“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Reja berdiri, berjalan menuju saklar lampu dan mematikannya, membuat kamar itu jatuh dalam kegelapan yang hanya ditembus cahaya bulan.
"Karena lo itu milik gue, Celin. Barang yang udah dibeli nggak boleh rusak atau diambil orang lain sebelum pemiliknya bosan," ucap Reja dari kegelapan sebelum ia merebahkan diri di ranjangnya.
"Sofa lo nunggu. Tidur sekarang."
Celin berjalan menuju sofa dekat jendela, meringkuk di sana dengan tangan yang masih terasa berdenyut.
Ia menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa meski ia berhasil memenangkan satu pertempuran hari ini, perang yang sesungguhnya di rumah ini baru saja dimulai.
Di bawah atap yang sama, dua jiwa yang sama-sama terluka itu saling membenci, namun tanpa sadar mulai saling terobsesi dalam kegelapan yang sama.
Keheningan malam itu kembali pecah oleh suara berat Reja yang memecah kegelapan. Ia tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Rian yang berdiri di depan cafe itu terus menghantui pikirannya.
"Lo belum jawab satu hal," suara Reja terdengar dingin dari arah tempat tidur. "Sejak kapan Rian jadi pahlawan kesiangan buat cafe itu?"
Celin yang sedang mengatur posisi tidur di sofa yang sempit itu membeku. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha menjaga napasnya tetap teratur. Ia tahu Reja sedang mengujinya.
"Rian cuma partner olimpiade gue, lo tahu itu," jawab Celin dengan suara setenang mungkin.
"Dia sering mampir ke cafe karena rumahnya searah. Waktu lo dateng semalam, dia cuma lagi beli kopi. Dia pusing karena tekanan olimpiade sebentar lagi, itu aja."
Reja terkekeh sinis, suara tawanya terdengar meremehkan di tengah kesunyian kamar. "Pusing? Sejak kapan Rian yang jenius itu butuh kafein dari tempat kumuh kayak gitu buat ngerjain soal Fisika? Biasanya dia selalu punya kopi mahal di mejanya."
Reja bangkit, duduk di tepi ranjang sehingga bayangannya memanjang hingga ke arah sofa Celin. "Dan Kirei? Gue liat Rian panik banget waktu gue mau ngobrak-abrik tempat itu. Bukan cuma panik karena lo, tapi dia kayak mau ngelindungin temen lo itu."
Celin mengepalkan tangannya di balik selimut tipis. "Mereka cuma kenal karena gue, Reja. Jangan sangkut pautin orang lain ke dalam masalah kita. Rian itu temen lo sendiri, apa lo sebegitu nggak percayanya sama dia?"
"Gue nggak percaya sama siapa pun di dunia ini, apalagi sama orang yang tiba-tiba peduli sama urusan 'budak' gue," desis Reja.
Ia berdiri dan berjalan mendekat ke arah sofa, membuat Celin refleks menahan napas.
Reja membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengunci posisi Celin.
"Denger ya, gue nggak peduli kalau Rian itu partner olimpiade lo atau bahkan partner hidup lo. Tapi kalau sampai gue tahu ada yang lo sembunyiin soal mereka berdua... atau kalau lo berani jadiin Rian sebagai pelarian lo dari gue..."
Reja mendekatkan wajahnya ke telinga Celin, hembusan napasnya terasa hangat namun membuat bulu kuduk berdiri.
"...gue nggak cuma bakal hancurin beasiswa lo, tapi gue bakal hancurin masa depan Rian juga. Lo tahu kan, satu kata dari Papa bisa bikin keluarga Rian kehilangan posisi mereka di perusahaan?"
Celin memejamkan matanya rapat-rapat. "Lo benar-benar monster."
"Gue emang monster yang lo ciptain sendiri dengan pembangkangan lo," ucap Reja sambil menjauh kembali. Ia berjalan menuju tempat tidur dan berbaring, namun kali ini suaranya terdengar lebih tajam.
