NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 : KANDANG SINGA

Aroma karat dan lembap menyergap indra penciuman begitu pintu gudang pelabuhan utara itu terbuka selebar dua inci. Chen menarik napas pendek, menahan getaran di ujung jemarinya yang tersembunyi di balik saku jaket.

Di luar sana, angin malam Kota Yucheng berembus liar, membawa deru ombak Pelabuhan Utara yang menghantam dinding dermaga beton tanpa henti. Udara terasa berat, dipenuhi sisa-sisa mesiu dan ketegangan yang mengambang di kegelapan. Chen tahu betul di mana ia berada sekarang—sebuah kandang singa tempat Vane dan faksi konservatif mafia menunggu untuk mengoyaknya hidup-hidup tanpa belas kasihan.

Namun, rasa takut itu ditekan jauh-jauh ke dasar hatinya, digantikan oleh dinginnya logika yang bekerja cepat di balik kepala. Ingatan fotografisnya berputar ulang, merekam setiap detail denah gudang yang sempat ia lihat dari fail digital di The Crown Tower.

Di ruangan utama tempat ia disekap, terdapat dua jalur ventilasi udara di atas dinding barat dan satu pintu darurat berantai di sisi selatan yang tidak tersambung dengan sistem pengamanan utama. Vane mengira ia hanya seorang anak cerdas yang bisa dipatahkan dengan mudah melalui kurungan fisik semata.

"Jangan bergerak terlalu jauh dari jangkauanku," bisik sebuah suara berat di sampingnya, memecah keheningan yang mencekam.

Shen Mo berdiri separuh langkah di depannya; tubuh tegap pria itu menjadi perisai hidup yang menutupi separuh tubuh Chen dari arah koridor gelap. Mata tajam Shen Mo menyusur setiap sudut ruangan dengan kewaspadaan tingkat tinggi, jemarinya tidak pernah lepas dari gagang senjata di balik mantel panjangnya.

Tidak ada sapaan hangat ataupun kata-kata penenang, hanya ada aura dominasi mutlak yang menggetarkan udara di sekitar mereka. Kehadiran Shen Mo di tempat itu adalah bukti nyata dari garis batas pertumpahan darah yang siap meledak kapan saja menghantam siapa pun.

"Aku tidak butuh pengasuh, Shen Mo," balas Chen tanpa menoleh, meski dadanya bergemuruh merasakan kehangatan perlindungan yang selama ini dirahasiakan pria itu selama tujuh tahun.

"Kau bukan sedang diasuh, Chen. Kau sedang diselamatkan," tukas Shen Mo dingin; sudut bibirnya terangkat tipis, menyiratkan seringai bahaya yang mematikan. "Dan di tempat ini, aturan mainnya kukendalikan sepenuhnya."

Suara langkah kaki berat mendadak menggema dari ujung lorong, memecah ketegangan dan menghentikan perdebatan kecil di antara mereka berdua. Tiga orang anak buah Vane muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan jaket taktis hitam dengan lencana simbol faksi konservatif di dada kiri mereka.

Salah seorang dari mereka, pria berparut di pipi kanan bernama Rian, tertawa sinis sambil memainkan belati lipat di telapak tangannya dengan gerakan lambat yang meremehkan.

"Ternyata sang raja kegiatan bawah tanah benar-benar datang sendiri untuk menyerahkan nyawanya," ejek Rian, langkahnya terhenti sepuluh meter dari posisi berdiri Chen dan Shen Mo. Matanya menatap tajam ke arah Chen dengan kebencian yang meluap-luap. "Dan membawa serta anak kecil ingusan yang sudah mengacaukan seluruh sistem keuangan kita. Bos Vane akan sangat senang menyambut kalian."

Chen tidak membuang waktu untuk membalas provokasi murahan itu. Matanya langsung memindai gestur tubuh Rian dan dua orang pengawalnya dengan kecepatan analisis fotografis. Cara berdiri Rian sedikit timpang ke sebelah kiri—menandakan cedera lama di lutut akibat benturan keras, sementara pengawal di sebelah kanannya memegang senjata dengan cengkeraman yang terlalu longgar, menunjukkan mereka terlalu percaya diri dan meremehkan situasi genting ini.

Tanpa aba-aba verbal, Shen Mo melesat maju bagaikan bayangan hitam menerjang badai. Gerakannya terlalu cepat untuk ditangkap mata telanjang manusia biasa. Dalam satu detik, kepalan tangan bersarung kulit milik Shen Mo telah menghantam rahang pengawal pertama hingga tubuh pria itu terpental membentur tumpukan peti kemas kayu di belakangnya. Dentuman keras menggema, disusul suara kayu patah dan erangan tertahan.

"Habisi mereka!" teriak Rian panik, kehilangan ketenangannya seketika.

Pengawal kedua mencoba mengangkat laras senjatanya, namun Chen bergerak lebih cepat dari perkiraan musuh. Mengandalkan postur tubuhnya yang kecil dan kelincahannya, Chen merunduk menghindari terjangan, lalu meluncurkan tendangan akurat tepat ke arah lutut kiri Rian yang memang sudah rapuh.

Bugh!

Rian menjerit tertahan; tubuhnya kehilangan keseimbangan dan langsung tersungkur ke lantai semen yang dingin. Belati di tangannya terlepas, berdering nyaring saat membentur permukaan beton. Sebelum Rian sempat meraih senjatanya kembali, ujung sepatu bot Shen Mo sudah menginjak pergelangan tangannya dengan tekanan penuh, membuat Rian meraung kesakitan yang luar biasa.

