NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Makhluk Baru

​Ambulans itu membawa Maya ke sebuah klinik privat terpencil di pinggiran Jakarta Selatan, tempat di mana uang Aryo masih bisa membungkam mulut para staf medis dari kewajiban melaporkan kondisi tidak wajar ke polisi.

Kamar perawatan baru ini jauh lebih kecil, tanpa kemewahan porselen atau lampu kristal seperti di rumah sakit sebelumnya.

Hanya ada dinding bercat hijau pupus yang mulai mengelupas, sebuah ranjang besi tua, dan suara detak jam dinding yang berbunyi malas.

​Rumah mereka di Pondok Indah telah disegel garis polisi untuk penyelidikan kematian Abah Kamdi. Namun, pikiran Aryo tidak lagi berada pada urusan hukum atau kerugian materiil akibat kebakaran.

Fokusnya sepenuhnya tersedot pada pemandangan mengerikan yang kini sedang berlangsung di atas ranjang klinik.

​Malam telah melampaui pukul dua dini hari. Udara luar yang panas setelah hujan badai mendadak berubah menjadi sedingin es begitu jarum jam bergeser ke angka 12 menit.

​"Mas ... Mas Aryo ... sakit banget, Mas ... ini bergerak lagi ...."

​Maya terbangun dari pingsannya dengan lenguhan yang menyayat hati. Kedua tangannya mencengkeram besi pembatas ranjang hingga buku-buku jarinya memutih.

Keringat dingin sebesar biji jagung membanjiri pelipisnya, melunturkan sisa-sisa bedak tebal yang sempat menyembunyikan kulit abu-abunya.

​Aryo langsung bangkit dari kursi, mendekat dan memegang tangan kanan Maya yang gemetar.

"Apanya yang bergerak, Sayang? Aku panggilkan dokter jaga sekarang, ya?"

​"Tidak! Dokter tidak bisa melakukan apa-apa!" jerit Maya, matanya yang kuyu melotot lebar penuh teror.

Dengan sentakan panik, ia menyingkap selimut hijau klinik dan mengangkat gaun rumah sakitnya ke atas dada.

"Lihat ini, Mas! Lihat anakmu!"

​Darah di sekujur tubuh Aryo seolah berhenti mengalir. Ia membeku di tempat, menatap lurus ke arah perut Maya yang membuncit memasuki bulan ketiga kehamilan.

​Di bawah pendar redup lampu dinding kamar klinik, kulit perut Maya yang semula mulus kini tidak hanya dipenuhi lebam hitam legam yang melingkar.

Di balik lapisan kulit yang tipis itu, tampak sesuatu sedang bergerak dengan cara yang sangat tidak manusiawi.

​Itu bukan gerakan halus janin yang menendang rahim ibunya. Gerakan ini kasar, bersudut, dan cepat—seperti ada seekor binatang melata raksasa atau gumpalan serat kayu yang sedang menggeliat hebat di dalam sana. Gundukan besar di perut Maya mendadak bergeser secara ekstrem.

​Srek! Srek!

​Gundukan itu bergerak naik dari rahim bawah, merayap lambat ke arah lambung kanan, menciptakan tonjolan tajam yang meregangkan kulit perut Maya hingga nyaris robek.

Maya menjerit sejadi-jadinya, melengkungkan punggungnya ke atas menahan rasa sakit yang luar biasa.

​"Dia pindah, Mas! Dia tidak ada di rahim lagi! Dia merayap ke atas!" raung Maya, air matanya bercampur darah tipis yang kembali merembes dari sela-sela gusi.

​"Ya Tuhan ... Maya ...." Aryo mencoba menyentuh perut itu, namun begitu telapak tangannya menempel pada kulit perut Maya, ia langsung menariknya kembali dengan sentakan kaget.

​Kulit perut itu tidak lagi terasa seperti daging manusia. Rasanya keras, berserat, dan sangat dingin—persis seperti tekstur batang bambu kering yang baru saja dikeluarkan dari dalam lumpur es.

Lebih mengerikan lagi, di bawah telapak tangannya tadi, Aryo bisa merasakan ada sesuatu yang berderit kaku, seolah bilah-bilah kayu tajam sedang saling bergesekan di dalam organ dalam istri mudanya.

​Srekk ... srekk ... srekk ....

​Suara gesekan itu tidak lagi fiktif atau datang dari luar jendela. Suara derit rumpun bambu yang selama ini meneror mimpi buruk mereka kini terdengar jelas keluar langsung dari dalam rongga tubuh Maya.

​Tonjolan di perut Maya terus bermutasi. Dari lambung kanan, gundukan itu bergeser cepat menuju ke arah rusuk kiri, menyisakan jalur memar kemerahan yang melepuh di sepanjang kulit yang dilewatinya.

Setiap kali gundukan itu berpindah, Maya memuntahkan cairan lendir hitam yang pekat ke atas sprei putih klinik, membanjiri ruangan dengan aroma busuk bunga kantil hangus yang sangat pekat.

