Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Bawah Lampu Neon
Suara ketukan jam dinding plastik murah di sudut kamar kos terdengar berdetak lambat, menandakan pukul sembilan malam telah lewat. Aroma gurih kaldu tahu dari mangkuk yang dibawa Bi Inah masih menguap tipis di udara ruangan yang sempit itu. Namun, tidak satupun dari mereka yang berniat menyentuh makanan tersebut.
Bi Inah duduk di kursi kayu dengan gelisah, kedua tangannya saling meremas erat di atas pangkuan jaketnya. Matanya menatap Rian yang masih berdiri di dekat jendela, memandangi titik-titik air hujan yang membasahi kaca luar.
"Rian... Nak, tolong dengar Bibi," kata Bi Inah dengan suara bergetar, memecah keheningan malam. Ia mendongak, menatap punggung pemuda itu dengan pancaran kecemasan yang mendalam. "Bibi tahu kamu anak yang baik, dan Bibi tahu kamu mungkin merasa kesal karena sering ditindas di sekolahmu. Tapi menghadapi Badrol itu urusannya berbeda. Dia bukan anak remaja ingusan seperti teman-teman sekolahmu. Badrol punya sepuluh orang anak buah yang semuanya memegang parang dan pipa besi. Mereka tidak punya belas kasihan."
Rian perlahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya yang diterangi cahaya kuning temaram bohlam tampak begitu tenang, tanpa ada bayangan rasa takut sedikit pun.
"Bibi percaya padaku?" tanya Rian pelan, berjalan mendekati meja dan berdiri tepat di hadapan wanita paruh baya itu.
Bi Inah tertegun sejenak. Ia menatap mata Rian—sepasang mata hitam yang biasanya selalu menunduk menghindari tatapan orang lain setiap kali berjalan di lorong pasar atau sekolah. Namun malam ini, mata itu terasa sangat berbeda. Ada kejernihan yang menghipnotis, memancarkan wibawa yang membuat Bi Inah merasa kecil, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan seorang tetua terhormat, bukan seorang remaja SMA yatim piatu yang tinggal di kamar kos kumuh.
"Bukan... bukan masalah percaya atau tidak, Rian," bisik Bi Inah lirih, air mata kembali menitik di sudut matanya. "Bibi sudah menganggap kamu seperti anak Bibi sendiri. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu karena masalah warung Bibi, bagaimana bisa Bibi hidup tenang di dunia ini?"
Rian menghela napas pelan. Ia menarik sebuah bangku kecil dan duduk tepat di hadapan Bi Inah, mensejajarkan pandangan mereka. Tangannya terulur, menyentuh punggung tangan Bi Inah yang dingin dan kasar karena bertahun-tahun mencuci piring dan melayani pembeli di pasar.
Seketika itu juga, tanpa disadari Rian, secercah energi Qi tipis yang hangat mengalir secara alami dari telapak tangannya melalui kontak kulit tersebut.
Bi Inah merasakan sensasi hangat yang sangat nyaman merambat dari punggung tangannya, langsung menyebar ke seluruh lengan dan meredakan rasa sesak di dadanya akibat stres berkepanjangan. Matanya melebar sesaat karena kebingungan. Rasa lelah yang sejak sore menghimpit tubuhnya seolah lenyap dalam hitungan detik, digantikan oleh kebugaran yang aneh.
"Bibi..." Rian berbicara dengan nada suara yang sangat lembut namun tegas. "Apakah Bibi ingat berapa kali Badrol datang menaikkan pungutan dalam setahun terakhir?"
Bi Inah mengerjap, masih terkejut dengan kehangatan aneh dari tangan Rian, namun ia menjawab dengan suara parau, "Tiga... tiga kali dalam setahun ini, Rian. Dari yang awalnya lima ratus ribu, naik jadi satu juta, dan sekarang... sekarang dia minta tiga juta rupiah setiap bulan. Uang hasil jualan warung sehari-hari bahkan tidak cukup untuk menutup itu semua."
"Dan kalau bulan depan dia minta sepuluh juta? Atau bahkan merampas seluruh isi warung Bibi?" lanjut Rian tajam, menatap lurus ke dalam mata wanita itu. "Di mana batas akhirnya, Bi? Mereka tidak akan pernah berhenti selama Bibi terus menunduk dan menyerahkan uang hasil kerja keras Bibi dengan air mata."
Bi Inah terdiam. Bibirnya bergetar, mencoba mencari bantahan, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Ia tahu Rian benar. Selama ini ia hanya menelan ludah dan menyerah pada keadaan karena ia merasa tidak memiliki siapa pun untuk melindunginya. Suaminya telah meninggal lima tahun lalu akibat kecelakaan kerja, dan ia hidup sendirian bersama putrinya di kota besar yang kejam ini.
