NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35.Panggil aku mas

Malam merambat pelan menyelimuti kediaman Adikara. Suasana di lantai dua yang sempat memanas oleh kobaran api cemburu dan insiden bahu menabrak pintu kini berganti menjadi keheningan yang agak canggung. Pukul tujuh malam tepat, suara ketukan pelan terdengar di luar pintu kamar Aruna.

"Nyonya Aruna... makan malam sudah siap di bawah," suara Bi Asih memanggil dari balik pintu dengan ramah.

Aruna yang sedang memandangi layar ponsel barunya yang berwarna rose gold meletakkan benda canggih itu di atas meja nakas. Ia mengelus pelan permukaan meja tersebut sebelum akhirnya berdiri, membenarkan letak cardigan rajut berwarna krem yang membalut tubuhnya, lalu melangkah keluar kamar.

Di meja makan lantai dasar, nuansa makan malam tampak sedikit lebih formal dari biasanya. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya keemasan yang lembut, memantul di atas meja kayu mahoni yang dipenuhi berbagai hidangan lezat. Ada sup iga hangat, tumis kangkung segar, ayam bakar madu, dan potongan buah segar.

Kaivan sudah lebih dulu duduk di kursi utamanya di ujung meja. Pria itu tampak sudah berganti pakaian menggunakan kaus polo lengan panjang berwarna abu-abu tua yang dipadukan dengan celana santai. Namun, raut wajahnya masih sangat kaku. Garis rahangnya menegang, dan matanya secara intens pura-pura fokus menatap layar ponsel genggam kerjanya.

Aruna berjalan mendekat, lalu menarik kursi di samping kanan Kaivan—kursi tempat biasa ia duduk. Suara decitan halus kursi membuat Kaivan refleks melirik tipis dari balik layar ponselnya, sebelum akhirnya pura-pura berdehem kencang.

Ehem!

"Duduk dan makanlah," ujar Kaivan singkat tanpa menoleh secara langsung pada Aruna. Suaranya diusahakan seberat dan setenang mungkin, berusaha menghapus jejak rasa malu dari insiden klarifikasi cemburu konyolnya dua jam yang lalu.

Aruna mendudukkan dirinya dengan perlahan. "Terima kasih, Pak Kaivan."

Bi Asih melangkah mendekat untuk meracikkan nasi ke piring mereka, namun Kaivan mengibaskan tangannya pelan. "Biar aku sendiri, Bi. Bi Asih bisa istirahat ke belakang."

"Baik, Pak Kaivan. Selamat menikmati makan malamnya," pamit Bi Asih seraya tersenyum penuh arti sebelum menghilang ke arah dapur utama.

Makan malam dimulai dalam hening. Kaivan menyendokkan nasi dan sup iga ke piringnya sendiri, lalu bertindak seolah-olah ia tidak peduli pada kehadiran Aruna di sampingnya. Namun, sudut matanya yang tajam tidak bisa bohong—ia diam-diam memperhatikan bagaimana tangan kanan Aruna yang terbebat perban tipis masih agak kesulitan memegang sendok dan garpu secara bersamaan.

Aruna mencoba menyendok potongan daging iga yang agak besar dengan tangan kirinya. Karena kurang lihai, potongan daging itu beberapa kali terlepas dari cengkeraman garpunya dan jatuh kembali ke mangkuk dengan bunyi berdentang pelan.

Ting, ting.

Kaivan menghentikan gerakan mengunyahnya. Pria itu menghela napas berat, mencoba memasang wajah sangat terpaksa—padahal dalam hatinya ia sudah tidak sabar untuk mengambil alih hal tersebut.

"Sudah kubilang, kalau kesulitan itu bicara. Jangan dipaksa-paksa," cetus Kaivan kaku.

Tanpa menunggu balasan Aruna, Kaivan meraih mangkuk sup Aruna, menariknya mendekat, lalu menggunakan pisau dagingnya untuk memotong-motong iga berkuah tersebut menjadi ukuran-ukuran kecil yang sangat pas untuk sekali suap. Pria bernilai triliunan rupiah itu melakukan tugas tersebut dengan ketelitian tingkat tinggi, memastikan tidak ada serat daging yang terlalu keras atau susah dikunyah.

Aruna menatap jemari panjang Kaivan yang telaten memotongkan makanan untuknya. Ada rasa hangat yang menjalar pelan di dalam dada Aruna, mengikis sisa-sisa kecanggungan di antara mereka.

"Terima kasih banyak, Pak Kaivan," kata Aruna lirih dengan gurat tulus di matanya.

Kaivan mendorong mangkuk sup yang sudah terpotong rapi itu kembali ke hadapan Aruna, lalu kembali menyilangkan tangannya di dada. "Aku melakukan ini bukan karena ingin memanjakanmu. Aku cuma tidak suka mendengar bunyi dentang sendokmu yang mengganggu selera makanku."

Aruna tidak membantah atau mendebat alasan defensif pria itu. Ia menyembunyikan senyuman kecilnya dengan menunduk, lalu menyendok potongan daging iga yang sudah sangat mudah dimakan tersebut.

