NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Di depan gedung Fakultas Desain Komunikasi Visual, Kerumunan mahasiswa masih belum juga bubar. Sebagian pura-pura mengobrol.

Sebagian lagi pura-pura melihat jadwal kuliah.

Padahal, semua mata diam-diam masih tertuju pada Raymond dan Angela.

Sementara itu, dari arah gedung Fakultas Teknik, seorang pria bertubuh tinggi dengan ransel yang disampirkan di satu bahu berjalan santai sambil menguap.

Dialah Dion.

Sepupu Raymond. Baru saja selesai mengikuti kuliah terakhirnya.

"Hah..."Dion meregangkan bahunya. "Akhirnya kelar juga. Dosen gue kalau nerangin rasanya bisa bikin satu semester lewat dalam sehari."

Ia memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil berjalan santai. Namun beberapa langkah kemudian, Dion mengernyit.

"Lho?" Tatapannya tertuju pada kerumunan mahasiswa di depan gedung DKV.

"Ngapain rame-rame gitu?" Rasa penasarannya langsung muncul. "Jangan-jangan ada bazar?" Ia mempercepat langkah.

Semakin dekat, semakin banyak mahasiswa yang berbisik-bisik.

"Pangeran kampus..."

"Meluk cewek..."

"Serius?" Dion berhenti mendadak.

"Hah? Siapa yang meluk siapa?"

Karena penasaran, Dion langsung menyelip di antara kerumunan.

"Permisi... permisi... Geser dikit, Bang."

"Eh, jangan dorong." Setelah berhasil lolos dari kerumunan, Dion melihat tiga orang yang sangat dikenalnya berdiri paling depan.

Kevin.

Rio.

Dan Arga.

Tanpa pikir panjang, Dion langsung menghampiri mereka. Ia menepuk pundak Kevin dan Rio bersamaan.

"Ada apaan sih rame-rame?"

"WOI!" Kevin, Rio, dan Arga sontak melonjak kaget. "Hampir aja jantung gue copot!" pekik Rio sambil memegangi dadanya.

Kevin menoleh tajam.

"Dion! Lo ngagetin orang aja." Dion malah memasang wajah polos.

"Lah, emang kenapa? Gue cuma nanya."

Rio menunjuk hidung Dion.

"Kalau jantung gue copot, lo tanggung jawab."

Dion menyeringai.

"Gampang, Gue lem lagi." Arga langsung geleng-geleng kepala.

"Jantung itu bukan sandal."

"Oh... Iya gue lupa ."Dion mengangguk sok paham Rio mendengus.

"Lo kuliah di fakultas mana, sih? Kok logikanya suka libur?" Dion terkekeh.

"Udahlah." Ia mendongak melewati bahu Kevin.

"Jadi sebenarnya ada apa?" Rio, Kevin, dan Arga saling pandang. Tak ada yang langsung menjawab. Dion semakin penasaran.

"Woi. Jangan kompak diem gitu."

"Ada konser?, Ada dosen berantem? Apa ada yang ngelamar?" Rio menahan senyum.

"Nggak."

"Terus?" Kevin menghela napas panjang.

"Lo lihat aja sendiri." Dion pun mengikuti arah pandangan mereka.

Detik berikutnya, matanya membelalak lebar.

"Hah?!"

Di depan sana, Raymond masih berdiri sangat dekat dengan Angela. Bahkan salah satu tangannya masih melingkari bahu gadis itu.

Dion berkedip berkali-kali. Lalu mengucek matanya. Kemudian melihat lagi.

"..."

"..."

"Anjir..." Rio menyenggol lengannya.

"Gimana?" Dion menunjuk Raymond dengan jari gemetar.

"Itu...Itu sepupu gue, kan?" Kevin mengangguk.

"Iya."

"Bukan orang yang mukanya mirip?"

"Nggak. Itu Raymond asli." Dion kembali menatap ke arah Raymond. Mulutnya perlahan menganga.

