"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Hari Pertama di Kantor
Sinar matahari pagi yang cerah menembus jendela kaca gedung pencakar langit Lazuardi Corporation. Hari ini adalah hari pertama Zahira melangkah sebagai staf keuangan biasa.
Tanpa diantar mobil mewah Papi, Zahira memilih motor metik merahnya menuju kantor. Ia mengenakan baju blazer panjang dengan celana semi kulot yang dipadu padankan dengan warna kerung lebih muda dari stelan blazer nya, berpadu sepatu flat yang nyaman.
Dari luar, tak ada sedikit pun kesan bahwa ia adalah putri pemilik megaproyek perumahan tersebut.
Saat memasuki ruangan Devisi Keuangan di lantai 5, riuh suara mesin cetak dan ketikan keyboard menyambutnya. Ruangan itu bernuansa modern namun terasa begitu penuh tekanan.
"Kamu karyawan baru yang dari jalur rekrutmen umum itu, ya?" suara melengking seorang wanita berparas tajam memotong langkah Zahira.
Namanya Imelda, Senior Supervisor di divisi tersebut yang terkenal galak dan gemar melimpahkan pekerjaannya ke bawahan.
Zahira mengangguk sopan sembari mengulurkan tangan. "Iya, bu. Saya Zahira, staf keuangan baru."
Imelda hanya melirik dingin tanpa membalas uluran tangan Zahira. "Di sini nggak ada waktu buat ramah-tamah manis, Zahira. Kerja di bawah tim saya artinya harus siap kerja cepat dan nggak cengeng."
Imelda lalu berjalan menuju mejanya dan mengambil dua tumpukan map tebal berisi berkas laporan anggaran proyek tahunan yang belum direvisi.
Brak! Map itu ditumpuk begitu saja di meja kecil tempat Zahira akan duduk.
"Selesaikan rekapitulasi transaksi dan audit internal dari berkas-berkas ini sebelum jam makan siang. Jangan sampai ada salah sepeser pun. Kalau sampai salah, posisi kamu taruhannya," gertak Imelda dingin lalu berlalu tanpa menunggu tanggapan.
Zahira menghela napas pelan. Bukannya gentar, jemari lentiknya justru langsung bergerak cekatan membongkar berkas tersebut.
Sebagai lulusan sarjana ekonomi dengan predikat cumlaude, angka dan rumus akuntansi adalah makanannya sehari-hari. Ia mulai bekerja dalam diam, fokus dan sama sekali tidak mengeluh.
.
.
Sekitar jam sebelas siang, suasana divisi yang sibuk mendadak hening seketika. Pintu kaca otomatis terbuka lebar, memperlihatkan rombongan direksi yang sedang mendampingi pimpinan tertinggi perusahaan.
Damian melangkah tegap menggunakan setelan jas hitam elegan, didampingi manajer utama dan para eksekutif. Aura kepemimpinannya begitu dominan hingga membuat seluruh staf berdiri dan menunduk hormat.
Langkah kaki Damian terhenti sejenak saat matanya menyapu ruangan. Di pojok ruangan, di balik meja paling kecil yang dipenuhi tumpukan kertas, ia melihat putri sulungnya sedang sibuk mengetik dengan raut wajah sangat serius.
Hati Damian bergetar hebat. Ada rasa bangga bercampur iba melihat putrinya betul-betul memegang janji untuk merangkak dari bawah tanpa memanfaatkan namanya.
Namun, sebelum Damian sempat menghampiri, Imelda yang melihat kedatangan Pak Pemilik Perusahaan langsung bergegas mendekat dengan wajah penuh senyum manis yang dibuat-buat.
"Selamat pagi menjelang siang, Pak Damian! Suatu kehormatan Bapak berkenan meninjau Divisi Keuangan hari ini," sapa Imelda membungkuk hormat.
Damian mengangguk tipis dengan raut wajah datar. "Bagaimana kinerja tim keuangan hari ini?"
"Sangat terkendali, Pak! Kami selalu memastikan seluruh laporan diselesaikan dengan ketelitian tinggi oleh staf-staf berpengalaman,"
Ujar Imelda penuh percaya diri, menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja melimpahkan pekerjaan audit rumit kepada seorang staf baru.
Saat itu, Zahira bangkit dari duduknya. Ia membawa berkas rekapitulasi yang sudah selesai dirapikan dan berjalan menghampiri meja Imelda tanpa menyadari kedatangan rombongan direksi secara langsung.
"Bu Imelda, ini laporan rekapitulasi anggaran proyek perumahan yang ibu minta. Sudah selesai saya audit dan koreksi beberapa selisih angkanya," ucap Zahira lembut.
Imelda seketika melotot tajam, merasa kepemimpinannya di depan sang direktur terganggu oleh staf baru. "Zahira! Kamu nggak lihat ada Pak Damian di sini?! Nanti saja serahkan laporannya! Nggak sopan banget tiba-tiba menyela!"
Bisik Imelda setengah membentak dengan nada menekan.
Damian mengangkat tangannya, menghentikan omelan Imelda. Mata Damian menatap tepat ke arah laporan di tangan Zahira, lalu beralih menatap wajah sang putri yang tetap tenang dan anggun.
"Coba saya lihat laporannya," potong Damian tegas namun bernada lembut.
Siska terperanjat. Dengan gemetar, ia mengambil berkas dari tangan Zahira dan menyerahkannya kepada Damian. "In-ini Pak... Ini berkas audit proyek yang baru saja dicek..."
Damian membuka lembar demi lembar laporan tersebut. Matanya yang jeli menyisir setiap angka.
Ia tertegun. Analisis keuangan yang disajikan sangat rinci, sistematis, bahkan berhasil menemukan celah kebocoran anggaran kecil yang selama ini terlewat oleh supervisor senior.
"Siapa yang menganalisis dan menyusun perincian neraca ini?" tanya Damian dengan suara membahana, matanya menatap Imelda.
Imelda gagap, wajahnya mendadak pucat. "Anu, Pak... itu... hasil arahan dari saya untuk—"
"Saya yang menyusunnya secara mandiri berdasarkan data berkas transaksi, Pak,"
Potong Zahira dengan tegas dan lugas, namun tetap menjaga batasan profesional tanpa menyebut Damian sebagai papinya.
Seluruh mata di ruangan itu kini tertuju pada Zahira. Imelda makin menatap Zahira dengan tatapan benci dan penuh ancaman.
Damian menutup map laporan itu, lalu memandang Zahira dengan binar mata penuh rasa haru dan bangga yang sulit disembunyikan.
"Penataan angka yang sangat presisi dan cerdas. Kamu tahu persis mana poin yang mengalami pembengkakan biaya. Pekerjaan yang sangat luar biasa untuk seorang staf yang baru bergabung di hari pertama," puji Damian tulus di hadapan seluruh jajaran direksi dan staf.
Suasana ruangan menjadi riuh rendah oleh bisikan kagum para karyawan.
Imelda hanya bisa berdiri membeku dengan wajah memerah menahan malu dan kekalahan.
Zahira menganggukkan kepala dengan senyum tipis yang elegan. "Terima kasih atas apresiasinya, Pak Damian. Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai staf keuangan."
Damian tersenyum hangat, menahan rasa ingin memeluk putri tercintanya di tempat itu. Ia tahu, tanpa embel-embel nama besar keluarga Lazuardi pun, kilau kecerdasan dan integritas Zahira akan selalu bersinar terang dengan sendirinya.
Hari pertama di kantor baru saja dimulai, dan Zahira telah membuktikan bahwa ia berdiri tegak di atas kakinya sendiri.