NovelToon NovelToon
Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Pengawal Yang Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Pengakuan yang Tertahan

Suara dering telepon yang memecah keheningan itu seakan membawa mereka kembali ke kenyataan. Gu Shiyu berbalik cepat, meraih gagang telepon, namun tangannya sedikit gemetar. Di seberang sana terdengar suara yang tergesa-gesa, berbicara cepat tentang laporan keuangan yang ditemukan tidak wajar, tentang transaksi yang tidak tercatat, tentang sesuatu yang tersembunyi di balik neraca perusahaan.

Lin Muchen berdiri di tempatnya, napasnya masih belum teratur. Kata-kata yang hampir meluncur dari bibirnya terasa tertahan di tenggorokan, berat dan panas. Ia ingin mengulanginya, memaksa Gu Shiyu mendengarkannya sebelum hal lain datang memisahkan mereka, namun melihat wajah wanita itu yang perlahan berubah pucat, kata-kata itu kembali tersimpan rapat.

“Aku akan ke sana sekarang,” ucap Gu Shiyu singkat, lalu meletakkan telepon perlahan seakan benda itu tiba-tiba menjadi terlalu berat untuk dipegang. Ia menoleh ke arah Lin Muchen, matanya masih menyimpan tanya besar, namun kini bercampur kekhawatiran yang nyata. “Ada masalah di kantor cabang. Aku harus pergi segera. Ikutlah denganku, tolong.”

Suaranya memohon, bukan sebagai atasan, melainkan seseorang yang baru saja menyadari bahwa di sekelilingnya mungkin tidak semua orang dapat dipercaya. Lin Muchen mengangguk tanpa kata. Ia tidak bisa pergi sekarang. Ia tidak bisa membiarkan wanita itu sendirian saat bahaya mulai mengintai dari segala arah — bahkan jika sebagian bahaya itu berasal dari masa lalunya sendiri.

Perjalanan menuju kantor cabang berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Gu Shiyu menatap ke luar jendela, namun pandangannya kosong. Sesekali ia menghela napas panjang, seolah berusaha menenangkan pikirannya yang berputar kacau. Lin Muchen memperhatikannya dari pantulan kaca depan. Ia tahu wanita itu sedang berjuang — antara rasa ingin tahu tentang siapa dirinya, dan ketakutan akan apa yang sedang terjadi di perusahaannya.

“Lin…” suaranya terdengar pelan, hampir tak terdengar di antara suara mesin mobil. “Apa yang akan kau katakan tadi… tentang ayahku dan ayahmu?”

Lin Muchen menegang. Ia ingin menjawab, namun belum siap. “Nona Gu, sekarang bukan waktu yang tepat. Nanti… nanti akan kuceritakan semuanya.”

Gu Shiyu tersenyum tipis yang menyakitkan. “Selalu begitu. Nanti. Lain waktu. Sejak kau datang, kau selalu menyisihkan hal yang paling penting untuk dibicarakan belakangan. Aku merasa seolah kau membawa rahasia yang begitu besar, dan aku takut mengetahui isinya.”

“Kau berhak tahu,” jawab Lin Muchen lembut namun tegas. “Tapi aku butuh memastikan semuanya dulu. Sebelum aku bicara, aku harus tahu kebenarannya sampai ke akar-akarnya. Agar aku tidak menuduh orang yang salah.”

Gu Shiyu menatap punggungnya lama sekali, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Baik. Aku menunggu. Tapi tolong… jangan terlalu lama. Aku merasa seolah ada sesuatu yang buruk sedang mendekat, dan aku sendirian di tengah kegelapan itu.”

“Kau tidak sendirian,” ucap Lin Muchen. “Aku di sini.”

Kalimat itu terucap begitu tulus hingga membuat Gu Shiyu terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya — janji yang dalam, perasaan yang tak bisa lagi disembunyikan sepenuhnya. Ia ingin bertanya lebih lanjut, namun mobil perlahan berhenti di depan gedung kantor cabang yang lebih tua dan sederhana dibandingkan kantor pusat. Langit sudah mulai gelap, lampu-lampu di sekitar gedung itu menyala remang, memberikan kesan sepi dan mengerikan.

Mereka turun bersama. Lin Muchen berjalan di samping Gu Shiyu, matanya memindai setiap sudut dengan kewaspadaan tinggi. Pintu utama terbuka sedikit, seolah sudah menantikan kedatangan mereka. Di lobi sepi itu, seorang pria paruh baya berdiri menunggu dengan wajah pucat. Namanya Pak Wen, kepala cabang yang sudah bekerja di sana sejak masa ayah Gu Shiyu masih memegang kendali perusahaan.