"Enak, Pak," puji Aruna pelan setelah mengunyah suapan pertamanya.

Kaivan yang baru saja hendak menyendok nasinya sendiri mendadak membeku. Sudut bibirnya refleks ingin terangkat membentuk senyuman bangga, namun gengsi tingginya memaksa bibir itu untuk tetap lurus dan datar.

"Tentu saja enak. Koki rumah ini dibayar mahal," sahut Kaivan sok jual mahal, meski di dalam dadanya rasa senang meluap-luap tak beraturan hanya karena pujian sederhana dari Aruna.

Mereka kembali melanjutkan makan malam dalam keheningan yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. Namun, pikiran Kaivan yang dasarnya memang sedang dilanda guncangan cemburu sejak sore tadi, tidak bisa benar-benar tenang begitu saja. Bayangan Aruna yang terkekeh ramah saat memanggil pria barista itu dengan sebutan 'Mas' terus berputar di otaknya seperti pita kaset rusak.

Kaivan meletakkan sendoknya pelan ke atas piring. Pria itu berdehem lagi. Ehem.

"Soal ponsel baru itu..." Kaivan membuka suara, nada bicaranya dibuat sesantai mungkin seolah-olah topik ini tidak begitu penting baginya. "...semua kontak penting sudah dimasukkan oleh sekretarisku. Nomor Bi Asih, nomor supir, dan... nomor pribadiku."

Aruna menoleh, menatap Kaivan polos. "Ooh... iya, Pak. Tadi saya sempat lihat ada kontak Pak Kaivan di paling atas."

Kaivan menyipitkan matanya tipis. "Lalu? Kenapa dinamai 'Pak Kaivan'?"

Aruna berkedip bingung dengan pertanyaan mendadak itu. "Loh... kan nama Pak Kaivan memang Pak Kaivan? Saya harus namai apa lagi?"

Kaivan menggeser posisi duduknya agak miring menghadap Aruna. Pria tegap itu melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Aruna lurus-lurus dengan tatapan menuntut yang sangat menggemaskan.

"Kau memanggil lelaki barista itu 'Mas Bagas', tapi padaku kau memanggil 'Pak Kaivan'. Rasanya sangat kaku, seolah-olah aku ini atasan atau bapak-bapak tua bagimu," cetus Kaivan tanpa sadar menyuarakan isi hatinya yang paling dalam.

Aruna menahan napasnya pelan. "Tapi... kan Pak Kaivan sendiri yang dari awal melarang saya memanggil 'Mas'? Pak Kaivan yang bilang kalau sebutan itu terlalu lancang dan meminta saya memanggil 'Pak'."

Anak panah kenyataan itu kembali menancap telak di dada Kaivan. Pria tegap itu tersentak kecil, menyadari betapa senjata makan tuan kata-katanya di masa lalu. Wajah tegas Kaivan mulai menunjukkan semburat rona hangat di sekitar pipi dan telinganya.

"I-itu kan dulu!" kilat Kaivan cepat, berusaha membela diri dari rasa malunya sendiri. "Waktu itu kan situasi dan kondisinya berbeda! Sekarang... situasi kita sudah berbeda!"

Aruna memandangi raut wajah Kaivan yang mulai merona merah. Binar keusilan manis perlahan muncul di mata gadis itu, meski suaranya tetap dijaga sepolos mungkin. "Bedanya apa, Pak?"

Kaivan mendadak tergagap. Lidahnya yang biasanya sangat tajam saat bernegosiasi dalam rapat bisnis triliunan rupiah kini mendadak kelu tak bertulang. Pria itu menelan ludahnya kaku, tatapan matanya bergerak gelisah menatap dinding, mangkuk sup, hingga ke gorden meja makan—menghindari tatapan mata jernih Aruna.

"B-bedanya... bedanya ya beda!" sergah Kaivan dengan suara agak tinggi untuk menutupi rasa gugupnya yang luar biasa. "Pokoknya... aturan lama itu sudah tidak berlaku! Kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan 'Pak' lagi kalau sedang tidak di depan umum atau di kantor!"

Aruna memiringkan kepalanya sedikit. "Lalu... saya harus panggil apa?"

Kaivan meremas jarinya sendiri di bawah meja makan. Jantungnya berdegup begitu kencang seperti drum perang yang ditabuh bertubi-tubi. Rasa malu dan kehendak hatinya bergolak hebat di dalam dada.

"Panggil... panggil seperti kau memanggil pria lain itu," gumam Kaivan sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara denting jam dinding.

Aruna menyipitkan matanya, pura-pura tidak mendengar dengan jelas. "Apa, Pak? Suara Pak Kaivan terlalu pelan."

Wajah Kaivan kini sudah merah padam sempurna hingga ke belakang lehernya. Pria angkuh itu menegakkan tubuhnya kaku, memalingkan wajahnya ke arah lain seraya berdehem keras untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya.

