NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: 'Kurcaci kecil'

Malam pertama bagi sepasang pengantin baru lazimnya disambut dengan suka cita, gelak tawa malu-malu, serta dekorasi kamar bertabur kelopak bunga mawar yang menyebarkan aroma harum menenangkan.

Pasangan mana pun akan membayangkan malam pertama sebagai awal lembaran kisah romantis nan indah. Namun, bagi Ayu, malam pertamanya sama sekali jauh dari bayangan indah tersebut.

Tidak ada canda tawa hangat, tidak pula ada kelopak bunga yang menyambutnya. Di malam pertamanya sebagai seorang istri, Ayu justru harus menahan perih yang membakar di kulit lengannya akibat tersiram kuah sup iga yang masih mendidih, ulah dari Lea yang emosi dan menepis nampan makan malamnya.

Di dalam kamar utama yang luas berinterior kayu hangat dan bernuansa modern, Ayu duduk di tepi ranjang berukuran king size. Sprei putih bersih yang terpasang rapi menjadi saksi bisu keheningan yang menyelimuti mereka.

Di hadapannya, Yoga duduk di atas bangku kecil dengan kotak pertolongan pertama (P3K) yang terbuka di atas meja samping ranjang.

Pria itu memegang pergelangan tangan Ayu dengan sangat perlahan, seolah takut jika sentuhan jarinya yang besar akan menambah rasa sakit pada kulit mulus istrinya.

Kulit lengan Ayu tampak memerah dan sedikit melepuh. Yoga mengambil kain kasa yang telah diolesi salep anti-bakar, lalu mengusapkannya dengan sangat hati-hati.

Setiap kali jari Yoga menyentuh area yang sensitif, Ayu menahan napas dan menggeletuk bibir bawahnya dengan pelan.

"Sakit ya, Ayu?" suara Yoga terdengar amat serak. Matanya yang biasanya tenang dan berwibawa kini dipenuhi pancaran rasa bersalah dan kepedihan yang mendalam.

Ayu menggeleng pelan, seraya mengulas senyum tipis meski matanya sedikit berkaca-kaca menahan perih. "Tidak apa-apa, Mas. Salepnya dingin, kok. Sudah mendingan."

Yoga menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongak, dan menatap lekat-lekat mata Ayu yang jernih. Pria empat puluh tahun itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas berat yang membawa seluruh beban bersalah di dadanya.

"Maafkan saya, Ayu... Sungguh, maafkan saya," tutur Yoga dengan nada bergetar tulus. "Malam ini seharusnya menjadi malam yang paling bahagia untukmu. Kamu pantas mendapatkan sambutan yang hangat dan manis, bukan luka melepuh seperti ini. Aku benar-benar merasa gagal menjadi suami di hari pertama kita..."

Ayu menyentuh punggung tangan Yoga yang masih memegang kain kasa. Kehangatan telapak tangan Ayu seolah menyalurkan kedamaian ke dalam jiwa Yoga yang sedang bergejolak.

"Mas, jangan bicara seperti itu," potong Ayu lembut. "Ini bukan salah Mas Yoga. Lea cuma kaget dan belum siap menerima kehadiran saya. Ini hanya proses awal adaptasi keluarga kita. Saya berbesar hati, Mas. Saya yakin, dengan kesabaran dan kasih sayang, ke depannya semua akan baik-baik saja."

Mendengar ketulusan dan kebesaran hati Ayu, dada Yoga berdesir hebat. Pria itu menatap Ayu tanpa berkedip. Di bawah temaram lampu kamar yang hangat, wajah Ayu yang polos tanpa riasan tebal terlihat begitu cantik alami.

Garis wajahnya yang lembut, mata hitamnya yang jujur, serta jilbab santai yang membingkai paras ayunya benar-benar memikat hati Yoga.

Kehadiran Ayu yang begitu dekat, aroma harum tubuhnya yang menenangkan, serta kebaikan hatinya yang begitu luas langsung membangunkan jiwa laki-laki Yoga yang sudah bertahun-tahun tertidur lelap.

