AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: MBAH SARTI TAHU AKU NIKAH SIRI
Rahasia nikah siri cuma bertahan 4 hari. Di Desa Wonorejo, rahasia tidak pernah bisa disimpan lama, apalagi rahasia janda hamil duluan nikah sama kakak mantannya.
Hari ke-4 setelah akad siri, jam 5 pagi, Mas Arga kebiasaan buruknya masih sama: benerin atap rumah bocorku malam-malam biar warga tidak lihat. Tadi malam dia benerin seng di pojok dapur yang bocor, pakai seng baru pemberian Pak Karim, bukan seng bekas lagi. Dia pulang jam 10 malam, tapi pagi jam 5 dia balik lagi buat ambil palu yang ketinggalan di bale depan.
Nah, jam 5 pagi itu Bu Tati, tetangga yang jadi mata-mata Mbah Sarti dan yang dulu usir aku dari warung Bu Lasmi, kebetulan mau ke pasar pagi. Lewat kebun karet, lihat bayangan laki-laki keluar dari rumah bocor Mbah Wiryo yang angker itu.
Bu Tati langsung ngintip. Ternyata Mas Arga, anak Pak Karim.
Bu Tati langsung lari, bukan ke pasar, tapi ke rumah Mbah Sarti yang jaraknya 200 meter dari rumah bocor.
"Mbah Sarti! Mbah Sarti! Kirana nikah diam-diam sama Arga anak Pak Karim! Tadi pagi Arga keluar dari rumah bocor! Jam 5 pagi!"
Mbah Sarti yang lagi masak nasi di tungku kayu, langsung banting panci alumuniumnya. Panci penyok.
"Apa! Berani-beraninya nikah tanpa izin Mbah! Tanpa wali Mbah! Mbah ini wali sahnya! Dia hamil anak Rendo, kok nikah sama kakaknya! Gila!"
Jam 9 pagi, saat aku lagi nyuci baju Salsa di sumur belakang rumah bocor, perutku yang sekarang 4 bulan sudah mulai terasa berat kalau jongkok, Mbah Sarti datang. Tidak sendirian. Bawa 3 ibu-ibu PKK: Bu Tati, Bu Wati, dan Bu Lasmi yang wajahnya tidak enak hati karena terpaksa ikut.
"Kirana! Keluar kamu! Berani-beraninya nikah siri tanpa izin Mbah! Kamu hamil anak haram Rendo, sekarang nikah sama kakaknya! Kamu pikir Mbah Sarti ini patung!"
Aku kaget, ember cucian tumpah. Salsa yang main tanah di depan rumah langsung lari peluk kakiku.
"Mbah, aku... aku bisa jelasin, Mbah..."
"Jangan Mbah-Mbah! Kamu sudah bikin malu keluarga besar Wonorejo! Hamil duluan, sekarang nikah siri diam-diam sama Arga! Apa kata warga! Dikira Mbah Sarti jual cucu ke keluarga Pak Karim! Dikira Mbah terima uang 100 ribu mas kawin itu!"
Ternyata Bu Tati sudah cerita lengkap sampai mas kawin 100 ribu.
Bu Minah yang dengar ribut-ribut dari rumahnya yang 50 meter dari rumah bocor, lari dengan napas ngos-ngosan, masih pakai daster.
"Mbah Sarti, jangan marah-marah di sini! Kirana butuh istirahat! Dia hamil 4 bulan! Yang nikahin itu Pak Modin dari Sumberejo, wali hakim, sah secara agama! Kirana butuh status, Mbah! Daripada hamil tanpa suami, dihina terus sama Bu Tati!"
Mbah Sarti malah makin marah, ambil sapu lidi yang dibawa dari rumah.
"Status apa! Status janda siri! Kamu pikir Arga mau tanggung jawab anak haram itu seumur hidup! Arga itu kasihan sama kamu, bukan cinta! Kasihan! Nanti juga dicerai setelah anak lahir! Laki-laki mana mau rawat anak adiknya sendiri!"
Kalimat "kasihan, bukan cinta" itu nusuk jantungku lebih sakit daripada sapu lidi.
Aku nangis, pegang perut 4 bulan yang mulai kelihatan buncit jelas di balik daster.
