【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Di Balik Amarah dan Lembaran Merah
Nara, kalau saja waktu bisa diputar kembali ke hari itu, aku tidak akan pernah menyesali lemparan staples yang mendarat tepat di bawah mata kiriku. Hari itu aku baru sadar, kamu bukan cuma cewek paling pintar di kelas yang selalu tampak anggun di depan guru. Kamu punya sisi galak dan tanpa kompromi yang luar biasa. Saat orang lain mungkin akan melihat raut marahmu sebagai ancaman, aku yang sedang dimabuk asmara justru melihatnya sebagai hal paling lucu di dunia. Kepolosanku saat itu berpikir bahwa amarahmu adalah bentuk perhatian, tanpa menyadari bahwa di masa depan, sifat kerasmu itulah yang juga akan mematahkan hatiku paling dalam.
Bekas luka di bawah mata kiriku masih terasa sedikit berdenyut dan agak memar saat bel istirahat pertama berbunyi nyaring keesokan harinya. Di depan cermin kecil yang terpasang di dinding toilet cowok, aku memandangi plester luka berwarna cokelat muda yang menempel di pipiku. Kalau dilihat-lihat, bentuknya agak menyolok, tapi buatku plester ini adalah bukti dari keberanianku memancing perhatian cewek paling galak sekaligus paling pintar di kelas X IPA 2.
"Masih perih, Sat?" tanya Diko yang baru keluar dari bilik toilet sambil mencuci tangannya di wastafel.
"Dikit sih, tapi aman. Cuma lecet luar," jawabku sambil menyunggingkan senyum tipis di depan cermin.
"Gila ya kamu, dilempar staples besi sampai berdarah gitu malah makin seneng kelihatannya. Asli, kamu ini sengaja banget kan nyari gara-gara sama Nara?" ejek Diko sambil tertawa dan menepuk bahuku agak keras.
"Ya namanya juga usaha, Dik," balasku jujur sambil terkekeh pelan. "Dari kemarin kan dia ledat-ledit terus sama buku pelajaran. Sekali-kali dibikin emosi biar perhatiannya cuma tertuju ke aku."
"Tapi ya enggak sampai bikin mukamu tumbal staples juga kali, Sat!" Diko menggeleng-gelengkan kepala saat kami berjalan keluar dari toilet menyusuri koridor sekolah. "Amukan Nara kemarin serem banget, Bro. Mukanya merah padam, matanya melotot. Aku yang di sebelahmu aja sampai merinding."
Aku cuma tertawa mendengar racetan Diko. Mengingat kembali kejadian kemarin siang di meja kelompok Bahasa Indonesia, ingatan itu bukannya bikin aku kapok, tapi malah bikin senyum-senyum sendiri.
Saat darah mengucur tipis dari bawah mataku akibat tancapan besi staples yang dilemparnya, tidak ada adegan drama romantis di mana Nara mendadak lembut, panik mengusap lukaku, atau meminta maaf sambil menangis. Sama sekali tidak ada!
Raut wajah Nara saat itu benar-benar murni amarah. Matanya yang bulat menatapku tajam tanpa ada rasa bersalah sedikit pun di wajah cantiknya. Dengan napas yang agak memburu dan tangan bersedekap di dada, dia justru menyemprotku dengan kalimat yang sampai sekarang masih teringat jelas di kepalaku.
"Adikku aja di rumah sering aku lempar sama aku pukul kalau bikin kesal, apalagi orang lain! Makanya jadi cowok jangan jahil dan kelewat batas!"
Kalimat tegas bercampur emosi yang keluar dari mulutnya itu sukses membungkam satu meja kelompok. Tapi anehnya, bukannya takut atau marah balik, aku yang saat itu sedang memegangi pipiku yang berdarah justru melihat raut galaknya sebagai sesuatu yang sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya yang memerah karena kesal dan caranya berkacak pinggang justru bikin rasa sukaku makin menggebu-gebu. Aku sadar, usahaku mencari perhatiannya lewat jalan usil memang berhasil 100%!
Langkah kaki kami membawa kami kembali ke area kelas X IPA 2. Di depan pintu masuk, Nara tampak sedang berdiri bersama Lina. Mengenakan seragam putih abu-abu yang sangat rapi dan jilbab putih bersih, sosoknya tetap terlihat menonjol di antara murid-murid lain.
Begitu matanya menangkap kehadiranku yang berjalan bersama Diko, alisnya langsung bertaut rapat. Tatapan matanya kembali berubah judes dan dingin, seolah-olah memperingatkanku untuk tidak berani-beraninya mendekat dan bertingkah konyol lagi.
"Pagi, Nara," sapaku ramah sambil melempar senyum lebar tanpa dosa saat melewatinya.
Nara tidak membalas sapaanku dengan kata-kata manis. Dia cuma melipat kedua tangannya di dada, membuang muka ke arah lapangan sambil bergumam pelan, "Laki-laki aneh."
Diko yang berada di sampingku melirikku sambil menahan tawa, menyenggol lenganku pelan begitu kami berhasil masuk dan duduk di bangku barisan kedua.
"Masih galak tuh, Sat. Mending kamu tiarap dulu deh beberapa hari," bisik Diko pelan.
"Justru galaknya itu yang bikin makin penasaran, Dik," balasku santai sambil meluruskan posisi dudukku.
Meskipun bersikap dingin dan galak di luar, Nara ternyata punya caranya sendiri yang sangat unik. Saat jam pelajaran matematika dimulai dan guru sedang sibuk menuliskan rumus di papan tulis depan, sebuah gulungan kertas kecil mendadak melayang dan mendarat tepat di atas buku catatanku.