“Nona Gu… terima kasih sudah datang,” sapanya dengan suara gemetar.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Wen?” tanya Gu Shiyu langsung, melangkah masuk ke ruangan yang lebih dalam. “Tentang laporan yang dikatakan di telepon?”

Pak Wen menunduk dalam. “Ada perbedaan catatan, Nona. Sejak tiga bulan lalu, ada dana yang keluar secara berkala, namun tidak ada laporan pengeluarannya. Jumlahnya besar. Dan saat aku memeriksa tanda tangan pemberi izin…” Ia berhenti, menelan ludah dengan susah payah. “Tanda tangan itu… mirip dengan tanda tangan mendiang ayah Anda.”

Gu Shiyu mundur selangkah, wajahnya kehilangan warna. “Itu tidak mungkin. Ayah sudah meninggal setahun lalu.”

“Itulah sebabnya aku bingung dan takut,” ucap Pak Wen pelan. “Ada yang menggunakannya. Entah siapa. Dan semakin aku periksa, semakin banyak hal yang tidak sesuai. Sepertinya ini sudah berlangsung jauh lebih lama dari tiga bulan ini.”

Lin Muchen melangkah maju. “Siapa yang memiliki akses penuh ke arsip dan tanda tangan itu?”

Pak Wen menatapnya ragu-ragu, lalu menunduk lebih dalam. “Banyak orang… tapi yang paling lama dan paling dipercaya… adalah Tuan Zhang Hua. Beliau yang menyarankan sistem pencatatan ini sejak dulu, beliau yang memiliki akses ke semua tingkatan.”

Nama itu diucapkan, dan seketika suasana menjadi sunyi. Gu Shiyu berdiri mematung, pikirannya kembali ke pertemuan tadi pagi — senyum ramah Zhang Hua, kata-katanya tentang ayahnya, pandangannya yang entah bagaimana terasa penuh makna tersembunyi. Ia mengenal pria itu sejak kecil. Ayahnya mempercayainya. Mereka adalah sahabat lama. Bagaimana mungkin?

“Tidak…” gumamnya pelan. “Pak Zhang tidak mungkin melakukan hal seperti itu.”

“Nona Gu,” suara Lin Muchen terdengar tenang namun tegas, “pagi tadi dia berbicara padaku. Dia menyebut ayahku. Dia tahu hal-hal yang seharusnya tidak diketahui orang luar.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan berat hati, “Ayahku bekerja di bawah pimpinannya. Sebelum jatuh sakit, ayahku pernah mengatakan sesuatu… tentang uang yang hilang, tentang janji yang dikhianati.”

Gu Shiyu menatapnya lekat-lekat, perlahan menyadari arah pembicaraan ini. “Ayahmu… apa hubungannya dengan semua ini?”

“Dulu, ayahmu dan ayahku bekerja sama,” ucap Lin Muchen pelan namun jelas. “Mereka berjanji membangun sesuatu bersama. Namun kemudian sesuatu terjadi. Ayahku pulang dengan wajah hancur, mengatakan bahwa ia diperdaya. Tidak lama setelah itu, keluargaku hancur. Dan keluargamu pindah tanpa pemberitahuan apa pun.” Ia menarik napas panjang, menatap mata wanita itu dengan jujur. “Gu Shiyu… dulu kita saling mengenal. Kita tumbuh bersama.”

Nama itu terucap — bukan lagi “Nona Gu”, melainkan namanya saja, diucapkan dengan keakraban yang membekas bertahun-tahun. Gu Shiyu terpaku. Sesuatu yang samar-samar ia ingat perlahan menjadi jelas — wajah anak laki-laki itu, nama yang dipanggilnya, janji yang pernah diucapkan di bawah pohon mangga. Air mata perlahan menggenang di matanya.

“Muchen…” panggilnya pelan, nyaris berbisik. “Kau… kau Muchen?”

Lin Muchen mengangguk, menahan gejolak di dadanya. “Ya. Aku Lin Muchen. Anak laki-laki yang dulu berjanji akan selalu melindungimu. Dan yang ditinggalkan tanpa pesan apa pun.”

Air mata jatuh dari pipi Gu Shiyu. Ia menatap pria di hadapannya, pria yang selama ini terasa asing namun akrab, yang berdiri menjaganya tanpa pernah mengungkapkan siapa dirinya. Semua kebingungan, semua perasaan tak dapat dijelaskan, kini menemukan jawabannya. Namun kebahagiaan itu bercampur kesedihan yang mendalam.

