Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aska dan Ujang melangkah keluar melewati pintu depan Griya Harta Emas untuk menjalankan tugas mereka masing-masing. Tanpa mereka sadari, dua mata-mata yang menyamar sebagai penjaja gerobak makanan mengawasi gerakan itu dan segera mengekor dari belakang. Di balik dinding pelindung gedung, Bella mengamati pergerakan mereka secara cermat.
Bella menatap dua mata-mata yang membuntut di belakang Aska dan Ujang tanpa disadari kedua pria itu.
"Sumber informasi utama Jayakarta? Aku yakin dia memang mendapat banyak perhatian," gumam Bella pelan sembari menggenggam buah apel di tangannya. Pandangannya berganti ke arah jendela, mendapati Gilang tengah berdiri di sana. Begitu netra mereka tak sengaja bertabrakan, Bella bergegas menundukkan pandangannya.
Gilang segera menarik gorden dan menutup akses pandang, sementara Bella menggigit apelnya santai sembari memindai area sekitar.
Di dalam ruang kerjanya, Ichikawa berdiri membelakangi meja, menatap sinar matahari yang menerobos kaca jendela.
"Gilang sudah mulai bergerak, Pak. Semua anak buahnya menyebar untuk mencari petunjuk keberadaan Nyonya Emma," panggil seorang bawahan yang menyampaikan laporan.
Raut wajah Ichikawa tampak suram. "Baiklah, pergilah."
"Siap, Pak." Bawahan itu membungkukkan bahu memberi hormat, lalu melangkah keluar dari ruangan.
Ichikawa membalikkan badan lalu membuka laci mejanya. Di dalam sana tergeletak sebuah bingkai foto bersepuh perak. Ia merengkuh potret hitam-putih yang menampilkan sosok Emma tengah tersenyum lebar di balik batang pohon besar. Tatapannya terpaku pada lembaran itu, membawanya hanyut pada sebuah kenangan.
Kilas Balik — Sebuah Restoran
Suasana restoran tampak ramai oleh para pengunjung yang menikmati santapan. Ichikawa dan Emma duduk bersisian di salah satu sudut meja.
"Sepertinya aku sedang hamil," ucap Emma dengan wajah berseri-seri. Ia mengenakan gaun anggun yang melengkapi paras cantiknya yang bersih.
Ichikawa yang mengenakan kacamata tersentak kaget. "Hamil?"
"Iya, ini anakmu, Pak," sahut Emma lembut seraya tersenyum manis.
Ichikawa menatap Emma dalam-dalam sebelum akhirnya tertawa terkekeh, disusul senyuman lebar dari bibir Emma.
Kembali ke masa kini, Ichikawa menyapu bayangan kenangan itu dan mengembalikan bingkai foto ke tempat semula.
Ceklek.
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya yang merupakan sekretaris Ichikawa melangkah masuk dan berdiri tegap. Kedua tangannya terlipat sopan di depan perut.
"Ada pesan dari rumah, Pak. Mereka ingin memastikan jam berapa Anda pulang hari ini," tutur sang sekretaris dengan nada santun.
"Sampaikan agar tidak usah menunggu. Karena kasus orang hilang ini, aku akan pulang sangat larut," ujar Ichikawa seraya mendaratkan tubuh di kursi kerjanya dan bersandar lesu.
"Baik, Pak. Saya mengerti." Sang sekretaris membungkuk lalu melangkah pergi.
*******
Di ruang teh kediaman Ichikawa, angin sepoi-sepoi berembus pelan menyusupi celah ruangan. Di sana, Maera tengah memegang gagang telepon di telinganya, menerima panggilan dari seseorang yang tak dikenal.
"Iya, aku mengerti," ucap Maera lirik.
"...Tidak," sahut suara asing secara singkat dari balik sambungan.
"Iya, sampai jumpa," tutup Maera pelan lalu meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
Tampak dari belakang, ia mengenakan kimono putih berhiaskan corak bunga merah muda. Wanita itu kemudian terduduk dan merenung dalam keheningan.
*******
Di tempat lain tepatnya di ruang bawah tanah sebuah rumah sakit milik militer Jepang di Jayakarta, misteri hilangnya para wanita akhirnya terkuak. Mereka ditawan di sana oleh pasukan tentara Jepang dan Emma berada di antara mereka.
Emma tengah tertidur lemas dengan punggung bersandar pada dinding dingin. Tiba-tiba suara dentuman keras mengejutkannya hingga ia tersentak bangun.
Trengg!
Seorang tentara memukulkan tongkat besinya ke jeruji sel. "Semuanya bangun dan tempati posisi kalian!" teriaknya bergema memenuhi lorong bawah tanah.
