Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebocoran
Adrian membaca pesan itu berulang kali, berharap ada bagian yang salah ia pahami. Namun, kalimat terakhir tetap sama, menyebut nama ayah Naura dan menghubungkannya dengan pembicaraan keluarga Mahendra pada masa lalu.
Selama ini, ia mengira persoalan tersebut berpusat pada kerja sama Alexander International, kebocoran informasi proyek Bali, serta hubungan Rendra dengan Clarissa. Kini, seseorang justru membawa nama keluarga istrinya ke dalam urusan yang bahkan belum sepenuhnya ia mengerti.
Adrian segera mengambil tangkapan layar pesan tersebut dan mengirimkannya kepada Dimas dengan instruksi untuk menyimpan bukti komunikasi itu. Ia tidak ingin membalas nomor anonim tersebut sebelum mengetahui apakah pengirimnya benar-benar memiliki informasi atau sekadar mencoba memancing reaksinya.
Setelah itu, ia menelepon Naura.
Panggilan tersambung ketika perempuan itu sedang berada di ruang kerja, menyelesaikan revisi desain untuk kliennya.
“Adrian? Ada apa?” terdengar suara Naura dari seberang.
“Aku perlu bicara denganmu. Apa kamu punya waktu sebentar?”
Naura langsung menangkap keseriusan dalam nada suaminya. “Aku sedang menyelesaikan revisi, tapi bisa bicara. Ada perkembangan tentang Surya Atmadja?”
“Bukan hanya tentang dia.” Adrian berhenti sejenak. “Aku baru menerima pesan dari nomor anonim yang menghubungimu kemarin.”
“Pesan apa?”
Adrian menarik napas sebelum menjawab, “Orang itu menyuruhku bertanya kepada Mama tentang alasan nama ayahmu pernah muncul dalam pembicaraan keluarga Mahendra.”
Di seberang telepon, Naura terdiam.
Adrian tidak langsung melanjutkan. Ia memberi istrinya waktu untuk memahami perkataan tersebut, meskipun dalam benaknya sendiri pertanyaan terus bertambah.
“Ayahku?” akhirnya Naura bersuara. “Apa hubungannya Ayah dengan keluarga kalian?”
“Itu yang belum kuketahui. Pesan itu tidak menjelaskan apa pun selain menyebut namanya.”
Naura mengembuskan napas perlahan. “Aku tidak pernah mendengar Ayah bercerita tentang urusan bisnis dengan keluarga Mahendra. Setahuku, pekerjaannya selama ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan besar.”
“Aku tidak akan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pesan itu.”
“Aku tahu.” Nada suara Naura terdengar lebih tenang sekarang. “Tapi aku ingin kamu mencari tahu dengan jelas. Kalau memang ada hubungan antara Ayah dan keluargamu, aku berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Aku akan mencari tahu. Sore ini aku berencana kembali menemui Mama, tetapi sekarang aku ingin meminta pendapatmu dulu.”
“Pendapatku?”
“Apakah kamu keberatan kalau aku menanyakan hal ini kepada Mama?”
Naura terdiam sebentar sebelum menjawab. “Tidak. Kalau memang beliau pernah mendengar nama Ayah dalam pembicaraan keluarga, tanyakan saja. Tapi jangan membuatnya seolah-olah Ayah melakukan sesuatu yang buruk. Kita belum tahu apa-apa.”
“Aku mengerti.”
“Dan satu lagi, Adrian.” Suara Naura melembut. “Jangan menyembunyikan perkembangan ini dariku hanya karena kamu takut aku khawatir.”
Adrian menunduk, menatap berkas di mejanya yang sejak tadi tidak lagi ia perhatikan.
“Aku tidak akan menyembunyikannya.”
“Baiklah. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku sekarang. Nanti kita bicara lagi di rumah.”
Setelah panggilan berakhir, Adrian tetap memegang ponselnya beberapa saat.
Ia bersyukur Naura tidak langsung panik atau menuntut jawaban yang belum dimilikinya. Namun, ia juga menyadari bahwa persoalan ini berpotensi melukai istrinya apabila nama ayahnya memang berkaitan dengan sesuatu yang tidak menyenangkan dalam sejarah keluarga Mahendra.
Karena itulah, ia harus berhati-hati. Bukan hanya demi perusahaan, melainkan juga demi Naura.
---
Di rumah, Naura berusaha kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia memeriksa revisi desain, membalas pesan Naya, lalu mengikuti rapat singkat dengan tim kreatif. Dari luar, tidak ada yang berbeda dari rutinitasnya.
Namun, pikirannya beberapa kali kembali kepada perkataan Adrian. Nama ayahnya pernah muncul dalam pembicaraan keluarga Mahendra.
