Gymora Sasami seorang mahasiswa yang terkenal akan kepintarannya, dia juga putri tunggal keluarga kaya.
Dia selalu dipuji dan dieluh-eluhkan di kampus.
Namun, citra yang sebelumnya sudah dibangun olehnya terancam dihancurkan oleh seorang Badboy kampus yang tidak sengaja memergoki dirinya digudang saat sedang memuaskan dirinya sendiri.
Pagi itu digudang, Draka Nilon mengambil alat yang ada ditangan Gymora, hal itu membuat Gymora yang akan mencapai titik kepuasannya terkejut.
"Aku tidak menyangka, seorang wanita cantik yang terkenal pintar dan jual mahal di kampus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini," sindir Draka.
Gymora langsung menutup tubuh bagian bawahnya.
"Draka aku mohon, jangan sebarkan video itu!" pinta Gymora.
Melihat Draka yang diam, Gymora terus memohon.
"Karena kamu terus memohon dan berlutut, baiklah kita buat kesepakatan. Kalau kamu ingin aku tidak menyebarkan videomu itu. Kamu harus melayaniku!"
Kedua bola mata Gymora membelalak, mengingat dia belum pernah melaku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
Draka tiba-tiba mendapatkan pesan dari ibunya.
(Sekarang kamu harus pergi ke kediaman Tuan Timoty sekarang. Ayah dan ibu sudah berada disini.)
Draka malah mematikan ponselnya, ia tidak peduli dengan amarah kedua orang tuanya.
Sementara Roland masih memperhatikan gerak-gerik putrinya. Ia sebenarnya sangat merasa kasihan, tapi ia takut. Kalau sampai Selena berbuat jahat pada Gymora.
Bagaimana pun juga, kalau ingin melawan Selena. Ia harus mencari bukti yang sangat kuat dulu.
Tidak menutup kemungkinan, jika dihadapkan dengan Selena yang selama ini terlihat setia dan menjadi tangan kanan ayahnya.
Ayahnya lebih mempercayai Selena dibandingkan dengan dirinya.
Tak berselang lama, pendeta mulai membacakan beberapa doa.
Setelah selesai.
Jenazah Alan Timoti dengan perlahan diselimuti kain putih dan digeser masuk ke dalam ruang kremasi yang remang.
Suasana di ruang itu dipenuhi aroma dupa dan kesedihan yang pekat.
Di sudut ruangan, Gymora berdiri dengan tubuh yang masih gemetar, matanya merah tanpa air mata.
Draka segera merangkul tubuh Gymora yang hampir limbung, menahan agar gadis itu tidak terjatuh.
Pelukan itu hangat, namun tak mampu meredam badai emosi yang berkecamuk di dada Gymora. Sementara itu, Gwen terduduk lemas di kursi dekat altar.
Wajahnya yang pucat berubah menjadi putih pasi saat tubuhnya mendadak kehilangan tenaga, lalu terkulai pingsan.
Tiba-tiba bayang-bayang Alan yang tersenyum hangat padanya melintas dibenaknya.
Ingatannya dipenuhi saat-saat awal menikah, keduanya hidup sangat harmonis bahkan semakin bahagia sejak kehadiran Gymora.
Alan seorang yang sangat bertanggung jawab, ia bekerja meniti karir di pemerintahan dari bawah.
Walaupun susah dan sibuk, Alan selalu menyempatkan diri memasak dan membantunya mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan Alan selalu menemaninya kemanapun ia pergi.
Bahkan sejak hamil sampai melahirkan, Alan tidak absen mengantarnya ke dokter.
Tapi kebahagiaan itu hancur, setelah ia pergi acara reuni dan bertemu dengan Gunawan.
Masa lalu yang indah tanpa celah dan kesusahan berputar-putar, Gunawan cinta pertamanya terus mengusik kehidupannya.
Akhirnya kenangan masa lalu saat remaja berputar diotaknya, beberapa impian dengan Gunawan yang sbelumnya hanya angan-angan membuat Gwen menjadi terobsesi untuk mewujudkannya.
Alan bukan tipe pria yang romantis, tapi Alan sangat perhatian dan selalu mengerti dirinya.
Makanya Gwen sangat tergoda dengan Gunawan yang kharismatik, lebih tampan dan sangat romantis.
Tubuh Gwen terjatuh lemah, dikejar oleh beberapa kerabat yang segera membantu membopongnya ke luar ruangan.
Gymora hanya melirik ke arah ibunya dengan tatapan dingin, penuh kebencian yang membara.
Ia tahu betul, kebenaran yang tersembunyi di balik tuduhan korupsi yang menimpa ayahnya—semua berawal dari ambisi dan kekerasan hati Gwen yang ingin segera bercerai dengan ayahnya.
Dalam benaknya, pertanyaan menggema tanpa henti: "Ayah sudah setuju bercerai, kenapa Ibu harus sejahat ini?" Rasanya seperti duri yang menusuk hati setiap kali ingatan itu hadir.
Kebencian itu tumbuh menjadi api yang sulit dipadamkan, membakar setiap kenangan yang pernah ada.
Gymora bertekad untuk mengeraskan hatinya, menolak lagi belas kasihan dan harapan akan kedamaian yang pernah dia impikan untuk bersama ibunya.
