Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Kediaman keluarga Ashford di kawasan perbukitan elit Los Angeles berdiri megah bagai benteng tua berbatu megah yang memadukan arsitektur klasik Eropa dengan sentuhan modern yang dingin.
Di balik pagar besi tempa berukir tinggi dan penjagaan super ketat dari para pengawal bersenjata, mansion itu memancarkan kekuasaan, kekayaan, dan aura gelap yang disegani oleh siapapun di pantai barat.
Malam itu, di dalam ruang kerja pribadi yang bernuansa kayu jati gelap dan ornamen keemasan, aroma cerutu mahal dan kayu cedar memenuhi udara.
Jameson Baxter Ashford duduk di sebuah sofa kulit tebal, memangku satu kakinya dengan gestur tegap dan penuh dominasi.
Di depannya, duduk dua orang paling berpengaruh di dalam hidupnya sekaligus pilar utama keluarga Ashford: sang ayah, Leander Ashford, dan sang ibu, Pearl Glow.
"Aku rasa tatapan mata itu tidak biasa, Dad," suara berat Jameson memecah keheningan ruangan.
Sepasang mata hazel-nya menatap lurus ke arah cangkir kristal di meja, namun pikirannya tertuju sepenuhnya pada sosok mahasiswi barunya.
"Dan tato kupu-kupu hitam miliknya... aku melihat jelas tato kupu-kupu itu di kuku pria itu, Dad. Persis seperti tato kupu-kupu miliknya."
Leander Ashford yang sedang menyesap minuman beralkoholnya menghentikan gerakannya.
Dahi pria yang masih tampak gagah itu berkerut dalam.
"Tato di kuku korban?" ulang Leander dengan nada menuntut.
"Ya,"
Jawab Jameson dengan rahang yang memperketat kaku.
"Mungkin orang lain tidak akan melihat jelas bagaimana ukiran tato kecil itu karena ukurannya yang mikro dan tersembunyi di balik pigmen kuku yang memucat akibat kehabisan darah. Tapi aku menghafalnya. Aku menghafal setiap detail ukiran tato kupu-kupu hitam yang ada di tubuh wanita itu."
Jameson menarik napas dalam-dalam, teringat bagaimana pandangannya terkunci pada detail halus saat memeriksa jasad di gedung Seni Rupa, serta ingatan intens dari malam yang penuh gairah di kamar hotel beberapa waktu lalu.
"Dan kasus di New York itu juga rupanya sama," lanjut Jameson dengan tatapan tajam dan dingin.
"Ada ukiran kupu-kupu hitam yang sama di kuku tiga korban di New York. Pola eksekusinya identik: irisan presisi di leher, menguras habis darah korban hingga tanpa sisa, lalu meninggalkan tanda berupa ukiran kupu-kupu hitam."
Leander Ashford dan Pearl Glow saling berpandangan sejenak.
Kedua orang tua Jameson mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, mencerna informasi berbahaya yang baru saja disampaikan oleh putra tunggal mereka.
Leander meletakkan gelas kristalnya di atas meja kayu dengan ketukan pelan yang tegas.
"Jika itu masalahnya, Daddy akan menyuruh anak buah kita untuk menyelidikinya secara menyeluruh malam ini juga. Jika dia memang memiliki jejak kejahatan di New York, maka polisi—wajib mencurigainya dan menyeretnya."
"Tidak ada jejak, Dad," potong Jameson cepat dengan nada mantap.
"Dia melakukannya terlalu bersih."
"Bersih?"
Leander menaikkan sebelah alis tebalnya, menatap putranya dengan pandangan menilai.
"Sangat bersih," tegas Jameson.
"Di New York, kepolisian federal bahkan tidak bisa menemukan satu pun sampel DNA, jejak sidik jari, atau rekaman CCTV yang mengarah pada sosok pelaku. Dia bergerak bagai bayangan. Tidak ada riwayat kriminal, tidak ada catatan mencurigakan di imigrasi, dan semua dokumen transfer akademisnya dari Inggris tercatat sempurna tanpa cela...”
“Jika bukan karena tato kupu-kupu hitam yang kebetulan beririsan dengan ingatan pribadiku dengannya, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang sanggup menghubungkan kematian pria-pria itu dengannya."
Pearl Glow, sang ibu yang anggun dengan aura aristokratik yang kuat, menyandarkan tubuhnya di sofa.