​"Mas ... ini bukan anak kita ... ini bukan bayi ...." bisik Maya, suaranya mendadak melorot drastis, menjadi sangat lemah seiring dengan bergesernya gundukan itu menuju ke arah dadanya.

Matanya mulai berputar ke atas, menyisakan bagian putih yang mengerikan.

"Ada akar ... akar yang tumbuh di dalam badanku ... mereka sedang memakan jantungku, Mas. Aaaaaa ...."

Maya terus merintih pilu.

​Aryo panik setengah mati. Ia menerjang pintu kamar, berteriak memanggil perawat dan dokter jaga di lorong klinik yang sepi.

"Tolong! Dokter! Suster! Istri saya sekarat! Tolong!"

​Dua orang perawat dan seorang dokter muda berlari masuk ke dalam kamar. Namun, begitu mereka melihat kondisi Maya yang sedang kejang-kejang dengan gundukan perut yang bergerak-gerak liar ke arah dada, langkah kaki ketiga tenaga medis itu langsung terhenti di ambang pintu. Wajah mereka memancarkan ketakutan yang nyata.

​"I-itu ... apa itu?" bisik salah satu perawat, mundur selangkah dengan tangan menutup mulut, menolak untuk mendekati ranjang.

​"Dokter! Lakukan sesuatu! Beri dia obat penenang atau apa saja!" raung Aryo, mencengkeram kerah jas dokter muda itu dengan frustrasi.

​Dokter muda itu gemetar, melihat monitor tanda vital Maya yang menunjukkan angka tekanan darah yang merosot tajam ke titik kritis, sementara detak jantungnya melonjak tak keruan.

"Ini ... ini tidak masuk akal secara anatomi. Saya tidak bisa memberikan tindakan medis jika gejalanya ... seperti ini, Pak."

​Tepat pada detik itu, gerakan di dalam tubuh Maya mendadak berhenti secara instan.

​Gundukan besar itu kini mengunci posisinya tepat di bagian tengah dada Maya, di atas ulu hati. Suara derit bambu mereda, menyisakan keheningan yang teramat sangat mencekam di dalam kamar klinik.

​Maya berhenti kejang. Tubuhnya ambruk kembali ke atas bantal, napasnya keluar satu-satu secara perlahan dari balik masker oksigen yang sudah berembun hitam.

Sepasang matanya yang kuyu terbuka sedikit, menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pandangan yang sepenuhnya kosong, kehilangan seluruh binar kehidupan.

​Namun, kengerian malam itu belum selesai.

​Dari dalam rongga dada Maya, di balik tonjolan kaku yang menetap di sana, perlahan terdengar suara detak jantung yang baru. Detak jantung itu bukan milik Maya, bukan pula milik janin manusia yang lemah.

Detaknya lambat, berat, dan bergaung konstan ... dug ... dug ... dug ... menyerupai suara ketukan pintu kayu kuno rumah joglo di Banyuwangi yang berjarak seribu kilometer dari sana.

​Bersamaan dengan detak asing itu, kulit di bagian tengah dada Maya perlahan-lahan mulai berubah warna. Warna abu-abu kehitaman merayap cepat, mengubah tekstur kulit manusianya menjadi berserat-serat kasar menyerupai kulit pelepah bambu kering (kelopak pring).

​Aryo jatuh berlutut di samping ranjang, melepaskan cengkeramannya dari kerah baju sang dokter.

Air matanya mengalir deras, membasahi tangannya yang kini memegangi jemari Maya yang sudah mulai mendingin bagai mayat.

​Ia tahu, diagnosis medis sekali lagi telah kalah telak. Santet Pring Sedapur tidak hanya memindahkan janin mereka; kutukan itu telah merampas ruang rahim tersebut, menghancurkan benih darah pengkhianat Aryo, dan menggantinya dengan benih kutukan baru yang kini tumbuh subur di dalam dada Maya—siap untuk mekar dan meruntuhkan sisa-sisa keturunan Aryo hingga ke akar-akarnya.

​Di luar klinik, angin malam berembus kencang, menggoyang sebatang pohon tua di pekarangan hingga rantingnya mengetuk kaca jendela kamar dengan ritme yang sama, seolah memberi salam selamat datang pada mahluk baru yang baru saja lahir di dalam dada sang korban.

1
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
kinoy
dah lah speechless AQ..nr x ni baca crt mistis tp penjelasannya runtut jls
kinoy
ah tmbh seru aj ni crt
kinoy
cerdik x tuh detektif
Buna
ya Allah, jauh amat typo-nya. dari sekarat ke sejarah 😆😆😆
kinoy
wah..mulai ancur2an ni
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Kenapa Mbah Sukri tahu soal kisah hidup Sekar yaa 🤔

Apakah cerita penghianatan Aryo telah beredar luas di desa Sekar?
Buna: Mbah Sukri bukan orang biasa, Kak. Penjelasan ada di Bab selanjutnya. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!