"Di mana fail arsip ayahku?" suara Shen Mo merendah, dingin, dan penuh ancaman yang mampu membekukan darah siapa saja yang mendengarnya. Pria itu membungkuk separuh badan, mencengkeram kerah jaket Rian hingga wajah pria berparut itu terangkat sejajar dengan pandangannya.

"Kau... kau tidak akan pernah menemukannya," desis Rian di antara deru napasnya yang tersengat rasa sakit; darah segar mengalir dari sudut bibirnya. "X... orang itu sudah memindahkan semuanya ke tempat yang tidak bisa disentuh oleh kekuasaanmu, Shen Mo! Organisasi ini sudah membusuk dari dalam!"

Mendengar nama "X" disebut secara langsung, otot-otot di leher Shen Mo mengeras. Kilatan amarah yang selama ini ditekan mendadak berpendar di balik tatapan matanya yang kelam. Nama itu bukan sekadar sandi, itu adalah duri dalam daging yang telah menghancurkan masa lalu mereka semua, termasuk tragedi yang merenggut nyawa ibu Chen dan memalsukan kematian ayah anak laki-laki itu.

"Siapa X?" bentak Shen Mo, cengkeramannya semakin menguat hingga Rian hampir kehilangan kesadaran.

Sebelum Rian sempat membuka mulut untuk menjawab, sebuah suara tembakan mendadak memecah udara gudang.

Dor!

Peluru menembus dinding seng di atas kepala mereka, menyebarkan serpihan logam tajam ke lantai. Dari kegelapan pintu utara yang menghubungkan dermaga luar, selusin orang bersenjata lengkap dengan atribut faksi pengkhianat muncul mengepung area tersebut. Lampu sorot besar menyala tiba-tiba, menyilaukan mata dan mengubah ruangan remang-remang itu menjadi arena eksekusi terbuka bagi siapa saja yang melawan.

"Penyergapan," geram Shen Mo cepat. Ia langsung menarik lengan Chen, menyeret anak itu merapat ke balik pilar beton tebal pelindung struktur gudang. Desing peluru mulai berhamburan, menghantam dinding semen dan menciptakan percikan api kecil di mana-mana tanpa henti.

Chen tidak panik. Di tengah hujan peluru yang memekakkan telinga, otaknya justru bekerja dengan kecepatan penuh. Matanya menangkap panel kontrol listrik utama di sudut timur laut ruangan—sistem lama yang masih menggunakan sirkuit manual dan belum terintegrasi dengan jaringan nirkabel musuh. Jika aliran listrik itu diputus, seluruh ruangan akan jatuh dalam kegelapan total, memberi mereka kesempatan emas untuk melarikan diri lewat jalur ventilasi yang tadi ia amati.

"Shen Mo!" teriak Chen di tengah suara tembakan yang memekakkan telinga, suaranya naik satu oktaf agar terdengar di atas bisingnya desing peluru. "Panel listrik di sudut timur laut! Putuskan sekring utamanya sekarang juga!"

Shen Mo menatap sekilas ke arah bocah di sampingnya, melihat keyakinan mutlak dan kecerdasan luar biasa yang terpancar dari mata tajam anak itu. Tanpa ragu sedikit pun pada keputusan spontan tersebut, Shen Mo menarik pelatuk senjatanya, melepaskan tiga tembakan beruntun untuk melumpuhkan penembak jitu di atas balkon besi, lalu melompat keluar dari persembunyiannya sambil memberondongkan peluru ke arah panel listrik yang ditunjuk Chen.

Bum!

Percikan api biru menyembur hebat saat tembakan akurat Shen Mo menghantam kotak sekring utama. Seketika itu juga, seluruh lampu sorot di dalam gudang mati total. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan, diiringi teriakan kaget dan kebingungan dari kubu musuh yang kehilangan arah pandang sepenuhnya.

"Pegang tanganku," suara Shen Mo terdengar dekat di dalam gelap, menggenggam jemari kecil Chen dengan erat dan pasti.

Di tengah gulita malam dan kepulan asap mesiu yang menyesakkan, mereka berdua melangkah menyusup ke dalam lorong rahasia, meninggalkan musuh yang berteriak panik di belakang. Namun, di dalam hati kecilnya, Chen tahu bahwa ini bukanlah akhir pelarian. Penyergapan malam ini membuktikan satu hal mutlak: musuh di dalam selimut bergerak lebih cepat dari perkiraan mereka, dan sosok misterius berinisial "X" kini sedang mengawasi setiap langkah mereka dari balik bayang-bayang gelap Kota Yucheng yang mematikan.

Napas Chen memburu saat mereka berhasil keluar melalui celah ventilasi sempit menuju dermaga belakang yang dingin. Angin laut malam berembus kencang, membawa aroma asin air laut bercampur ketegangan yang belum usai. Shen Mo menghentikan langkahnya sejenak, menatap tajam ke arah cakrawala pelabuhan yang gelap gulita sebelum ponsel satelit di saku mantelnya bergetar keras.

Sebuah pesan singkat masuk ke layar perangkat itu, menampilkan deretan koordinat GPS tak dikenal dan satu kalimat pendek yang membuat darah Shen Mo mendadak membeku seketika: Kalian terlambat, permainan baru saja dimulai di lantai paling atas The Crown Tower.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!