Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Melihat pria tua berkaki satu di hadapannya menangis tersedu-sedu di atas tanah kotor, hati Gu Tian terasa bergetar. Dia melangkah maju dua langkah, merendahkan tubuh tegapnya, dan memegang kedua bahu kaku Lu Chen dengan kedua tangannya.
"Cukup, berdirilah," ujar Gu Tian dengan suara rendah namun hangat.
Gu Tian membantu Lu Chen menegakkan tubuhnya kembali. Saat jemarinya menyentuh bahu dan lengan Lu Chen, seutas benang Kesadaran Spiritual (Spiritual Sense) secara alami mengalir menembus kulit pria tua itu untuk memeriksa kondisi dalam tubuhnya.
Seketika itu juga, raut wajah Gu Tian membeku.
Kondisi dalam tubuh Lu Chen jauh lebih mengenaskan daripada apa yang tampak dari luar. Jalur-jalur meridian di dalam fisiknya telah putus dan hancur total, menjadi serat-serat mati yang tak lagi bisa menampung sebaris pun energi Qi. Dantian bawahnya retak dan membatu. Kaki kirinya yang buntung dipotong secara kasar oleh sisa serangan energi tajam di masa lalu.
Pria tua di hadapannya ini bukan lagi seorang kultivator. Lu Chen telah dipaksa turun derajat menjadi seorang manusia fana biasa yang cacat dan renta, menunggu hari kematiannya tiba!
Gu Tian menatap dalam-dalam pada mata tua Lu Chen yang masih dipenuhi genangan air mata.
"Murid Chen..." bisik Gu Tian, menyebut nama panggilan lamanya puluhan tahun lalu. "Kenapa kau bisa menjadi seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi pada sekte ini sampai tempat kita hancur tak berbekas begini?"
Mendengar panggilan "Murid Chen" keluar dari mulut Leluhurnya, pertahanan batin Lu Chen runtuh sepenuhnya. Pria tua yang usianya sudah ratusan tahun dan berkaki satu itu mendadak menangis tersedu-sedu bagaikan seorang anak kecil yang baru saja menemukan pelindungnya. Bahunya naik turun menahan tangis yang pecah, mengingatkan Gu Tian pada sosok Lu Chen muda puluhan tahun lalu saat pertama kali diterima masuk ke dalam sekte.
Di samping Lu Chen, gadis muda berbaju lusuh itu memegangi lengan kakeknya dengan kedua tangan yang gemetaran hebat. Matanya yang polos dan ketakutan menatap Gu Tian dengan pandangan campur aduk—antara cemas, takjub, dan takut akan aura wibawa yang memancar dari pria paruh baya di hadapannya.
Gu Tian menyapu pandangan ke sekeliling gerbang yang terbuka dan berangin. Pemandangan pelataran yang hancur dan kondisi Lu Chen yang sangat lemah membuat tempat terbuka ini bukan lokasi yang tepat untuk mendengar cerita panjang.
"Sepertinya kita perlu berpindah tempat terlebih dahulu," kata Gu Tian pelan.
Sebelum Lu Chen atau gadis kecil itu sempat merespon, Gu Tian mengibaskan lengan jubah birunya.
SWOOSH!
Sebuah lapisan energi Qi keemasan yang sangat lembut dan hangat memancar keluar, membungkus tubuh Lu Chen dan cucunya tanpa tekanan sedikit pun. Gu Tian mengangkat kakinya dari tanah, membawa kedua orang itu melayang ke udara secara perlahan, melintasi puing-puing istana yang runtuh menuju ke sudut utara sekte.
Di sudut utara itu, berdiri sebuah aula batu kecil tempat penyimpanan kitab yang strukturnya masih utuh bertahan dari kehancuran.
Gu Tian mendaratkan kaki mereka di dalam aula batu yang tenang dan bebas dari terpaan angin dingin. Dia mengibaskan tangannya lagi, memunculkan dua buah kursi kayu dari Cincin Spasialnya dan membiarkan Lu Chen serta cucunya duduk dengan nyaman.
Setelah hembusan napas panjang dan kondisi emosinya mulai sedikit tenang, Lu Chen mengusap sisa air mata di wajahnya. Dia menatap Gu Tian dengan tatapan penuh penghormatan yang tak pernah pudar oleh waktu.
"Leluhur... kejadian tragis ini terjadi tepat tiga puluh tahun yang lalu," mulai Lu Chen dengan suara parau yang bergetar.
Gu Tian menyilangkan tangannya di belakang mendengarkan setiap patah kata dengan cermat.
"Waktu itu, Sekte Dao Langit kita berada di puncak kejayaannya..." kenang Lu Chen, pandangannya menerawang menatap lantai batu. "Ribuan murid berlatih di pelataran setiap pagi, dan nama Sekte Dao Langit ditakuti serta disegani oleh seluruh benua. Namun, bencana mendadak datang tanpa peringatan."
Lu Chen mengepalkan tangan tunggalnya erat-erat, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Suatu hari, sebuah rumor beredar deras ke seluruh penjuru benua bahwa Anda... bahwa Leluhur Gu Tian dijebak dan dikepung oleh puluhan master dari sekte-sekte besar di Puncak Gunung Darah. Kabar burung menyebutkan bahwa Anda telah gugur dalam pertempuran tersebut."
Lu Chen menggelengkan kepala dengan ekspresi pahit.
"Awalnya, kami semua di sekte tidak mempercayai kabar burung itu. Tetua Tertinggi dan para murid yakin bahwa Anda adalah sosok yang tak tertandingi dan pasti akan kembali dengan selamat. Kami memilih untuk menutup gerbang dan menunggu kedatangan Anda selama dua bulan penuh..."
Lu Chen menghentikan kalimatnya sejenak. Napasnya terdengar memburu, dan raut wajahnya berubah menjadi sangat pucat, seolah ingatan dua puluh tahun lalu itu adalah mimpi buruk paling mengerikan di hidupnya.
"Namun... tepat dua bulan setelah Anda menghilang, langit di atas Sekte Dao Langit mendadak berubah menjadi gelap gulita," bisik Lu Chen dengan mata melotot pelan. "Bukan karena awan mendung atau hujan badai, Leluhur... tapi karena ribuan kultivator dari gabungan puluhan sekte musuh terbang menutupi awan di atas kepala kami!"
Gadis kecil di samping Lu Chen merapatkan tubuhnya ke kakeknya saat mendengar cerita itu, memejamkan mata rapat-rapat.
"Tekanan aura mereka meruntuhkan pelindung luar sekte dalam hitungan detik," lanjut Lu Chen dengan air mata yang kembali menetes di pipinya yang keriput. "Seketika itu juga, kami semua di dalam sekte sadar... sadar akan kenyataan pahit apa yang sebenarnya terjadi. Anda tidak kembali, dan para serigala yang selama ini takut pada nama besar Anda... kini datang bersama-sama untuk membalas dendam dan meratakan rumah kita!"
Gu Tian berdiri menyimak dalam keheningan total. Binar matanya yang tadinya tenang kini berubah menjadi sangat dingin dan kelam, memancarkan aura niat membunuh yang perlahan-lahan merembes keluar dari dalam fisiknya.
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/