Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN YANG MENUNGGU DI PUNCAK
Langit di atas istana terapung tiba-tiba berubah. Bukan gelap, bukan badai melainkan tenang. Terlalu tenang. Seakan seluruh alam semesta menahan napas.
Xuanyuan berdiri di halaman terbuka, angin lembut menyapu ujung jubah lusuhnya. Di telapak tangannya, butir emas peninggalan Penjaga perlahan memanas, memancarkan cahaya samar yang menunjuk ke arah menara tertinggi di kejauhan menara yang tidak terlihat dari bawah, tersembunyi di balik lapisan awan yang berkilau seperti sutra putih.
"Dia tahu kita di sini," kata Lian Yue pelan, berdiri di sampingnya. Tangannya menggenggam separuh Cermin Retak yang kini bergetar halus, seakan menanggapi panggilan jauh.
Xuanyuan mengangguk. "Ya. Dia tidak menyembunyikan kehadirannya. Dia membiarkan kita datang. Karena dia yakin... tidak ada yang pernah sampai sejauh ini dan kembali utuh."
Mereka melangkah maju. Di sepanjang jalan menuju menara, tidak ada gerbang yang dijaga. Tidak ada tentara. Tidak ada jebakan. Hanya keheningan yang semakin berat di setiap langkah, dan di dinding-dinding lorong yang mereka lewati, terukir ribuan nama nama-nama yang masih hidup, nama-nama yang sudah mati, nama-nama yang belum lahir. Semuanya tertulis dengan tinta emas yang sama.
"Catatan takdir," bisik Xuanyuan, matanya menyapu deretan nama itu. "Dia percaya semua orang sudah ditulis sejak awal. Bahwa pilihan hanyalah ilusi."
Ia berhenti di depan satu nama...namanya sendiri. Tertulis rapi, di antara ribuan baris lainnya. Namun di bawah namanya, tidak ada catatan masa depan. Kosong. Bersih. Seakan pena itu pernah diangkat, lalu ragu.
"Dia tidak bisa menulis akhir ceritaku," senyum tipis terukir di bibirnya. "Karena aku belum memberinya alur apa pun untuk ditulis."
Lorong berakhir di sebuah teras luas yang melayang di atas lautan awan. Di sana, di tengah-tengah teras, berdiri satu sosok. Tidak memakai mahkota, tidak memakai baju zirah. Hanya jubah putih polos yang berkibar tertiup angin. Punggungnya tegak, tangannya memegang sebatang pena emas yang ujungnya meneteskan cahaya yang tak pernah habis.
Tian Jue.
Dia tidak berbalik. Dia menatap ke arah cakrawala yang tak bertepi, seakan sedang menonton pertunjukan yang hanya dia yang bisa lihat.
"Kau terlambat," katanya. Suaranya lembut, tidak mengandung amarah, tidak mengandung kemenangan. Hanya kelelahan yang kuno. "Aku sudah menunggu sejak ribuan tahun lalu."
Xuanyuan berhenti beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak mengeluarkan senjata. Ia tidak memancarkan aura pertempuran.
"Kau menghapus nama ayah dan ibuku," katanya tenang. "Kau menghapus mereka dari setiap catatan, setiap ingatan, setiap batu yang bisa bercerita. Tapi kau lupa satu hal."
Tian Jue akhirnya berbalik. Wajahnya tenang, matanya jernih seperti langit sebelum badai. Di matanya, tidak ada kebencian. Hanya kesedihan yang dalam.
"Aku tidak lupa apa pun, Liu Xuanyuan. Aku hanya berharap kau tidak akan pernah sampai di sini. Karena aku tahu apa yang akan terjadi jika kau tahu kebenaran."
"Kebenaran apa?"
Tian Jue menunjuk ke arah pena di tangannya.
"Aku tidak menulis cerita ini. Aku hanya menjaga agar cerita ini tidak runtuh. Ayahmu, Liu Yan... dia adalah pendahuluku. Dia yang menulis hukum-hukum langit ini. Dia yang menciptakan keseimbangan ini. Dan dia juga yang menyadari bahwa keseimbangan ini membutuhkan korban yang tak terbayangkan."
Dia berhenti, menatap lurus ke mata Xuanyuan tepat ke Pupil Gandanya yang berputar perlahan.
"Gerbang Kekosongan Purba tidak bisa ditutup selamanya. Setiap satu juta tahun, ia harus diberi makan. Miliaran jiwa. Darah dari garis keturunan tertinggi. Itulah harga agar dunia tidak ditelan kegelapan yang lebih tua dari penciptaan itu sendiri. Ayahmu dan ibumu... mereka memilih menjadi persembahan itu. Secara sukarela."
Xuanyuan berdiri terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
"Mereka tidak dikhianati," lanjut Tian Jue pelan. "Mereka berkorban. Dan mereka memintaku menyembunyikan kebenaran ini darimu. Mereka ingin kau tumbuh sebagai manusia biasa, bukan sebagai anak yang tahu sejak lahir bahwa hidupnya adalah hutang yang harus dibayar."
Angin berhenti bertiup. Awan di sekitar mereka membeku di udara.
"Lalu kenapa kau memburuku?" tanya Xuanyuan, suaranya bergetar namun tetap teguh. "Kenapa kau menghancurkan semua yang kusayang jika kau tahu siapa aku?"
Tian Jue menunduk, pena di tangannya gemetar pelan.
"Karena ketika kau membuka Pupil Ganda sepenuhnya... kau tidak hanya membuka mata warisan mereka. Kau juga membuka kunci yang mereka tanam di dalam dirimu. Kau bukan hanya saksi, Xuanyuan. Kau adalah pengganti. Dan sekarang... Gerbang itu terbuka lagi. Dan kali ini... pengorbanan yang dibutuhkan bukan sekadar dua nyawa."
Dia menatap Xuanyuan dengan tatapan yang membuat darah membeku.
"Dunia ini membutuhkanmu."