"Besok, jangan ada interaksi sama Rian di sekolah kalau nggak mau dia kena masalah. Dan soal cafe... ingat, gue yang bakal jemput lo."
Celin tidak menjawab lagi. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Di satu sisi ia merasa lega karena bisa melindungi rahasia Kirei dan Rian untuk sementara, namun di sisi lain, ia menyadari bahwa Reja mulai menjadikan semua orang yang ia sayangi sebagai sandera.
Malam itu, di bawah atap mansion yang megah, Celin menyadari bahwa penjara ini tidak memiliki jeruji besi, melainkan terbuat dari ketakutan dan ancaman yang terus-menerus mengintai setiap langkahnya.
Ia harus lebih berhati-hati, karena sedikit saja ia salah melangkah, orang-orang yang tulus menyayanginya akan ikut terseret ke dalam neraka yang ia tinggali.
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela gorden, menyinari butiran debu yang menari di udara kamar yang dingin. Celin sudah bangun sebelum alarm berbunyi.
Ia duduk di tepi sofa, menatap pergelangan tangannya yang kini terbungkus perban baru yang jauh lebih rapi hasil kerja kaku Reja semalam.
Ia melirik ke arah tempat tidur besar. Reja masih terlelap dengan posisi membelakangi sofa, napasnya teratur, tampak begitu tenang seolah ia bukan pria yang beberapa jam lalu mencekik harapan Celin.
Celin bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri, dan bersiap dengan seragamnya. Kali ini, ia memilih mengenakan sweater rajut berleher tinggi di bawah seragamnya untuk menyembunyikan memar di leher dan perban di tangan.
Ia tidak boleh membiarkan siapa pun melihat jejak "monster" itu, terutama Adrian.
Sesuai perintah, Reja mengantar Celin sampai ke sekolah. Namun, kali ini Reja tidak meminta Celin turun di gerbang belakang.
Ia sengaja menghentikan mobil tepat di depan lobi utama, tempat para siswa berkumpul sebelum bel masuk.
"Turun," perintah Reja pendek.
"Lo gila? Semua orang bakal liat kita keluar dari mobil yang sama," bisik Celin panik.
Reja justru tersenyum miring, senyum yang selalu menandakan bencana. "Biar mereka liat. Gue mau semua orang tahu kalau lo... urusan gue. Terutama si Rian."
Reja turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Celin dengan gerakan teatrikal yang kaku. Seluruh pasang mata di lobi tertuju pada mereka.
Bisik-bisik mulai menjalar secepat api. Tania, yang baru saja sampai, mematung di kejauhan dengan wajah memerah menahan amarah.
Di sudut lain, Rian berdiri diam. Matanya bertemu dengan mata Celin yang penuh permohonan. Celin menggeleng pelan ke arah Rian, sebuah sinyal agar pemuda itu tidak mendekat.
Rian mengepalkan tangannya, namun ia teringat peringatan Celin dan memilih untuk berbalik pergi.
Reja melihat interaksi tanpa suara itu. Ia mendekat ke telinga Celin, merangkul pundak gadis itu dengan kasar seolah-olah sedang menunjukkan kasih sayang, padahal cengkeramannya menyakitkan.
"Pinter," bisik Reja. "Tetaplah jadi penurut kalau lo mau dia selamat."
---
Sepanjang hari, Celin merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan pasang mata. Di kantin, Kirei mendekatinya dengan wajah penuh kecemasan.
"Celin, apa yang terjadi tadi pagi? Kenapa lo bareng Reja? Dan kenapa lo pakai baju setertutup ini?" Kirei mencoba menyentuh lengan Celin, namun Celin menariknya dengan cepat.
"Cuma perintah dari Adrian, Rei. Gue nggak bisa nolak," jawab Celin pendek. "Tolong, jangan tanya apa-apa lagi. Gue cuma mau fokus ujian Fisika jam ketiga nanti."