"Gue... lagi mimpi?" Rio menepuk bahu Dion sambil tertawa.

"Tenang. Gue juga tadi reaksinya sama."

Dion masih belum percaya.

"Raymond...Yang tiap hari wajahnya kayak penagih utang?" Kevin mengangguk.

"Iya."

"Yang kalau cewek ngajak ngobrol jawabnya cuma satu atau dua kata?"

"Iya."

"Yang pernah nolak hadiah dari satu fakultas cuma karena males nerima?"

"Iya." Dion menelan ludah.

"Lah..." Ia kembali menunjuk Raymond.

"Kalau yang sekarang itu siapa?" Rio langsung nyengir lebar.

"Itu?"

"Itu bukan Raymond." Kevin ikut menahan tawa.

"Itu spesies baru." Arga menyilangkan tangan sambil tersenyum tipis.

"Namanya..." Rio, Kevin, dan Arga mengucapkannya bersamaan,

"Raymond mode bucin." Dion mematung selama beberapa detik.

Lalu...

"HAHAHAHA!" Tawanya pecah begitu keras hingga beberapa mahasiswa ikut menoleh ke arahnya.

"Astaga!"

"Gue harus foto ini!" Kevin dan Arga langsung kompak menarik kerah belakang jaket Dion.

"Jangan!" Rio ikut menahan ponsel Dion yang sudah hampir keluar dari saku. "Lo pengin dibunuh Raymond?" Dion langsung menghentikan gerakannya.

"...iya juga." Ia mengembalikan ponselnya sambil nyengir. "Sayang banget, padahal ini momen langka." Rio mengangguk serius.

"Bukan langka lagi."

"Ini udah masuk kategori fenomena alam yang muncul seratus tahun sekali."

Mereka berempat pun kembali menoleh ke arah Raymond dan Angela. Masih sama-sama tak habis pikir. Tak ada satu pun dari mereka yang pernah membayangkan bahwa pria sedingin Raymond ternyata bisa seposesif itu pada seorang gadis. Dion masih menggeleng-gelengkan kepala.

Tatapannya tidak lepas dari sosok Raymond yang berdiri begitu dekat dengan Angela.

"Ini beneran Raymond?" Rio menyenggol lengannya.

"Masih nanya juga, gue gibeng Lo." kata Rio sambil mengangkat sikutnya, pura-pura ingin menghajar Dion.

"Abis..." Dion mengusap wajahnya pelan. "Gue dari kecil tumbuh bareng dia. Setiap ada sepupu cewek yang mau meluk, langsung didorong." Kevin mengangguk.

"Fakta."

"Bahkan waktu Tante Diana meluk dia pas ulang tahun..." Arga menyambung sambil menahan tawa. "...lima detik kemudian langsung dilepas." Rio ikut mengangkat tangan.

"Gue saksi hidup." Dion menatap mereka satu per satu.

"Terus sekarang..." Ia menunjuk Raymond yang masih berdiri dekat Angela. "...dia malah nggak mau lepas?" Rio mengangguk mantap.

"Makanya."

"Kita juga lagi syok."

Sementara itu, Angela mengembuskan napas pelan. Tatapan puluhan mahasiswa yang mengarah pada mereka membuatnya mulai tidak nyaman. Ia menatap Raymond yang masih berdiri terlalu dekat.

"Ray."

"Hm?"

"Semua orang lagi lihat."

Raymond melirik sekilas ke sekeliling. Benar saja, begitu tatapannya menyapu kerumunan, semua mahasiswa langsung pura-pura sibuk.

Ada yang mendadak membuka laptop, ada yang pura-pura membaca mading. Bahkan ada yang menghadap tembok.

"Wah...Bagus banget temboknya."

"Iya."

"Halus." Temannya langsung menyikut pinggangnya.

"Lo lagi ngapain ngomentarin tembok?"

"Improvisasi." Angela sampai memijat pelipis.

"Lo lihat, kan?" Raymond kembali menoleh padanya.

"Iya."