"Panggil 'Mas'!" cetus Kaivan akhirnya, suaranya meninggi kaku dengan nada perintah yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang parah. "Mulai besok... kalau cuma ada kita berdua, panggil aku Mas Kaivan! Paham?!"

Keheningan seketika melanda meja makan tersebut.

Aruna membeku di tempat duduknya. Tatapan matanya terkunci pada sosok pria tegap di sampingnya yang kini sedang berusaha mati-matian menutupi wajahnya yang sudah bagai udang rebus dengan cara pura-pura meminum air putih dari gelas kristalnya.

Melihat betapa menggemaskan dan kekanak-kanakannya reaksi sang presdir yang biasanya selalu tampil sempurna dan dingin itu, sebuah perasaan manis yang teramat dalam menyeruak memenuhi seluruh rongga dada Aruna. Benteng ketakutan dan jarak di antara mereka seolah runtuh sepenuhnya malam ini.

Aruna menundukkan kepalanya tipis, menutupi bibirnya yang melengkung membentuk senyuman paling manis dan hangat yang pernah ada.

"Baik... Mas Kaivan," bisik Aruna sangat pelan namun terdengar begitu jernih dan lembut di telinga pria itu.

Crrrot!

Kaivan yang baru saja menelan air putihnya tersedak hebat!

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Kaivan terbatuk-batuk kencang, refleks memegang dadanya seraya mengambil tisu kertas dengan gerakan panik luar biasa.

Suara panggilan 'Mas Kaivan' yang meluncur dari bibir Aruna dengan nada begitu lembut dan manis bagai sengatan listrik berkekuatan tinggi yang menghantam jantungnya tanpa ampun. Seluruh pertahanan gengsi sang presdir hancur berkeping-keping detik itu juga.

Aruna panik melihat Kaivan tersedak. "E-eh... Pak—maksud saya, Mas Kaivan tidak apa-apa?!" Aruna refleks mengulurkan tangan kirinya, mengusap-usap punggung lebar Kaivan pelan untuk membantu meredakan batuknya.

Sentuhan lembut jemari Aruna di punggungnya, ditambah dengan sebutan 'Mas Kaivan' yang kembali terucap dari mulut gadis itu, membuat seluruh tubuh Kaivan kaku seperti patung batu. Wajahnya yang memerah kini menjangkau hingga ke daun telinga dan lehernya, terasa panas membakar.

Kaivan dengan panik melambaikan tangannya kaku, menepis lembut tangan Aruna seraya berdiri tegak dari kursinya dengan gerakan terburu-buru.

"A-aku... aku sudah kenyang!" sergah Kaivan terbata-bata, suaranya agak tinggi dan sedikit melengking kaku karena menahan rasa malu yang tak tertahankan lagi. "A-aku ada berkas kantor yang harus diperiksa malam ini! Kau habiskan makan malammu!"

Tanpa menunggu balasan Aruna dan tanpa berani menatap wajah gadis itu lagi sekilas pun, Kaivan membalikkan badannya dan melangkah sangat lebar menyeberangi ruang makan menuju tangga lantai dua.

Namun, karena langkah kakinya yang terlalu terburu-buru dan kepalanya yang sibuk dihantam oleh letupan rasa bahagia bercampur malu yang luar biasa, kaki panjang sang presdir kembali tidak mematuhi otaknya.

TRIP!

Ujung sepatu santai Kaivan menyenggol karpet bulu di dasar tangga.

"Woah!"

Kaivan hampir saja tersungkur ke depan. Pria tegap itu dengan refleks kilat meraih pegangan tangga besi ukir di sampingnya, membuat tubuhnya tertahan dalam posisi setengah berdiri dengan gaya yang sangat canggung dan konyol.

Keheningan kembali melanda area tangga dan ruang makan.

Kaivan mematung di posisi konyol itu selama tiga detik penuh, menahan napas seraya memejamkan matanya kencang-kencang. Kenapa hari ini aku ceroboh sekali di depan dia?! jerit batinnya menangis histeris.

Dengan sisa-sisa gengsi terakhir yang ia miliki, Kaivan menepuk-nepuk celananya kaku, menegakkan kembali tubuh mewahnya, lalu pura-pura merapikan kaus polonya seolah-olah tidak ada insiden memalukan yang baru saja terjadi.

Tanpa berani menoleh ke belakang sama sekali karena sudah malu setengah mati, Kaivan berlari-lari kecil menaiki anak tangga menuju lantai dua dan menghilang di balik pintu kamarnya yang langsung ditutup dengan bunyi dentuman pelan.

Brak.

Di meja makan, Aruna yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir tak sanggup lagi menahan tawanya. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, sementara tawa renyah dan senyuman paling bahagia mekar sempurna di wajah cantiknya.

Rasa dingin dan luka di dalam hatinya perlahan menguap tanpa sisa. Di rumah megah ini, bersama pria angkuh yang mendadak jadi sangat ceroboh dan menggemaskan itu, Aruna merasa bahwa takdir akhirnya mulai tersenyum padanya.

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!