"Tapi... apa yang bisa kita lakukan, Rian? Kita tidak punya uang, tidak punya kuasa, dan polisi di pos Sektor Tiga itu adalah teman dekat Badrol," ucap Bi Inah putus asa, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya yang keriput.
Rian perlahan menarik tangannya kembali. Ia mengepalkan tangan kanannya di atas meja, merasakan denyut energi Qi di dalam tubuhnya yang bergemuruh pelan, merespons tekad bulat di dalam batinnya.
[ Peringatan Sistem: Inang mendeteksi niat perlindungan murni. Sinkronisasi energi Qi meningkat ke tingkat optimal. ] [ Hadiah Tambahan: Mata Dewa Pengamat (Aktif) ]
Tiba-tiba, pandangan Rian terhadap sekelilingnya berubah drastis. Di dalam retinanya, bayangan ruangan kamar kos yang remang-remang itu kini dilapisi oleh garis-garis koordinat energi. Ia bisa melihat aliran udara di dalam ruangan, bahkan melihat sisa-sisa energi vital yang terpancar tipis dari tubuh Bi Inah di depannya. Di saat yang sama, sebuah informasi melintas di benaknya: Mata Dewa Pengamat memungkinkan dirinya melihat titik lemah fisik, aliran energi, serta niat tersembunyi dari setiap makhluk hidup di dekatnya.
Rian tersenyum tipis. Senyuman itu membuat wajahnya yang biasanya tampak suram mendadak memancarkan aura ketenangan yang luar biasa.
"Bibi, percayalah padaku," kata Rian dengan suara yang tenang namun memiliki daya magis yang mengikat. "Mulai malam ini, Badrol tidak akan pernah lagi berani menginjakkan kakinya di dekat warung Bibi. Tidak perlu membayar satu rupiah pun."
Bi Inah menatap Rian dengan tatapan tak percaya. Ada sesuatu di dalam diri pemuda di depannya ini yang telah berubah total sejak sore tadi—sesuatu yang jauh melampaui akal sehat manusia biasa.
"Rian... sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kamu... kamu terlihat berbeda sekali hari ini," tanya Bi Inah dengan suara bergetar karena rasa penasaran bercampur rasa ngeri yang halus.
"Aku hanya... menemukan cara untuk bertahan hidup, Bi," jawab Rian tenang sambil berdiri dari duduknya. Ia meraih jaket hoodie hitam usang yang tersampir di sandaran kursi. "Sekarang, lebih baik Bibi istirahat di sini. Jangan pulang dulu ke rumah susun lantai bawah malam ini. Kunci pintu dari dalam, dan tunggu aku kembali."
"Kamu mau ke mana, Rian?!" seru Bi Inah panik, buru-buru ikut berdiri dan mencengkeram lengan jaket Rian. "Jangan bilang kamu mau menemuinya sekarang?! Itu berbahaya, Nak! Jangan lakukan hal bodoh!"
Rian menoleh, menatap Bi Inah dengan senyuman menenangkan. Ia menepuk pelan tangan wanita itu yang memegang lengannya.
"Aku tidak akan berbuat bodoh, Bi. Aku hanya akan pergi... menyelesaikan urusan kecil yang sudah terlalu lama dibiarkan menumpuk," ucap Rian lembut.
Sebelum Bi Inah sempat berkata apa pun lagi, Rian melepaskan pegangan tangan itu dengan lembut, berbalik, dan melangkah keluar dari pintu kamar kosnya.
Kklik.
Pintu tertutup rapat. Bi Inah terperanjat dan langsung berlari kecil menuju pintu, mencoba membuka kuncinya. Namun begitu ia membuka pintu dan melihat ke arah lorong lantai dua yang sepi, sosok Rian sudah tidak terlihat sama sekali. Hanya ada desir angin malam yang membawa titik-titik sisa air hujan dari ujung koridor.
Di luar, udara malam kawasan Pasar Induk terasa lembap dan berbau amis sisa potongan ikan serta genangan air got yang meluap. Lampu-lampu neon dari warung-warung tenda pinggir jalan berdengung rendah, memantulkan cahaya merah dan hijau di atas aspal yang basah.
Rian berjalan melangkah keluar dari gang sempit menuju area parkir belakang pasar. Langkah kakinya terlihat santai, tidak terburu-buru, namun setiap kali kakinya menyentuh tanah, tubuhnya meluncur ke depan dengan jarak yang jauh lebih panjang dari langkah manusia normal—sebuah manifestasi dari peningkatan kelincahan fisik berkat kultivasi tahap Tempa Tubuh.
