Alicia Harold hanya ingin menikmati malam terakhirnya sebelum menjadi mahasiswa.
Namun karena terlalu bosan di acara keluarga, gadis barbar itu diam-diam mabuk dan berakhir jatuh ke dalam pelukan seorang pria dingin yang paling ingin ia hindari.
Bryan Bright, calon kakak iparnya dan dosen di Imperial College University.
Sejak malam itu, kehidupan Alicia berubah menjadi mimpi buruk. Dosen killer itu seperti bayangan yang tak pernah bisa lepas darinya. Alicia terus berontak, menghindar, dan menjaga batas.
Namun bagaimana jika tanpa sadar batas itu perlahan berubah menjadi perasaan?
"Amit amit, aku tidak mungkin suka si Bryan mulut harimau itu!" kesal Alicia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JDPDK Bab 14 - Jujur Saja
Alicia dan Prilly sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengan Leo, tapi mereka harus berpisah karena kelas akan segera di mulai.
Hari ini Alicia dan Prilly kembali datang terlambat seperti kemarin, tapi karena dosennya bukan pak Bryan maka mereka tetap bisa masuk dengan aman. Setelah mengucapkan maaf pada sang dosen, keduanya pun duduk di kursi paling belakang.
Veronica yang duduk di depan pun tersenyum miring melihat keduanya, meskipun mereka sama-sama berasal dari keluarga terpandang tapi Veronica selalu merasa bahwa ia lebih baik dibandingkan Alicia. Lebih baik dari segala aspek, wajah, tubuh dan juga kecerdasan.
'Apa lihat-lihat!' batin Alicia seraya mendelik ke arah Veronica.
Sontak saja Veronica merasa kesal sendiri, ia paling benci saat Alicia memandangnya remeh seperti ini.
Begitu kelas pertama berakhir, mereka langsung masuk ke kelas kedua. Menjelang siang akhirnya perkuliahan hari ini usai.
Begitu keluar dari ruang kelas, Alicia langsung meregangkan kedua tangannya ke atas kepala sambil mengembuskan napas panjang.
"Akhirnya... hari ini selesai juga," ucap Alicia lega.
"Al, sekarang kita mau ke mana?" tanya Prilly sambil berjalan di sampingnya, ia sudah siap untuk menikmati sisa hari mereka. "Mau langsung pulang atau kita cari makan dulu? Aku lapar sekali, rasanya mau makan satu restoran."
"Kamu itu isinya cuma makan, makan, dan makan. Memangnya perutmu tidak pernah kenyang?"
Prilly langsung menoleh dengan wajah tidak terima. "Enak saja! Memangnya kamu tidak lapar?"
"Lapar, sih. Tapi akan lebih nikmat jika kita makan di tempat yang menyenangkan."
"Apa maksudmu?" tanya Prilly bingung.
"Tunggu sebentar." Alicia langsung mengeluarkan ponselnya. Ia mencari nama Leo dan segera menekan tombol panggil sambil tersenyum lebar. Jika ada satu orang yang bisa diajak bersenang-senang tanpa banyak bertanya, Leo adalah pilihan yang tepat.
Panggilan itu baru tersambung setelah beberapa detik.
"Halo, Al?" Suara Leo terdengar dari seberang sana.
"Leo, kamu sibuk tidak sekarang?"
"Kenapa? Kamu membuat masalah?"
"Astaga! tidak seperti itu!"
"Kalau meneleponku secara tiba-tiba begini, biasanya ada dua kemungkinan. Kamu mau mengajakku pergi atau kamu sedang membuat masalah."
Prilly yang berdiri di samping Alicia langsung tertawa mendengar jawaban itu.
Alicia mendengus. "Aku ingin mengajakmu pergi, kamu sibuk tidak?"
"Tidak, aku sangat santai sekarang."
"Bagus! Ayo kita pergi sekarang."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku sedang bersama Dion. Nanti kami ke sana."
Setelah Leo menutup telepon, Alicia langsung menyeringai puas. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menoleh kepada Prilly yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.
"Bagaimana? Sudah ada tujuan?" tanya Prilly.
Alicia mengangguk penuh semangat. "Kita pergi ke villa Leo."
Mata Prilly langsung berbinar. "Serius? Villa yang di dekat pantai?"
Alicia mengangguk dan Prilly sontak kegirangan. Siapa yang tak senang jika mendadak liburan. Prilly bahkan sudah berencana untuk menginap semalam di sana dan besok pagi-pagi baru pulang.
Tidak lama kemudian, dua motor memasuki halaman kampus. Leo datang dengan motor besarnya, sementara Dion mengendarai motor lain yang tidak kalah gagah. Begitu melihat kedua pria itu, Alicia dan Prilly segera menghampiri mereka dengan senyum lebar.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu bahagia? Memangnya kamu baru saja memenangkan undian?"
