Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Retakan di Dasar Benteng
Langkah kaki Zayyan yang berat memicu gema ritmis saat dia menaiki undakan tangga besi melingkar, meninggalkan laboratorium bawah tanah yang kini berpendar hijau solid. Aroma pelumas dan sisa solderan perlahan memudar begitu pintu isolasi di puncak tangga berdesis menutup otomatis, menyisakan Olin dan Xavi di dalam ruang kendali baru yang senyap.
Olin mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan di rongga dadanya. Dia menatap telapak tangan kanannya, tempat sisa kehangatan laser hijau pemindai safir masih terasa samar. Aliran manipulasi data yang dipasang Xavi tampaknya berhasil mengecoh sistem hibrida benteng ini, namun kedekatan fisik dengan Zayyan beberapa detik lalu meninggalkan sisa ketegangan yang membuat atmosfer ruangan terasa sesak.
"Mommy," Xavi memecah keheningan, suaranya jernih tanpa riak cemas saat dia melangkah mendekati salah satu panel sirkuit terbuka di dinding baja. "Sistem Sentry- milik Tuan CEO tidak menggunakan kabel bypass standar. Dia menanam jalur cadangan fisik di dalam fondasi beton."
Olin merapikan blus katun kasualnya yang sedikit kusut, lalu mendekati putranya. "Apa artinya itu bagi kita, Xavi?"
"Artinya, jika data tiruan kita terdeteksi oleh pemindaian manual yang dilakukan manusia—bukan mesin—gerbang evakuasi ini tidak akan terbuka dari atas," Xavi menunjuk sebuah pipa kecil berbalut serat karbon yang tertanam dalam struktur dinding. "Tuan CEO berbohong tentang satu hal. Jalur evakuasi fisik ini tidak dirancang untuk mengeluarkan kita, melainkan untuk mengunci kita di sini jika situasi di luar kendali."
Olin menggertakkan rahangnya hingga otot pipinya menegang. Kebohongan yang taktis, persis seperti watak penguasa korporasi yang tak pernah membiarkan bidak catur miliknya bergerak di luar garis skenario. Zayyan membangun benteng ini bukan hanya untuk melindungi kejeniusan Xavi dari faksi Kakek Albert, melainkan untuk memastikan bahwa aset berharganya tetap berada di bawah tumit kekuasaannya sendiri.
"Bisa kau temukan jalur bypass-nya?" tanya Olin, suaranya merosot menjadi bisikan rendah yang sarat akan kalkulasi tajam.
Xavi menyesuaikan letak kacamata bundarnya, lalu menggeleng lamat-lamat. "Tidak dari bawah sini, Mommy. Aku butuh akses fisik ke ruang kendali utama di sayap timur. Tempat di mana gawai hitam Tuan CEO melakukan sinkronisasi setiap pukul dua belas malam."
Olin terdiam, tatapannya beralih pada lampu indikator hijau yang memantulkan bayangan pudar dirinya di dinding baja. Makan malam keluarga di kediaman utama besok malam bukan lagi sekadar medan pertunjukan formalitas bagi dewan komisaris; itu adalah satu-satunya kesempatan yang mereka miliki untuk menembus perimeter terdalam yang dibangun Zayyan.
"Mari kembali ke atas," ucap Olin sembari meraih jemari hangat putranya. "Biarkan para pekerja menyelesaikan sisa instalasi ini. Kita punya draf aset yang harus kita pelajari sebelum Malikh menjemput besok malam."
Ketika mereka kembali ke ruang tengah paviliun barat, kabut di luar jendela kaca telah berubah menjadi rintik gerimis tipis yang membasahi pelataran. Di atas meja kerja kayu ek, gawai interkom hitam kiriman Malikh tampak mati, namun keberadaannya seolah menjadi mata-mata tak kasat mata yang terus mengawasi setiap pergerakan mereka.
Olin berjalan mendekati meja, mengambil buku sketsa hitam bersampul kulit miliknya. Dia membalik halaman demi halaman hingga berhenti pada gambar rahang tegas Zayyan yang tadi sempat dia rapikan dengan penghapus karet. Dengan ujung pensil arangnya, Olin menambahkan beberapa garis tegas baru pada sudut mata sketsa itu—memberikan kesan dingin, penuh rahasia, dan berbahaya yang sesungguhnya. Sandiwara dua puluh empat bulan ini telah bergeser menjadi perang saraf yang sunyi, dan Olin tidak berniat menjadi pihak yang pertama kali meletakkan senjatanya di atas meja makan El-Ghazali.