NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih Bersabar

"Ke rumah Uncle dulu." pinta Arini seraya menatap Arnold sekilas.

Kini mereka berdua sudah berada dalam satu mobil karena Arini memilih mengiyakan pinta Arnold.

Pak Raka sebagai ayah biologisnya juga sudah tidak mengurungnya dengan syarat yang sudah Arini dan ayahnya sepakati.

Tanpa menjawab Arini, Arnold menyuruh drivernya menuju kediaman Uncle Chandra dan membuat Arini menghela napas lega walaupun sepanjang jalan ia hanya menatap kaca jendela mobil.

"Kamu enggak kangen aku?" tanya Arnold seraya menggenggam tangan Arini.

"Enggak." jawab Arini seraya menggelengkan kepalanya.

Arnold terkekeh mendengar jawaban jujur dari istrinya dan mampu membuat Arini menoleh menatapnya.

"Kenapa?" Arnold menatap istrinya.

"Speechless aja." jawab Arini singkat lalu kembali menatap kaca jendela mobil.

"Kamu belum pernah lihat aku ketawa?" tanya Arnold yang sadar akan perkataan Arini.

Arini lantas mengangguk, "Biasanya selalu serius."

"Aku manusia biasa, Arini." tukas Arnold dengan maksud luas di dalamnya.

"Tapi terkenal kejam." balas Arini.

Arnold membuang napas kasar mendengarnya, lalu ia pun mendekat menghapus jarak duduknya dengan Arini. "Aku enggak kejam." ujarnya seraya menaruh tangannya di bahu Arini. "Mukaku memang seperti ini."

Arini menatap tangan Arnold yang bertengger manis di bahunya, lalu menoleh menatap Arnold yang jarak wajahnya ternyata begitu dekat dengannya.

Dan

Cup!

Cup!

Cup!

Arnold memanfaatkan momen Arini menoleh padanya dengan langsung mengecup pipi Arini berulang kali.

"Tuan Arnold!" teriak tertahan Arini seraya menatap Arnold dengan mata berkaca-kaca.

"Aku suami kamu, Arini. Jangan lupakan itu." titah Arnold lalu kembali melabuhkan kecupan di pipi Arini.

"Tapi kita lagi di mobil." balas Arini seraya menggelengkan kepalanya namun ditangkap lain oleh Arnold.

"Aku tau. Dan aku sangat paham hal itu." tukas Arnold dan Arini pun hanya bisa diam seraya menundukkan pandangan.

Andai laki-laki di sebelahnya ini bukan suaminya, mungkin Arini akan memarahinya.

Untung saja, laki-laki ini suaminya. Jadi, Arini hanya bisa diam walaupun tidak suka diperlakukan seperti itu.

Bagaimanapun, hatinya masih terpaut pada Bagas dan belum sama sekali dibuka untuk Arnold.

Arini mengaku dirinya salah, namun dirinya juga ingin melihat bagaimana reaksi Bagas setelah ia dan Arnold benar-benar serumah nanti.

Apa benar, laki-laki yang pernah mengajaknya ta'aruf dan pernah meminangnya itu sama sekali tidak mementingkan dirinya?

Arini tersenyum miris saat menundukkan kepalanya, ia sangat ingat jika Bagas memang tidak begitu mementingkan dirinya karena laki-laki itu bahkan duduk tegak menjadi saksi pernikahannya dengan Arnold.

Bahkan Bagas sama sekali tidak terlihat bersedih saat melihat ia menikah.

Tiba-tiba dada Arini sesak mengingatnya, dan air matanya pun terjun bebas tanpa bisa dicegahnya.

Hanya pundaknya yang ia tahan sebaik mungkin agar tidak naik turun untuk menyamarkan dirinya yang tengah menangis pada Arnold yang masih setia memegang bahunya.

"Kita sudah sampai." Arnold menepuk lengan Arini dua kali lalu turun terlebih dahulu tanpa menatap istrinya.

Arini mengusap air matanya secepat mungkin lalu mendongak ke atas saat Arnold sudah keluar dari mobil lalu turun dan mengikuti suaminya yang kini mengulurkan tangannya untuk digenggam.

Karena tengah di mansion Uncle Chandra, Arini pun menarik napasnya dalam lalu menggenggam tangan Arnold seraya menampilkan senyum palsunya.

Arnold dan Arini saling bergenggaman tangan masuk ke mansion Uncle Chandra dan saat baru saja sampai di teras, Bunda Jennifer langsung membuka pintunya dan memeluk Arini dengan teriakan kebahagiaan.

Tadi Satpam jaga mengabarkan pada Uncle Chandra jika mobil yang masuk ke mansion adalah Arnold dan Arini, Uncle Chandra pun langsung memberi tahu adiknya tanpa tunggu nanti.

"Arini. Akhirnya Bunda bisa peluk kamu lagi, Nak." Bunda Jennifer melepas pelukannya, berganti menangkup wajah Arini dengan kedua tangannya disertai air mata yang terus terjun membasahi wajah cantiknya, "Bunda sangat merindukanmu, Nak. Bunda hampir saja berpikir kalau Bunda tidak bisa lagi meluk kamu kayak gini. Huhuhuhuhu! Bunda senang sekali sayang!" Bunda Jennifer kembali memeluk Arini dan Arini pun kini membalas pelukan Bundanya seraya meneteskan air mata.