Alicia menggeleng. "Aku hanya senang karena inilah dunia yang kuinginkan, dunia untuk bersenang-senang."
Leo tertawa kecil.
"Sudahlah, jangan membahas itu. Mana helm untukku?" tanya Alicia.
Leo mengambil helm cadangan dari motornya dan menyerahkannya kepada Alicia. "Pakai yang benar, jangan sampai jatuh di jalan. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Harold hanya karena kamu terluka."
Alicia langsung mengenakan helm itu, kemudian mendekati motor Leo dengan penuh semangat. "Tenang saja, aku masih ingin hidup lama. Aku belum membuat semua pria tampan di dunia jatuh cinta kepadaku."
Dion yang mendengar ucapan tersebut langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Prilly menepuk dahi, merasa sahabatnya itu benar-benar tidak memiliki rasa malu.
"Ya ampun, Al! Bisa tidak kamu berbicara dengan lebih normal?" keluh Prilly.
"Kenapa? Aku sedang mengatakan kenyataan."
"Kenyataan dari mana?"
"Dari pikiranku sendiri."
Leo hanya menggeleng sambil tertawa. Ia kemudian naik ke atas motor dan menoleh kepada Alicia yang sudah berdiri di sampingnya. "Sudah siap?"
"Siap, Kapten!"
"Pegangan yang benar."
Alicia segera duduk di belakang Leo dan memegang bagian belakang jaket pria itu. Setelah memastikan sahabatnya sudah siap, Prilly naik ke motor Dion. Tidak lama kemudian, kedua motor tersebut meninggalkan halaman kampus dan melaju menuju kawasan pantai di pinggiran Kota Servo.
Begitu tiba di villa milik keluarga Leo yang terletak tidak jauh dari pantai, Alicia langsung berlari menuju halaman belakang. Villa tersebut memiliki bangunan luas dengan desain modern, jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke laut, serta halaman belakang yang dilengkapi kolam renang. Dari sana, hamparan laut biru terlihat begitu luas, sementara suara ombak yang memecah pantai terdengar menenangkan.
"Astaga! Aku merindukan tempat ini!" seru Alicia dengan kedua tangan terentang.
Prilly yang baru tiba bersama Dion langsung menghampirinya. "Aku juga! Ayo cepat ganti baju. Aku ingin berenang sekarang!"
Alicia tertawa. "Ayo!"
Keduanya segera masuk ke dalam villa untuk berganti pakaian. Sementara itu, Leo dan Dion memilih tetap berada di ruang rekreasi yang terletak di sisi lain bangunan. Di sana terdapat meja biliar, beberapa permainan elektronik, dan sebuah lintasan bowling pribadi yang cukup luas untuk digunakan bersama teman-teman mereka.
Saat Dion mulai melempar bola bowling, Leo melihat ke arah kolam renang melalui pintu kaca besar. Melihat Alicia dan Prilly sedang berenang di sana, menikmati waktu tanpa memedulikan apa pun.
Sementara itu di kolam renang, Alicia muncul ke permukaan setelah menyelam beberapa detik. Rambutnya yang basah disibakkan ke belakang, lalu ia menyeka air dari wajahnya sambil tertawa, dan saat itu Prilly menyiramkan air ke arahnya.
"Prilly! Berani sekali kamu menyiramku!" pekik Alicia.
Prilly terkekeh. "Memangnya kamu mau melakukan apa?"
Alicia menyeringai. "Jangan menantangku!"
Belum sempat Prilly menghindar, Alicia sudah lebih dulu menyiramkan air ke arahnya. Keduanya pun terlibat perang air sampai suara tawa mereka memenuhi halaman belakang villa.
Setelah puas berenang, mereka beristirahat di tepi kolam dan menikmati minuman dingin serta makanan yang telah disiapkan oleh staf villa. Alicia duduk di kursi santai dengan handuk melingkari bahunya, memandang laut yang terbentang luas di hadapan mereka. Angin pantai bertiup lembut, membuat suasana terasa semakin nyaman.
"Beginilah hidup yang sebenarnya," gumam Alicia dengan wajah puas.
Prilly yang duduk di kursi sebelahnya menoleh. "Apa maksudmu?"
"Menikmati waktu, berenang, melihat laut, dan tidak memikirkan hal-hal menyebalkan." Alicia menghela napas lega. "Andai setiap hari bisa seperti ini, aku pasti menjadi manusia paling bahagia di dunia."
Prilly terkekeh. "Kamu bisa saja menikmati waktu seperti ini kalau kamu rajin belajar dan tidak membuat masalah. Tapi karena kamu suka mencari masalah, jadi jangan salahkan siapa pun kalau hidupmu selalu rumit."
Alicia langsung mendelik. "Kamu mulai menceramahi ku?"
