NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:613
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang terkikis

Keheningan di dapur itu terasa begitu pekat. Maya menatap piring di depannya, nasi putih dengan sedikit sisa kuah opor yang sudah mendingin. Suara detak jam dinding seolah mengejeknya yang kini duduk sendirian, sementara suaminya pasti sedang tertawa di restoran mewah bersama keluarga parasit itu.

​Maya menyuap nasi itu pelan. Hambar. Pikirannya melayang, terseret jauh ke masa empat tahun yang lalu.

​Waktu itu, hujan turun sangat lebat di desanya sejak pagi buta, membuat tanah merah di jalanan desa berubah menjadi kubangan lumpur yang licin dan dalam. Sore hari, udara terasa sangat dingin. Maya baru saja pulang dari ladang bersama Pak Sumarna, bapaknya, berjalan menyusuri jalan setapak dengan caping yang masih basah.

​Di tikungan jalan yang sepi, mereka melihat seorang pria muda kota dengan pakaian lapangan yang kotor terkena cipratan tanah. Pria itu tampak kewalahan, napasnya tersengal-sengal berusaha menarik ban motornya yang terperosok ke dalam lumpur sedalam mata kaki. Pria itu adalah Arya.

​Matahari sudah hampir tenggelam, semburat oranye di ufuk barat mulai memudar, menandakan waktu Maghrib segera tiba.

​"Mas, mari dibantu. Sebentar lagi gelap, nggak aman di sini," suara Pak Sumarna memecah kepanikan Arya.

​Tanpa banyak bicara, Pak Sumarna langsung meletakkan cangkulnya dan ikut mendorong motor itu, sementara Maya membantu menarik bagian depan. Meski tubuh mereka basah kuyup dan kaki belepotan lumpur, senyum ramah tak pernah lepas dari wajah Pak Sumarna.

​Melihat hari sudah gelap dan penginapan Arya berada jauh di luar desa, Pak Sumarna mengajak Arya mampir ke rumah kayu mereka yang sederhana. Di sana, Maya dengan cekatan membuatkan teh hangat dan menyiapkan singkong rebus.

​Arya tampak terpana. Ia yang biasa hidup di kota dengan persaingan yang keras, mendadak menemukan kehangatan yang asing. Ia melihat bagaimana Pak Sumarna dan istrinya menyambutnya tanpa curiga, dan bagaimana Maya melayaninya dengan ketulusan yang murni tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

​Di rumah kayu berlantai semen milik Pak Sumarna itulah, Arya jatuh cinta. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan dan ketulusan keluarga Maya yang bagaikan embun di tengah panasnya kehidupan kota.

​Masa-masa pacaran pun dimulai. Waktu itu, Arya seolah menjelma menjadi pahlawan bagi Maya. Setiap kali Arya datang berkunjung ke desa untuk menemui Pak Sumarna dan dirinya, ia selalu memanjakan Maya. Barang-barang cantik, makanan enak dari kota, hingga janji-janji manis yang membuat Maya merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia.

​"Kalau nanti kita menikah dan tinggal di kota, kamu nggak perlu lagi ke ladang, May. Kamu cukup jadi ratu di rumah kita. Mas yang akan jaga kamu," bisik Arya kala itu sambil menggenggam tangan Maya di bawah pohon rindang dekat sungai.

​Maya tersenyum pahit mengingat memori itu. Ia meletakkan sendoknya. Nasi di piringnya masih tersisa separuh, tapi selera makannya sudah hilang total.

​"Ratu?" gumam Maya lirih pada ruangan yang kosong.

​Kenyataannya, di rumah megah ini, Maya tak lebih dari seorang pelayan tanpa gaji. Arya memang membawanya ke kota, tapi Arya lupa membawa "keberanian" untuk melindunginya. Arya yang dulu begitu memanjakannya, kini justru menjadi orang yang paling sering memintanya untuk bersabar setiap kali martabatnya diinjak-injak oleh mertuanya.

​Cinta Arya ternyata hanya sebatas kata-kata manis saat situasi tenang, namun langsung ciut saat berhadapan dengan dominasi ibunya.

​Maya memutuskan meninggalkan dapur yang dingin itu. Langkah kakinya pelan menuju kamar di lantai atas. Langit di luar jendela sudah sepenuhnya gelap, menenggelamkan keheningan rumah besar itu.