Setelah prosesinya selesai, Gymora memeluk guci abu ayahnya dengan wajah penuh kepedihan namun tanpa air mata.
Alan dari kejauhan hatinya menghangat, ternyata selain kedua orang tuanya. Masih ada putrinya yang benar-benar tulus sayang kepadanya.
Dari kejauhan, Alan melihat putrinya menebar abu ke laut.
Draka terus menggenggam tangan Gymora penuh simpati.
"Ayah tenanglah disana, aku nggak bakalan membuatmu kecewa disini." Gumam Gymora dalam hatinya.
Alan sudah mendapatkan beberapa informasi Draka dari Gio.
"Jadi pria itu juga melakukan penyamaran." Ucap Alan alias Roland dengan wajah terkejut.
Gio mengangguk, lalu menjelaskan beberapa informasi Draka dengan detail.
"Sepertinya ini sangat rumit." gumam Roland, sekarang ini ia sedang menimang-nimang keputusan selanjutnya.
"Oke terimakasih, lebih baik kita segera kembali ke perusahaan. Untuk pengalihan seluruh saham Timothy group."
"Untuk Draka, nanti malam atur pertemuan rahasia dengannya." Imbuh Roland pada Gio.
Roland berencana untuk mengambil apa yang harusnya menjadi miliknya terlebih dahulu.
Dia bukan orang bodoh, tentu saja kecerdasan Gymora menurun dari otaknya.
Kalau bukan kerja kerasnya, tidak mungkin perusahaan milik Gwen berkembang sangat pesat seperti sekarang.
Sekarang yang Roland pikirkan jalan untuk melawan Selena yang licik, karena wanita itu selalu menggunakan kepolosannya dihadapan ayahnya yang sudah tua.
Dylan tiba-tiba datang ke rumah duka, lalu membisikkan sesuatu pada Draka sesat setelah pria itu turun dari perahu untuk menabur abu.
"Gymora, aku pergi dulu ada urusan," ucap Draka seraya menyerahkan paperbag pada Gymora.
Gymora bingung menatap Draka penuh tanda tanya.
Dengan wajah yang terlihat pasrah, Draka menghembuskan napas kasar. "Aku ada urusan mendadak. Kamu bersihkan diri dulu dan ganti baju ini di kamar mandi rumah duka, lagian masih ada beberapa kerabat dari keluarga ibumu. Dua jam lagi, aku sudah sampai sini untuk menjemputmu."
Sebenarnya Gymora ingin langsung pulang ke apartemen, tapi ... Apartemen itu milik Draka. Ia hanya kekasih dadakan Draka.
Ia merasa sangat tidak pantas dan sangat tidak percaya diri untuk memaksa Draka.
Dengan hati yang berat, Gymora mengangguk patuh.
Melihat tatapan Gymora, Draka merasa tidak rela meninggalkan gadis itu.
Tapi, ia takut ibunya akan curiga dan malah menyelidiki dirinya stau bahkan mengusik Gymora.
Tentu saja ia tidak mau itu terjadi, bagaimana pun dibandingkan dengan Sachi.
Draka lebih nyaman berada didekat Gymora.
Apalagi ... Hmmm itu ... Sungguh masih terbayang-bayang diotaknya, ditambah lagi saat melakukan hubungan terlarang dengan Gymora.
Bisa-bisa Draka meneteskan air liur.
Gymora masuk ke dalam kamar mandi umum di rumah duka, didalam kamar mandi ia menangis sejadinya.
Mengingat kehidupannya yang penuh penderitaan yang selama ini dialaminya, lalu mengingat ayahnya.
"Kenapa hidupku harus menderita seperti ini? Ayah ... Kamu satu-satunya alasan aku bertahan hidup dan bersemangat. Kenapa kamu meninggalkanku?!" Gymora hanya bisa meraung dalam hatinya.
Ia menangis terisak-isak dalam diam.
Setelah satu jam berlalu dengan mata sembab, Gymora keluar dari kamar mandi.
Ia berjalan dengan langkah menunduk, karena sekarang ini rasa percaya dirinya sudah hilang.
Karena sebelum masuk ke dalam kamar mandi, ia berpapasan dengan kerabat ibunya yang melontarkan beberapa hinaan dan kata-kata kasar.
Ia yang sedang dalam suasana hati buruk dan berduka, tentu saja merasa sangat sedih dengan hinaan dan kata-kata kasar yang keluar dari orang lain.
Padahal dulunya Gymora selalu berusaha bersikap baik dan menyenangkan mereka.
Tapi kenapa mereka bersikap sejahat ini pada dirinya?
Tentu saja jawabannya ada pada sikap ibunya terhadapnya, yaitu Gwen.
Tiba-tiba Gymora menabrak dada seseorang, saat akan terjatuh ada seseorang yang memegangi punggungnya.
Gymora sontak mendongakkan wajahnya. "Kak ... Wiliam ... "
Gymora yang belum sadar, menatap Wiliam penuh cinta.
Hal itu sontak membuat Wiliam tersenyum miring dan penuh percaya diri.
"Siapa pria yang tadi bersamamu? Aku nggak menyangka kamu semurah itu," ucap Wiliam dengan suara dingin dan kasar.
Bahkan ia mendorong tubuh Gymora, membuat tubuhnya terjatuh.
cerita nya seruuu👍