Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Saklar Obsesi Menyala
Rendra turun dari podium depan kelas dengan langkah yang masih terlihat tegap dan berwibawa. Di belakangnya, tepuk tangan riuh dari cewek-cewek kelas XI-A bergemuruh, bahkan ada yang sengaja bersiul caper. Ujian pidatonya sukses besar. Tips dari Naya semalam terbukti manjur seratus persen.
Begitu duduk di kursinya, Rendra langsung mengembuskan napas lega yang tertahan.
"Rendra, gila lo keren banget tadi pidatonya!" bisik Aldi, cowok yang duduk di sebelahnya, sambil menyenggol lengan Rendra. "Ga ada teks tapi lancar jaya kayak jalan tol."
Rendra hanya menoleh sedikit, memberikan anggukan tipis tanpa ekspresi yang biasa dia tunjukkan di depan umum. "Biasa aja," jawab Rendra pendek, suaranya terdengar berat dan dalam, bikin Aldi langsung ciut.
Padahal di dalam batinnya, Rendra sedang bersorak kegirangan. “Selamat! Gue ga ngompol, gak gagap, dan reputasi pangeran sekolah gue aman terkendali! Makasih banyak, Naya!”
"Oke, selanjutnya Kanaya Putri, silakan maju ke depan," panggil Bu Retno dari meja guru.
Rendra mendongak, matanya otomatis melirik ke arah pojok kanan paling belakang kelas. Di sana, Naya bangkit dari duduknya sambil menguap tipis tanpa beban. Cewek itu maju ke depan kelas dengan langkah santai, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu mulai berbicara.
"Selamat pagi semuanya. Tema pidato saya hari ini singkat aja: Pemuda dan Masa Depan. Intinya, kalau mau masa depan bagus, ya belajar, jangan kebanyakan pacaran atau caper di koridor sekolah. Gak guna. Sekian, terima kasih," ucap Naya datar, lalu langsung balik badan menuju kursinya sebelum Bu Retno sempat berkomentar.
"Eh? Kanaya, itu pendek sekali pidatonya? Minimal tiga menit!" protes Bu Retno sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Yang penting intinya tersampaikan, Bu. Lagian kalau kepanjangan nanti teman-teman ngantuk," sahut Naya santai sambil kembali duduk di pojok kelas, lalu langsung menopang dagunya lagi.
Seisi kelas langsung tertawa kecil mendengar jawaban ceplas-ceplos Naya. Rendra yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dalam hati. “Benar-benar tipe Naya. Sangat anti-formalitas dan bermulut tajam.”
Kringgg!!!
Bel istirahat pertama akhirnya berdering nyaring. Dalam hitungan detik, kelas XI-A langsung kosong melompong karena para murid berhamburan keluar ruangan demi memburu semangkok bakso di kantin.
"Ren, ke kantin ga lo? Gue mau mesen mi ayam nih," ajak Aldi sambil merapikan dompetnya.
"Gak. Duluan aja. Gue mau ngerapihin buku dulu," jawab Rendra dingin.
"Yaelah, kaku bener lo kayak kanebo kering. Ya udah gue duluan ya!" Aldi melesat keluar kelas.
Rendra sengaja berlama-lama memasukkan buku tulisnya ke dalam tas. Dia sengaja menunggu sampai koridor kelas benar-benar sepi agar dia tidak perlu berpapasan dengan kerumunan siswi yang hobi menjerit histeris setiap kali melihat wajahnya.
Naya sendiri sudah keluar kelas sejak semenit yang lalu bersama teman sebangkunya, meninggalkan tas ransel hitamnya yang resletingnya terbuka setengah di pojok kelas.
Rendra bangkit dari kursinya, menyampirkan satu tali tasnya di bahu kiri. Saat dia melangkah melewati barisan meja belakang untuk menuju pintu keluar, matanya tidak sengaja menangkap selembar kertas binder yang tergeletak mengenaskan di bawah kolong meja Naya. Kertas itu tampaknya terjatuh dari tumpukan buku catatan Naya yang berantakan.
Niat awal Rendra sebenarnya murni karena kebaikan hati. Dia hanya mau mengambil kertas itu, lalu menaruhnya di atas meja Naya agar tidak terinjak-injak murid lain. Tapi, begitu jemarinya menyentuh permukaan kertas binder tersebut, matanya mendadak terpaku pada sebuah coretan pulpen hitam di pojok kanan atas kertas.
Di sana, di antara coretan rumus-rumus matematika yang dicoret-coret asal, tertulis sebuah catatan pengingat dengan tulisan tangan yang agak miring:
Log Discord Utama:
ID: NIGHTMARE#9999
Server: INDO-GAMING-EMPIRE (Owner/Admin)
Notes: Ganti password minggu depan, bocah-bocah toxic di server utama makin banyak yang nyampah.
