Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.
Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.
Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursus Mengemudi Kijang Kapsul dan Hukum Fisika Sein Kiri Belok Kanan
Halaman depan Kediaman Hapsburg pagi itu terlihat seperti zona demiliterisasi. Tiga buah mobil SUV antipeluru berwarna hitam pekat terparkir rapi membentuk formasi barikade. Di tengah-tengah barikade itu, terparkir sebuah kendaraan lapis baja Paramount Marauder seberat lima belas ton, lengkap dengan ban anti-ranjau dan kaca setebal lima sentimeter.
Dea, gadis jenius berusia enam belas tahun yang telah meretas satelit global, kini berdiri membeku menatap kendaraan tempur tersebut dengan mulut setengah terbuka.
Xander berjalan menghampirinya, mengenakan setelan taktis hitam elegan. Sang mantan raja mafia itu membawa sebuah helm kevlar kelas militer dan rompi pelindung yang beratnya nyaris menyaingi berat badan Dea.
"Pagi, Putriku," sapa Xander dengan senyum kebapakan yang anehnya terlihat menyeramkan. "Hari ini adalah pelajaran mengemudimu yang pertama. Aku sudah memodifikasi Marauder ini. Jika kau tidak sengaja menabrak tiang listrik, tiang listriknya yang akan hancur lebur. Jika kau panik dan menginjak gas terlalu dalam, sistem pelontar rudal mikro di kap depan akan membersihkan kemacetan di depanmu. Ayo pakai rompi ini."
Dea menelan ludah. "Ayah... aku cuma mau belajar nyetir keliling kompleks, bukan mau menginvasi Polandia."
Sebelum Xander sempat memakaikan helm itu ke kepala Dea, sebuah panci teflon mendarat telak di atas kap mobil lapis baja tersebut dengan bunyi TENG yang nyaring.
Tania muncul dari garasi samping, mengenakan celana training, kaus oblong bertuliskan "Ibu-Ibu PKK RT 04", dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya. Tangannya memutar kunci mobil yang berkarat.
Di belakang Tania, terparkir sebuah mobil Toyota Kijang Kapsul keluaran tahun 2000 berwarna biru telur asin yang catnya sudah sedikit pudar. Mobil itu mendengkur pelan dengan suara knalpot yang sesekali batuk.
"Singkirkan tank transformer-mu itu, Mas Xander," perintah Tania tajam, berkacak pinggang. "Anakku mau belajar nyetir, bukan mau ikut wajib militer. Dia bakal pakai mobil ini."
Xander menatap Kijang Kapsul itu dengan raut wajah horor, seolah benda itu adalah penemuan paling terkutuk dalam sejarah umat manusia. "Tania, Sayangku, cintaku... benda itu bahkan tidak punya airbag. Sabuk pengamannya terlihat seperti tali rafia. Dan sistem transmisinya manual! Bagaimana kalau Dea tergores? Bagaimana kalau mesinnya mati di rel kereta?!"
"Justru itu seninya!" balas Tania santai, membuka pintu kemudi Kijang yang berderit nyaring. "Dea, masuk. Mobil matic itu bikin manja. Kalau kamu bisa naklukin kopling Kijang Kapsul yang kerasnya ngalahin hati mertua, kamu bisa nyetir mobil apa pun di dunia ini. Mas Xander, kalau mau ikut, duduk di belakang. Jangan banyak protes."
Setengah jam kemudian, mobil biru telur asin itu melaju tersendat-sendat layaknya kanguru yang sedang cegukan di jalanan sepi perumahan Bogor.
GRRRKKK... NDUT... NDUT... MATI.
Mesin mobil mati untuk yang kedelapan kalinya. Dea menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya. "Koplingnya berat banget, Bu. Rasanya kayak lagi nginjak batu bata."
Di kursi belakang, Xander sedang bernapas melalui kantong kertas cokelat. Ia mengalami serangan panik. Setiap kali mobil itu tersendat, tangannya refleks merogoh pistol di pinggangnya, seolah ia bisa menembak mati mesin mobil yang berani menyusahkan putrinya.
Di belakang mereka, Dirga dan Freya mengikuti dalam jarak sepuluh meter menggunakan SUV hitam yang berjalan sangat pelan, siap memanggil helikopter medis jika terjadi apa-apa.
"Santai, Nak. Lepas koplingnya perlahan, tahan di titik getar, baru injak gas tipis-tipis," instruksi Tania dengan sabar. "Jangan pakai logika kuantum di sini. Pakai feeling. Rasakan getaran mesinnya menyatu dengan jiwamu."
Dea mengangguk ragu. Ia menginjak kopling, memasukkan gigi satu, dan perlahan melepaskannya. Kali ini mobil melaju mulus. Dea tersenyum bangga. "Berhasil, Bu!"
