Raymond yang dulunya penduduk bumi, mendapati dirinya bereinkarnasi menjadi Rock Lee di anime Naruto. Dalam kepanikannya menerima kenyataan, tiba-tiba dia membalikkan cheat yang dulu dia buat saat main game mobil sewaktu di bumi. Regenerasi tak terbatas dan kebal terhadap ilusi genjutsu. Uchiha Madara: Sialan apakah dia masih manusia. Penulis : hallo semua, saya ingin bersenang-senang membuat novel fanfic ini, selamat membaca..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billy Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
Keheningan di Ruang 301 kini terasa begitu pekat hingga suara detak jarum jam dinding terdengar seperti hantaman palu yang berulang-ulang. Empat puluh lima menit telah berlalu, dan jumlah peserta di dalam ruangan sudah berkurang hampir sepertiganya. Kursi-kursi kosong yang ditinggalkan oleh mereka yang tereliminasi karena ketahuan menyontek secara ceroboh bertebaran di sana-sini, meninggalkan sisa-sisa tekanan psikologis bagi mereka yang masih bertahan.
Ibiki Morino berbalik perlahan dari jendela. Langkah kakinya yang berat saat berjalan menuju meja penguji di depan kelas menciptakan ketegangan baru yang membuat beberapa Genin menelan ludah dengan susah payah.
"Baiklah, waktu untuk sembilan soal pertama sudah habis," ujar Ibiki, suaranya terdengar sangat datar namun penuh dengan otoritas yang menekan. "Sekarang, aku akan memberikan soal kesepuluh, soal terakhir yang akan menentukan nasib kalian semua di ujian ini."
Dia berhenti sejenak, membiarkan matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, mengunci pandangan pada setiap wajah yang tampak tegang. "Namun, sebelum aku memberikan soal ini... ada aturan khusus yang harus kalian pilih."
"Aturan khusus?" Temari dari Sunagakure menyipitkan matanya, meremas kipas raksasa yang bersandar di samping kursinya. "Aturan macam apa lagi ini?"
"Kalian harus memilih apakah ingin mengambil soal kesepuluh ini atau tidak," jawab Ibiki sambil menyilangkan tangannya di dada. "Jika kalian memilih untuk tidak mengambilnya, maka poin kalian otomatis menjadi nol. Artinya, kalian dan seluruh anggota tim kalian dinyatakan gugur di tempat, dan kalian harus mengulang ujian ini tahun depan."
"Apa-apaan?! Kalau begitu tentu saja kami harus mengambilnya!" teriak salah satu Genin dari Otogakure dengan nada kesal.
"Tunggu, aku belum selesai berbicara," potong Ibiki, nadanya mendingin hingga membuat suhu di dalam ruangan terasa turun beberapa derajat. "Jika kalian memilih untuk mengambil soal kesepuluh ini, dan kalian ternyata menjawabnya dengan salah... maka hukumannya adalah... kalian akan kehilangan hak untuk mengikuti Ujian Chuunin seumur hidup kalian! Kalian akan tetap menjadi Genin selamanya!"
BOOM!
Kata-kata itu seperti ledakan bom tak terlihat yang menghancurkan mental para peserta. Jeritan protes dan ketakutan langsung pecah di dalam ruangan.
"Aturan macam apa itu?! Itu tidak adil!"
"Di sini ada banyak ninja senior yang sudah ikut berkali-kali! Bagaimana bisa kamu menentukan masa depan kami hanya dengan satu soal?!"
"Peraturan adalah peraturan, dan akulah peraturannya di sini!" Ibiki membentak, auranya yang meledak membuat seluruh ruangan kembali bungkam secara paksa. "Jika kalian tidak sanggup menerima risiko ini, silakan angkat tangan kalian sekarang juga! Tinggalkan ruangan ini bersama tim kalian dengan damai, dan cobalah lagi tahun depan!"
Di sudut ruangan, suasana di antara anggota Tim Guy terasa sangat sunyi. Tenten melirik ke arah Neji melalui sudut matanya, mencoba mencari kepastian. Neji sendiri tetap tenang, namun rahangnya mengencang. Dia tahu risiko ini sangat konyol, tapi sebagai seorang jenius dari klan Hyuga, harga dirinya tidak akan membiarkannya mundur sebelum bertarung.
Sementara itu, Lee tetap duduk dengan posisi tegak sempurna. Di dalam pikirannya, Reymond justru merasa kagum dengan metode intimidasi psikologis yang digunakan oleh Ibiki. Ini adalah taktik interogasi tingkat tinggi yang menghancurkan benteng pertahanan mental dari dalam dengan memanfaatkan rasa takut akan kegagalan absolut.
Sistem... apakah ada fluktuasi emosional yang mengganggu fungsi tubuhku saat ini? Lee bertanya di dalam hatinya.
[Negatif. Sistem saraf otonom stabil. Detak jantung konstan di 65 BPM. Hormon kortisol berada di bawah ambang batas kecemasan.]
Lee tersenyum tipis. Dengan kestabilan mental seperti ini, ancaman seumur hidup menjadi Genin sama sekali tidak berpengaruh padanya. Dia tahu persis bahwa esensi dari pertanyaan ini bukan tentang benar atau salahnya jawaban di atas kertas, melainkan tentang keberanian seorang shinobi untuk menghadapi ketidakpastian dalam misi yang paling berbahaya sekalipun.
