NovelToon NovelToon
PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

PENGANTINKU DIREBUT DIHARI PERNIKAHANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Evolusi dan Mutasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
​Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
​Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: TEST PACK 2 GARIS LAGI - 2 BULAN 3 PEKAN

Alesha menatap alat tes di tangannya, lalu memeriksa hasilnya sekali lagi.

Dua garis.

Ia duduk di tepi wastafel, masih mengenakan piyama, sementara alat tes itu terasa semakin berat di antara jemarinya. Hasilnya tidak berubah meski sudah diperiksa berkali-kali.

Pintu kamar mandi terbuka.

Vion masuk sambil merapikan manset kemejanya. “Kamu belum selesai?”

Alesha mengulurkan alat tes itu tanpa menjawab.

Vion mengambilnya. Tatapannya berpindah dari dua garis merah ke wajah istrinya.

“Kamu hamil?”

“Aku belum tahu pasti.” Alesha mengusap telapak tangannya yang berkeringat ke piyama. “Maksudku, hasilnya positif, tapi aku belum periksa ke dokter.”

Vion mengangguk kecil. Ia meletakkan alat itu di atas wastafel, kemudian berdiri di hadapan Alesha.

“Kamu merasa tidak enak badan?”

“Beberapa hari ini gampang mual. Awalnya kupikir cuma kecapekan.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Aku sendiri belum curiga.” Alesha mendongak. “Aku baru tes pagi ini.”

Vion menarik kursi kecil di dekat dinding dan duduk di hadapannya. Ia tidak langsung bicara. Tangannya meraih jemari Alesha, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

“Bagaimana perasaanmu?”

Alesha mengembuskan napas. “Campur aduk. Arka baru mulai lancar sekolah. Rasanya baru kemarin kita sibuk mengurus semuanya dari awal.”

“Memang belum lama.”

“Nah, itu.” Alesha menatapnya. “Kamu juga merasa kita terlalu cepat mengulang semuanya?”

Vion menggeleng pelan. “Aku merasa kita sebaiknya memastikan dulu kondisi kamu dan bayinya.”

Alesha tertawa kecil. “Jawabanmu selalu praktis.”

“Kalau aku ikut panik, siapa yang akan mengingatkan kita untuk membuat janji dengan dokter?”

“Kamu bahkan belum kelihatan panik.”

“Aku sedang berusaha.”

Kali ini Alesha tertawa sungguhan. Vion ikut tersenyum sebelum berdiri dan merangkulnya. Alesha menyandarkan kepala ke dada suaminya, mendengarkan detak jantungnya beberapa saat.

“Nanti kita ke dokter, ya?” katanya.

“Ya. Aku ikut.”

Ketukan bertalu-talu terdengar dari luar kamar.

“Papa! Mama! Sarapan!”

Vion memejamkan mata sebentar.

“Jagoan kita selalu tahu kapan harus datang.”

“Dia lapar,” jawab Alesha.

“Dia selalu lapar.”

“Papa! Aku sudah pakai sepatu!”

Vion menoleh ke pintu. “Kalau begitu, kenapa masih berdiri di depan kamar Papa?”

“Karena Papa sama Mama belum keluar!”

Alesha menahan tawa. Vion menggeleng, lalu mengambil alat tes dari wastafel dan meletakkannya di dalam kotak kecil di dekat perlengkapan mandi.

“Kita simpan dulu. Nanti kita bawa informasi ini ke dokter,” katanya.

Alesha mengangguk. Setelah merapikan rambutnya, ia berjalan keluar bersama Vion.

Arka sudah berdiri di lorong dengan seragam sekolah dan ransel robot biru yang hampir memenuhi punggungnya. Bocah lima tahun itu berkacak pinggang ketika melihat kedua orang tuanya.

“Lama banget!”

Vion membungkuk untuk membetulkan tali tas putranya yang melorot.

“Maaf, Kapten. Ada pemeriksaan penting di markas.”

“Markas mana?”

“Markas Papa.”

“Terus roket Arka?”

“Roketmu aman.”

Arka langsung tersenyum. “Hari ini aku mau menggambar roket yang bisa sampai ke bulan. Bu Guru bilang nanti boleh pilih warna sendiri.”

“Kalau begitu, pilih warna yang bagus,” kata Alesha.

“Biru!” jawab Arka cepat. Ia kemudian berpikir sebentar. “Tapi api roketnya merah. Terus jendelanya kuning.”

“Lengkap sekali.” Vion mengangkatnya ke dalam gendongan. “Jangan lupa menggambar astronotnya.”

“Arka yang jadi astronot!”

“Papa kira Papa yang jadi pilot.”

“Nggak boleh. Papa sudah tua.”

Alesha spontan tertawa. Vion menatap putranya dengan wajah tidak percaya.

“Lima tahun sudah berani menghina Papa?”

