Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH
Sabtu pagi itu, begitu Bayu berangkat "survei proyek" seperti biasa, aku tidak lagi duduk manis di rumah menunggu kepastian yang tidak kunjung datang. Aku mengambil ponselku, menghubungi Tika tanpa basa-basi.
"Tika, aku butuh bantuan kamu. Serius," kataku, suaraku terdengar lebih tegas dari yang kurasakan sebenarnya.
"Kenapa, Yu? Ada apa?" Tika terdengar khawatir di ujung telepon.
"Waktu itu kamu bilang lihat Bayu di depan kontrakan, ada perempuan gendong anak kecil nyambut dia. Kamu inget persis lokasinya di mana?" tanyaku, langsung ke inti masalah.
Ada jeda cukup lama sebelum Tika menjawab. "Yu... kamu yakin mau tau? Aku nggak enak kalau ini bikin masalah rumah tangga kamu."
"Tika, tolong. Aku udah nggak tahan nunggu penjelasan yang nggak jelas terus. Aku harus tau sendiri," desakku, suaraku mulai bergetar menahan emosi yang sudah lama kutahan.
Tika akhirnya menghela napas, menyerah pada permintaanku. "Oke, aku inget kok jalannya. Daerah Kalitirto, deket pasar kecil di sana. Aku bisa anter kamu kalau kamu mau."
"Sekarang bisa?" tanyaku, tidak ingin menunda lagi.
---
Satu jam kemudian, kami sampai di sebuah kawasan pemukiman padat tidak jauh dari pasar kecil yang disebutkan Tika. Sebuah rumah kontrakan kecil bercat hijau pudar berdiri di depan kami, dengan pagar besi sederhana yang setengah terbuka.
Aku turun dari mobil, melangkah cepat mendekati pintu, mengetuknya tanpa ragu. Tidak lama, pintu itu terbuka. Seorang perempuan muda berdiri di sana, menggendong seorang anak kecil di pinggangnya.
"Cari siapa, Mbak?" tanyanya, sedikit heran melihat orang asing di depan rumahnya.
"Kamu Wulan?" tanyaku, suaraku bergetar tapi cukup keras untuk terdengar tegas.
Wajahnya berubah pucat seketika. "Mbak siapa ya?"
"Aku Ayu. Istri sah Bayu," ucapku, menekankan kata "sah" dengan sengaja.
---
Wulan terdiam sesaat, sebelum akhirnya menghela napas panjang, seolah pasrah pada situasi yang kini tidak bisa lagi ia hindari. "Ya udah, Mbak. Masuk aja kalau mau ngomong."
"Nggak usah masuk. Di sini aja cukup," jawabku, tidak ingin berlama-lama berada di rumah yang selama ini menjadi saksi bisu pengkhianatan suamiku.
"Terserah Mbak lah," Wulan mendengus, nada bicaranya berubah, tidak lagi terdengar seperti orang yang merasa bersalah. "Mbak mau nanya apa? Toh Mbak juga udah tau semuanya kan, ngapain masih nanya-nanya."
Nada bicara itu membuat darahku mendidih. "Kamu sadar nggak, kamu itu ngerebut suami orang? Nikah siri sama laki-laki yang udah punya istri sah?"
"Rebut gimana, Mbak? Bayu yang dateng sendiri ke aku. Aku juga korban di sini, tau nggak? Dia janji-janji mau tanggung jawab, mau kasih aku hidup layak," balas Wulan, suaranya mulai meninggi, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan seperti yang kubayangkan sebelumnya.
"Korban? Kamu tau nggak, selama ini uang yang kamu pake buat hidup, buat susu anakmu, itu sebagian besar dari gajiku? Aku yang kerja banting tulang, eh ternyata sebagian hasilnya kepake buat nafkahin kamu!" suaraku pecah menjadi teriakan, tidak lagi peduli jika tetangga sekitar mendengar.
"Ya itu bukan salah aku, Mbak! Itu salah suami Mbak sendiri yang nggak becus ngatur duit. Aku cuma nerima apa yang dikasih ke aku," balas Wulan, tidak mau kalah, matanya menatapku dengan tatapan yang jauh dari kesan bersalah.
---
"Kamu nggak punya rasa bersalah sama sekali ya?" tanyaku, suaraku bergetar antara marah dan tidak percaya. "Kamu tau kan status kamu apa? Kamu itu istri simpanan, Wulan. Bukan istri sah. Nikah siri kalian itu nggak ada kekuatan hukum apa-apa buat lindungin kamu."
Kalimat itu tampaknya cukup menyentak Wulan, raut wajahnya sedikit berubah, meski ia masih berusaha mempertahankan sikap defensifnya. "Itu urusan aku sama Bayu, Mbak nggak usah ikut campur."
"Nggak usah ikut campur? Ini rumah tanggaku yang kamu rusak, Wulan! Kamu pikir kamu bisa seenaknya masuk ke kehidupan orang, ngerusak pernikahan orang lain, terus bilang aku nggak usah ikut campur?" desakku, air mata mulai bercampur dengan kemarahan yang meluap.
Anak dalam gendongan Wulan mulai menangis, terkejut mendengar suara keras kedua orang dewasa di sekitarnya. Wulan mencoba menenangkannya sambil tetap menatapku dengan tajam.
"Terus Mbak mau apa sekarang? Mau aku sama Raka diusir dari sini? Mau Bayu nggak nafkahin kami lagi? Silakan aja, Mbak. Tapi inget, Raka itu tetep anak sah suami Mbak, mau Mbak suka atau nggak," ucap Wulan, kalimat yang seperti sengaja dilontarkan untuk menyakitiku lebih dalam.
"Berani banget kamu ngomong kayak gitu di depan aku," geramku, tanganku terkepal menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang akan kusesali.
"Kenapa, Mbak takut kalah kan? Bayu aja lebih sering ke sini daripada—" belum sempat Wulan menyelesaikan kalimatnya, Tika buru-buru menarik lenganku, menyadari situasi sudah semakin memanas dan berisiko menjadi lebih buruk.
"Yu, udah, udah. Nggak usah diladenin, ayo kita pulang," bisik Tika, berusaha menenangkan sambil menuntunku menjauh dari depan rumah itu.
---
Aku menatap Wulan sekali lagi sebelum benar-benar berbalik, suaraku sudah parau namun masih cukup kuat untuk mengucapkan kalimat terakhir. "Kamu boleh menang hari ini, Wulan. Tapi inget, apa yang kamu bangun di atas kebohongan, cepat atau lambat pasti akan runtuh sendiri."
Wulan tidak menjawab, hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara menantang dan, entah kenapa, sedikit gentar oleh kalimat yang baru saja kuucapkan.
Aku berjalan kembali ke mobil bersama Tika, tubuhku gemetar hebat, air mata terus mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam, pikiranku dipenuhi kemarahan, kehancuran, dan sebuah tekad baru yang mulai tumbuh di tengah reruntuhan kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi hidupku—tekad bahwa aku tidak akan membiarkan diriku terus menjadi korban tanpa perlawanan.
-