"Terus?"

"Terus apanya? Mereka lagi lihat kita." Raymond menjawab datar.

"Ya biarin." Angela langsung menatapnya tak percaya.

"Biarin?"

"Iya."

"Raymond..." Angela menarik napas panjang.

"Image lo itu pangeran kampus." Raymond mengangkat bahu.

"Terus?"

"Gue serius."

"Orang-orang lagi ngelihatin." Raymond justru menjawab santai.

"Kan mereka punya mata." Angela terdiam beberapa detik. Rio langsung menepuk jidat.

"Anjir."

"Jawaban apaan itu?" Kevin menahan tawanya.

"Udah kena virus bucin." Arga mengangguk pelan.

"Stadium empat." Dion yang baru pertama kali menyaksikan sisi Raymond ini hanya bisa melongo.

"Demi apa..."

"Itu sepupu gue?" Angela kembali menatap Raymond.

"Lo emang sengaja bikin gue pusing, ya?"

Raymond tersenyum tipis.

"Nggak."

"Terus?"

"Gue cuma nggak mau lo marah." Angela menghela napas.

"Gue tadi udah bilang."

"Jaga jarak." Raymond mengangguk.

"Iya." Angela mengangguk balik.

"Nah."

"Denger, kan?"

"Denger."

"Terus kenapa masih deket?" Raymond menjawab tanpa rasa bersalah.

"Soalnya gue belum bisa." Angela langsung kehilangan kata-kata.

"..."

Ia menatap Raymond cukup lama. Lalu menggeleng pelan.

"Lo keras kepala."

"Iya."

"Lo nyebelin."

"Iya."

"Lo bikin hidup gue ribet."

"Iya." Setiap ucapan Angela selalu dijawab singkat oleh Raymond. Sampai akhirnya Angela mendengus pelan.

"Lo ini emang nggak ada obat." Raymond tersenyum kecil.

"Kalau ada..." Ia menatap Angela lurus.

"...obatnya paling juga lo."

"Huweee..." Rio refleks menutup wajahnya memakai kedua tangan.

"Gue nggak kuat." Kevin ikut memalingkan wajah.

"Gula darah gue naik." Arga menggeleng sambil tertawa pelan.

"Dingin-dingin ternyata bisa ngeluarin kalimat begitu." Dion masih mematung. Beberapa detik kemudian, Ia merogoh saku celananya. Seketika, Rio langsung curiga.

"Lo ngapain?" Dion mengeluarkan ponselnya.

"Mau nelepon."

"Siapa?"

"Mama gue." Rio mengernyit.

"Ngapain?" Dion memasang wajah serius.

"Gue mau nanya."

"Apa?"

"Sepupu gue ketuker bayi apa gimana."

"HAHAHAHA!" Kevin, Rio, dan Arga langsung tertawa kencang bersamaan, bahkan beberapa mahasiswa di sekitar ikut terkekeh mendengar ucapan Dion.

Di saat yang sama, Raymond akhirnya menoleh ke arah suara tawa itu. Tatapannya langsung berhenti pada Dion.

Alisnya terangkat sebelah.

"Dion." Dion yang masih memegang ponsel langsung membeku.

"Waduh..." Rio langsung mundur selangkah.

"Selamat berjuang." Kevin ikut menepuk bahu Dion.

"Kami doain." Arga tersenyum tipis.

"Semoga almarhum diterima di sisi-Nya."

"Heh! Jangan doa aneh-aneh!" Dion langsung melotot. Raymond melangkah mendekat dengan wajah datar.

"Dari tadi..."

Ia melipat kedua tangan di depan dada.

"...seru?" Dion terkekeh canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Hehehe..."

"Nggak juga."

"Cuma..."

"Cuma apa?" Dion menatap Raymond dari ujung kepala sampai kaki, lalu menoleh ke Angela. Kemudian kembali menatap Raymond.

Ia menghela napas panjang sebelum berkata dengan wajah polos,

"Sepupu..."

"Iya?"