Tidak hanya Bunda Jennifer, Arini pun sempat putus asa saat Ayah biologisnya mengurungnya di sangkar emas, namun kesepakatan itu membuat Pak Raka membuka sangkar emasnya dan Arini bisa bebas kembali menemui Bundanya dan keluarganya.

"Bunda! Bunda yang tenang ya! Arini tetap anak Bunda." Arini menepuk punggung Bundanya yang bergetar begitu hebat, Bunda Jennifer sangat merindukan dirinya.

Bunda Jennifer masih tergugu, beliau menggelengkan kepalanya berulang kali seraya mengecup pipi Arini lalu memeluknya lagi dengan erat, begitu saja berulang kali dan beberapa menit lamanya.

Arnold cukup tau diri, ia hanya bisa menatap Ibu dan Anak yang tengah melepas rindu karena dipisahkan dengan perkara yang tiba-tiba, apalagi dengan orang yang sangat ditakutkan oleh Bunda Jennifer akan mengambil Arini dari sisinya.

Uncle Chandra dan Aunty Luna pun menitikan air mata haru, mereka saling melempar senyum lega bercampur air mata saat benar Bunda Jennifer bisa kembali memeluk Arini.

Tak ubahnya Ayah Darius, Ayah sambung Arini itu mengusap rambut istrinya agar istrinya itu bisa sedikit tenang dan mengusap hijab Arini untuk menyapa anak sambungnya.

"Ayah!" panggil Arini dan Ayah Darius pun mengangguk, "peluk saja Bundamu, Nak. Dia tidak bisa makan dan tidur dengan baik beberapa hari ini karena terus mikirin kamu."

"Maafin Arini, Ayah!" Arini menatap Ayah Darius penuh sayang.

"Bukan salah kamu, Arini." Ayah Darius menenangkan dan beberapa detik kemudian Bunda Jennifer pun melepas pelukannya pada Arini seraya sesenggukan menghapus air matanya.

"Bunda terlalu kencang meluknya ya Sayang?" tanya Bunda Jennifer seraya mengusap wajah Arini.

"Enggak kok, Bun. Arini tau Bunda sayang banget sama Arini." Arini melapisi tangan Bundanya yang masih mengusap wajahnya, "Arini pun sayang banget sama Bunda. Arini pun selalu keinget Bunda, tapi Arini tetap makan dan tidur dengan baik, supaya Arini bisa punya tenaga biar nanti kalau Arini ketemu Bunda, Bunda enggak bilang Arini kurusan."

"Arini!" Bunda Jennifer kembali memeluk Arini seraya menangis kembali, saat mendengar kata sarkas Arini yang ditujukan untuk dirinya, "Bunda itu seorang Ibu, Nak. Kamu belum punya anak, tapi walaupun nanti kamu punya anak, semoga anak kamu selalu bahagia dan kamu enggak ngerasain sakit seperti yang Bunda rasain."

"Aamiin." Arini melepas pelukan Bundanya, "Terimakasih atas doanya dan terus doain yang baik-baik untuk Arini ya, Bun. Doa Bunda yang membuat langkah Arini terasa mudah."

"Pasti, pasti Bunda akan terus doain yang terbaik buat kamu, Sayang."

"Arini! Jennifer! Ayo masuk dulu. Udah tengah malam ini." Uncle Chandra menginterupsi, dan Bunda Jennifer pun mengangguk dan berjalan masuk seraya menggandeng Arini dan melupakan Arnold.

Arnold mengembuskan napasnya kasar melihat ia yang seperti tidak dianggap, namun akhirnya memilih ikut masuk ke rumah Uncle Chandra saat menyadari situasinya.

"Duduk, Arnold!" titah Uncle Chandra dan Arnold pun menganggukkan kepala lalu duduk di sofa tunggal karena Arini duduk dengan Bunda Jennifer.

"Terimakasih, Arnold. Terimakasih karena sudah membuat Arini bisa kembali ke rumah ini." ujar Uncle Chandra begitu tulus dan membuat Bunda Jennifer menatap menantunya yang sempat dilupakannya tadi.

"Arnold membawa Arini ke rumah ini karena Arini yang meminta mampir ke sini dulu sebelum kami tinggal di mansion kami, Uncle." jelas Arnold tersirat.

"Arnold!" panggil Bunda Jennifer.

"Iya, Bunda."

"Terimakasih."

"Terimakasih juga Bunda."

"Maksud kamu?" tanya Bunda Jennifer yang sedikit lupa akan janjinya tempo hari di Bandara.

"Karena telah memberi syarat yang mudah untuk Arnold bisa membawa Arini ke mansion kami." balas Arnold seraya menatap Bunda mertuanya. "Terimakasih sudah merestui pernikahan kami dan memilih Arnold tetap menjadi suami Arini, Bun." lanjutnya dan Bunda Jennifer pun kini menganggukkan kepalanya karena telah mengingatnya.

"Tapi malam ini kalian menginap di sini." titah Bunda Jennifer lalu menatap Arini, "Bunda mau ngobrol banyak sama Arini dan kamu tidur saja di kamar tamu."

"Bun!"

"Jen!"

Tegur Ayah Darius, Uncle Chandra dan Aunty Luna secara bersamaan.

"Aku tidak memisahkan mereka, hanya ingin punya waktu bersama anakku. Itu saja." kekeh Bunda Jennifer dan Arnold pun tiba-tiba menarik napasnya begitu dalam dan sangat dalam lalu memijit pelipisnya.

Sepertinya, ia harus lebih bersabar lagi untuk menikmati malam pertamanya bersama sang istri.

Bersambung..

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!