NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:206
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENYAMARAN ANGGUN

Lampu neon keemasan berukuran raksasa bertuliskan 'Golden Palace' membelah kegelapan malam, memantulkan cahaya menyilaukan di atas aspal jalanan yang masih basah. Dari luar, kasino itu terlihat seperti istana Eropa klasik yang dipindahkan paksa ke tengah distrik hiburan kota. Pintu masuknya dijaga oleh pilar-pilar marmer palsu dan deretan mobil mewah yang sedang antre menurunkan penumpangnya.

Leo berjalan dengan punggung tegak, mengabaikan denyut nyeri di bahunya yang sesekali masih terasa. Setiap langkahnya memancarkan arogansi khas Rafael Rossi, putra tunggal taipan properti yang uangnya tidak berseri. Di sampingnya, Elena menggamit lengan kiri Leo dengan luwes. Gaun malam merah marunnya berkibar pelan tertiup angin malam, belahan tingginya memperlihatkan kaki jenjangnya setiap kali ia melangkah. Hak sepatunya berbunyi ritmis beradu dengan trotoar.

"Ingat, kau orang kaya yang sombong dan gampang bosan," bisik Elena merapatkan tubuhnya ke lengan Leo.

"Aku dulu pangeran mafia, sombong itu keahlian asliku," balas Leo tanpa menoleh, bibirnya mengukir senyum meremehkan. "Kau sendiri fokus saja jadi pacar simpanan yang cerewet."

Mereka tiba di depan pintu kaca ganda kasino. Empat orang penjaga berbadan tegap dengan setelan jas hitam berdiri memblokir jalan. Leo langsung mengenali postur dan cara berdiri mereka. Itu bukan satpam biasa, melainkan algojo jalanan yang baru saja direkrut Marco, kini didandani agar terlihat seperti profesional.

"Selamat malam, Tuan. Boleh lihat identitas dan kartu keanggotaan VIP Anda?" sapa salah satu penjaga menahan dada Leo dengan lengannya. Suaranya sopan, tapi matanya menatap tajam penuh curiga.

Leo mendengus kasar, sengaja memutar bola matanya yang kini berwarna abu-abu.

"Kau tidak tahu siapa aku? Rafael Rossi," ucap Leo melempar kartu identitas dan sebuah kartu logam hitam ke dada penjaga itu, membiarkan pria berbadan besar itu menangkapnya dengan kikuk. "Cepat periksa, aku benci menunggu di luar bersama orang-orang miskin ini."

Penjaga itu menahan rahangnya yang mengeras. Ia menggesek kartu hitam tersebut ke alat pemindai di tangannya. Lampu hijau menyala seketika. Sistem keamanan kasino, yang sudah diretas Elena, mengonfirmasi bahwa Rafael Rossi adalah tamu super VIP dengan saldo miliaran.

"Silakan masuk, Tuan Rossi," kata penjaga itu mengembalikan kartu Leo dengan sedikit menunduk. "Tapi Anda dan nyonya harus melewati detektor logam dulu."

Leo melangkah masuk melewati gerbang detektor. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Di balik jas sutra abu-abunya, terselip pistol polimer komposit kaliber .22. Ia tahu bahan itu seharusnya tidak memicu alarm magnetik, tapi teori kadang berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Ia melewati gerbang itu. Hening. Tidak ada bunyi bip merah. Leo menghela napas lega dalam hati.

Namun, saat giliran Elena melangkah masuk, alarm detektor logam tiba-tiba berbunyi nyaring.

Tit! Tit! Tit!

Dua penjaga lainnya langsung bergerak mendekat, tangan mereka secara refleks meraba pinggang tempat senjata mereka disembunyikan. Leo menegang, siap mencabut pistol polimernya kalau situasi memburuk.

"Ada masalah, Nyonya. Kami harus memeriksa Anda secara manual," ucap penjaga pertama mengeluarkan sebuah tongkat pemindai genggam.

"Jangan berani-berani sentuh aku!" bentak Elena tiba-tiba, suaranya melengking tajam khas wanita kaya yang sedang tantrum.

Gadis itu menepis tangan penjaga yang mencoba mendekatkan tongkat pemindai. Ia menatap pria besar itu dengan tatapan jijik yang sangat meyakinkan.

"Ini kalung berlian asli berbingkai platina murni, dasar bodoh!" sembur Elena mengangkat kalung yang melingkar di leher jenjangnya. "Tentu saja mesin murahan kalian akan berbunyi! Singkirkan tangan kotormu dari gaunku, kau tahu berapa harga kain ini? Gaji setahunmu tidak akan cukup untuk membelinya!"

