Satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada membobol brankas mafia... adalah jatuh cinta pada pemiliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Pukul satu dini hari. Keheningan menyelimuti kompleks fasilitas latihan rahasia klan Argantara yang terletak di bawah tanah. Udara terasa dingin dan lembap, membawa aroma besi serta beton basah. Koridor-koridor sempit yang diterangi lampu kedip berwarna kemerahan nampak bagaikan labirin mematikan tanpa ujung.
Di ruang kendali atas, Devan Argantara berdiri menyandarkan dadanya pada pagar besi, menatap ke arah area simulasi taktis berbentuk laboratorium fiktif di bawah sana. Di sampingnya, Marco memegang jam penghenti digital (stopwatch) serta papan kendali manual untuk mengatur skenario jebakan.
"Tuan Devan, apakah ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Marco pelan, melirik Devan dengan raut ragu. "Fasilitas latihan level empat ini biasanya cuma dipakai untuk menguji pasukan khusus sebelum misi pembunuhan. Banyak sensor kejutan, gas pemicu disorientasi, dan pintu otomatis berkecepatan tinggi. Nona Aria kan peretas, bukan agen lapangan."
Devan meneguk kopi hitamnya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor pemantau. "Di Kasino Royale Vane nanti, Hector tidak akan membedakan mana peretas dan mana agen lapangan. Kalau sistem siber yang dipakainya diserang secara mendadak, Hector bakal mengunci lorong dan memburu siapa pun yang bernapas di dalam jaringan."
Devan meletakkan cangkirnya ke tepi pagar besi. Matanya memancarkan kilatan dingin yang penuh perhitungan. "Aku harus tahu sejauh mana kecepatan reaksi dan daya tahan fisik Aria saat berada di bawah tekanan instingtif secara langsung. Ini bukan cuma soal kemampuan jarinya di atas papan ketik, Marco. Ini soal apakah otaknya tetap tenang saat nyawanya dipertaruhkan."
"Siap, Tuan. Pengujian disimulasikan dalam hitungan tiga... dua... satu." Marco menekan tombol merah pada papan kendali.
KLAK!
Seluruh pencahayaan utama di dalam area simulasi bawah tanah padam seketika.
Di dalam lorong simulasi yang gelap gulita, Aria mendadak menghentikan langkahnya. Pakaian taktis serba hitam yang memeluk tubuhnya memudahkan pergerakan ringannya, namun perubahan situasi yang drastis ini langsung membuat seluruh sensor kewaspadaannya siaga penuh.
BZZZZT!
Lampu darurat merah di sudut atas dinding berkedip cepat, disusul oleh suara sirine peringatan bersuara nyaring yang memekakkan telinga.
"Peringatan! Kebocoran protokol keamanan tingkat tiga. Sistem pintu terkunci otomatis dalam sembilan puluh detik." Suara sintetis komputer bergema kencang dari pengeras suara.
Aria tidak panik. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang sempat melonjak. Dari tas pinggang taktisnya, ia menarik peranti pemindai sinyal portsbel berkuran telapak tangan dan memasangkan earpiece ke telinga kirinya.
"Penyusup tes awal..." gumam Aria pelan pada dirinya sendiri, menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Devan benar-benar tidak suka kalau hidupku terasa agak tenang sebentar saja."
Aria menyusuri dinding beton, melangkah cepat menuju terminal pemicu di ujung lorong. Namun, baru tiga langkah ia bergeser—
CLICK!
Ujung sepatu taktis Aria menyentuh kabel pemicu tipis di lantai.
SZZZT!
Dari balik celah panel dinding kiri, dua tiupan gas bertekanan tinggi tersemprot keluar secara mendadak!
Refleks Aria bekerja secepat kilat. Tanpa berpikir panjang, wanita itu meluncurkan tubuhnya ke depan, menjatuhkan badan dan berguling mulus di atas lantai beton yang dingin sebelum gas itu sempat terhirup olehnya. Ia bangkit kembali dalam posisi berlutut, menahan napas seraya menarik masker filtrasi udara dari kerah bajunya untuk menutupi hidung dan mulutnya.
"Sensor tekanan inframerah di lantai," batin Aria tajam. "Bukan cuma simulasi biasa... ini rancangan jebakan berantai."
Aria segera menancapkan peranti portabelnya ke kotak junction listrik di dinding. Jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas layar sentuh mini, melompati proteksi jaringan lokal yang dipasang tim taktis Marco.
TAP-TAP-TAP!
Di ruang kendali atas, Marco melotot menatap layar pemantau pergerakan data. "Gila! Dia meretas firewall simulasi cuma dalam waktu dua belas detik!"
Devan menyunggingkan senyum tipis yang sarat kepuasan. "Perhatikan pergerakannya, Marco. Dia tidak cuma membobol kode, dia sedang membaca skema kabel fisik tempat ini."
Di bawah sana, Aria berhasil meretas pintu baja pertama. KLANG! Pintu bergeser naik secara mekanis. Aria melompat berdiri dan menerobos masuk ke dalam ruangan berikutnya—ruang simulasi utama yang dipenuhi deretan rak server usang dan jaringan kabel liar.