Trengg!
Pria itu kembali menggeplak jeruji besi sembari berjalan angkuh. "Ayo cepat! Bergerak!"
Tiga wanita lainnya bergegas merangkak mendekati pintu jeruji dan bersimpuh. Emma yang ketakutan ikut menirukan gerakan mereka. Entah sudah berapa lama ia terkurung di tempat itu, namun pakaiannya masih tampak relatif bersih dan rapi, sangat kontras dengan tawanan lain yang sudah kotor dan lusuh. Apakah mereka sudah dikurung berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun? Mungkinkah ibu Bella yang dicarinya selama sepuluh tahun terakhir juga berada di lorong penjara ini?
"Apa yang sedang terjadi?" bisik Emma cemas menatap wanita di sebelahnya.
Raut wajah wanita itu tampak amat tegang, seolah ketakutan setengah mati. "Jangan bicara apa pun! Tundukkan kepalamu!" bisiknya memperingatkan.
"Apa?" ulang Emma tidak paham.
Suasana di dalam sel penjara bawah tanah semakin mencekam. Ketiga wanita itu makin menunduk dalam dengan napas memburu dan air mata yang mulai menetes.
Tak lama kemudian, lima pria berseragam militer melangkah mendekat. Salah satu dari mereka mengenakan jas putih khas seorang dokter.
"Apakah dua orang cukup?" tanya seorang tentara kepada pria berjas dokter itu.
"Iya, dua orang cukup untuk sekarang," jawab pria berjas dokter dingin.
Salah satu tentara mengarahkan tongkat kayunya ke arah sel hingga menimbulkan bunyi benturan keras. Tringg!
"Yang ini, bawa dia!" perintahnya.
Wanita di sebelah Emma menoleh ke atas. Beruntung, bukan Emma yang ditunjuk. Tentara itu membuka pintu jeruji dan menyeret wanita tersebut secara kasar dan tanpa perikemanusiaan.
"Ampuni aku! Tolong! Tolong jangan bunuh aku!!" jerit wanita itu histeris dengan napas memburu, raut wajahnya dipenuhi ketakutan luar biasa.
Mata Emma terbelalak menyaksikan kekejaman di hadapannya. Napasnya kian memburu, jantungnya berdebar kencang diselimuti firasat buruk dan pikiran yang tak karuan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan orang-orang itu kepada wanita tersebut.
Trengg!
Tentara membanting pintu besi sel kembali hingga terkunci.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya tentara di sebelahnya.
"Ah, sudah cukup lama sejak kita membawanya dari penjara kota. Kondisinya tidak begitu baik," sahut sang dokter mengamati sel sebelah.
"Biar kulihat," balas salah satu tentara.
"Bawa dia juga," perintah sang dokter.
"Siap, Pak!"
Trengg!!
Tentara membuka jeruji besi lalu menyeret seorang wanita lain dari sel di depan Emma. Ia mendorong tubuh wanita itu kasar hingga tersungkur menabrak besi sel milik Emma.
Trengg!!
Kalung yang dikenakan wanita itu bergoyang hebat dan bagian penutupnya tercemar bercak darah. Emma tersentak kaget; napasnya semakin tidak teratur dan tubuhnya bergetar hebat. Wanita yang tersungkur itu mendongak, menatap Emma dengan sorot mata yang sulit diartikan. Mereka berdua saling bertatapan dalam keheningan yang mencekam.
Tentara menyeret wanita itu kembali lalu menyuruhnya berbaris bersama wanita pertama yang dibawa sebelumnya.
Seorang perwira berkacamata bernama Kanto berjalan mendekati mereka.
"Tundukkan kepalamu!" bentak seorang tentara.
"Jangan bunuh aku! Ampuni aku!" tangis histeris wanita pertama kembali pecah meratapi nasibnya.
"Bagaimana, Pak?" tanya salah satu tentara kepada Kanto.
Kanto mengamati kedua wanita di hadapannya. Wanita yang tadi sempat menabrak sel Emma hanya membisu, balas menatap Kanto dalam diam.
"Dua orang sudah cukup," ujar Kanto dingin tanpa ekspresi, lalu berbalik melangkah pergi.
"Tolong jangan bunuh aku! Tolong ampuni aku!" jerit wanita itu terus-menerus memohon belas kasihan.
Dua tentara menyeret kedua wanita itu, melangkah mengekor di belakang Kanto.
Pria berjas dokter sempat membungkukkan badan, menatap Emma yang menangis tersedu-sedu di balik jeruji besi, sebelum akhirnya menyusul langkah rombongan tersebut.