Bagi Bagas, surga ada di telapak kaki ibu. Namun sayang, baktinya buta. Sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Bagas selalu memaksakan diri membayar iuran Bagi Rata yang dituntut kakak pertamanya demi menyenangkan sang Ibu. Ia menutup mata bahwa ekonomi mereka pas-pasan, jauh di bawah kakak-kakaknya yang sukses.
Keuangan rumah tangga terkuras habis. Beruntung, Adinda sang istri adalah wanita tangguh. Lewat usaha katering rumahan dan kue online yang dibangunnya dari nol, Adinda berhasil membeli sebuah rumah sederhana satu kamar untuk tempat mereka berteduh bersama anak laki-laki mereka yang kini sudah SMP.
Bukannya sadar, Bagas justru menjadikan kemandirian Adinda sebagai tameng untuk terus menyetor uang ke keluarga besarnya. Puncaknya, modal katering Adinda dikuras sepihak, dan rumah mungilnya itu mulai diincar untuk kenyamanan sang mertua.
Saat anak laki-lakinya mulai ikut menderita dan berontak, Adinda akhirnya menyalakan mode tegas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAKTI BUTA SUAMIKU
Deru napas Bagas terdengar berat menembus keheningan ruang tamu yang pengap. Pria itu masih pulas meringkuk di atas sofa busa di ruang tamu. Setelah perdebatan hebat yang menguras tenaganya semalam atau lebih tepatnya, setelah egonya ditelanjangi oleh deretan angka di buku agenda mika biru milik Adinda Bagas baru bisa memejamkan mata saat adzan subuh berkumandang. Tubuhnya pegal-pegal karena tidur dalam posisi menekuk di sofa sempit, dan jas hitamnya masih teronggok mengenaskan di atas lantai semen.
Di luar kontrakan, matahari sudah merangkak naik, memancarkan sinar cerah yang menembus celah-cellah ventilasi udara. Namun, kegelapan di dalam benak Bagas seolah menolak untuk sirna. Pria itu masih terbuai dalam mimpi, tidak menyadari bahwa di sekelilingnya, dunia sudah bergerak cepat sejak jam dua pagi.
Tepat ketika jarum jam dinding murah di ruang tengah berdetik ke angka tujuh lewat sepuluh menit, mata Bagas mengerjap pelan. Sinar matahari yang menyengat matanya memaksanya terbangun. Ia melenguh, memegangi lehernya yang terasa kaku dan salah urat. Tangannya meraba-raba meja kecil di samping sofa, mencari ponselnya.
Begitu layar ponsel menyala, Bagas langsung menegakkan tubuhnya dengan sentakan instan. Seluruh rasa kantuk dan pegal yang menggelayuti tubuhnya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang kepanikan yang luar biasa hebat. Jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh genderang perang.
"Astaga! Jam tujuh lewat sepuluh?!" Bagas berteriak panik, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Pria itu melompat dari sofa, hampir saja menginjak jas kantornya sendiri. Matanya liar menatap jam dinding untuk mencocokkan waktu, dan sialnya, jam dinding pun menunjukkan waktu yang sama. Jam masuk kantor Bagas adalah pukul 07.45. Itu artinya, ia hanya memiliki waktu tepat tiga puluh lima menit tersisa sebelum bel absen elektronik di kantornya berbunyi. Sementara itu, jarak dari kontrakan sempitnya menuju gedung kantor di pusat kota membutuhkan waktu minimal dua puluh menit dalam kondisi jalanan yang lancar. Jika ada macet sedikit saja di lampu merah perempatan, tamatlah riwayatnya.
"Dinda! Dinda! Kenapa kamu enggak bangunin aku?!" teriak Bagas sambil berlari kencang menuju dapur darurat di ruang tengah. "Din! Kamu ke mana sih?! Jam berapa ini?!"
Namun, tidak ada sahutan. Dapur itu kosong melompong.
Kompor gas dua tungku sudah mati dan dalam keadaan bersih.
Nampan-nampan plastik yang biasanya berantakan dengan adonan kue kini sudah tersusun rapi di atas rak. Suasana rumah begitu senyap. Bagas berbalik arah, melangkah lebar dan menggedor pintu kamar sekat tripleks tempat Adinda dan Dimas tidur semalam.
"Din! Dinda! Buka pintunya!" Bagas memutar knop pintu dengan kasar. Pintu itu tidak dikunci, dan begitu terbuka, kamar itu juga kosong. Kasur busa tipis di lantai sudah dilipat rapi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan istri maupun anaknya.
Bagas mengacak rambutnya dengan frustrasi. Kepalanya yang pening akibat kurang tidur kini semakin berdegup kencang. "Pada ke mana sih orang-orang ini?! Sialan, hari ini bos besar mau datang dari kantor pusat lagi!" rutuknya beringas.
Bagas tidak tahu bahwa pagi ini, kurir langganan katering Adinda mendadak berhalangan hadir karena motor rodanya mogok. Alhasil, sejak subuh tadi Adinda harus mengantarkan tumpukan nasi kotak dan kue pesanan arisan itu sendiri. Dimas, yang memang anak berbakti dan selalu bangun jam tiga pagi untuk membantu ibunya, sejak awal sudah bersiap mengenakan seragam sekolah lengkapnya. Sambil menyandang tas sekolah di punggungnya, Dimas dengan sigap membantu ibunya memikul dan menuntun sepeda penuh kardus makanan menuju rumah pelanggan di komplek depan, agar setelah selesai, ia bisa langsung berangkat ke sekolah dari sana tanpa harus bolak-balik ke kontrakan lagi.