Naura tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dicapai pengirim pesan itu. Bisa saja orang tersebut memang mengetahui sesuatu yang penting, tetapi bisa juga ia sengaja menggunakan nama keluarga Naura agar Adrian semakin sulit mempercayai orang-orang di sekitarnya.
Naura tidak ingin terjebak dalam permainan semacam itu.
Saat jam makan siang tiba, ia memutuskan menelepon ibunya untuk memastikan keadaan di rumah. Percakapan mereka berlangsung ringan pada awalnya, membicarakan kondisi kesehatan, makanan, dan rencana Naura pulang lebih awal pada akhir pekan.
Namun, sebelum mengakhiri panggilan, Naura teringat satu hal.
“Bu, Naura mau tanya sesuatu.”
“Apa, Nak?”
“Dulu, Ayah pernah punya urusan dengan keluarga Mahendra atau perusahaan besar yang namanya Mahendra Group?”
Di seberang telepon, ibunya tidak langsung menjawab. Keheningan itu membuat Naura menegakkan tubuh.
“Bu?”
“Ibu tidak tahu banyak tentang urusan pekerjaan Ayah,” jawab ibunya akhirnya. “Tapi Ibu ingat, dulu pernah ada seorang laki-laki datang menemui Ayah di rumah lama kita. Mereka berbicara cukup lama di ruang depan.”
“Siapa orang itu?”
“Ibu tidak ingat namanya. Sudah lama sekali, Naura. Waktu itu kamu masih lebih muda dan sedang sibuk dengan sekolah.”
Naura mencoba mengingat masa-masa tersebut. Ia memang tidak selalu berada di rumah, terutama ketika mulai memasuki masa kuliah. Banyak hal yang mungkin terjadi tanpa sepengetahuannya.
“Apakah Ayah pernah bercerita setelah orang itu pulang?”
“Tidak secara terperinci. Ayah hanya bilang ada urusan lama yang perlu diselesaikan.”
“Urusan lama apa, Bu?”
“Ibu tidak tahu.” Suara ibunya terdengar tulus, tanpa tanda bahwa ia sengaja menghindari pertanyaan. “Kamu bisa bertanya sendiri kepada Ayah kalau nanti pulang. Mungkin beliau masih mengingatnya.”
Naura menggigit bibir bawahnya, berpikir.
Ia tidak ingin membuat ibunya ikut cemas hanya karena pesan anonim. Karena itu, ia tidak menceritakan seluruh persoalan yang sedang dihadapi Adrian.
“Baik, Bu. Nanti Naura akan bertanya langsung kepada Ayah.”
Setelah menutup telepon, Naura membuka percakapan dengan Adrian dan mengetikkan informasi yang baru saja ia dapatkan.
Ibu ingat pernah ada seorang laki-laki datang menemui Ayah di rumah lama kami. Mereka membicarakan urusan lama, tetapi Ibu tidak tahu detailnya. Aku akan menanyakan langsung kepada Ayah saat ada kesempatan.
Balasan Adrian datang tidak lama kemudian.
Terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan mencari tahu dari sisi keluargaku terlebih dahulu. Jangan khawatir, aku tidak akan menyimpulkan apa pun sebelum ada bukti.
Naura membaca pesan itu, lalu meletakkan ponselnya. Setidaknya, Adrian tidak mencoba menutupi persoalan tersebut darinya. Untuk sekarang, itu cukup membuatnya merasa mereka masih berada di pihak yang sama.
Namun, satu pertanyaan tetap mengusiknya. Jika ayahnya memang pernah berurusan dengan keluarga Mahendra, mengapa hal itu tidak pernah menjadi bagian dari cerita keluarganya?
---
Adrian kembali menemui Helena.
Ibunya sedang duduk di ruang baca ketika Adrian tiba. Sebuah buku terbuka di pangkuannya, tetapi ia segera meletakkannya begitu melihat putranya masuk.
“Kamu datang lagi?” Helena tampak sedikit terkejut. “Ada yang ingin kamu tanyakan?”
Adrian duduk di kursi seberang.
“Aku menerima informasi baru tentang pertemuan yang Mama hadiri bersama Surya Atmadja.”
Ekspresi Helena berubah serius. “Informasi apa?”
“Nama ayah Naura disebut dalam pesan anonim yang kuterima.”
Helena terdiam. Kali ini, reaksinya lebih jelas daripada ketika Adrian menanyakan Surya Atmadja.
Adrian memperhatikan ibunya dengan saksama.
“Mama mengenal ayah Naura?”
Helena menunduk sejenak, lalu merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan.
“Siapa yang mengatakan nama ayah Naura kepadamu?”