"Gue baru sadar."

"Apa?"

"Lo kalau lagi jatuh cinta..." Dion sengaja memberi jeda. "...ternyata lebih mengkhawatirkan daripada yang gue bayangin." Seisi koridor langsung pecah oleh gelak tawa.

Bahkan Angela yang sejak tadi berusaha memasang wajah dingin pun tak mampu lagi menahan senyum tipis yang akhirnya muncul di sudut bibirnya. Dan senyum kecil itu, tak luput dari perhatian Raymond. Ia ikut tersenyum lega, karena setidaknya amarah Angela mulai sedikit mencair.

Raymond menangkap senyum tipis yang akhirnya muncul di sudut bibir Angela.

Meski hanya sesaat, Itu sudah cukup membuat hatinya sedikit lega.

"Lo senyum." Angela yang baru sadar langsung kembali memasang wajah datar.

"Nggak." Raymond mengangkat sebelah alis.

"Gue lihat sendiri."

"Halusinasi." Rio langsung menepuk bahu Kevin.

"Denger nggak?" Kevin mengangguk.

"Angela mulai ketularan jurus jawab singkat."

Arga menahan tawa.

"Biasanya Raymond yang jawab satu kata."

"Sekarang gantian." Dion menyeringai lebar.

"Cocok."

"Pasangan hemat kuota."

"HAHAHAHA!" Tawa kembali pecah. Angela hanya menggeleng pelan.

"Gue masuk kelas." Baru saja ia hendak melangkah, Raymond kembali berjalan di sampingnya.

"Gue anter." Angela langsung berhenti.

"Nggak usah."

"Nggak apa-apa."

"Gue bilang nggak usah."

"Kenapa?" Angela menoleh dengan wajah datar.

"Karena kelas gue di gedung DKV."

"Iya."

"Lo anak Fakultas Ekonomi."

"Iya."

"Jadi ngapain nganter?" Raymond menjawab tanpa ragu.

"Jalan."

"..."

Angela memejamkan mata beberapa detik.

Rio langsung berbisik pelan,

"Jawaban dia makin nggak bisa diselamatin."

Kevin mengangguk.

"Udah kronis." Dion menyenggol Arga.

"Dia dulu gini juga?"Arga menggeleng.

"Nggak."

"Dulu lebih parah."

"Hah?"

"Dulu dia bahkan males ngomong." Dion melongo.

"Terus sekarang kenapa berubah?" Rio langsung menunjuk Angela.

"Efek samping cewek hoodie." Mereka bertiga kembali tertawa.

Sementara itu, Angela akhirnya menyerah.

"Terserah."

Ia kembali berjalan menuju ruang studio DKV. Raymond langsung mengikuti di sampingnya.

Jarak mereka hanya sekitar setengah langkah. Melihat pemandangan itu, beberapa mahasiswa DKV langsung heboh.

"Astaga..."

"Kak Raymond masuk gedung DKV lagi."

"Udah yang ketiga kalinya minggu ini."

"Fix."

"Dia kuliah lintas fakultas." Seorang mahasiswa iseng langsung berseru,

"Kak Raymond!" Raymond menoleh singkat.

Mahasiswa itu nyengir lebar.

"Mau pindah jurusan ke DKV ya, Kak?"

Seluruh koridor langsung dipenuhi tawa. Raymond menjawab datar.

"Nggak."

"Terus sering amat ke sini?" Raymond melirik Angela yang sedang berjalan di sampingnya.

"Nganter."

"HOOOOO...!" Sorakan mahasiswa langsung menggema.

Angela refleks menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Ray..."

"Hm?"

"Bisa nggak sih, sekali aja jangan bikin heboh

Raymond terlihat benar-benar berpikir.

Beberapa detik kemudian ia mengangguk.

"Bisa." Angela mengembuskan napas lega.

"Syukurlah." Detik kemudian Raymond kembali berkata,

"Tapi susah." Angela berhenti melangkah.

Perlahan ia menoleh.