Di sebuah pos penjagaan semi-permanen yang terbuat dari seng dan kayu bekas di sudut pasar, terlihat terang benderang oleh lampu neon kuning terang. Dari dalam pos itu, terdengar suara tawa kasar bercampur suara dentingan botol kosong dan musik dangdut koplo yang diputar dengan volume keras dari sebuah speaker portabel.
"Haikus, si tua bangka itu kemarin masih banyak alasan waktu ditagih!" sebuah suara besar bersuara lantang dari dalam pos. Suara itu milik Badrol.
Rian berhenti melangkah sekitar sepuluh meter dari pos penjagaan tersebut. Ia berdiri di balik bayangan sebuah pilar beton besar yang menopang lantai atas pasar, terlindung dari sorot lampu neon.
Melalui kemampuan Mata Dewa Pengamat yang baru saja aktif, pandangan Rian menembus dinding kayu pos yang tipis. Di dalam ruangan sempit itu, ia melihat empat orang pria berbadan gempal sedang duduk melingkar di atas tikar plastik. Di tengah-tengah mereka terdapat beberapa botol minuman keras murah, bungkus rokok yang berserakan, serta sebilah parang besar yang disandarkan di sudut dinding.
Badrol sendiri duduk di kursi plastik paling besar, bertelanjang dada dengan tato naga murahan yang melingkar di bahu kanannya. Wajahnya penuh bekas luka goresan masa lalu, dan di sampingnya duduk tiga orang anak buah setianya yang sedang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Badrol tentang bagaimana ia memeras para pedagang sore tadi.
"Bos, kalau besok si Inah itu tetap tidak bisa bayar tiga juta, bagaimana kalau kita obrak-abrik saja warungnya? Lumayan kan, kulkas kecilnya bisa kita angkut buat ganti bayar utang," usul salah satu anak buahnya yang berambut pelontos sambil menyeringai lebar.
Badrol meneguk minumannya dari gelas plastik, lalu tertawa menyeringai. "Boleh juga. Biar pedagang-pedagang lain di pasar ini tahu, kalau berurusan sama kita, tidak ada tempat untuk lari."
Di balik pilar beton, sudut bibir Rian terangkat sedikit membentuk senyivering dingin.
"Kalian benar-benar tidak punya tempat untuk lari," gumam Rian pelan, suaranya tenggelam di antara dentuman musik dangdut dari pos tersebut.
Rian melangkah keluar dari balik bayangan pilar. Ia berjalan mendekati pos penjagaan dengan langkah kaki yang sama sekali tidak disembunyikan. Namun anehnya, suara langkah kakinya seolah diredam oleh gelombang Qi tipis di sekeliling tubuhnya, membuat tidak ada satupun suara gesekan sepatu yang terdengar di atas aspal basah.
"Siapa di luar?!" teriak salah satu anak buah Badrol yang duduk menghadap ke arah pintu terbuka, merasa ada bayangan seseorang yang berdiri tepat di ambang pintu pos.
Musik dangdut tiba-tiba dimatikan. Keempat preman di dalam pos itu langsung menoleh secara bersamaan ke arah pintu.
Yang mereka lihat bukanlah seorang polisi, bukan pula pedagang yang ketakutan membawa uang. Yang berdiri di ambang pintu adalah seorang remaja berseragam sekolah yang agak kusut dan mengenakan jaket hoodie hitam, dengan tangan kiri dimasukkan santai ke dalam saku jaketnya. Wajahnya tertutup separuh oleh tudung hoodie, namun sepasang mata hitamnya memancarkan ketajaman yang membuat udara di dalam pos mendadak terasa membeku.
Badrol mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah pemuda di hadapannya dengan ekspresi bingung bercampur amarah.
"Hei, anak sekolah bodoh! Mau cari mati malam-malam begini di wilayah kekuasaan Badrol?!" bentak Badrol sambil berdiri dari kursi plastiknya, menatap Rian dengan tatapan meremehkan. "Cepat enyah dari sini sebelum kubuat kakimu patah!"
Rian tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk melewati ambang pintu pos yang sempit, membiarkan aroma asap rokok dan alkohol memenuhi hidungnya. Ia menatap keempat pria dewasa berbadan besar di depannya itu dengan pandangan datar, seolah-olah mereka hanyalah seonggok sampah yang berserakan di lantai.
"Kalian Badrol?" tanya Rian dengan suara tenang, begitu jernih hingga terdengar sangat kontras dengan suasana pos yang kotor.
Badrol merasa harga dirinya diinjak-injak. Seorang anak kemarin sore berani mendatangi sarangnya dan berbicara dengan nada setenang itu?
"Anjing kecil ini... Kau benar-benar minta dicincang rupanya!" maki Badrol sambil meraih botol kosong di atas meja, bersiap melemparkannya tepat ke kepala Rian.