Aku mengernyit heran, lalu menoleh ke meja depan tempat Nara duduk. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang, tetap fokus menatap papan tulis dengan posisi tubuh tegap.
Dengan rasa penasaran yang membumbung, aku membuka lipatan kertas kecil itu pelan-pelan di bawah kolong meja agar tidak ketahuan guru. Di dalam kertas itu, tertera tulisan tangan yang sangat rapi dan khas milik Nara, ditulis menggunakan pulpen gel warna hitam:
"Obatin mukamu itu pake salep luka yang ada di kotak P3K kelas atau di UKS. Awas kalau berbekas hitam, nanti malah makin jelek muka konyolmu itu."
Membaca pesan singkat di kertas itu, aku hampir saja meledakkan tawa di tengah kelas yang hening. Karakter cewek ini benar-benar ajaib! Di luar bersikap galak, tidak mau minta maaf, dan penuh harga diri tinggi, tapi secara sembunyi-sembunyi dia tetap memberikan perhatian dengan gaya bahasanya yang jutek dan tajam.
Aku mengambil pulpenku, lalu membalas di lembaran kertas yang sama tepat di bawah tulisannya:
"Siap, galak! Nanti aku obatin. Tapi kalau bekas lukanya gak hilang, kamu wajib tanggung jawab ya :P"
Aku melipat kembali kertas itu rapi-rapi, lalu saat suasana kelas agak lengah, aku mencolek pelan bahu Nara dari belakang dan menjatuhkan kertas itu ke atas mejanya. Aku bisa melihat dari belakang bagaimana bahu Nara agak menegak begitu membaca balasan pesan dariku. Dia memutarkan kepalanya sedikit ke belakang, memberikan lirikan mata yang super tajam sambil mengerucutkan bibirnya gemas.
Hari-hari berikutnya di kelas X IPA 2 terasa makin berwarna. Insiden staples besi itu bukannya bikin kami berjarak, tapi justru menjadi batu loncatan awal dari mencairnya kekakuan di antara kami. Aku yang tadinya cuma anak cowok biasa yang minder dengan prestasi akademisku, kini punya tempat tersendiri di mata Nara—sebagai satu-satunya cowok yang berani mengganggunya dan berani menghadapi amarahnya tanpa rasa takut.
Setiap kali jam istirahat atau piket kelas, aku tidak pernah absen melemparkan godaan-godaan kecil. Dan Nara selalu membalasnya dengan omelan khasnya yang galak namun selalu berhasil memancing senyumku.
"Satria, kamu itu bisa diam gak sih lima menit aja? Sapunya diayunkan yang bener, bukan diputar-putar kayak tongkat silat begitu!" omel Nara suatu sore saat kami mendapat giliran piket membersihkan kelas berdua.
Aku menghentikan ayunan sapuku, menatap Nara yang sedang merapikan tumpukan buku guru di meja depan dengan raut wajah serius.
"Lho, ini namanya latihan refleks jari tangan, Ra. Biar pas latihan silat sore nanti tanganku gak kaku," jawabku beralasan sambil menyeringai lebar.
Nara menghela napas berat, memutar kedua bola matanya malas. "Terserah kamu deh. Dasar stres."
Tapi meskipun selalu mengomel dan berkata kasar secara bercanda, aku tahu betul Nara mulai terbiasa dengan kehadiranku. Dia yang tadinya sangat tertutup dan cuma fokus pada nilai-nilai ujian, pelan-pelan mulai mau membagi waktunya untuk sekadar mendengarkan cerita-ceritaku tentang kerasnya latihan fisik di eskul pencak silat bersama Mas Teguh.
Nara, jika aku bisa mengirimkan suara ini ke masa lalu, aku ingin menyuruh diriku sendiri untuk tidak terlalu cepat berbangga diri. Saat itu, aku begitu bahagia hanya karena berhasil menembus benteng pertahananmu lewat jalan usil dan amarahmu. Aku berpikir bahwa cewek sekeras dan sejelas kamu tidak akan pernah pandai berbohong. Aku terlalu percaya bahwa kejujuran amarahmu adalah cerminan dari kejujuran hatimu. Sungguh, aku tidak pernah menyangka bahwa cewek yang paling kutakuti amarahnya ini, di masa depan justru akan menjadi orang yang paling pandai menyembunyikan kebenaran di belakang punggungku.
Malamnya, di dalam kamar tidurnya yang tenang, aku berbaring di atas kasur sambil memandangi atap kamar. Jemariku meraba pelan plester luka di bawah mata kiriku. Momen-momen bersama Nara sepanjang hari tadi berputar kembali bagaikan rol film yang menyenangkan di dalam kepala.
Aku mengambil HP seluler kecilku di atas meja, membuka aplikasi pesan singkat, lalu mengetikkan satu baris pesan untuknya:
"Selamat malam cewek paling galak se-IPA 2. Lukaku udah tak kasih salep P3K tadi sore, jadi gak usah emosi lagi ya :)"
Hanya butuh waktu sekitar lima menit, layar HP-ku menyala terang menampilkan pesan masuk darinya:
"Baguslah kalau sadar diri. Besok jangan mulai jahil lagi kalau gak mau melayang tempat pensil ke mukamu! Selamat tidur."
Aku terkekeh pelan membaca balasan galak yang sangat khas darinya, lalu memeluk bantal gulingku erat-erat. Di malam yang sunyi itu, aku makin yakin dengan perasaan di dalam dadaku. Perjuanganku untuk memenangkan hati Nara masih sangat panjang dan penuh godaan, tapi melihat respon dan interaksi unik kami sejauh ini, aku siap menghadapi amarahnya seribu kali lagi.