"Lo barusan bilang bisa."

"Iya."

"Terus sekarang susah?"

"Iya."

"Kenapa?" Raymond menjawab dengan wajah polos.

"Soalnya ada lo." Rio langsung berbalik membelakangi mereka.

"Gue nggak sanggup lagi." Kevin ikut menutup wajah.

"Ini bukan Raymond yang gue kenal."

Arga tertawa kecil.

"Besok-besok kita bawa dia ke rumah sakit."

Dion mengangguk mantap.

"Cek kejiwaan."

"HAHAHAHA!" Bahkan mahasiswa lain ikut tertawa mendengar celetukan mereka.

Angela hanya bisa memijat pelipisnya lagi.

"Lo tahu nggak..."

"Apa?"

"...gara-gara lo, gue jadi pusat perhatian satu gedung." Raymond melihat sekeliling.

Puluhan mahasiswa memang masih memperhatikan mereka. Ia kembali menatap Angela.

"Hm."

"Hm apanya?"

"Berarti mereka matanya bagus." Angela menatap Raymond beberapa detik.

Lalu menggeleng pelan.

"Gue nyerah." Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Angela kembali terangkat membentuk senyum kecil.

Melihat senyum itu, Raymond ikut tersenyum tanpa sadar. Di belakang mereka, Rio langsung menyikut Kevin.

"Eh."

"Apa?"

"Dia senyum lagi." Kevin ikut melihat ke arah Angela.

"Iya."

"Berarti..." Rio menyeringai lebar.

"Es batu mulai mencair." Dion mengangguk sambil tertawa kecil.

"Sepupu gue masih punya harapan."

Jam kuliah pun kembali berdentang, menandakan mata kuliah akan segera di mulai. Mahasiswa yang sejak tadi berkerumun mulai membubarkan diri.

"Ayo, masuk kelas!"

"Buruan, nanti dosennya datang."

"Eh, gosipnya lanjut di grup, ya!" Dalam hitungan detik, koridor yang semula ramai perlahan kembali lengang.

Angela memandang Raymond.

"Lo juga masuk kelas." Raymond mengangguk.

"Iya." Angela menghela napas lega.

"Yaudah, sana."

Namun, Raymond masih berdiri di tempat.

Angela mengernyit.

"Katanya iya."

"Iya."

"Terus kenapa belum pergi?" Raymond menjawab dengan wajah datar.

"Nunggu lo masuk kelas dulu." Angela memijat pelipisnya lagi.

"Lo ini...". Dion yang melihat dari kejauhan langsung menyenggol Rio.

"Dia emang separah itu?" Rio mengangguk mantap.

"Lebih." Kevin ikut menimpali.

"Kalau Angela belum masuk kelas, kayaknya dia nggak bakal pergi." Arga tersenyum tipis.

"Makanya kita udah nyerah buat ngasih saran." Angela akhirnya menyerah.

"Ya udah." Ia berjalan menuju ruang studio.

Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

"Puas?" Raymond mengangguk kecil.

"Puas."

"Nah, sekarang pergi."

"Oke." Angela masuk ke dalam kelas. Pintu kelas perlahan ditutup.

Baru setelah sosok Angela benar-benar menghilang, Raymond berbalik.

Dion langsung menyilangkan tangan.

"Wih."

Raymond meliriknya.

"Apa?"

Dion mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Sepupu..."

"Hm?"

"Gue baru sadar."

"Sadar apa?"

"Lo tuh..." Dion sengaja berhenti sejenak.

"...nggak punya harga diri kalau udah urusan Angela." Rio langsung terbatuk menahan tawa.

"Uhuk!"

Kevin buru-buru memalingkan wajah.

Arga bahkan memilih melihat langit-langit koridor. Raymond menatap Dion datar.

"Udah selesai?"

"Belum." Dion masih melanjutkan.

"Dulu siapa yang bilang pacaran itu buang-buang waktu?" Raymond diam.

"Dulu siapa yang bilang cewek itu bikin ribet?"