"Bagus! Sekarang kita masuk ke jalan raya raya menuju Sentul. Ayahmu butuh udara segar sebelum dia benar-benar pingsan di belakang," kekeh Tania.
Mereka memasuki jalan raya yang lebih ramai. Dea mengemudi dengan kecepatan konstan tiga puluh kilometer per jam, kedua tangannya mencengkeram setir di posisi jam sepuluh dan jam dua dengan kaku. Semuanya berjalan damai, hingga sebuah mobil sport modifikasi berwarna kuning neon menyalip mereka dari kiri dengan kecepatan tinggi, lalu memotong jalur tepat di depan Kijang biru tersebut.
TIIIIIIIIIN!
Dea kaget, refleks menginjak rem mendadak. Kijang itu tersentak keras dan mesinnya mati. Xander di kursi belakang terlempar ke depan, dahinya membentur sandaran kursi.
Pengemudi mobil sport itu, seorang pemuda berambut klimis dengan kacamata hitam murahan, menurunkan jendelanya. Ia menjulurkan kepalanya dan mengacungkan jari tengah.
"Woi, mobil rongsok! Kalau baru belajar nyetir mending di kuburan aja! Bikin macet jalanan orang kaya!" teriak pemuda itu, lalu menginjak gasnya kuat-kuat hingga knalpotnya mengeluarkan suara letupan norak.
Udara di dalam Kijang Kapsul itu seketika turun ke titik beku.
Di kursi belakang, Xander sudah tidak lagi memegang kantong kertas. Ia membuka kancing jasnya, mencabut ponsel satelit miliknya. "Dirga. Freya. Target berada di mobil kuning, plat B 888 SOK. Aku mau ban mobilnya ditembak hancur. Panggil drone tempur—"
"Tutup teleponnya, Mas," potong Tania. Suaranya sangat pelan, namun bergetar oleh aura membunuh yang jauh lebih pekat daripada suaminya.
Xander membeku, lalu dengan patuh memutuskan panggilan.
Tania menoleh ke arah Dea, melepaskan sabuk pengamannya. "Dea, pindah ke belakang. Biar Ibu yang pegang setir."
"T-tapi Bu, orang kayak gitu mending dibiarin aja..." Dea berusaha menenangkan ibunya.
"Nggak bisa, Nak," Tania berpindah ke kursi kemudi, membunyikan ruas-ruas jarinya. "Di jalanan ini ada hukum alam yang tidak boleh dilanggar. Kau boleh ngebut, kau boleh modif knalpot, tapi JANGAN PERNAH membentak anak perempuan yang sedang belajar nyetir bersama ibunya. Pegangan yang erat, Mas Xander. Kita akan berburu."
Tania menghidupkan mesin Kijang Kapsul itu. Suara mesin peninggalan tahun 2000 itu mengaum berat. Dengan kecepatan tangan yang tak bisa diikuti mata normal, Tania memasukkan gigi satu, menginjak gas dalam-dalam, dan melepas kopling secara brutal.
Ban belakang Kijang Kapsul itu berdecit memekakkan telinga, meninggalkan jejak karet hitam di aspal sebelum melesat ke depan dengan akselerasi yang menentang hukum fisika untuk mobil seusianya.
Di depan sana, mobil sport kuning itu melaju zigzag menyalip kendaraan lain dengan arogan. Pemuda di dalamnya sedang tertawa-tawa sambil mendengarkan musik EDM keras-keras.
Tiba-tiba, dari spion tengahnya, ia melihat sebuah bayangan biru mendekat dengan kecepatan tidak masuk akal. Kijang Kapsul telur asin itu menempel persis di bumper belakangnya, jaraknya tak sampai sepuluh sentimeter.
"Gila nih emak-emak!" rutuk pemuda itu, menginjak gas mobil sport-nya lebih dalam, yakin bisa meninggalkan mobil rongsok itu di jalanan berliku menuju Sentul.
Namun Tania bukanlah pengemudi biasa. Ia adalah empunya insting jalanan Bogor. Saat mereka memasuki tikungan tajam, mobil kuning itu mengerem untuk menjaga racing line.
Tania tidak mengerem.
"Bu! Di depan tikungan patah!" jerit Dea, sementara Xander sudah pasrah memeluk jok depan sambil komat-kamit dalam bahasa Jerman.
"Fisika terapan, Nak. Perhatikan transfer bobotnya!" seru Tania.
Alih-alih menginjak rem, Tania memindahkan gigi dari empat langsung ke dua (engine brake ekstrem), memutar setir tajam ke arah dalam, lalu menarik tuas rem tangan sesaat dan langsung menurunkannya lagi.