​Sampai di kamar, Maya mengambil wudhu. Usapan air dingin di wajahnya terasa sedikit mengikis rasa panas dan sesak di dada. Ia membentangkan sajadah, mengikat mukenanya, lalu menunaikan sholat Maghrib seorang diri.

​Dalam sujudnya, tak ada lagi air mata yang menetes. Hanya ada kepasrahan dan doa-doa pendek agar dadanya diberi kekuatan. Usai salam, Maya tak lantas beranjak. Ia meraih mushaf Al-Qur'an kecil di atas meja rias, membukanya, lalu melantunkan ayat demi ayat dengan suara lirih. Lantunan ayat suci itu menggema pelan di dalam kamar, menemani kesendiriannya hingga azan Isya berkumandang.

​Setelah menunaikan sholat Isya, Maya melipat sajadah dan mukenanya dengan rapi. Ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air hangat menyapu sisa-sisa rasa lelah setelah seharian diperas tenaganya dari subuh.

​Selesai berpakaian tidur, Maya berjalan mendekati ranjang. Rasa lelah luar biasa di tubuhnya menuntut untuk segera diistirahatkan. Namun, baru saja ia menarik selimut dan membaringkan tubuhnya di atas kasur, suara deru mesin mobil yang familier terdengar memasuki halaman rumah, disusul tawa renyah yang samar-samar menembus dinding kamar.

​Orang rumah sudah kembali.

​Tak lama kemudian, langkah kaki beradu di tangga menuju lantai atas. Pintu kamar terdorong pelan. Arya masuk membawa sebuah kantong plastik transparan di tangannya.

​"Maya... kamu sudah tidur?" bisik Arya pelan. Melihat lampu utama kamar masih menyala, Arya tersenyum lega dan mendekati ranjang.

​Ia meletakkan kantong plastik itu di atas meja samping tempat tidur. Di dalamnya tampak sebuah mangkuk kertas berisi bakso yang kuahnya sudah mendingin, dengan lapisan lemak tipis yang membeku di permukaannya.

​"Ini, Mas belikan bakso kesukaanmu pas jalan pulang tadi," kata Arya dengan nada manis, mencoba mencairkan suasana. Ia duduk di tepi ranjang, lalu mengulurkan tangan hendak mengelus rambut Maya. "Masih hangat kok... eh, rada dingin deng, tapi masih enak kalau dihangatkan di dapur."

​Maya tidak bergeming. Ia hanya menatap kantong bakso dingin itu, lalu beralih menatap wajah suaminya. Wajah Arya tampak segar, kenyang, dan puas setelah menikmati santapan seafood mahal bersama keluarganya.

​"Aku sudah kenyang, Mas. Mau tidur," jawab Maya datar, menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari jangkauan tangan Arya.

​Raut wajah Arya mendadak berubah serba salah. "Kamu masih marah soal tadi sore? Kan Mas sudah bilang, Mas nggak enak sama Ibu dan mas Mansur kalau nggak ikut. Kamu paham kan posisi Mas?"

​"Paham, Mas," balas Maya pelan, menatap lurus ke dalam mata suaminya. "Mas Arya selalu ada di posisi yang harus mengalah demi Ibu. Dan aku ada di posisi yang harus selalu memaklumi."

​Arya menghela napas panjang, memasang raut wajah lelah yang biasa ia perlihatkan setiap kali merasa terdesak. "Kamu kok ngomongnya gitu? Mas ini cuma berusaha jadi anak yang berbakti, May. Mas nggak mau durhaka sama Ibu gara-gara masalah sepele kayak bakso. Kamu kan istri yang baik, harusnya dukung Mas, bukan malah ngambek begini."

​Kata durhaka dan sepele kembali diucapkan dengan begitu gampang. Bagi Arya, perasaan istrinya yang terus-menerus diinjak-injak hanyalah hal sepele.

​Maya menutup matanya rapat-rapt. Ia tidak membantah, tidak pula berdebat. Ia hanya menarik selimutnya hingga sebatas dada, memunggungi Arya yang masih duduk di tepi ranjang.

​"Tolong matikan lampunya, Mas. Aku mau istirahat" ujar Maya dingin.

​Arya terpaku. Ia menatap punggung istrinya dengan kejengkelan yang mulai tertahan, namun merasa tak punya alasan kuat untuk marah. Dengan gusar, Arya bangkit, mematikan lampu utama, lalu menyalakan lampu tidur yang temaram sebelum akhirnya masuk kekamar mandi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!