Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: ANGIN MALAM
---
Malam semakin larut. Mereka bertiga masih duduk di lantai atas tempat hiburan itu. Beberapa cawan arak telah kosong, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar mabuk.
Yin Shuang bangkit lebih dulu. Ia merapikan jubahnya, lalu membuka kipas peraknya.
"Shuang, kau mau kembali?" tanya Mei Ruyan.
Yin Shuang tersenyum misterius. "Ya... menikmati angin malam." Kipasnya bergerak perlahan.
Ruyan mengangguk santai. "Hati-hati."
Mo Xuan yang duduk di sampingnya justru tertawa lirih. "Ya... ya... pergilah."
Yin Shuang menoleh.
"Semoga kau mendapatkan barang bagus," lanjut Mo Xuan.
Ruyan mengerutkan kening. "Barang bagus?"
Mo Xuan hanya menyeruput araknya. "Biarkan saja."
Yin Shuang tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Begitu sosoknya menghilang di balik tangga, Ruyan menatap Mo Xuan. "Kau tahu dia mau ke mana?"
Mo Xuan mengangguk. "Aku tahu."
"Ke mana?"
Mo Xuan tersenyum kecil. "Angin malam."
Ruyan semakin bingung. "Itu maksudnya?"
"Kalau Yin Shuang bilang ingin menikmati angin malam..." Mo Xuan meletakkan cawannya. "Artinya dia sedang berburu."
Ruyan mengangkat alis. "Berburu?"
"Siluman Anggrek Hitam."
Mei Ruyan terdiam. "Yang muncul saat bulan purnama?"
Mo Xuan mengangguk. "Siluman perempuan yang hanya muncul pada malam bulan purnama. Cantik, mempesona, dan jarang sekali terlihat."
Ruyan mendengus. "Jadi itu maksudnya?"
"Sudah lima ratus tahun tabiatnya tidak berubah."
Ruyan tersenyum miring. "Serigala memang serigala."
Mo Xuan ikut tersenyum. "Jangan salah. Dia tidak pernah mengatakan akan membawa pulang siluman itu."
"Lalu?"
"Dia hanya ingin melihat."
Ruyan tertawa kecil. "Melihat?"
"Katanya."
Mereka saling pandang beberapa detik. Ruyan kemudian mengangkat cawannya. "Kalau begitu, semoga dia benar-benar hanya melihat."
Mo Xuan tertawa lirih. "Kalau dia berhasil menemukan Anggrek Hitam malam ini, aku justru penasaran siapa yang akan mengejarnya besok pagi."
Ruyan terkekeh. "Siluman yang sudah lima ratus tahun mengenalnya?"
"Bisa jadi."
Malam di luar semakin sunyi. Bulan mulai naik tinggi. Dan jauh di antara hutan utara, seorang siluman cantik mungkin sedang menunggu bunga anggreknya mekar sempurna.
Sementara itu, Yin Shuang berjalan sendirian dengan kipas terbuka. Senyum tipis masih menghiasi wajahnya.
"Angin malam... memang paling indah saat bulan purnama."
---
Setelah Yin Shuang pergi, suasana di lantai atas menjadi lebih tenang.
Mo Xuan bergeser mendekati Mei Ruyan. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, lalu menatap Ruyan dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
"Dan... kau? Mau pergi juga, Nyonya Rubah?"
Tatapannya jelas menggoda.
Ruyan yang menyadarinya langsung salah tingkah. Ia tahu persis Mo Xuan sedang menggodanya. Ruyan mengambil cawan dan kembali minum, pura-pura tidak peduli. "Lupakan."
Mo Xuan mengangkat alis. "Kenapa?"
"Terakhir kali kau meninggalkanku sendirian di kamar."
Mo Xuan terdiam sesaat, kemudian tertawa pelan. "Jadi kau masih mengingatnya?"
Ruyan langsung menatapnya. "Aku bukan orang yang mudah lupa."
"Bagus."
"Apa bagusnya?"
Mo Xuan tersenyum. "Berarti kau masih memikirkanku."
Ruyan langsung memalingkan wajah. "Percaya diri sekali."
Mo Xuan kembali menopang dagunya. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
Ruyan mendengus. "Dasar pria aneh."
Mo Xuan tertawa kecil. Ruyan kembali meneguk araknya, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memerah. Namun Mo Xuan sudah melihatnya. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya tersenyum.
Beberapa saat mereka terdiam. Di luar, angin malam berembus melewati jendela lantai atas. Suara musik dari lantai bawah terdengar samar, bercampur dengan suara para siluman yang masih menikmati malam.
Ruyan meletakkan cawannya. "Mo Xuan."
"Hm?"
"Menurutmu, Luo Lan benar-benar akan membiarkan Yin Shuang melihatnya?"
Mo Xuan meliriknya. "Siapa tahu?"
"Kau mengenal Yin Shuang selama lima ratus tahun."
"Benar."
"Dan kau tidak tahu?"
Mo Xuan mengangkat bahu. "Yin Shuang mungkin pandai mencari siluman cantik, tetapi bukan berarti dia pandai membuat siluman itu mau menemuinya."
Ruyan tertawa kecil. "Untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu."
Mo Xuan menyipitkan mata. "Pertama kalinya?"
"Jangan besar kepala."
Mo Xuan terkekeh. "Sayang sekali. Padahal aku hampir merasa tersentuh."
Ruyan memutar bola matanya. "Pria aneh."
Mo Xuan kembali tertawa.
Untuk malam itu, mereka tidak membicarakan Se Chang lagi. Tidak juga membicarakan Feng Yao. Mereka hanya duduk berdua di bawah cahaya lampion, saling menggoda seperti biasa. Hanya saja kali ini, tidak ada satu pun dari mereka yang buru-buru pergi.
---
Jauh di hutan utara, bulan purnama perlahan naik ke langit. Di antara pepohonan yang diselimuti kabut tipis, aroma bunga yang samar mulai menyebar.
Yin Shuang menghentikan langkahnya. Kipas peraknya terlipat di tangannya. Senyumnya perlahan berubah.
"Luo Lan..."
Di kejauhan, sebuah bayangan perempuan berdiri di bawah pohon tua. Jubah hitamnya bergerak mengikuti angin. Rambut panjangnya terurai, dan di sekeliling tubuhnya tampak cahaya ungu gelap seperti kelopak anggrek yang baru mekar.
Perempuan itu menoleh perlahan. Sepasang mata indah menatap Yin Shuang dari balik kabut.
"Serigala Perak..." bisiknya.
Yin Shuang tersenyum. "Sudah lama tidak bertemu, Nona Luo Lan."
Luo Lan tidak menjawab. Ia hanya mengangkat sudut bibirnya.
Malam itu, angin utara membawa aroma anggrek hitam semakin jauh ke dalam hutan.