Wajah cantiknya yang awet muda memancarkan ketenangan intuitif seorang wanita yang telah mendampingi Pria dari keluarga mafia terpandang selama puluhan tahun.
"Mommy rasa... jika dia memang ada keterkaitan dengan semua kematian ini," suara Pearl Glow terdengar lembut namun menelisik, "Lalu apa motifnya, JB?"
JB.
Panggilan singkat yang khusus digunakan oleh keluarga intinya itu seketika memotong ketegangan formal di antara mereka.
JB menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja mewahnya yang tergulung hingga siku.
"Itu yang sedang aku cari tahu, Mom. Apa motif sebenarnya? Kenapa harus laki-laki?"
"Apakah semua korban pria di New York dan mahasiswa di kampusmu itu memiliki benang merah yang sama?" tanya Pearl Glow lagi.
"Apakah mereka saling mengenal, atau memiliki latar belakang kejahatan tertentu?"
JB menggelengkan kepala pelan.
"Secara kasatmata, ketiga korban di New York tidak memiliki hubungan darah maupun bisnis. Satu adalah pengusaha muda, satu atlet, dan satu lagi mahasiswa tingkat akhir. Tapi jika ditarik garis lurus... mereka semua adalah pria yang memiliki reputasi kelam tersembunyi terkait kekerasan atau skandal terhadap wanita yang berhasil dibungkam dengan uang."
Mata Leander mendadak menyipit mendengar penjelasan itu.
"Seorang algojo pembalas dendam?"
"Atau seorang hakim dingin yang bergerak di balik kanvas lukisnya," bisik JB dengan sorot mata yang makin pekat oleh rasa penasaran dan dominasi yang tertahan.
JB teringat jelas bagaimana kalimat dingin yang diucapkan Hazel di dalam kelasnya tadi siang bergema di dalam kepalanya: 'Mungkin mereka memiliki dosa... dan seseorang sedang menghukumnya.'
"Wanita itu..." JB terkekeh rendah, sebuah senyuman miring yang berbahaya terukir di wajah tampannya.
"Dia bersikap begitu tenang di hadapanku, Mom. Saat aku menuduhnya berpura-pura melarikan diri dariku dan menjebakku, dia sama sekali tidak gentar. Dia bahkan berbisik padaku bahwa dia menyesal membiarkanku terbangun dalam keadaan utuh."
Pearl Glow tersenyum tipis, ada kilatan ketertarikan di matanya saat mendengar cara bicara putra tunggalnya.
"Seorang wanita yang tidak mempan oleh intimidasi seorang Jameson Baxter Ashford? Itu sangat langka, JB."
"Aku tidak tertarik padanya secara emosional, Mom," kilah JB cepat dengan gengsi khasnya, meskipun rahangnya yang mengetat tidak bisa membohongi pengamatan tajam sang ibu.
"Dia bahaya yang nyata. Dia adalah potensi ancaman yang berjalan tepat di dalam area kampusku. Dan sebagai asisten pribadiku mulai hari ini, aku akan memastikan dia tidak bisa melangkah satu inci pun tanpa pengawasanku."
Leander berdiri dari kursinya, menyipitkan mata menatap JB.
"Ingat posisi kita, JB. Keluarga Ashford menguasai bisnis dan keamanan kota ini. Jika wanita bernama Hazel itu memang seorang pembunuh berantai berdarah dingin yang membawa teror dari New York ke Los Angeles, kita harus membereskannya sebelum kepolisian atau musuh-musuh bisnis kita menggunakan hal ini untuk menjatuhkan nama keluarga."
"Aku paham, Dad," sahut JB seraya ikut berdiri. Postur tubuhnya yang tegap dan atletis memancarkan aura dominasi murni.
"Aku yang akan menangani Hazel Rosemary Brooks dengan tanganku sendiri. Aku akan membongkar semua topeng ketenangannya, dan memastikan dia tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi dariku."
Pearl Glow menatap putranya dengan senyuman misterius. "Berhati-hatilah, JB. Wanita yang paling tenang di tengah badai biasanya adalah wanita yang paling mematikan ketika memegang pisau."
JB tidak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, melangkah keluar dari ruang kerja utama mansion menuju kamarnya di lantai atas.
Di dalam benaknya, bayangan sepasang mata jernih berwarna hazel milik Hazel, aroma harum mawar dan kayu cedar, serta ukiran kupu-kupu hitam di kulit mulusnya terus berputar bagai benang takdir yang mustahil untuk diputuskan.
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