Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Pernikahan Tanpa Tatapan
Ares meraih ponselnya yang berbunyi di atas meja. Pesan Alisha tadi diteruskan Reki padanya dan kini terpampang di layar.
Tatapannya perlahan menyusuri setiap kalimat yang ditulis perempuan itu.
> Saya hanya ingin menjalaninya tanpa melanggar keyakinan saya.
Ares membacanya sekali lagi. Ia semula mengira perempuan itu akan menjadi pihak yang paling mudah dibujuk oleh uang. Ternyata, Alisha justru memiliki batas yang tidak bisa dibeli. Dan anehnya, hal itu membuat Ares semakin penasaran.
Beberapa saat ia masih terpaku pada layar ponselnya. Kemudian, seolah sudah mengambil keputusan, Ares menekan tombol interkom.
“Reki, ke ruanganku. Sekarang.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia mengakhiri sambungan.
Tak lama kemudian, Reki kembali masuk ke ruangan. “Ada apa, Tuan?”
“Hubungi orang yang nanganin komunikasi dengan Nona Alisha. Sampaikan keputusanku.”
“Nyampein keputusan Tuan?” Reki memastikan.
“Ya,” jawab Ares mantap.
Reki menunggu.
Ares memandangnya sejenak sebelum berkata, “Aku setuju.”
Reki sempat terdiam. “Maksud Tuan... soal permintaannya?”
Ares mengangguk. “Pernikahan itu tetap dilakukan. Tapi aku gak mau ada pesta atau banyak orang. Cukup orang-orang yang memang diperlukan untuk akad.”
“Penghulu, wali, dua saksi?” tanya Reki.
“Dan pihak yang memang harus hadir sesuai prosedur.” Ares berhenti sejenak. “Semua diatur secara resmi. Gak perlu ada keluarga besar, teman, atau siapa pun yang gak punya kepentingan.”
Reki mengangguk. “Baik. Akan saya sampaikan.”
“Dan ada satu syarat lagi,” tambah Ares.
Reki kembali menoleh. “Apa?”
“Tiap bersamaku, dia harus menutup matanya.”
Reki mengernyit. “Setiap kali?”
“Ya.” Ares menjawab tanpa sedikit pun keraguan.
“Termasuk saat akad?”
Ares menatap Reki datar. “Termasuk.”
Beberapa saat Reki masih berdiri di tempatnya tanpa mengatakan apapun sebelum akhirnya mengangguk. Ia tidak lagi bertanya alasan di balik syarat aneh tersebut. Jika Ares sudah membuat keputusan, tugasnya adalah memastikan semuanya tersampaikan dengan jelas.
“Baik. Akan saya sampaikan.”
Ares kembali mengambil dokumen di hadapannya. “Pastikan dia tau semuanya sebelum ngasih persetujuan akhir. Kalau dia nolak, batalin.”
Reki mengangguk. “Saya mengerti.”
Ia kemudian menghubungi bawahannya yang sejak awal berkomunikasi langsung dengan Alisha.
“Hubungi Nona Alisha,” katanya begitu panggilan tersambung. “Sampaikan kalo Tuan Ares setuju sama permintaannya.”
Reki menyampaikan seluruh keputusan Ares, termasuk mengenai pelaksanaan pernikahan dan ketentuan bahwa Alisha harus menutup mata setiap kali berada bersama Ares, termasuk saat akad.
Bawahannya terdiam sebentar di ujung telepon. “Baik, Pak. Akan saya sampaikan.”
“Pastikan dia paham ketentuan itu sebelum semua disiapkan,” tegas Reki.
Setelah panggilan berakhir, Reki memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Reki masih merasa syarat itu aneh. Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Kalau Ares sudah memutuskan, tugasnya hanya memastikan semuanya tersampaikan.
Reki akhirnya menoleh kepada Ares. “Sudah, Tuan.”
Ares hanya mengangguk. “Lanjutkan kerjaanmu.”
“Baik.” Reki menunduk sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan Ares.
Namun, setelah Reki kembali meninggalkan ruangan, pandangan Ares jatuh pada pesan Alisha sekali lagi.
Perempuan itu sudah memberinya satu batas. Dan kali ini, Ares memilih untuk memenuhi batas tersebut tanpa membiarkan satu langkah pun membawa mereka lebih dekat dari yang ia inginkan.
-
Sementara itu, bawahan Reki masih menatap layar ponselnya yang sudah kembali gelap.
Ia menghela napas pelan. “Aneh banget. Aturan macam apa itu?”
Namun, ia segera mengabaikan pikirannya sendiri. Ia hanya bertugas menyampaikan keputusan atasannya.
Pria itu membuka percakapan dengan Alisha, lalu mengetik pesan sesuai instruksi Reki.
> Tuan Ares menyetujui permintaan Nona. Akadnya akan dibuat sederhana saja, hanya dihadiri pihak yang memang perlu untuk prosesnya. Tapi ada satu syarat tambahan dari Tuan Ares. Nona harus tutup mata setiap kali bersama Tuan Ares, termasuk saat akad nanti.
Pesan itu terkirim.
Di rumah sakit, Alisha baru saja selesai membaca beberapa catatan pengobatan Raka ketika notifikasi di ponselnya berbunyi. Ia membuka pesan tersebut.
Alisha langsung terdiam setelah membacanya. Matanya kembali menyusuri kalimat terakhir.
“Menutup mata setiap kali bersama Tuan Ares? Bahkan saat akad?”
Alisha mengernyit. Ia tidak memahami maksudnya.
“Kenapa Ares minta hal semacam itu?”
Bukankah mereka akan menikah? Setidaknya, ia ingin tahu seperti apa wajah laki-laki yang akan menjadi suaminya, meskipun pernikahan itu hanya bagian dari kesepakatan. Namun, Ares justru tidak mengizinkannya melihat.
Ada sesuatu yang terasa janggal dari permintaan itu. Seolah-olah Ares sengaja membuat jarak sedemikian rupa agar dirinya tidak pernah benar-benar mengenal laki-laki tersebut.
Alisha menggigit bibir bawahnya. Untuk sesaat, ia merasa tersinggung. Tetapi kemudian ia mengingat kesepakatan mereka.
Ares tidak pernah menjanjikan hubungan seperti pasangan pada umumnya. Tidak ada cinta, tidak ada kehidupan bersama, dan tidak ada tuntutan setelah perjanjian berakhir.
Mungkin bagi Ares, wajah dan tatapan tidak diperlukan dalam hubungan seperti itu.
Alisha mengembuskan napas perlahan. Ia sendiri sudah menetapkan batas yang tidak ingin dilanggarnya. Ares pun memiliki batasnya sendiri.
Dan kalau itu yang diminta, ia akan memenuhinya, sama seperti Ares sudah memenuhi permintaannya.
Alisha kemudian mengetik pesan.
> Apa benar itu syarat dari Tuan Ares?
Balasan masuk beberapa saat kemudian.
> Benar, Nona. Jika Anda gak bisa menerima ketentuan tersebut, kami anggap Anda gak bersedia melanjutkan kesepakatan.
Alisha kembali membaca pesan itu. Ada rasa asing yang mengganjal di dadanya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Ares darinya.
Namun, pada akhirnya ia mengetik satu kalimat.
> Baik. Saya bersedia.
.
...✨“Setiap orang memiliki batas yang ingin dipertahankan. Namun ketika dua kepentingan bertemu dalam sebuah kesepakatan, yang diuji bukan hanya keberanian untuk menerima, tetapi juga kemampuan untuk menghormati batas satu sama lain.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