Satu per satu, tekanan psikologis itu mulai memakan korban. Seorang Genin di barisan belakang perlahan-lahan mengangkat tangannya dengan gemetar, air mata frustrasi mulai mengalir di pipinya. "Aku... aku mundur! Maafkan aku, teman-teman... aku tidak bisa mempertaruhkan masa depanku!"
"Nomor 52 gugur! Timnya silakan tinggalkan ruangan!" seru pengawas di dekatnya.
Mundurnya satu orang memicu efek domino. Tangan-tangan lain mulai terangkat di berbagai sudut ruangan. Suara isak tangis, gumaman maaf, dan derit kursi yang digeser memenuhi ruangan selama beberapa menit berikutnya. Setiap kali sebuah tim melangkah keluar dari pintu, beban mental bagi mereka yang bertahan terasa semakin berat.
Naruto di barisan depan juga tampak bergetar hebat. Tangannya perlahan terangkat ke udara, membuat semua orang yang mengenalnya menahan napas. Namun, alih-alih menyatakan mundur, Naruto justru menghantamkan telapak tangannya ke atas meja dengan sangat keras hingga menciptakan suara debuman yang mengejutkan semua orang.
"Jangan remehkan aku!" Naruto berteriak dengan mata yang berkilat penuh amarah dan tekad yang membara. "Aku tidak akan peduli jika harus menjadi Genin seumur hidup! Aku akan tetap berlatih, dan aku akan tetap menjadi Hokage, tidak peduli apa pun rintangan yang kalian berikan! Aku tidak takut dengan soal bodoh kalian!"
Kata-kata Naruto yang penuh dengan kebodohan yang berani itu entah bagaimana langsung menghancurkan kabut ketakutan yang menyelimuti ruangan. Para peserta yang tadinya ragu-ragu mendadak tersadar, wajah-wajah yang tadinya pucat kini kembali dialiri oleh darah keberanian.
Ibiki menatap Naruto selama beberapa detik, lalu pandangannya beralih ke seluruh ruangan. Dia melihat ke arah Neji yang tersenyum sinis, ke arah Gaara yang tetap dingin, dan akhirnya ke arah Rock Lee yang menatapnya balik dengan tatapan yang begitu tenang, seolah-olah Lee sudah mengetahui seluruh permainan ini sejak awal.
Ibiki menghela napas panjang, lalu senyum tipis yang tulus—sesuatu yang sangat jarang terlihat di wajah sang interogator—muncul di bibirnya. Dia meletakkan kapur tulisnya ke dalam kotak.
"Bagus. Masih ada lebih dari delapan puluh orang yang bertahan," kata Ibiki, suaranya kini terdengar jauh lebih ramah daripada sebelumnya. "Untuk kalian semua yang masih duduk di kursi kalian masing-masing saat ini... aku menyatakan bahwa... kalian semua... LULUS babak pertama!"
"Hah?! Apa?!" Naruto langsung melongo dengan wajah komikal, sementara ruangan kembali riuh oleh kebingungan. "Lalu bagaimana dengan soal kesepuluh?!"
"Tidak ada soal kesepuluh," Ibiki tertawa kecil, menepuk mantelnya yang berdebu. "Atau lebih tepatnya, pilihan kalian untuk tetap tinggal di sini di bawah ancaman hukuman seumur hidup... itulah jawaban dari soal kesepuluh. Seorang shinobi yang tidak memiliki keberanian untuk mengambil risiko di tengah ketidakpastian tidak akan pernah layak menjadi seorang Chuunin yang memimpin sebuah tim di medan perang."
Tenten mengembuskan napas panjang yang sangat lega, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lemas. "Astaga... itu tadi benar-benar menguras umurku beberapa tahun."
"Taktik yang cerdas," gumam Neji, matanya kembali normal saat dia menonaktifkan Byakugan-nya. Dia melirik ke arah Lee yang sedang merapikan pensilnya. "Tampaknya kamu sama sekali tidak terkejut, Lee."
"Masa muda tidak pernah ragu dalam mengambil keputusan, Neji," jawab Lee sambil berdiri dari kursinya saat para peserta lain mulai bersorak merayakan kelulusan mereka. "Dan jalan di depan kita baru saja terbuka."
Tepat saat suasana ruangan mulai mencair, jendela besar di belakang Ibiki mendadak pecah berkeping-keping. Sebuah kain spanduk raksasa melesat masuk, menancap kuat di langit-langit dan lantai kayu menggunakan dua buah kunai besar. Di tengah kepulan asap yang baru muncul, seorang wanita dengan pakaian jaring-jaring ketat dan jubah cokelat mendarat dengan pose yang sangat dramatis. Anko Mitarashi. Pengawas babak kedua.
"Kalian para pemula, jangan senang dulu!" Anko berteriak dengan senyum liar yang penuh dengan kegembiraan yang berbahaya. "Perayaan kalian selesai di sini! Aku adalah Anko Mitarashi, pengawas babak kedua kalian, dan aku akan memastikan bahwa di babak selanjutnya... jumlah kalian akan berkurang menjadi kurang dari setengahnya! Ikuti aku ke Hutan Kematian besok pagi!"
Lee menatap spanduk raksasa itu yang bertuliskan 'Babak Kedua: Hutan Kematian'. Seringai tipis yang penuh dengan antisipasi kembali muncul di wajahnya. Di hutan itulah, tirai pertarungan yang sesungguhnya akan segera dibuka, dan Reymond sudah tidak sabar untuk menunjukkan pada dunia seberapa jauh Rock Lee yang baru bisa melangkah.