Tiba-tiba, sebuah gelas plastik berisi jus jeruk tumpah tepat di atas buku catatan Celin.
Byurr!
Tania berdiri di sana dengan wajah angkuh, dikelilingi oleh gengnya. "Ops, sorry. Tangan gue licin liat orang yang nggak tahu diri dapat tumpangan mewah pagi ini."
Celin menatap catatannya yang basah kuyup. Emosinya yang sudah berada di ujung tanduk hampir meledak, namun ia melihat Reja berdiri di kejauhan, mengawasi dengan tangan di saku celana, menunggu reaksi apa yang akan Celin berikan.
Celin hanya mengambil tisu, mengelap bukunya dengan tenang, dan berdiri. "Semoga rasa puas lo sebanding sama rendahnya etika lo, Tania."
Celin berjalan pergi, namun hatinya menjerit. Ia ingin melawan, ia ingin berteriak, tapi ia tahu setiap perlawanannya akan dibayar mahal oleh keselamatan ayahnya dan Kirei.
Sesuai janji, Reja menjemput Celin tepat setelah bel pulang berbunyi. Kali ini, ia membawa motor sport hitamnya.
"Naik," ucap Reja. "Kita ke cafe. Gue mau liat seberapa hebat lo kerja sampai-sampai berani ngelawan perintah gue lewat Papa."
Selama perjalanan, Celin hanya bisa berdoa dalam hati. Ia tahu Reja tidak hanya ingin memantaunya, tapi juga ingin menunjukkan kehadirannya sebagai "pemilik" Celin di wilayah satu-satunya di mana Celin merasa bebas.
Sesampainya di cafe, Reja tidak langsung pergi. Ia duduk di pojok ruangan, di meja yang paling dekat dengan dapur.
Ia memesan kopi hitam pahit dan membuka laptopnya, berpura-pura belajar, padahal matanya terus mengikuti setiap gerakan Celin.
Ibu Kirei mendekati Celin di dapur dengan wajah bingung. "Celin, itu teman kamu yang kemarin lagi ya? Kenapa dia menatapmu terus seperti itu? Tante jadi merasa tidak enak."
"Dia cuma lagi nunggu jemputan, Tante. Biarkan saja," bohong Celin, padahal jemarinya gemetar saat memegang nampan.
Dari kejauhan, Reja melihat Celin sedang melayani seorang pelanggan pria yang bertanya tentang menu. Melihat pria itu tersenyum pada Celin, Reja meremas pulpen di tangannya hingga patah. Suara prak itu membuat Celin menoleh.
Reja berdiri, berjalan menuju kasir, dan menatap Celin dengan mata yang kembali menggelap.
"Gue laper. Bikin makanan buat gue sekarang. Bukan menu cafe, gue mau lo yang masak di dapur belakang," perintah Reja seenaknya.
"Reja, gue lagi kerja!" bisik Celin marah.
"Pilih, Celin," Reja mengetuk meja kasir dengan irama yang mengancam. "Masakin buat gue, atau gue panggil anak-anak buat ngerasain masakan cafe ini sekarang juga?"
Celin memejamkan mata, menelan ludah yang terasa pahit. Ia menoleh pada Ibu Kirei yang menatap bingung, lalu kembali pada Reja.
Di penjara ini, tidak ada hari tanpa paksaan. Dan Celin tahu, malam ini di rumah, hukuman baru sudah menantinya karena ia dianggap "terlalu ramah" pada pelanggan tadi.
Celin menghela napas panjang, menaruh nampan di atas meja kasir dengan gerakan yang dipaksakan lembut. Ia menoleh ke arah Ibu Kirei.
"Tante, boleh Celin ke dapur sebentar? Teman Celin ini... dia punya maag kronis dan nggak bisa makan sembarangan. Celin mau buatkan bubur atau sup sebentar saja."
Bersambung...