Jantung Rendra mendadak berhenti berdetak selama beberapa detik penuh. Matanya melebar sempurna sampai rasanya mau melompat keluar dari rongganya. Dia mengucek matanya berkali-kali, mengira dia sedang berhalusinasi akibat efek kurang tidur karena begadang semalam.
"N-Nightmare... #9999?" bisik Rendra dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.
Otaknya yang biasanya encer dan selalu ranking satu paralel itu mendadak mengalami loading yang sangat lama. Nama akun itu, angka kode unik di belakangnya, bahkan catatan kecil soal "bocah toxic"—itu adalah detail yang teramat sangat spesifik.
"Gak... Gak mungkin, kan?" Rendra bergumam sendiri di dalam kelas yang sepi.
Dengan tangan yang mendadak gemetaran parah, Rendra buru-buru merogoh ponsel mahal dari saku celananya. Dia membuka aplikasi Discord dengan gerakan panik, lalu mencocokkan nomor ID tertulis di kertas itu dengan profil Nightmare yang ada di ruang obrolan privatnya.
Semuanya cocok. Persis 100 persen. Tidak ada meleset satu huruf atau satu angka pun.
Detik itu juga, sebuah kebenaran besar menghantam kepala Rendra laksana hantaman palu gada raksasa. Selama beberapa bulan terakhir ini, dia menangis, merengek, mengeluh, bahkan mengemis semangat setiap malam... kepada seorang cewek yang ternyata setiap hari duduk di pojok kelasnya sendiri? Cewek yang setiap hari melihatnya berakting sok keren dan sok jagoan di dunia nyata?!
Muka Rendra yang tadinya pucat karena syok, mendadak berubah menjadi merah padam sampai ke telinganya. Rasa malu yang luar biasa hebat menjalar ke seisi tubuhnya. Dia rasanya ingin mendadak punya kekuatan gaib agar bisa menghilang dari muka bumi sekarang juga.
“Anjir... berarti selama ini dia tahu gue aslinya cengeng? Gak, gak, dia belum tahu muka asli gue! Tapi dia tahu kelakuan asli gue!” batin Rendra menjerit histeris, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
Namun, lima detik setelah rasa malu itu memuncak di dadanya, sebuah keanehan psikologis terjadi di dalam kepala Rendra. Ada sebuah saklar tak kasat mata yang mendadak berbunyi ‘KLIK’ di dalam otaknya yang agak geser itu.
Pandangan mata Rendra yang tadinya panik dan ketakutan, perlahan-lahan berubah menjadi sangat intens. Tatapan matanya yang dingin kini berganti menjadi tatapan tajam yang penuh dengan kilatan obsesi yang menyala-nyala. Level obsesinya yang tadinya berada di angka normal, langsung melesat menembus batas maksimal: 10/10.
"Jadi... selama ini lo ada di sini, Nay?" bisik Rendra pelan. Suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan dingin, sangat kontras dengan isi hatinya yang saat ini sedang menyalakan pesta kembang api raksasa.
Rendra menatap kursi kosong milik Naya dengan seulas senyum tipis yang kelihatan agak misterius—dan sedikit kurang waras. Rasa takutnya hilang, digantikan oleh rasa kepemilikan yang mendadak membubung tinggi.
"Pawang mental gue... ternyata duduk di pojok kelas ini setiap hari," Rendra terkekeh pelan sendirian, membuat atmosfer kelas yang sepi terasa agak merinding.
Dengan sangat hati-hati, Rendra melipat kertas binder itu menjadi lipatan kecil yang rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku seragamnya yang paling dalam, tepat di posisi jantungnya. Dia sama sekali tidak berniat mengembalikan kertas itu ke tempat semula. Kertas itu sekarang resmi menjadi jimat paling berharga dalam hidupnya.
Topeng pangeran dinginnya di sekolah tidak boleh pecah sekarang. Belum saatnya. Dia harus menyusun strategi yang matang. Mulai detik ini, fokus hidup Rendra di SMA Garudatama berubah total 180 derajat. Dia tidak peduli lagi dengan nilai ujian Fisika atau tatapan memuja dari cewek-cewek lain. Satu-satunya misi suci hidupnya sekarang adalah: bagaimana caranya agar dia bisa terus mengikat Kanaya Putri agar selalu berada di dekatnya.
"Gak boleh ada cowok lain yang mendekat," gumam Rendra sambil meremas tali tasnya kuat-kuat. "Kalau sampai ada cowok kelas sebelah yang berani caper sama lo, gue bakal mastiin jalur angkot depan sekolah ini gue beli sekalian biar lo cuma bisa pulang bareng gue, Naya sayang."
Rendra membalikkan badannya, lalu melangkah keluar kelas dengan aura yang entah kenapa kerasa jauh lebih gelap, dingin, tapi sekaligus penuh dengan tekad obsesif yang mengerikan. Saklar obsesi sang pangeran sekolah sudah menyala secara permanen, dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mematikannya lagi. Badai besar siap dimulai besok pagi.