Aksi heroik Kapten Fikri Rafisqy ditengah perampokan swalayan berujung duka. Berusaha menyelamatkan seorang anak kecil, Fikri tak sadar peluru maut mengincar nyawanya. Naas, seorang kakek justru mengorbankan diri demi menyelamatkannya. Dalam kondisi kritis dirumah sakit, sang kakek menyampaikan wasiat terakhir: Fikri harus menikahi cucu tunggalnya, Seruni Shafira, gadis penjual bunga kini sebatang kara.
Seruni menolak tegas. Bagaimana mungkin ia harus menikah disaat impian sekolahnya masih membumbung tinggi? Namun demi melunasi utang nyawa dan amanah terakhir, Fikri menerimanya. Didepan ruang ICU, ijab kabul terucap sebelum sang kakek mengembuskan napas terakhirnya.
Kini, kehidupan mereka berubah total. Bisakah Seruni menerima takdir pernikahannya bersama pria yang terpaut jarak usia 12 tahun darinya? Apalagi, Seruni masih bersikeras memanggil suami dengan sebutan "Paman"!
Saksikan kisah cinta penuh liku, aksi menegangkan dan kepolosan Seruni yang meluluhkan hati dingin Kapten Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makan Tuan
Toko bunga Kakek Rahmat seolah hidup kembali. Di balik meja kasir dan deretan vas kaca yang mengkilap, Seruni bergerak lincah. Senyum manisnya yang tak pernah pudar, dipadu dengan jemarinya yang terampil merangkai kuntum demi kuntum mawar, selalu berhasil meluluhkan hati para pelanggan. Tak jarang, keramahan dan kepolosan gadis itu membuat para pelanggan sengaja melebihkan uang kembalian sebagai tips.
Hari itu, pesanan bunga melimpah ruah. Seruni sampai sibuk memotong tangkai, mengikat pita, dan menyapa setiap pembeli yang datang. Saking asyiknya larut dalam wangi kelopak bunga dan dering lonceng pintu, Seruni lupa satu hal yang sangat krusial: mengirim pesan laporan dua jam sekali kepada sang Kapten.
Hingga menjelang sore, bayangan tinggi tegap mendadak berdiri kaku di ambang pintu toko. Pendar cahaya matahari yang temaram membuat siluet gagah itu tampak mengintimidasi.
Seruni yang sedang mengikat buket bunga mawar pink seketika membeku. Matanya terbelalak lebar melihat Fikri berdiri di sana dengan wajah dingin dan tangan bersedekap dada.
Aduh! Mati gue! Lupa laporan! batin Seruni panik.
Dengan refleks secepat kilat, Seruni menegakkan tubuhnya, merapatkan kedua kakinya, dan memberi hormat ala militer lengkap dengan wajah dibuat-buat seformal mungkin.
"Lapor Paman Kapten! Semuanya terkendali dengan aman!" seru Seruni dengan suara nyaring, tangannya masih menempel di dahi. "Mohon maaf lupa laporan, Paman! Pelanggan dari tadi ramai sekali sampai Runi tidak sempat pegang HP!"
Fikri menatap 'prajurit kecilnya' itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman samar yang cepat-cepat ia sembunyikan kembali di balik raut wajah tegasnya.
"Jangan diulangi lagi," tegur Fikri datar. "Kalau sampai terulang, tidak ada ampun. Toko bunga ini akan langsung saya tutup."
Seruni mendengus pelan, menurunkan tangannya seraya mencebikkan bibir. "Huh! Selalu saja ancamannya mau tutup toko! Biar saja kalau itu terjadi, Runi bakal laporkan Paman ke Kakek Jenderal!"
Fikri sama sekali tidak mempedulikan gertakan anak-anak itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling toko yang harum. "Di mana tempat untuk istirahat?"