“seorang yang tidak mau menunjukkan identitasnya. Dia tidak memberikan penjelasan apa pun. Hanya menyuruhku menanyakan hal itu kepada Mama.”
Helena mengembuskan napas panjang.“Namanya siapa?”
Adrian menyebutkan nama ayah Naura. Helena mengangguk pelan, seolah nama itu membangkitkan ingatan yang sudah lama tersimpan.
“Mama pernah mendengar namanya dari ayahmu,” katanya. “Tapi Mama tidak pernah bertemu dengannya secara langsung.”
“Dalam urusan apa?”
“Dulu, sebelum kamu mengambil alih perusahaan, ayahmu pernah menangani sebuah kerja sama yang tidak berjalan sesuai rencana. Ada beberapa pihak yang terlibat, termasuk orang-orang di luar Mahendra Group. Nama ayah Naura pernah disebut dalam pembicaraan itu.”
Adrian condong ke depan.
“Apakah dia mitra bisnis keluarga kita?”
“Bukan mitra utama. Setidaknya, sejauh yang Mama ketahui.” Helena berusaha mengingat. “Ayahmu pernah mengatakan bahwa ada seseorang yang membantu menyelesaikan persoalan dalam kerja sama tersebut. Mama tidak tahu apakah orang itu ayah Naura atau orang lain yang memiliki nama serupa.”
“Apakah Surya Atmadja terlibat dalam kerja sama itu?”
Helena memandang putranya cukup lama.
“Mama tidak bisa memastikan. Tetapi nama Surya memang pernah muncul ketika ayahmu membicarakan persoalan lama tersebut.”
Adrian merasakan pikirannya semakin penuh. Nama ayah Naura dan Surya Atmadja kini berada dalam lingkaran sejarah bisnis yang sama, tetapi ia belum memiliki informasi yang cukup untuk memahami hubungan di antara keduanya.
“Kenapa Mama tidak pernah menceritakan ini sebelumnya?”
“Karena Mama tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kehidupanmu sekarang. Waktu itu, urusan tersebut sudah selesai menurut pengetahuan Mama.” Helena menatap putranya. “Mama juga tidak ingin membicarakan masalah pekerjaan ayahmu yang sudah lama berlalu tanpa mengetahui seluruh faktanya.”
Adrian mengangguk perlahan. Penjelasan itu masuk akal, meskipun belum menjawab semua pertanyaannya.
“Apakah Mama masih menyimpan catatan atau surat yang berkaitan dengan kerja sama tersebut?”
Helena berpikir sejenak.
“Mungkin ada beberapa arsip lama di ruang penyimpanan keluarga. Sebagian barang ayahmu belum pernah dipindahkan sejak beliau meninggal. Mama tidak tahu apakah semuanya masih lengkap.”
“Bisakah aku memeriksanya?”
“Tentu. Tapi jangan berharap semuanya masih tersimpan dengan baik. Ada banyak barang yang sudah dipindahkan selama bertahun-tahun.”
Adrian berdiri. “Aku akan meminta bantuan bagian legal untuk menelusuri catatan perusahaan. Kalau ada dokumen yang memang menjadi arsip keluarga, aku ingin memeriksanya bersama Mama.”
Helena mengangguk, tetapi sebelum Adrian melangkah pergi, ia memanggil putranya.
“Adrian, ada satu hal yang perlu Mama ingatkan.”
Adrian berbalik.
“Jangan biarkan orang yang mengirim pesan anonim itu mengendalikan langkahmu. Dia mungkin tahu sesuatu, tetapi bukan berarti semua yang dikatakannya benar.”
“Aku tahu, Ma.”
“Dan jangan sampai Naura merasa bahwa keluarganya sedang diadili oleh keluarga kita. Kalau memang ada persoalan lama, kita harus mencari tahu dengan cara yang benar.”
Adrian menatap ibunya. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia melihat bahwa kekhawatiran Helena bukan hanya tentang nama baik keluarga Mahendra, tetapi juga tentang dampak persoalan tersebut terhadap Naura.
“Aku tidak akan menyalahkan siapa pun tanpa bukti,” jawabnya. “Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya.”
Helena mengangguk dan membiarkan putranya pergi.
---
Malam itu, Adrian pulang lebih lambat karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Naura sudah berada di ruang keluarga, duduk di samping ibunya sambil membaca majalah desain.
Begitu melihat Adrian masuk, ia menutup majalah tersebut dan menghampirinya.
“Bagaimana pembicaraanmu dengan Mama Helena?”
Adrian meletakkan tas kerjanya di sofa.