Sejak istrinya meninggal dunia lima tahun lalu, Yoga menutup rapat hatinya dan berfokus sepenuhnya pada pekerjaan serta anak-anaknya. Ia tidak pernah lagi merasakan getaran dahsyat seorang pria terhadap wanita, sampai malam ini.

Pandangan Yoga tertuju pada bibir Ayu yang merah muda alami. Perlahan, Yoga memajukan tubuhnya. Ayu yang merasakan perubahan aura di antara mereka mendadak membeku.

Jantungnya berdegup kencang bak marawis yang ditabuh bertubi-tubi. Ia menatap balik mata Yoga, dan terkunci dalam pesona kehangatan sang suami.

Yoga kemudian mendekatkan wajahnya. Napas hangat pria itu mulai menyapu pipi Ayu hingga Ayu memejamkan matanya dengan pelan, bersiap pasrah menyambut ciuman pertama dari suami sahnya di malam pengantin mereka.

Jarak di antara wajah mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja, hingga...

CEKLEK!

Pintu kamar utama yang tidak terkunci rapat tiba-tiba terdorong terbuka.

"Papa! Ibu!"

Suara cempreng nan polos memecahkan suasana hening penuh sensasi romantis itu bagaikan petir di siang bolong.

Yoga dan Ayu seketika terperanjat kaget. Yoga refleks menarik tubuhnya ke belakang dengan cepat sampai hampir terpeleset dari bangku kecilnya, sementara Ayu langsung membetulkan posisi duduknya dan merapikan jilbabnya dengan gerakan serba kikuk dan serba salah.

Wajah Ayu mendadak merah padam hingga ke ujung telinga.

Di ambang pintu Moana berdiri anggun dengan piyama bergambar kartun kelinci warna merah muda. Tangan mungilnya memeluk erat sebuah boneka beruang cokelat yang ukurannya hampir separuh dari tubuhnya. Mata bulatnya menatap kedua orang tuanya dengan polos tanpa dosa.

"Moana?" Yoga berdehem keras beberapa kali, dan mencoba menetralkan suara dan detak jantungnya yang masih berpacu gila. "K-kamu... belum tidur, Sayang?"

Moana melangkah masuk dengan santai sambil menyeret sandal rumahnya yang berbulu. Ia berjalan mendekati tempat tidur besar itu dengan wajah memohon.

"Belum, Pa... Moana gak bisa tidur di kamar sendiri," rengek Moana pelan. Gadis kecil itu kemudian menatap Ayu dengan mata berbinar-binar. "Papa... Moana mau bobo sama Ibu, boleh ya?"

Ayu yang masih berusaha menguasai rasa canggungnya langsung tersenyum manis melihat tingkah anak bungsu suaminya itu. Rasa malu yang sempat membakar pipinya perlahan mencair berganti dengan rasa hangat di hati.

"Boleh dong, Sayang," jawab Ayu menyambut cepat, melambaikan tangan mengisyaratkan Moana mendekat. "Kemari, tidur di samping Ibu."

Moana bersorak girang, "Horeee!"

Dengan lincah, anak berusia enam tahun itu memanjat tempat tidur tinggi tersebut dan langsung menyusup ke dalam selimut tebal, mengambil posisi tepat di tengah-tengah antara Ayu dan Yoga. Ia menyandarkan kepalanya di lengan Ayu yang tidak terluka, seraya memeluk pinggang Ayu dengan manja.

Yoga menatap pemandangan di hadapannya dengan perasaan campur aduk, antara gemas, terharu, dan sedikit gigit jari karena momen romantisnya bersama sang istri baru saja terinterupsi secara sempurna.

Namun, melihat Moana tersenyum bahagia dalam dekapan Ayu, membuat segala rasa kesal dan penyesalan Yoga hilang tak berbekas.

Pria itu tersenyum pasrah, lalu berbaring di sisi lain selimut, dan menatap Ayu dari seberang tubuh kecil Moana.

"Maaf ya, Ayu... Sepertinya malam pertama kita harus diramaikan oleh kurcaci kecil ini," bisik Yoga terkekeh pelan.

Ayu menatap Yoga melewati Moana, dan mengulum senyum hangat yang membuat Yoga makin terpesona. "Tidak apa-apa, Mas. Ini malam pertama yang paling indah buat saya."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!