“Bukan menghina. Kata Om Hendra, Papa itu bos.”

“Lalu?”

“Bos duduk di kantor, bukan naik roket.”

Vion tertawa pendek. “Baiklah. Papa tunggu gambarnya.”

Mereka turun menuju ruang makan. Sarapan sudah tersaji di atas meja, sementara pengasuh Arka memeriksa bekal yang akan dibawa ke sekolah.

Arka segera duduk dan meraih roti panggangnya. Alesha mengambil tempat di sebelah Vion, yang menuangkan susu hangat ke gelasnya.

“Makan pelan-pelan,” pesan Alesha ketika melihat putranya mengunyah terlalu cepat.

Arka mengangguk dengan mulut penuh.

“Jangan mengangguk kalau masih makan,” kata Vion.

Arka buru-buru menelan. “Kalau makan pelan-pelan, nanti telat.”

“Sekolahmu tidak pindah ke mana-mana,” sahut Vion.

“Tapi roketnya harus selesai!”

“Kalau begitu, habiskan sarapanmu dulu. Roket bisa menunggu.”

Arka kembali makan, kali ini sambil sesekali menceritakan warna yang akan dipakainya. Vion mendengarkan dan menanyakan apakah roket itu akan memiliki tiga jendela atau empat. Perdebatan kecil tentang jumlah jendela berlangsung sampai Arka akhirnya menyerah dan memutuskan membuat lima.

Alesha memperhatikan mereka sambil menyesap susu. Pagi itu terasa seperti pagi-pagi biasanya, kecuali satu hal yang belum mereka bicarakan lagi.

Vion menangkap perubahan ekspresi istrinya.

“Kamu masih memikirkan hasil tes tadi?”

“Sedikit.”

“Kita akan ke dokter setelah mengantar Arka.”

Alesha meletakkan gelasnya. “Aku juga ingat kejadian di lift.”

Vion berhenti memotong rotinya.

“Bagian mana?”

“Saat semuanya mendadak kacau. Aku tahu kejadian itu sudah ditangani, tapi aku belum benar-benar merasa tenang.” Alesha menatapnya. “Sekarang ada kemungkinan kita punya bayi lagi. Aku tidak mau kita menganggap masalah keamanan sudah selesai hanya karena orang yang terlibat sudah dihukum.”

Vion tidak membantah.

“Aku akan bicara dengan Hendra,” katanya. “Aku ingin melihat laporan evaluasi keamanan terbaru, termasuk akses lift dan pemeriksaan orang yang masuk ke gedung.”

“Jangan cuma meminta laporan.”

“Aku akan memeriksanya sendiri.”

Alesha mengangguk. Ia tidak membutuhkan janji besar. Ia ingin tahu bahwa apa yang terjadi sebelumnya benar-benar diperiksa, bukan ditutup begitu saja.

Vion meraih tangannya di bawah meja.

“Aku tidak bisa menjamin tidak akan ada masalah lagi,” katanya. “Tapi aku bisa memastikan kita tidak mengabaikan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.”

Sebelum Alesha menjawab, Arka mengangkat kepalanya.

“Papa, nanti lihat gambar roket Arka, ya?”

Vion menoleh. “Tentu.”

“Walaupun Papa sibuk?”

“Walaupun Papa sibuk.”

“Janji?”

“Janji.”

Arka tampak puas. Ia kembali menghabiskan rotinya, lalu meminta pengasuhnya memasukkan botol minum ke dalam tas.

Beberapa menit kemudian, mereka bersiap berangkat. Vion mengambil tas kerja, sementara Alesha memastikan perlengkapan sekolah Arka sudah lengkap. Di dekat pintu, Arka tiba-tiba berhenti dan memegang tangan ibunya.

“Mama ikut jemput Arka nanti?”

Alesha berjongkok untuk merapikan kerah seragamnya.

“Iya, Sayang. Kalau jadwal Mama memungkinkan, Mama ikut.”

“Jangan lupa, ya. Arka mau kasih lihat roketnya.”

“Aku ingat.”

Arka mengulurkan kelingking. Alesha mengaitkan kelingkingnya sendiri, lalu mengecup pipi putranya.

Setelah Arka berlari kecil menuju lift, Vion menunggu Alesha di ambang pintu. Tatapannya sempat turun ke tangan istrinya yang tanpa sadar menyentuh perut.

“Kita jalani satu per satu,” katanya.

Alesha mengangguk dan meraih tangannya.

Mereka menyusul Arka, membawa rencana pemeriksaan dokter dan pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu. Namun, sebelum meninggalkan Vantec Tower, Vion masih harus memastikan bahwa laporan keamanan yang dimintanya benar-benar tersedia.

Kejadian di lift itu belum boleh dianggap selesai hanya karena kehidupan mereka kembali berjalan seperti biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!