"Hehe, tidak tidak, aku diam."
Alicia kembali menyandarkan punggungnya. Ia benar-benar ingin menikmati ketenangan ini selama mungkin. Untuk sejenak Alicia benar-benar lupa tentang Bryan.
Namun ketenangan itu mendadak terusik ketika ponsel yang diletakkan di atas meja kecil di samping kursinya bergetar.
Alicia melirik sekilas. Awalnya ia tidak berniat memeriksa pesan itu karena masih ingin bersantai. Namun, begitu melihat nama pengirimnya, ia langsung mengambil ponsel tersebut.
Kak Annie.
Alicia membuka pesan yang masuk.
'Al, kamu di mana? Sudah makan belum? Jangan pulang terlalu malam, ya.'
Alicia terdiam.
Meskipun kak Annie terkadang terlalu ikut campur dalam urusannya, ia tahu kakaknya itu benar-benar peduli padanya.
Ia pun mengetik balasan singkat bahwa dirinya sedang bersama Prilly dan teman-teman, lalu meletakkan kembali ponselnya. Namun, baru beberapa detik kemudian, sebuah nama melintas di benaknya.
Bryan Bright.
Deg! jantung Alicia sontak berdenyut nyeri. Seketika teringat jika malam ini Bryan memintanya kembali datang ke apartemen.
Alicia langsung duduk tegak. "Astaga!"
Prilly yang sedang makan segera menoleh. "Kenapa lagi?"
Alicia tidak menjawab, malah kata-kata Bryan terngiang di benaknya. 'Ingat aturanku dengan baik, aku hanya bicara satu kali!'
"Ada apa, Al?" tanya Prilly lagi ketika melihat sahabatnya mendadak diam. "Kenapa wajahmu seperti orang punya banyak hutang."
"Pril, aku harus pergi sekarang."
Prilly mengerutkan dahi. "Pergi ke mana? Bukannya tadi kamu bilang ingin bersantai sampai malam?"
"Memang."
"Lalu?"
Alicia memejamkan mata sebentar sebelum menjawab dengan suara berat, "Ada urusan mendadak." jawabnya, karena tak mungkin jujur.
Prilly menatapnya curiga. "Urusan apa?"
"Urusan yang sangat menyebalkan."
"Urusan keluarga?"
Alicia menggeleng dan Prilly bingung sendiri menebak urusan sang sahabat.
"Sudahlah, jangan bertanya lagi. Aku harus pulang sekarang."
Prilly masih terlihat tidak puas, tetapi ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah. Mau kuantar?"
"Tidak usah. Aku pinjam motor Leo saja."
Alicia segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang ganti.
Ketika memasuki ruang rekreasi, Alicia mendapati Leo sedang berdiri di dekat lintasan bowling bersama Dion. Pria itu baru saja melempar bola dan berhasil menjatuhkan hampir seluruh pin di ujung lintasan.
"Leo!" panggil Alicia.
Leo menoleh. "Kenapa, Al?"
"Aku mau pulang duluan."
Senyum Leo perlahan berubah menjadi ekspresi heran. "Pulang? Bukannya tadi kamu bilang mau disini sampai malam?"
"Iya, tapi ada urusan mendadak."
"Urusan apa?"
Alicia menghela napas. "Kenapa semua orang suka sekali bertanya tentang urusanku?"
"Karena kamu datang dengan semangat seperti orang yang ingin tinggal di sini selama seminggu, lalu tiba-tiba bilang mau pulang. Tentu saja aku penasaran."
"Aku harus menemui seseorang."
"Siapa?"
Alicia menatapnya datar.
Leo mengangkat kedua tangan, menyerah. "Baiklah, kita pulang sekarang. Aku akan mengantarmu."
Alicia menggeleng cepat. "Tidak usah, aku akan pulang sendiri. Aku pinjam motormu," pinta Alicia. Ia tak perlu cemas bagaimana Leo pulang nanti, dengan satu perintah ia bisa meminta motor atau mobil langsung datang ke tempat ini. Tapi Alicia harus segera tiba di apartemen Bryan.
"Tunggu sebentar. Aku ambilkan kunci motorku," balas Leo yang tak ingin lagi banyak bertanya.
Prilly juga langsung menyusul kemari. "Kamu serius pulang sendiri? Kita pulang sama-sama saja," ucap Prilly.
"Tidak, aku akan pulang sendiri."
Dion langsung menyipitkan mata dan menatap Alicia dengan tajam. "Jujur saja, kamu membuat masalah kan?" tanya Dion.
dia harus masuk ke kandang harimau 🤣🤣🤣
kalo pak bry tau bisa mulai cemburu dalih disiplin?🤭🤭🤭
ehh siluman sudah berwajah garamg waduhh ,,,,ambyar seolah dunia nya runtuh 💪 sangat pastinya ,,,