Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Mulai Berkembang
Pagi di desa Morana terasa lebih hidup dari biasanya.
Di halaman rumah Mela, beberapa keranjang berisi hasil panen tersusun rapi. Cabai merah segar, sayuran hijau yang masih basah oleh embun, serta tomat yang mulai matang sempurna.
Mela berdiri di depannya. Tangannya memeriksa satu per satu dengan lebih teliti.
"Ini yang kemarin laku cepat, ya?" tanya Darmi sambil menunjuk cabai.
Mela mengangguk. "Iya, katanya banyak pedagang di pasar yang butuh cabai."
Yati yang datang membawa kantong kain langsung ikut nimbrung. "Berarti, besok kamu harus bawa lebih banyak."
Mela tersenyum kecil. "Pelan-pelan saja. Aku juga masih belajar," ucapnya. Namun, dari caranya berbicara, ia seolah tidak lagi ragu.
Hari itu, adalah pertama kalinya Mela membawa hasil panennya ke pasar. Biasanya, ia hanya menjual pada tetangga saja. Lalu, Darmi dan yang lain memberi saran untuk menjualnya di pasar.
Saat sampai di pasar, beberapa pedagang mulai mengenalnya untuk menawar sayurannya.
"Ini dari kamu lagi, ya?" tanya salah satu ibu-ibu.
Mela mengangguk. "Iya, Bu."
"Segar-segar. Saya ambil lagi, ya."
Kalimat sederhana itu cukup membuat hati Mela hangat.
Uang yang ia terima memang belum banyak. Namun, saat ia menggenggamnya rasanya berbeda karena itu bukan pemberian dari orang lain melainkan, dari usahanya sendiri.
Malam harinya, Mela duduk di teras rumah. Uang hasil penjualan hari ini ia letakkan di atas meja kecil. Meski tidak banyak namun, cukup untuk membuatnya tersenyum senang.
"Sedikit demi sedikit, semua pasti akan menjadi banyak," gumamnya pelan sambil mencatatnya di buku kecil.
Ia menatap ke arah lahannya yang gelap. Angin malam berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya, masa depannya terasa nyata.
Sementara itu, di pusat kota, tepatnya di perusahaan Atma Group. Ruangan di lantai tertinggi gedung tersebut tetap sunyi seperti biasa.
Seorang pria yang menjabat sebagai asisten, berdiri tegak di depan sang pemilik gedung raksasa tersebut.
"Saya ingin melaporkan perkembangan terbaru, Tuan," ucapnya. "Wijaya Group mulai pulih. Investor baru masuk, dan beberapa kerja sama kembali berjalan. Sepertinya, kondisi mereka mulai membaik."
Hening.
Pria di balik meja itu tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, menatap layar di depannya. Sedetik kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya, seperti seseorang yang melihat sesuatu berjalan sesuai rencana.
"Bagus," ucapnya pelan.
Pria itu berdiri, melangkah perlahan ke arah jendela besar. Lampu kota terbentang di bawahnya, Indah namun baginya, hanya bagian dari permainan.
"Biarkan mereka merasa puas," lanjutnya dengan suara rendah dan tenang. Namun, mengandung sesuatu yang dingin.
Asisten itu terdiam. Tidak berani menyela.
"Semakin tinggi, maka jatuhnya akan semakin sakit," gumamnya. Tangannya mengepal, matanya menyipit tajam. Tapi, itu tidak berlangsung lama. Ia berbalik, menatap sang asisten.
"Apa ada kabar lainnya?" tanya pria itu.
Sang asisten terdiam. Namun, ia cukup paham maksud tuannya. "Sepertinya, ada sedikit kemajuan."
Pria itu mengangguk. Senyum tipis tersungging di bibirnya. "Begitu, ya."
***
Pagi itu, halaman rumah Mela tidak lagi sepi.
Beberapa keranjang kosong tersusun rapi di sudut, baru saja habis terjual. Di sisi lain, cangkul dan alat-alat pertanian yang akan ia bawa ke lahan, sudah siap.
"Mel! Kita mulai dari sebelah mana hari ini?" tanya Yati dari luar pagar.
Mela keluar sambil menyeka tangannya. Ia tersenyum melihat Yati dan lain sudah datang .
Mereka bukan sekadar berkunjung. Tapi, siap bekerja.
"Lahan yang kemarin itu sudah kita bersihkan setengah," kata Mela sambil menunjuk ke arah samping. "Hari ini kita lanjutkan."
Yati mengangguk semangat. "Siap, bos!" ucapnya sambil membantu Mela membawa peralatan pertanian. Lalu, mereka berlima berangkat bersama-sama.
Mela langsung menggeleng sambil tertawa kecil. "Jangan panggil aku begitu."
"Lho, memangnya bukan?" sahut Darmi menggoda.
Mela terdiam sejenak. Lalu, menggeleng pelan. "Kita kerja sama."
Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat yang lain saling pandang.
Sejak Mela membeli lahan, mereka bergerak bersama. Dan, lahan yang dulu hanya satu petak kecil, kini mulai melebar.
Rumput liar dibersihkan, tanah dicangkul, dibentuk kembali menjadi bedengan baru. Lahan bertambah, tanaman bertambah. Dan pekerjaan juga bertambah.
Dan, tidak berapa lama, mereka sampai di lahan baru. Mela berdiri bersama mereka di pinggir lahan.
"Mulai besok, aku ingin kita lebih teratur. Kalau kalian mau, aku ingin kita kerja bareng. Bukan cuma bantu."
Darmi mengernyit. "Maksudnya?"
Mela menatap mereka satu per satu. "Aku tidak bermaksud merendahkan kalian, tapi... Aku akan memberi kalian hasil penjualan sayur sebagai upah tenaga kalian."
Sunyi, mereka semua terdiam, membuat Mela merasa tidak enak. "Ma-maaf, aku benar-benar tidak bermaksud... "
"Kamu serius, Mel?" tanya Yati.
Mela mengangguk. "Iya. Dari awal, kalian sudah banyak membantuku, memberitahuku banyak hal dan menyemangati ku hingga aku bisa seperti sekarang. Jadi, aku... "
Darmi menatapnya lama. Bibirnya perlahan mengembang, "Tentu saja aku mau. Lagian, lumayan bisa buat tambah-tambah penghasilan. Apalagi, kamu selalu memberiku sayuran."
"Iya, aku juga mau," timpal Asih, Yati dan Surti
Mela tersenyum. "Terima kasih semua. Mulai hari ini, ini usaha kita."
Mereka semua bersorak, lalu mulai mengerjakan pekerjaan mereka.
Hari demi hari berlalu, semuanya mulai berubah. Mereka akan datang lebih awal, bekerja lebih rapi dan terarah.
"Yang ini buat cabai, ya!" seru Yati.
"Yang sana sayuran," sahut Asih.
Sementara Surti dan Darmi sibuk mengatur aliran air. Dan, Mela mencampur pupuk dengan tanah. Meski lelah, dan kotor, tapi mereka merasa puas.
Sejenak, Mela bangkit, menatap lahan yang kini jauh lebih luas dari sebelumnya.
Dulu, ia hanya ibu rumah tangga, tanpa benar-benar dihargai. Tapi sekarang, ia membangun sesuatu yang sederhana, sebuah usaha miliknya sendiri.
Tapi, tidak semua usaha akan terus berjalan mulus. Pasti akan ada orang yang mempunyai penyakit iri hati.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??