Penjaga itu tampak kebingungan dan salah tingkah. Ia melirik ke arah Leo, mengharapkan bantuan.

Leo langsung memainkan perannya. Ia maju satu langkah, menatap penjaga itu dengan tatapan membunuh.

"Kau dengar pacarku bilang apa? Singkirkan mesin itu," ancam Leo dengan nada rendah yang dingin. "Kalau kau membuat gaunnya lecet, aku akan menelpon manajermu dan memastikan kau jadi tukang parkir besok pagi."

Penjaga itu menelan ludah. Berurusan dengan orang kaya gila yang punya koneksi selalu menjadi mimpi buruk bagi pekerja kasino. Ia akhirnya mundur dan mematikan tongkat pemindainya.

"Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Rossi. Silakan nikmati malam Anda di Golden Palace," ucap penjaga itu membukakan pintu bagian dalam.

Begitu pintu kaca itu tertutup di belakang mereka, suara bising mesin slot, denting koin, dan alunan musik jazz langsung menyergap telinga. Udara di dalam ruangan itu dipenuhi aroma parfum mahal, asap cerutu, dan bau keringat orang-orang yang sedang mempertaruhkan sisa hidup mereka di meja judi.

"Akting yang lumayan," bisik Leo membetulkan kerah jasnya.

"Aku banyak menonton drama murahan," balas Elena berbisik pelan diiringi senyum anggun. "Sekarang, pergilah ke meja kasir VIP. Tukar seratus ribu dolar. Pakai kartumu, saldonya sudah kuisikan dari uang gelap Marco sendiri."

Leo berjalan angkuh menuju meja penukaran khusus VIP. Ia melempar kartu hitamnya ke meja marmer, meminta seratus ribu dolar dalam bentuk cip pecahan sepuluh ribu. Sang kasir dengan cepat melayaninya, memberikan setumpuk cip berwarna ungu tua.

Sambil memainkan dua cip di tangan kirinya, Leo melangkah menuju tangga berlapis karpet merah yang mengarah ke lantai mezzanine, tempat meja-meja Baccarat kelas atas berada. Sepanjang jalan, beberapa pria hidung belang menatap lekat ke arah Elena. Gadis itu memang luar biasa memukau malam ini. Gaun merah marunnya mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna, membuat siapa pun pasti mengira ia adalah model papan atas.

Mereka tiba di meja Baccarat VIP yang sedang ramai. Area ini dijaga oleh tiga pengawal berseragam. Leo duduk di salah satu kursi kosong, sementara Elena berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya dengan manja di pundak pria itu.

"Taruhan minimum sepuluh ribu dolar, Tuan," ucap sang *dealer* tersenyum sopan.

"Beri aku kartu," perintah Leo melempar satu cip ungu ke tengah meja tanpa melihat.

Permainan dimulai. Sesuai rencana, Leo harus membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Pada putaran pertama, ia kalah telak. Alih-alih tenang, Leo sengaja memukul meja dengan kepalan tangan kirinya, membuat tumpukan cip pemain di sebelahnya sedikit bergetar.

"Bagi kartu yang benar! Kau mau merampokku, hah?!" bentak Leo menunjuk wajah sang *dealer*.

Beberapa pasang mata di meja itu langsung menoleh ke arahnya. Manajer lantai VIP, seorang pria botak berkumis tipis, perlahan berjalan mendekati meja mereka dengan tatapan mengawasi. Sempurna. Semua perhatian keamanan lantai dua kini tertuju pada Rafael Rossi si pria kaya yang pemarah.

Di belakang Leo, Elena mulai melancarkan bagian rencananya. Ia menguap lebar-lebar, sengaja menyenderkan berat badannya ke punggung kursi Leo.

"Babe, tempat ini membosankan sekali. Bau asap cerutunya bikin aku mual," keluh Elena dengan suara manja yang cukup keras untuk didengar oleh manajer lantai. "Aku mau ke toilet membetulkan riasanku."

Leo mendecak kesal, menatap Elena dari bahunya dengan tatapan terganggu.

"Pergilah, jangan lama-lama. Kau mengganggu konsentrasiku," usir Leo mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat. "Bawa satu cip ini kalau kau mau pesan sampanye di bar bawah."

"Kau memang yang terbaik, Babe," balas Elena mengecup pipi Leo dengan cepat, menyisakan noda lipstik merah tipis di kulit silikon pria itu.

Elena berbalik dan berjalan menjauhi area Baccarat. Pinggulnya bergoyang anggun, membuat beberapa pasang mata otomatis mengikuti langkahnya. Ia berjalan menuruni tangga utama, kembali ke lantai dasar yang riuh.