Sementara di kontrakan, Bagas kelimpungan setengah mati. Pria itu berlari ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin secara kilat tanpa sempat menggosok badannya dengan benar. Dengan gerakan super cepat yang berantakan, ia memakai kemeja kerja yang untungnya sudah disetrika Adinda dua hari lalu.
Sambil mengancingkan kemeja dengan tangan gemetar, Bagas melangkah kembali ke meja makan kayu di dapur. Perutnya sudah berbunyi nyaring, menagih hak pengisinya setelah semalam ia hanya makan sedikit di hotel karena sibuk menjaga imej di depan Mas Broto. Matanya memindai permukaan meja makan, mencari tudung saji rajutan plastik yang biasanya selalu menyembunyikan sarapan hangat buatan Adinda.
Bagas mengangkat tudung saji itu dengan kasar. "Brak!"
Di bawah tudung saji itu, hanya ada sebuah piring kosong dan gelas kosong. Tidak ada nasi goreng. Tidak ada nasi uduk. Bahkan tidak ada sebiji pun kue sisa pesanan yang biasanya melimpah di atas meja. Meja makan itu benar-benar bersih dari makanan. Adinda benar-benar membuktikan ucapannya semalam untuk mogok mengurus keperluannya.
Wajah Bagas seketika menggelap. Rasa panik karena terlambat kantor kini mendadak bercampur dengan amarah yang menyala-nyala di dadanya. Laki-laki itu sama sekali tidak berpikir tentang betapa lelahnya Adinda yang harus memikul kardus katering sejak pagi buta. Benaknya sama sekali tidak tersentuh oleh rasa bersalah atas kelakuannya yang memeras tenaga dan uang istrinya selama belasan tahun.
Di dalam kepala Bagas yang dipenuhi oleh ego dan kesombongan, hanya ada satu kesimpulan tunggal: Adinda sengaja melakukan ini untuk balas dendam. Adinda adalah istri yang durhaka karena menelantarkan suaminya.
"Keterlaluan kamu, Dinda! Bener-bener istri gak tahu diuntung!" teriak Bagas di tengah ruangan kosong itu. Suaranya bergetar karena rasa dongkol yang luar biasa.
Dengan perut keroncongan, napas memburu, dan hati yang dipenuhi rasa kesal yang amat sangat kepada istrinya, Bagas menyambar tas ransel hitamnya dengan beringas. Tanpa sarapan sepeser pun, ia melangkah keluar dari kontrakan, membanting pintu tripleks, lalu menggas motornya dengan kecepatan penuh menuju kantor, mengutuk sikap Adinda sepanjang jalan yang dianggapnya keterlaluan dan egois. Bukannya menyadari kesalahan atau merenungi pembukuan uang bulanan semalam, Bagas justru semakin membenci ketegasan istrinya.
Sekitar tiga puluh menit setelah kepergian Bagas yang penuh amarah, suasana gang kembali tenang. Di ujung jalan, Adinda berjalan kaki sendirian menuju kontrakannya. Wajahnya tampak kemerahan dan peluh membasahi keningnya setelah berjalan cukup jauh.
Adinda pulang sendiri. Dimas, putra semata wayangnya, sudah langsung berangkat ke sekolah dari rumah pelanggan katering tadi karena jam masuk sekolah yang sudah mepet. Adinda menuntun sepeda tua milik Dimas dengan perlahan, membawa bronjong plastik yang kini sudah kosong melompong. Meski fisiknya lelah, ada rasa lega yang luar biasa di dadanya karena tugas paginya selesai tanpa ada hambatan.
Begitu sampai di teras kontrakan, Adinda melihat pintu rumah yang sedikit renggang, bekas bantingan kasar Bagas tadi. Ia melangkah masuk, memarkirkan sepeda di sudut teras, lalu duduk di kursi meja makan dapur yang sunyi. Ia memandangi piring dan gelas kosong yang sengaja ditinggalkannya untuk Bagas. Adinda tahu suaminya pasti mengamuk dan pergi bekerja dengan rasa kesal yang mendalam, tapi anehnya, tidak ada lagi rasa takut di hati Adinda. Waktu untuk mengalah sudah habis.
Sambil menyeka keringat di lehernya, Adinda mengambil ponsel usang dari dalam saku gamisnya. Langkah pertama untuk menentukan masa depannya dan Dimas harus dimulai sekarang. Ia tidak bisa egois bertindak sendiri di kontrakan ini; ia harus membicarakan masalah perpisahan ini dengan keluarga besarnya sendiri terlebih dahulu sebelum melangkah ke pengadilan.
Adinda mencari sebuah nama di kontak ponselnya: Mas Danu. Kakak kandung satu-satunya yang tinggal di luar kota bersama istrinya, Mbak Anik. Mbak Anik adalah kakak ipar yang selama ini sangat menyayangi Adinda dan selalu menjadi tempat Adinda berkeluh kesah secara bijak, pengganti sosok mendiang orang tuanya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun hati yang mantap, Adinda menekan tombol panggil. Ia harus memaparkan semuanya kepada kakaknya dan Mbak Anik di luar kota, meminta persetujuan serta perlindungan hukum dan moral, sebelum ia benar-benar melangkah maju untuk keluar dari lingkaran racun rumah tangganya bersama Bagas. Di bawah temaram lampu dapur pagi itu, suara nada sambung di ponselnya mulai berdering, menandai awal dari perjuangan barunya demi hidup yang lebih bermartabat bersama Dimas.