“Mengapa kau tidak mengatakan sejak awal?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Karena aku takut,” jujur Lin Muchen. “Aku takut jika kau tahu siapa aku, kau akan pergi lagi. Dan aku takut mengetahui kebenaran di balik perpisahan kita. Ada sesuatu yang gelap di antara masa lalu keluarga kita, Shiyu. Sesuatu yang merenggut ayahku, yang memisahkan kita, dan yang kini mengancammu juga.”

“Zhang Hua…” gumam Gu Shiyu. “Apakah dia di balik semua ini?”

“Aku belum punya bukti yang cukup,” jawab Lin Muchen. “Tapi dia tahu terlalu banyak hal. Dan dia tampak sangat ingin aku mengetahui kebenaran itu — atau mungkin menjatuhkanku bersama rahasia itu.”

Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Cepat dan berat. Lin Muchen segera menarik Gu Shiyu ke belakang tubuhnya, waspada. Pintu didorong kasar. Dua orang pria berbadan tegap berdiri di ambang pintu, wajah mereka tertutup bayangan. Pak Wen mundur ketakutan ke sudut ruangan.

“Kalian tidak boleh di sini,” ucap salah satu pria itu, suaranya kasar. “Tinggalkan sekarang.”

“Siapa kalian?” tanya Gu Shiyu melangkah maju sedikit, meski tangannya mencengkeram lengan baju Lin Muchen. “Ini kantor perusahaanku.”

“Kami disuruh mengamankan tempat ini,” jawab pria itu sambil melangkah masuk. “Suruhannya dari atas.”

“Dari siapa?” tanya Lin Muchen tajam, berdiri tegak menghadang mereka. “Dari Zhang Hua?”

Nama itu membuat kedua pria itu terdiam sejenak, lalu saling berpandangan. Keheningan itu menjadi jawaban yang cukup.

“Pergilah,” ucap pria itu lebih tegas. “Sebelum kami menggunakan cara lain.”

Lin Muchen menoleh ke arah Gu Shiyu, matanya serius. “Kita harus pergi sekarang. Mereka tidak akan membiarkan kita melihat apa pun di sini.”

“Tapi buktinya…” ragu Gu Shiyu.

“Buktinya bisa dicari nanti. Nyawamu lebih penting,” bisik Lin Muchen. Ia meraih tangan wanita itu, menggenggamnya erat. “Ikut aku. Jangan lepaskan.”

Mereka bergerak mundur menuju pintu belakang. Dua pria itu berusaha menghalangi, namun Lin Muchen bergerak cepat — mendorong salah satu ke samping, menghindari serangan yang lain, menarik Gu Shiyu bersamanya. Mereka berlari menuju mobil, masuk dengan cepat, dan kendaraan melaju kencang meninggalkan tempat itu.

Di dalam mobil yang meluncur cepat, tangan mereka masih saling menggenggam, erat dan berkeringat. Gu Shiyu menatap wajah Lin Muchen yang fokus menyetir, namun pikirannya jauh melayang. Segalanya berubah dalam hitungan jam — identitas pengawalnya terungkap, ancaman nyata di depan mata, dan nama sahabat ayahnya muncul sebagai dalang di balik semuanya.

“Ke mana kita akan pergi?” tanyanya pelan.

“Ke tempat yang aman dulu,” jawab Lin Muchen. “Kita tidak bisa kembali ke rumahmu atau ke kantor. Mereka mungkin sudah menunggu.” Ia menoleh sekilas, menatapnya lembut. “Maafkan aku. Aku membawamu ke dalam bahaya ini.”

Gu Shiyu menggeleng pelan, mempererat genggamannya. “Kau tidak membawaku. Kau justru melindungiku, seperti dulu. Dan sekarang… aku tidak akan pergi ke mana-mana tanpamu.”

Mata Lin Muchen memanas. Di tengah bahaya yang mengancam, di tengah kegelapan yang semakin pekat, kalimat itu adalah hal terindah yang ia dengar selama bertahun-tahun. Namun ia tahu, perjalanan ini baru saja dimulai. Kebenaran yang akan mereka temukan mungkin menyakitkan, mungkin memisahkan mereka, namun mereka sudah berada di jalan yang sama. Tidak ada jalan kembali.

Di kejauhan, lampu kota berkelap-kelip, menyembunyikan rahasia di balik cahayanya. Dan di antara ribuan cahaya itu, bayangan Zhang Hua tersenyum dingin — tahu bahwa kepingan demi kepingan teka-teki itu kini jatuh pada tempat yang justru ia inginkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!