Kijang Kapsul yang bobotnya berat dan pernya empuk itu bergeser secara lateral, drifting sempurna melewati tikungan tanpa kehilangan momentum. Ban mobilnya melengking panjang, menyapu pasir di pinggir aspal, dan keluar dari tikungan persis sejajar di sebelah mobil sport kuning tersebut.
Pemuda arogan itu menoleh dengan mulut menganga lebar. Ia melihat ke arah mobil sebelah, mendapati seorang ibu-ibu berdaster sedang menatapnya dengan tatapan meremehkan bak dewa kematian, sementara di kursi belakang ada seorang bule raksasa yang menatapnya seolah ingin mencabut tulang rusuknya satu per satu.
"S-siapa mereka?!" jerit pemuda itu panik.
Tania menurunkan kaca jendelanya, menyejajarkan kecepatan di seratus kilometer per jam. Tikungan mematikan berikutnya sudah menanti di depan.
Tania lalu mengeluarkan jurus pamungkasnya—sebuah trik ilusi yang menembus pertahanan psikologis pengemudi mana pun di Indonesia.
Tania menghidupkan lampu sein Kiri.
Pemuda itu melihat sein kiri Kijang menyala. Otaknya memproses informasi: Emak-emak ini mau belok kiri atau menepi. Ia pun membanting setirnya ke arah Kanan untuk menghindar.
Namun, itu adalah jebakan mematikan. Dengan sein kiri yang masih berkedip terang, Tania justru membanting setirnya tajam ke arah KANAN, memotong tepat di depan hidung mobil sport kuning tersebut.
"SEIN KIRI BELOK KANAN! MAMPUS GUE!" jerit pemuda itu histeris. Otaknya mengalami korsleting logika akibat anomali jalan raya terbesar sepanjang masa.
Untuk menghindari tabrakan, pemuda itu menginjak rem habis-habisan dan membanting setir ke kiri. Mobil sport-nya tergelincir berputar-putar di atas aspal seperti gasing, lalu meluncur perlahan keluar dari bahu jalan dan mendarat dengan bunyi srot yang memalukan tepat di atas gundukan pasir lembut sisa proyek galian pipa.
Mobilnya tidak rusak, tubuhnya tidak terluka, tapi harga dirinya sebagai anak jalanan hancur tak bersisa. Ia terjebak di dalam gundukan pasir, roda mobil mahalnya berputar sia-sia tanpa traksi.
Tania menepikan Kijang Kapsulnya dengan santai. Ia menarik rem tangan, menghela napas puas, lalu mematikan mesin.
"Nah, Dea," ucap Tania sambil merapikan rol rambutnya yang sedikit miring. "Itu tadi contoh manuver defensif tingkat lanjut. Ingat, mengemudi itu bukan soal tenaga mesin, tapi mentalitas."
Dea menatap ibunya dengan kagum yang tak berujung. "Bu, Ibu baru aja mengalahkan mobil sport seharga dua miliar pakai manuver sein palsu."
Di kursi belakang, Xander yang wajahnya sedikit pucat, menatap istrinya dengan mata berbinar-binar penuh pemujaan.
"Tania..." suara Xander serak. "Aku pernah melihat pasukan khusus Spetsnaz mengemudi di atas es, aku pernah melihat pembalap F1 menghindari ledakan bom... tapi drifting menggunakan gaya gravitasi dan kebohongan lampu sein barusan adalah hal paling indah, sekaligus paling mengerikan, yang pernah kulihat seumur hidupku."
Tania tertawa renyah, membuka pintu mobilnya. "Alah, Mas Xander lebay. Udah, yuk turun bentar. Tuh di seberang jalan ada yang jual es cincau. Mas, tolong beliin tiga gelas, ya. Gula merahnya banyakin."
Mantan bos mafia yang paling ditakuti di Eropa itu mengangguk patuh bagaikan anak kecil. "Siap, Istriku. Tiga es cincau segera datang."
Sementara Xander menyeberang jalan untuk membeli cincau, Tania berjalan mendekati mobil kuning yang terjebak di gundukan pasir. Pemuda arogan di dalamnya masih meringkuk memeluk setir, trauma berat.
Tania mengetuk kaca jendelanya yang tertutup debu. Pemuda itu menurunkannya dengan tangan gemetar.
"Kenapa, Tong? Nyangkut ya?" sindir Tania dengan senyum manis. "Makanya, kalau di jalan tuh yang sopan. Jangan mentang-mentang mobil mahal terus bisa seenaknya sama mobil tua. Udah, sana telepon mobil derek. Tante mau lanjut ngajarin anak Tante nyetir. Daah~"
Pemuda itu hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya nyaris menetes saat Kijang Kapsul telur asin itu kembali melaju perlahan, membelah jalanan Bogor dengan sisa-sisa kejayaan yang tak terbantahkan.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor