NovelToon NovelToon
THE TAURUS

THE TAURUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: DOLPIN

Arka Khontacron adalah pemilik perkebunan anggur terbesar di Buleleng tepatnya di Bali. Arka memiliki saudara kembar laki-laki yaitu Phat Shrabeus kakak nya. Mereka tinggal di Seririt, Nama desanya, Desa Sagara. Desa mereka dalam beberapa bulan ini selalu banyak kasus orang-orang desa yang hilang, terutama wanita. Banyak masyarakat yang komplen ke polisi, tapi hasilnya juga sama. Tapi kasus itu mulai terbuka kembali pada malam itu akibat Arka menemukan mayat Pak Braun Ghum di dalam perkebunan miliknya. Pak Braun ialah pemilik peternakan domba di sebelah perkebunan anggur milik keluarga Khontacron dan juga Arka sering bermain bersama anaknya Sara Mhiomorin waktu kecil. Arka memanggil polisi untuk menyelediki kejadian tersebut, tapi bukannya mencari bukti. Polisi menyeret Arka sebagai tersangka, apakah bisa arka menemukan pelaku yang sebenarnya?
Ini ialah kisah cinta ringan dari Zodiak Taurus, bisakah dia bersabar menghadapi kejadian tersebut atau malah menjadi keras kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DOLPIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6. BUKAN SEKEDAR KORBAN

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan pintu kembali terdengar.

Sara menatap Arka dengan wajah panik.

"Arka, sembunyikan dulu apa yang baru saja kita bicarakan."

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin orang lain mendengar ini selain kamu."

Arka belum sempat menjawab ketika Sara berjalan menuju pintu.

Sara membuka pintu sedikit.

"Si-siapa?"

Dari balik pintu terdengar suara yang sangat dikenal Arka.

"ARKA! Aku tau kau di dalam!"

Arka terdiam.

Arka langsung mengenali suara itu.

"Phat..."

Sara menoleh ke arah Arka dengan tatapan cemas.

"Dia tau kamu disini?"

Arka menggeleng.

"Tidak, seharusnya tidak ada yang tau aku kesini diam-diam."

Pintu kemudian terbuka lebar.

Phat berdiri di depan pintu dengan wajah serius.

Begitu melihat Arka di dalam ruang tamu, ekspresinya langsung berubah.

"Jadi benar."

Arka berdiri.

"Kak Phat?"

Phat menatap Arka tajam.

"Aku sudah menduga kau diam-diam datang kesini!"

"Aku datang kesini, untuk melihat bagaimana kondisi Sara yang sudah kehilangan ayahnya."

"Tanpa memberitahukan siapapun!"

"Apa kau ingat! Kau masih tahanan rumah saat ini!"

Arka mengerutkan kening.

"Aku tau, tapi..."

Phat melangkah masuk ke dalam rumah.

Sara terlihat semakin tegang.

"Aku datang karena ayah menyuruhku mencarimu," kata phat.

Arka menatapnya.

"Ayah menyuruhmu?"

"Iya!"

"Kenapa?"

Phat tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih kepada Sara.

"Sara."

Sara menatap Phat.

"Ada apa?"

"Sudah berapa lama Arka berada di sini?"

Sara menjawab dengan pelan.

"Ti-tidak lama."

Phat kembali menatap Arka.

"Sungguh?"

Arka mengepalkan tangan nya.

"Kenapa kau selalu tidak percaya dengan apa yang dikatakan orang lain, kak!?"

Sara mencoba menghentikan mereka.

Namun Phat sudah berdiri dihadapan Arka.

"Kau seharusnya tidak berada disini!"

"Apa maksudmu!?"

"Sebab ini bukan urusan mu!"

Arka tertawa kecil, tetapi wajahnya tetap serius.

"Bukan urusan ku!? Pak Braun meninggal di kebun kita!"

"Aku yang menemukannya! Polisi mencurigai ku! Dan sekarang kau bilang ini bukan urusan ku!?"

Phat terdiam.

Arka melanjutkan.

"Aku berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi!"

Phat menatap Arka dengan tajam.

"Karena semakin banyak yang kau tau, semakin buruk situasi nya!"

Arka terdiam.

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Sara yang sejak tadi berdiri di dekat pintu gelisah.

Phat kemudian menatapnya.

"Sara, apa kau sudah mengatakan sesuatu kepada Arka?"

Sara membeku.

Arka langsung memperhatikan ekspresi wajahnya.

"Tidak ada." jawab Sara pelan.

Phat menyipitkan matanya.

"Kau yakin?"

Sara mengangguk.

"Iya."

Phat kembali menatap Arka.

"Kalau begitu, kita pulang."

"Aku belum selesai bicara dengan Sara."

Phat langsung menarik lengan Arka.

"Ayo!"

"Lepaskan! PHAT!"

Arka menarik lengannya.

Phat menatapnya dengan marah.

"Kau masih saja keras kepala!"

"Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya, supaya aku bebas dan tidak menjadi tersangka."

Arka kemudian mendekat dan berbicara dengan suara lebih rendah.

"Percayalah padaku, kak."

Phat menatap mata adik kembarnya.

Phat terdiam.

Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Sara memperhatikan keduanya dengan wajah tegang.

Akhirnya Phat mundur.

"Ayo pulang, sialan."

Arka masih berdiri di tempat nya.

Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah Sara.

Tatapan mereka bertemu.

Sara hanya memberikan isyarat kecil dengan matanya.

Jangan bicara.

Arka mengerti.

Ia kemudian berjalan keluar bersama Phat.

Saat pintu rumah Sara tertutup, Arka menatap Phat dari belakang.

"Kak Phat."

Tidak ada jawaban dari Phat.

"Kenapa kau selalu menghalangi ku saat ingin mengetahui tentang Pak Braun."

Phat terus berjalan tanpa menoleh.

"Aku sudah bilang kan! Jangan ikut campur! Kau hanya perlu diam dan mengikuti kataku dan ayah!"

Arka berhenti.

Phat juga berhenti beberapa langkah didepannya.

Kemudian Phat menoleh perlahan.

"Karena tidak setiap orang yang menjadi korban... Benar-benar tidak bersalah."

Arka terdiam.

Phat kembali berjalan meninggalkannya.

Sementara Arka masih berdiri di depan rumah Sara.

Dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan.

Apa sebenarnya yang disembunyikan ayah dan kakaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!