Raymond tetap diam.

"Dulu siapa yang bilang hidup sendirian lebih tenang?" Rio mulai menghitung dengan jari.

"Satu..."

"Dua..."

"Tiga..." Dion tersenyum lebar.

"Sekarang?" Ia menunjuk Raymond.

"Lo malah nempel terus kayak perangko."

"HAHAHAHA!" Rio akhirnya tak sanggup lagi.

Ia tertawa sampai membungkuk. Kevin pun ikut tertawa.

"Bener juga." Arga mengangguk sambil tersenyum geli.

"Kalau Tante Diana lihat tadi..."

Rio langsung menyambung, "...besok mungkin undangan nikah udah dicetak."

Semua kembali tertawa. Raymond hanya menghela napas.

"Selesai ketawanya?" Dion masih mengusap air mata akibat terlalu banyak tertawa.

"Belum."

"Gue masih pengin ngeledekin lo."

Raymond menggeleng pelan.

"Lo banyak waktu luang."

"Iya."

"Soalnya hiburan gue lagi berdiri di depan gue."

"HAHAHA!" Kevin sampai menepuk bahu Dion.

"Udah, kasihan Raymond." Dion baru saja hendak membuka mulut lagi.

Tiba-tiba, Pintu kelas DKV kembali terbuka.

Semua spontan menoleh, saat Angela keluar lagi sambil membawa botol minum yang ternyata tertinggal di bangku dekat pintu.

Ia berhenti begitu melihat mereka masih berkumpul.

"Kalian..." Angela memandang Raymond. "Belum pergi juga?" Raymond menjawab polos.

"Belum."

"Kenapa?"

"Ngobrol." Angela melirik Dion.

"Ngobrol?" Dion langsung menyeringai.

"Iya."

"Gue lagi wawancara sepupu gue."

Angela mengangkat sebelah alis.

"Wawancara?"

"Iya."

"Topiknya perubahan perilaku manusia setelah jatuh cinta." Rio langsung menutup mulut Dion.

"Udah! Berenti!" Namun sudah terlambat.

Angela menatap Raymond beberapa detik.

Lalu, sudut bibirnya kembali terangkat tipis.

Meski hanya sesaat, namun kali ini semua orang melihatnya. Dion langsung menunjuk Angela.

"Tuh!"

"Dia senyum lagi!" Angela yang sadar dirinya ketahuan langsung berdehem pelan.

"Bukan urusan gue." Ia mengambil botol minumnya. Lalu berbalik masuk ke kelas. Sebelum pintu tertutup, ia sempat berkata tanpa menoleh,

"Ray."

"Hm?"

"Kalau lima menit lagi lo masih di depan kelas gue...gue laporin ke satpam karena dicurigai berkeliaran di fakultas orang."

Brak.

Pintu kelas langsung tertutup.

Koridor hening selama dua detik.

Kemudian...

"Hahahaha!" Rio tertawa paling keras.

Kevin sampai bersandar ke dinding.

Arga menggeleng sambil tertawa kecil.

Bahkan Dion memegang perutnya.

"Anjir!"

"Sepupu...Baru kali ini ada yang berani ngancem lo dilaporin satpam!"

Raymond hanya menatap pintu kelas Angela.

Lalu, tanpa sadar, Senyum tipis kembali muncul di wajah dinginnya.

Dion langsung menunjuk wajah Raymond dengan mata membelalak.

"Woy!"

"Dia senyum lagi!" Rio menepuk bahu Raymond.

"Parah."

"Lo udah nggak bisa diselamatin."

Raymond memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Udah puas ngeledekin gue?" Dion mengangguk mantap.

"Belum."

"Masih banyak bahan." Raymond hanya menggeleng pelan.

Namun kali ini, Ia tidak membantah sedikit pun. Karena dalam hati, ia tahu satu hal.

Selama Angela masih tersenyum, meski hanya sedikit, semua ledekan itu terasa tidak ada artinya.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!