“Beliau mengenal nama ayahmu dari pembicaraan dengan almarhum ayahku. Katanya, dulu pernah ada kerja sama bisnis yang tidak berjalan sesuai rencana, dan nama ayahmu sempat disebut dalam penyelesaiannya.”
Naura menatap suaminya, berusaha memahami informasi itu.
“Jadi, Ayah pernah membantu keluarga Mahendra?”
“Belum tentu. Mama tidak mengetahui peran ayahmu secara pasti. Beliau hanya mengingat namanya pernah muncul dalam pembicaraan.”
Naura mengangguk. “Aku juga sudah bertanya kepada Ibu. Beliau ingat ada seseorang yang pernah datang menemui Ayah di rumah lama kami. Mereka membicarakan urusan lama, tetapi Ibu tidak tahu siapa orang itu.”
Adrian mengamati wajah istrinya.
“Apakah kamu ingin menghubungi ayahmu sekarang?”
“Tidak malam ini. Aku ingin bertanya ketika punya waktu untuk berbicara dengan tenang. Aku juga tidak mau membuat Ayah merasa sedang diinterogasi hanya karena ada orang yang mengirim pesan anonim.”
Adrian meraih tangannya.
“Aku setuju.”
Naura menatapnya lebih lekat. “Adrian, kalau nanti ternyata ayahku memang punya hubungan bisnis dengan keluargamu, aku ingin kamu menghadapinya sebagai persoalan antara orang dewasa. Jangan biarkan hubungan kita ikut rusak hanya karena urusan yang terjadi sebelum kita menikah.”
Adrian mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Janji?”
“Janji.”
Naura tersenyum kecil, lalu mengajaknya menuju meja makan. Mereka belum sempat duduk ketika ponsel Adrian bergetar. Sebuah pesan dari Dimas masuk, disertai informasi awal mengenai arsip lama PT Atmadja Properti.
Adrian membuka pesan itu dan membaca isinya dengan serius.
Pak, kami menemukan catatan bahwa penghentian kerja sama PT Atmadja Properti dengan Mahendra Group terjadi setelah adanya perbedaan perhitungan nilai aset. Dalam catatan yang sama, terdapat nama seorang konsultan independen yang membantu proses penyelesaian. Kami masih mencocokkan identitasnya karena arsip yang tersedia tidak lengkap.
Adrian membaca nama yang tercantum di bagian bawah pesan. Ia tidak mengenal orang itu, tetapi ada satu keterangan yang membuatnya berhenti.
Konsultan tersebut pernah menggunakan alamat kantor yang sama dengan alamat lama sebuah perusahaan milik keluarga Naura.
Adrian mengangkat wajah dan menatap istrinya.
“Ada perkembangan?”
Adrian menunjukkan pesan itu kepada Naura.
Perempuan itu membaca dengan saksama, kemudian mengerutkan kening.
“Alamat itu memang dekat dengan tempat kerja Ayah dulu,” katanya. “Tapi itu belum membuktikan bahwa konsultan tersebut adalah Ayah.”
“Benar. Kita perlu memastikan identitasnya.”
Adrian segera membalas Dimas, meminta tim legal menelusuri identitas konsultan tersebut melalui catatan resmi dan tidak menghubungi pihak terkait sebelum informasi awal diverifikasi.
Setelah mengirim pesan, ia meletakkan ponsel di meja.
Naura masih memikirkan informasi yang baru mereka terima. Ia tidak merasa takut, tetapi mulai menyadari bahwa masa lalu keluarganya mungkin memiliki kaitan dengan urusan Mahendra Group yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Adrian menggenggam tangannya di atas meja.
“Kita cari tahu bersama,” katanya.
Naura mengangguk.
Mereka akhirnya mulai makan malam, berusaha mempertahankan ketenangan di tengah pertanyaan yang belum terjawab.
Namun, tepat ketika Adrian hendak mengambil gelasnya, sebuah pesan baru masuk dari nomor anonim yang sama.
Kali ini, pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
Jika kalian ingin mengetahui mengapa kerja sama lama itu berakhir, tanyakan kepada Rendra siapa yang kehilangan segalanya setelah keputusan keluarga Mahendra dibuat.
Adrian membaca pesan itu tanpa bersuara.
Di hadapannya, Naura menunggu penjelasan, sementara nama Rendra kembali muncul dalam persoalan yang semakin melebar.
Adrian meletakkan ponsel perlahan.
Kini, ia harus mencari tahu bukan hanya siapa yang pernah bekerja sama dengan keluarganya, tetapi juga siapa yang menanggung akibat dari keputusan yang dibuat bertahun-tahun lalu.
Sebab, jika pesan anonim itu benar, kebocoran informasi proyek Bali mungkin hanyalah bagian terbaru dari persoalan lama yang belum benar-benar selesai.