembali ke kantong dalam. “Tugas selanjutnya belum ditentukan. Mereka akan menghubungiku kalau ada pengawalan pendek yang cocok.”
Mo menyelesaikan pemeriksaan keranjang dan memberi isyarat agar Lin mengembalikan timbangan ke tempatnya. “Kalau kau ingin tanda itu bertahan, jangan menganggapnya bukti bahwa kau sudah siap menghadapi semua hal.”
“Tidak. Tanda ini bukti aku belum dikeluarkan.”
Jawaban itu membuat Mo tertawa pendek. Bai tampak senang mendengarnya, meski berusaha menyembunyikan senyum.
Setelah toko tutup, Lin menyelesaikan salinan inventaris dan menyerahkan catatan kepada Mo. Satu sampel daun masih dijemur, sementara bungkusan lainnya belum menunjukkan perubahan yang bisa digunakan untuk mengenali tanaman. Ia mencatat hasilnya sebagai “belum ada kesimpulan”, lalu membersihkan meja.
Bai menunggu di luar toko. “Aku harus kembali ke Mercenary Hall untuk mengembalikan satu perlengkapan yang dipinjam. Kau mau ikut?”
Lin mengangguk. Ia belum pernah masuk ke gedung itu. Mereka berjalan melewati deretan kios yang mulai tutup, lalu tiba di bangunan batu rendah dekat persimpangan. Papan kayu di depan pintu memuat lambang pedang dan perisai, juga daftar tugas yang ditulis dengan kapur.
Di dalam, beberapa orang menunggu giliran menyerahkan laporan. Seorang perempuan berambut pendek menimbang paket kecil di meja penerimaan. Seorang pria dengan lengan dibalut kain duduk di bangku, sementara petugas menulis di buku besar. Tempat itu lebih mirip kantor dagang daripada arena pertarungan.
Bai menyerahkan sarung pelindung yang dipinjamnya. Petugas memeriksa pengait dan mencocokkan namanya dengan buku. Setelah memastikan tak ada kerusakan, ia membubuhkan tanda pada baris Bai.
“Untuk tugas berikutnya, datang saat papan diperbarui,” kata petugas. “Jangan menerima pekerjaan langsung dari orang yang tak punya tanda pengesahan Hall.”
“Dimengerti.”
Bai meminta Lin menunggu sebentar sementara ia membaca papan tugas. Sebagian besar memerlukan dua orang atau pengalaman perjalanan. Satu pengumuman mencari pengantar pesan dalam kota; yang lain meminta bantuan menjaga pintu gudang pada malam hari. Bai tidak mendaftar. Ia masih menunggu panggilan untuk tugas percobaan keduanya.
Lin membaca tanda-tanda lain yang ditempel di sisi papan. Ada jadwal pemeriksaan perlengkapan, aturan penyerahan barang, dan pemberitahuan bahwa anggota baru harus menjalani penilaian fisik dasar sebelum mengambil tugas di luar kota.
“Penilaian itu mengukur apa?” tanyanya kepada petugas.
“Ketahanan, keseimbangan, dan kemampuan mengikuti instruksi saat lelah. Bukan ujian kultivasi.” Petugas memandang Lin dari kepala sampai kaki. “Kau mau mendaftar?”
“Saya hanya bertanya.”
“Kalau tidak punya latihan, jangan ikut tes lapangan. Ada halaman latihan di selatan kota. Pengajarnya kadang menerima orang yang ingin belajar dasar, tapi jadwal dan bayarannya tergantung kelas.”
Lin mengangguk dan tidak menanyakan harga. Ia belum punya uang untuk membayar pelajaran. Namun ia mencatat lokasi halaman latihan di peta lokal, di samping jalur dari pasar timur.
Dalam perjalanan pulang, Bai melihat tanda kecil yang Lin buat. “Kau tertarik jadi pengawal?”
“Belum tahu. Aku baru sadar tidak tahu apa yang sanggup dilakukan tubuh ini.”
“Kau belum pernah mencoba latihan?”
“Tidak sejak tiba di kota. Ayah bilang hasil pemeriksaan bakatku waktu kecil biasa saja dan aku berhenti berlatih setelah beberapa minggu. Tapi aku tidak tahu apakah istilah Body Tempering yang kuingat sama dengan latihan tubuh yang dia maksud.”
Bai tidak langsung memberi semangat kosong. Ia menimbang jawaban sebentar. “Kalau begitu, mulailah dengan mencari tahu. Tidak semua orang harus memilih pekerjaan yang sama denganku.”
“Mo bilang aku belum cukup memahami bahan untuk mendekati tungku. Sekarang aku bahkan belum tahu apa yang bisa kulakukan dengan Qi.”
“Setidaknya kau tahu dua hal yang belum kau ketahui.”
Lin tersenyum. “Catatan itu memang terus bertambah.”
Mereka berpisah di persimpangan dekat penginapan. Bai harus kembali ke rumah sewa untuk beristirahat sebelum mungkin dipanggil ke Hall lagi. Ia berjanji akan memberi tahu Lin ketika tugas keduanya ditetapkan.
Di kamar, Lin membuka peta. Ia menandai halaman latihan di selatan kota dan menulis bahwa petugas Mercenary Hall menyebutnya sebagai tempat belajar dasar, bukan pusat pengujian kultivasi. Ia tidak akan menganggap kedua hal itu sama sampai bertanya langsung.
Di halaman lain ia mencatat tanda sementara Bai, hasil laporan yang diterima, dan tugas percobaan kedua yang belum ditentukan. Ia berhenti sejenak sebelum menulis satu baris untuk dirinya sendiri: “Cari tahu cara menilai kondisi tubuh dan kemampuan dasar. Jangan mendaftar untuk latihan bersenjata tanpa persiapan.”
Malam itu ia tetap belum memiliki teknik, pil, atau keping uang. Namun untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, ia punya alamat yang bisa didatangi untuk bertanya tentang kemampuan tubuhnya.
Itu bukan jawaban. Tapi setidaknya, kali ini ada jalan yang dapat ia ikuti.