Begitu kakinya menyentuh karpet lantai dasar, ekspresi manja di wajah Elena lenyap tak berbekas. Matanya yang cokelat gelap berubah menjadi tatapan predator yang sedang memburu mangsa. Ia berjalan santai namun dengan tujuan pasti, menyusuri lorong sempit di samping deretan mesin slot yang jarang dilewati pemain.

Di ujung lorong itu, terdapat sebuah pintu ganda kayu tebal bertuliskan 'Staff Only'. Pintu itu dilengkapi panel pemindai kartu RFID di sebelahnya.

Elena berhenti sejenak, berpura-pura memeriksa riasan wajahnya dari cermin kecil di dalam dompet genggamnya. Dari pantulan cermin itu, ia melihat seorang pria berseragam supervisor kasino sedang berjalan ke arahnya sambil menunduk memeriksa papan klip. Kartu akses warna putih menggantung di leher pria itu dengan tali *lanyard*.

Elena mengatur napasnya. Saat pria itu tinggal berjarak tiga meter darinya, Elena sengaja memutar tubuhnya seolah baru saja tersandung hak sepatunya sendiri. Ia menabrak dada pria itu dengan cukup keras.

"Aw!" jerit Elena menjatuhkan dompet genggamnya ke lantai.

"Astaga, maafkan saya, Nona. Anda tidak apa-apa?" panik pria itu buru-buru menunduk untuk mengambil dompet Elena yang terjatuh.

"Kau ini punya mata tidak sih?!" omel Elena menunduk bersamaan dengan pria itu.

Saat tangan pria itu sibuk meraih dompet di lantai, jari-jari ramping Elena bergerak secepat kilat. Ia tidak mencuri kartunya. Ia hanya menempelkan sebuah kotak hitam seukuran kotak korek api ke permukaan kartu RFID yang menggantung di dada pria itu. Dalam hitungan nol koma sekian detik, lampu biru kecil di kotak itu berkedip. Kode enkripsi kartu tersebut telah disalin dengan sempurna.

Elena langsung menarik tangannya dan mengambil dompetnya dari tangan pria itu secara kasar.

"Lain kali lihat jalan!" dengus Elena berdiri dan langsung merapikan gaunnya.

"Sekali lagi saya minta maaf, Nona," ucap pria itu membungkuk gugup lalu bergegas pergi dari lorong tersebut, tidak ingin berurusan dengan tamu VIP yang marah.

Elena menyeringai tipis. Ia berjalan mendekati pintu 'Staff Only', menempelkan kotak cloner hitamnya ke panel pemindai.

Klak.

Lampu indikator berubah menjadi hijau, dan kunci magnetik pintu itu terbuka. Elena mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam lorong staf yang sepi dan dingin. Dinding di sana terbuat dari beton polos, diterangi lampu neon putih yang menyilaukan. Tiga buah kamera CCTV terpasang di langit-langit, namun Elena tahu kamera itu sudah ia buat memutar rekaman kosong sejak lima menit yang lalu dari ponselnya.

Ia terus berjalan cepat menyusuri lorong hingga tiba di depan sebuah pintu besi tanpa jendela. Tulisan di pintunya berbunyi: 'Ruang Server & Panel Daya'.

Elena membuka pintu itu dengan cara yang sama. Suara bising dari belasan rak server langsung menyambut telinganya. Suhu di dalam ruangan itu sangat dingin, membuat napas Elena sedikit beruap.

Gadis itu berjalan mendekati terminal komputer utama yang berada di tengah ruangan. Ia merogoh belahan gaunnya, mengeluarkan sebuah *flashdrive* kecil yang sedari tadi ia sembunyikan di sana. Tanpa membuang waktu, Elena mencolokkan perangkat itu ke salah satu *port* USB di belakang monitor.

"Waktunya bekerja, Sayang," gumam Elena menatap baris kode hijau yang mulai berlarian di layar komputer. "Mari kita buat kasino ini buta dan tuli."

Di telinganya, earpiece yang terhubung dengan Leo terdengar mendesis pelan sebelum suara pria itu masuk.

"Aku sudah kalah dua ratus ribu dolar, Elena. Manajer lantai sekarang berdiri tepat di sebelahku karena aku baru saja memaki dealernya," bisik Leo dari seberang sana, suaranya terdengar sangat tenang meski sedang dikelilingi musuh. "Berapa lama lagi?"

"Beri aku tiga menit," balas Elena mengetikkan serangkaian perintah eksekusi di keyboard dengan kecepatan luar biasa. "Begitu lampu di atas meja Baccarat-mu berkedip dua kali, itu tandanya lorong menuju ruang hitung sudah lumpuh. Bersenang-senanglah di sana, Rafael."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!