"Mbah, kalau Mbah gak mau akui aku cucu Mbah lagi, gak apa-apa, Mbah. Tapi jangan usir aku dari rumah bocor ini lagi, Mbah. Aku gak punya tempat lain. Gudang Pak Karim sudah Mbah larang, warung Bu Lasmi sudah Bu Tati larang, tinggal rumah bocor ini yang mau nampung aku sama Salsa."
Mbah Sarti terdiam sebentar, lihat rumah bocor yang atapnya sudah tidak bocor lagi karena dibenerin Arga, lantainya sudah disapu bersih, ada jemuran baju bayi kecil-kecil.
Tapi gengsinya masih tinggi.
"Pokoknya Mbah gak akui nikah siri ini! Mbah akan lapor Pak RT! Nikah siri tidak sah di mata desa! Harus nikah KUA! Dan wali harus Mbah! Kalau tidak, Mbah bakar rumah bocor ini sekalian sama kamu!"
Setelah ngomel 30 menit, Mbah Sarti pergi dengan rombongan PKK, ninggalin sapu lidi tergeletak di tanah becek depan rumah bocor.
Aku peluk Salsa erat-erat, nangis di sumur.
Sore jam 4, Pak Karim datang ke rumah bocor, wajahnya kusut, bawa Pak RT.
Pak RT namanya Pak Slamet, orangnya baik, tapi takut sama Mbah Sarti karena Mbah Sarti paling tua di desa.
"Kirana, Nduk, tadi Mbah Sarti lapor ke Bapak," kata Pak RT pelan, duduk di bale depan yang masih basah. "Katanya kamu nikah siri tanpa izin wali Mbah Sarti. Secara agama mungkin sah karena wali hakim, tapi secara adat desa Wonorejo, nikah harus ada wali keluarga. Jadi di mata desa, kamu masih dianggap belum nikah, Nduk. Maaf ya, Nduk."
Aku lemas. Jadi perjuanganku 4 hari ini, akad siri dengan mas kawin 100 ribu, kertas HVS tipis dari Pak Modin, ternyata di mata desa masih dianggap "perawan hamil duluan belum nikah" juga.
Pak Karim yang lihat aku lemas, genggam tangan Pak RT.
"Pak RT, tapi secara agama sah kan? Biarin dulu siri, nanti kalau anak lahir baru KUA resmi dengan wali saya. Kasihan Kirana, Pak. Dia sudah diusir sana-sini."
Pak RT angguk-angguk. "Iya, Pak Karim, secara agama sah, tapi tolong jangan rame-rame dulu. Jangan bikin selamatan. Biar warga lupa dulu gosipnya."
Setelah Pak RT pulang, Arga datang jam 6 maghrib, bawa senter dan palu.
"Kir, maaf ya, Mbah Sarti tahu. Tadi pagi aku ceroboh ambil palu jam 5 pagi."
Aku kasih teh hangat yang aku masak pakai kayu bakar pemberian Arga kemarin.
"Gak apa-apa, Mas. Memang rahasia gak akan lama di desa ini."
Arga duduk di bale depan, tidak masuk rumah, jaga syarat.
"Kir, Pak RT bilang apa?"
"Pak RT bilang di mata desa aku masih belum nikah, Mas. Nikah siri kita gak diakui desa."
Arga diam lama, lalu genggam tanganku sebentar, pertama kalinya setelah akad siri, tangannya kasar karena kerja di kebun karet.
"Kir, gak apa-apa. Di mata Allah kita sudah suami istri. Soal desa, biar Mas yang hadapi. Kamu tetap di sini. Aku sudah beliin seng baru lagi buat cadangan kalau bocor lagi. Dan besok Mas beliin telur 1 kilo buat kamu, biar anaknya sehat. Bu Bidan bilang kamu kurang gizi."
Malam itu, Arga benerin lagi atap yang sebenarnya sudah tidak bocor, cuma biar ada alasan duduk lama di bale depan.
Aku di dalam rumah bocor, lihat dari jendela bolong, suami siriku benerin atap jam 9 malam pakai senter, hujan rintik-rintik.
Masih istri siri, belum diakui desa, masih di rumah bocor, hamil 4 bulan, masih diasingkan.
Tapi atap sudah benar-benar tidak bocor lagi malam ini.
Itu kemajuan kecil, tapi bikin aku bisa tidur tanpa taruh panci di bawah bocoran.
Dan itu cukup buat malam ini.