Seruni menghela napas, lalu melangkah memandu Fikri ke bagian belakang toko. Di balik lemari kayu tinggi tempat pajangan vas-vas kecil, terdapat sebuah sudut sempit yang tenang. Di sana bersandar sebuah kursi malas berbusa tebal yang dilapisi kain krem. Di atas kursi itu, melingkar seekor kucing lokal berbulu putih bersih yang sedang tertidur lelap.
"Ini tempat istirahat Kakek dulu. Dan itu Si Putih, kucing kesayangan Runi," tunjuk Seruni.
Fikri melangkah mendekat, perlahan duduk di kursi malas tersebut. Ajaibnya, Si Putih yang biasanya sensitif pada orang asing justru tidak kabur. Kucing gemuk itu malah menggeliat santai, memindahkan kepalanya dan meringkuk nyaman di atas pangkuan celana dinas Fikri.
Seruni tersenyum tipis melihat pemandangan tak biasa itu sebelum akhirnya kembali ke area depan untuk melayani beberapa pelanggan terakhir.
Satu jam berlalu, pelanggan di toko akhirnya habis. Seruni merapikan meja kasir dan melangkah jinjit ke arah Fikri yang tertidur lelap di kursi malas. Kepalanya bersandar rileks pada sandaran kursi, sementara tangannya masih melingkar protektif memangku Si Putih yang ikut terlelap makin nyenyak.
Seruni menahan napas. Takut membangunkan sang Kapten, ia berjongkok amat perlahan di samping kursi malas itu. Seruni menumpangkan kedua dagunya di atas telapak tangan yang bertumpu pada lutut, menatap wajah suaminya dari samping dalam jarak yang sangat dekat.
"Wah... ternyata kalau diam begini, Paman Kapten tampan juga ya..." gumam Seruni pelan sekali, matanya menelusuri setiap detail raut wajah Fikri. "Hidungnya mancung banget kayak perosotan anak TK. Alisnya tebal banget kayak ulat bulu... Dan bibirnya... hm, sepertinya Paman tidak merokok, bibirnya bersih merah. Tapi sayang... hobinya ngancem terus, dingin lagi kayak es di Kutub Utara."
Tiba-tiba...
"Sudah puas melihat wajah suamimu yang tampan ini, hm?"
"KYAAA!"
Seruni tersentak kaget bukan main! Kaki kecilnya kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terjungkal ke belakang dan pantatnya mendarat keras di atas ubin dingin.
Brak!
"Aduuuh!" ringis Seruni mengelus bagian belakang tubuhnya yang sakit. Si Putih terbangun dan melompat kaget ke lantai.
"Paman Kapten pura-pura tidur ya?! Huh, jahat sekali sih!" protest Seruni seraya bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang gaunnya yang kotor dengan wajah memerah padam karena malu setengah mati.
"Siapa yang pura-pura? Kamu saja yang berjalan seperti pencuri," balas Fikri santai seraya berdiri dan merapikan pakaiannya. "Sudah, jangan banyak bicara. Sekarang bersiap-siap, kita pulang. Hari sudah malam."
Fikri dengan sigap membantu Seruni merapikan pot-pot depan dan menarik rolling door besi hingga terkunci rapat. Setelah dipastikan aman, Fikri menggiring Seruni masuk ke dalam mobil jip hitamnya.
Namun, di perjalanan pulang, Fikri tidak mengambil jalur menuju rumah dinas. Jip itu berhenti di pelataran parkir sebuah restoran keluarga yang cukup mewah dan bernuansa hangat.
"Lho? Paman, kok ke sini?"
"Makan malam dulu. Saya tahu kamu belum makan dari siang," ujar Fikri seraya membuka pintu mobil.
Di dalam restoran, seorang pelayan menyodorkan buku menu, Fikri menunjuk lembar menu pada Seruni. "Pilih apa saja yang mau kamu makan."
