Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: JEBAKAN SISKA & DION
Ketenangan di lantai dua mansion Baskara bagaikan ketenangan sebelum badai dahsyat menerjang. Setelah pengakuan mengejutkan di kamar tersegel dan air mata keputusasaan Arsen malam itu, Tuan Muda Baskara kian memperketat penjagaan. Namun, ancaman bagi Clara kini tidak hanya datang dari dalam rumah, melainkan dari konspirasi yang tersusun rapi di luar sana.
Siska, siswi berdarah bangsawan yang sejak awal mendambakan posisi di samping Arsen dan membenci kehadiran Clara, membaca celah bahaya ini dengan sangat jeli. Mengetahui bahwa bisnis keluarga Dion tengah diguncang habis-habisan oleh klan Baskara, Siska menemui Dion di sebuah kafe privat dekat area kampus elit.
"Kamu mau menyelamatkan Clara dari kurungan Arsen, kan, Dion?" bisik Siska anggun, menyesap minumannya seraya menatap Dion yang tampak frustrasi dan letih.
"Jangan ikut campur, Siska. Ini bukan urusanmu," balas Dion dingin, memperbaiki posisi duduknya.
"Ini jadi urusanku karena Arsen makin gila gara-gara gadis anemia itu!" pangkas Siska, matanya berkilat licik. "Aku punya akses ke jalur belakang mansion Baskara melalui orang dalam keluargaku. Kalau kamu benar-benar ingin membawa Clara lepas dari utang dan siksaan psikologis Arsen, besok malam adalah satu-satunya kesempatanmu. Clara akan dibawa ke klinik pribadi keluarga untuk pemeriksaan rutin darahnya."
Dion mengepalkan tangan di atas meja. Rasa bersalah dan dorongan untuk menyelamatkan Clara membisikkan keberanian nekat di dalam dadanya. Tanpa Dion sadari, setiap kata dalam pembicaraan tersebut telah diatur oleh Siska untuk menjebaknya.
Siska tidak pernah berniat membantu Dion maupun Clara. Rencana sebenarnya jauh lebih kejam: memanfaatkan kecemburuan Arsen yang berada di ambang kegilaan untuk menghancurkan Clara sepenuhnya dari kehidupan Arsen.
Sore harinya, saat Arsen baru saja selesai memimpin rapat evaluasi di kantor pusat, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel pribadinya. Pesan itu berisi foto tangkapan layar obrolan rahasia antara Dion dan seorang pelayan klinik, lengkap dengan lokasi dan waktu pertemuan terselubung yang diklaim telah disetujui oleh Clara.
"Clara sepakat bertemu Dion di area parkir belakang Klinik Utama besok malam pukul delapan. Dion sudah menyiapkan mobil dan dokumen pelarian untuk membawanya keluar kota."
PRANG!
Gelas kristal di meja kerja Arsen hancur berkeping-keping di dalam genggaman tangannya. Darah segar menetes dari telapak tangannya, namun Arsen sama sekali tidak merasakan perihnya.
Ujung matanya memerah, dipenuhi pendar kegelapan, cemburu buta, dan rasa pengkhianatan yang membakar habis akal sehatnya. Wajah Clara yang menangis di kamar tersegel dan janjinya untuk tetap berada di sisinya seolah menguap, digantikan oleh bayangan kebencian atas kemungkinan bahwa penawarnya kembali mencoba lari ke pelukan pria lain.
Arsen menyapu berkas di mejanya hingga berserakan ke lantai, lalu menarik napas panjang yang terasa sangat dingin dan beracun.
"Dion... Clara..." bisik Arsen dengan suara rendah yang amat mengerikan, menyunggingkan senyum tipis penuh kegilaan. "Kalian berdua benar-benar ingin menguji seberapa jauh iblis di dalam diriku bisa bertindak."
Arsen mengambil saputangan sutra dari saku jasnya, menyapu darah segar yang menetes dari telapak tangannya tanpa sedikit pun meringis. Ia melangkah menuju meja rias di sudut ruang kerja pribadinya, mengambil sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil yang tersimpan di dalam laci terkunci.
Di dalamnya terbaring sebuah gelang pelacak GPS berlapis emas murni—sebuah "perhiasan" khusus yang sengaja ia tempa untuk dipasangkan di pergelangan tangan Clara.
Arsen menutup kotak itu dengan dentuman halus, lalu melirik bayangan dirinya di cermin tebal. Manik matanya yang pekat tak lagi menyisakan kehangatan seorang Tuan Muda yang sempat bersimpuh dan menangis di kaki Clara kemarin malam. Yang tersisa hanyalah obsesi kelam yang siap melahap siapa saja yang berani menyentuh milik-Nya.
Ia menarik ponselnya, menekan satu tombol cepat ke nomor kapten pengawal pribadinya.
"Siapkan tiga unit mobil hitam besok malam di Klinik Utama," perintah Arsen dingin, suaranya pelan namun sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Blokir seluruh jalan keluar di radius lima ratus meter. Jangan biarkan Dion melangkah keluar dari tempat itu dalam keadaan utuh... dan pastikan Clara menyaksikan semuanya dari dalam mobilku."
Arsen mematikan sambungan telepon secara sepihak, lalu berjalan menuju jendela kaca raksasa yang menembus pemandangan kota malam.
"Kau berjanji tidak akan pergi dariku, Clara..." bisik Arsen lirih pada pantulan bayangannya sendiri, seraya meremas kotak beludru hitam itu kuat-kuat. "Tapi jika kau memilih mengkhianatiku demi pria itu... maka klinik malam besok akan menjadi tempat di mana aku mematahkan sayapmu untuk selamanya."