Namun, Devan belum selesai. Pria itu meraih mikrofon komunikasi langsung yang terhubung ke helm atau earpiece Aria.
"Empat puluh detik tersisa, Little Bird," suara berat Devan berbisik langsung di telinga Aria, santai namun membawa tekanan psikologis yang nyata. "Pintu keluar utama di sebelah utara akan terkunci permanen. Kalau kamu gagal menembusnya, gas lumpuh akan memenuhi ruangan ini dan kamu dinyatakan gugur."
Aria mendengus jengkel mendengar suara Devan di telinganya. "Simpan ocehanmu itu untuk anak buahmu, Devan!" balas Aria tajam seraya berlari menembus barisan rak server.
Tiba-tiba, dari arah depan, dua target simulasi berbentuk papan siluet manusia terdorong keluar secara mekanis dengan kecepatan tinggi, menghalangi jalur lari Aria. Tak hanya itu, lampu kilat (strobe light) frekuensi tinggi mulai berkedip liar di langit-langit, berusaha merusak fokus visual dan memicu pusing hebat.
Suara sirine yang makin kencang, cahaya kilat yang menyilaukan, serta waktu yang terus menyusut menciptakan kombinasi disorientasi yang mematikan.
Aria memejamkan matanya selama satu detik penuh untuk menetralkan penglihatannya. Ia tidak lagi mengandalkan matanya, melainkan mengandalkan pendengaran serta ingatan spasialnya atas denah yang sempat ia retas lima detik lalu.
Aria melompat ke atas salah satu rak server, menggunakan tumpuan besi rak itu untuk melompati dua papan siluet di bawahnya. Tubuhnya melayang anggun di udara sebelum mendarat sempurna di dekat terminal pintu keluar.
"Tiga... dua..." suara Marco berhitung dari pengeras suara.
Aria menancapkan kunci dekoder buatan sendiri ke slot terminal pintu utama.
BZZZZT—CLICK!
BAM!
Tepat di hitungan detik terakhir, pintu baja raksasa di depannya terbuka lebar, sementara seluruh gas simulasi disedot keluar secara otomatis. Lampu putih ruangan kembali menyala terang, menghentikan seluruh sirine darurat yang memekakkan telinga.
Aria berdiri tegap di ambang pintu keluar, melepaskan masker filtrasinya sembari menata napasnya yang naik turun. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan peluh tipis membasahi pelipisnya, namun mata gelapnya memancarkan keteguhan luar biasa yang tak tergoyahkan.
Suara tepuk tangan pelan bergema dari arah lorong atas.
Devan melangkah turun dari tangga besi, diikuti Marco yang menatap Aria dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan lagi. Pria penguasa klan Argantara itu berjalan santai dengan kedua tangan terbenam di dalam saku celananya, menghentikan langkah tepat dua jengkal di depan Aria.
"Sembilan puluh detik pas," ujar Devan, menatap wajah Aria yang berada di bawahnya. "Kecepatan analisismu di bawah tekanan fisik luar biasa, Aria. Kamu berhasil melewati simulasi level empat."
Aria menyilangkan kakinya, menatap Devan dengan pandangan mata yang menyipit tajam penuh kejengkelan yang membara.
"Kamu sengaja menyetel frekuensi lampu kilat itu di tingkat tertinggi buat bikin aku migrain, kan?" semprot Aria kaku, melangkah maju mendekati Devan tanpa rasa takut sedikit pun.
Devan terkekeh rendah—sebuah tawa yang teramat dalam dan memikat. Pria itu mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk menyapu pelan setetes keringat di pelipis halus Aria. Sentuhan hangat itu seketika mengirimkan desiran aneh yang memotong rasa jengkel Aria.
"Aku cuma ingin memastikan..." bisik Devan pelan di dekat wajah Aria, aura woody hangat dari tubuhnya menyelimuti udara dingin di antara mereka, "...bahwa dalam situasi paling kacau sekalipun di Kasino Royale nanti, kamu bisa tetap bertahan hidup dan kembali padaku."
Aria menahan napasnya sejenak saat kata 'kembali padaku' terucap begitu tegas dari bibir pria itu. Tatapan mata kelam Devan yang penuh proteksi dan dominasi membuat jantung Aria berdegup kencang melampaui ritme latihan fisik tadi.
Aria memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menutupi ketegangannya. "Aku bertahan hidup buat diriku sendiri, Devan. Bukan buat kamu."
"Hasilnya tetap sama, Little Bird," balas Devan dengan ukiran senyum tipis yang sarat intrik. "Tes awal selesai. Sekarang kamu benar-benar siap untuk operasi sesungguhnya."
Aria mengepalkan jemarinya, namun di dalam benaknya, ia tahu bahwa ujian penyusupan simulasi malam ini tidak hanya membuktikan ketangkasan refleksnya—tetapi juga makin mempertegas betapa rumitnya ikatan berbahaya yang kian mengikat dirinya dengan Devan Argantara.