Seruni menatap buku menu yang memuat angka-angka harga yang tergolong mahal untuk ukurannya. Otak liciknya mendadak berputar cepat. Oho! Ini dia kesempatan emas! Aku pesan saja makanan yang paling mahal sampai kantong Paman jebol! Biar dia kapok dan segera menceraikanku karena tidak sanggup membiayai hidupku! pikir Seruni bersorak jahat di dalam hati.
Dengan senyuman licik, Seruni menunjuk beberapa menu termahal. "Mbak, saya mau steak daging impor ini satu, sup kepiting panggang ini satu, pasta keju spesial satu, dan penutupnya es krim jumbo tiga rasa!"
Pelayan toko mengangguk kaget. Fikri yang duduk di hadapan Seruni hanya menatap gadis itu dengan tenang tanpa berkedip. Setelah pelayan pergi, Fikri bersedekap dada.
"Pilihan yang bagus," ujar Fikri dengan nada datar yang penuh jebakan. "Tapi ingat satu aturan makan dariku, Seruni."
Seruni mengerutkan dahi. "Aturan apa?"
"Semua makanan yang sudah kamu pesan wajib hukumnya dihabiskan sampai bersih," terang Fikri santai seraya menyeruput air putihnya. "Kalau ada yang tersisa atau tidak habis... kamu sendiri yang harus membayar seluruh tagihannya pakai uang tabungan toko bungamu."
"APA?!" Seruni terbelalak lebar, memegang dadanya kaget. "Mana bisa begitu, Paman?!"
"Bisa. Di hukum kepolisian, siapa yang memesan, dia yang bertanggung jawab," sahut Fikri asal-asalan dengan raut wajah sangat serius.
Tak lama kemudian, pesanan datang. Meja kayu itu dipenuhi piring-piring besar berisi steak tebal, porsi pasta melimpah, dan sup kepiting yang sangat mengenyangkan.
Seruni menelan ludahnya kasar. Niat hati ingin membalas dendam dan menguras dompet sang Kapten, kini ia justru kena senjata makan tuan! Mana mungkin uang tabungan tokonya yang baru terkumpul sedikit dipakai untuk membayar porsi makanan seseram ini?
Dengan berat hati dan rasa takut rugi yang membumbung tinggi, Seruni mulai melahap makanan itu satu per satu. Awalnya terasa lezat, namun memasuki piring kedua, perut kecil gadis itu mulai berteriak protes. Pipi Seruni sampai menggembung menahan kenyang, matanya berkaca-kaca menahan begah seraya terus menyuap pasta ke dalam mulutnya.
Dari seberang meja, Fikri menikmati porsi makan malamnya dengan sangat santai, menahan tawa dalam hati melihat tingkah kocak istri kecilnya.
"Aduuuh... Paman... perut Runi mau pecah..." keluh Seruni sesenggukan begitu mereka kembali ke dalam mobil jip. Gadis itu bersandar lemas di kursi penumpang, memegangi perutnya yang keras dan membuncit kekenyangan.
Fikri hanya menggeleng-gelengkan kepala. Namun, bukannya langsung menyuruh Seruni naik ke lantai atas begitu sampai di rumah dinas, Fikri justru menarik pelan lengan gaun Seruni.
"Ayo jalan kaki sebentar," ajak Fikri.
Seruni memelototkan mata tak percaya. "Hah?! Paman gila ya?! Runi jangankan jalan, berdiri saja rasanya mau muntah tahu!"
"Justru karena itu," pangkas Fikri seraya menuntun langkah Seruni mengelilingi jalanan kompleks perumahan dinas yang sepi. "Kalau langsung tidur dengan perut sekenyang itu, kamu bisa kena asam lambung. Jalan pelan-pelan supaya pencernaanmu melonggar."
Seruni hanya bisa menyeret kakinya yang lemas, bersungut-sungut di samping sosok Kapten Fikri yang berjalan tegap mengawal setiap langkah kecilnya di bawah pendar lampu jalanan yang hangat.