"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam mencekam
Rani duduk di samping Roman, dia di tatap semua orang yang ada di ruang makan itu dengan tatapan terkejut karena Rani yang sudah tidak mereka lihat selama dua tahun sudah berubah jadi sosok Rani yang begitu berbeda, dulu tubuhnya kurus karena Radini sering mengambil darah Rani untuk dia jadikan alat agar dia awet muda, sekarang tubuh Rani begitu sehat, bahkan Rani begitu menggemaskan di mata Hatta yang terus tersenyum ramah padanya.
"Makan nak" ucap Roman tapi Rani hanya diam saja menatap semua orang dengan tatapan datar.
"Kenapa menatap kami begitu? bersikaplah sopan dan jadilah perempuan keluarga Sukarna yang terhormat!" ucap Radiah tapi Rani juga hanya diam saja.
"Bu, Rani tuli" ucap Radini membuat semua orang menatapnya.
"Rani biasa berkomunikasi lewat tulisan Bu, Rani sudah bisa membaca, hanya menulis saja yang masih kaku" ungkap Roman.
"Rani, makan" ucap Radini menunjukkan gestur orang yang sedang makan.
"Lani tidak mau, makanan ini kotol" jawab Rani
"Kotor? apa maksudmu!" bentak Radiah kesal dan Rani kembali berpura pura tidak mendengarnya.
"Rani, kenapa makanan ini kotor?" tanya Hatta menulis di buku yang di bawa Rani.
"Di pegang dan di jilat kambing beltanduk" jawab Rani menunjuk Luca yang ada di belakang Radiah.
"Tidak ada apapun di sana nak" ucap Roman
"Mungkin Rani berhalusinasi kak" ucap Radini menyodorkan sendok berisi makanan supaya Rani mau makan.
Prang.
"Astaga Rani!" bentak Radiah saat Rani menepis tangan Radini dan makanan itu tumpah ke meja.
"Rani, jangan begitu nak" bujuk Roman
"Sepertinya Rani harus segera di belikan alat bantu dengar kak, supaya bisa berkomunikasi dengan kita dan tidak di anggap aneh nantinya" ucap Hatta
"Iya, dokter bilang yang paling bagus akan tiba besok, alatnya canggih dan mirip dengan anting" jawab Roman berbohong.
"Teknologi sekarang ternyata canggih canggih ya, bagus kalau Rani bisa mendengar lagi, nyai, tidak apa apa kalau Rani belum mau kamu suapi, mungkin karena Rani baru pertama kali keluar kamar setelah bertahun tahun" bujuk Hatta
"Iya kang mas, aku hanya sedih karena Raniku berubah begitu banyak, padahal dulu Rani begitu menempel padaku" jawab Radini berpura pura sedih.
Luca mulai kesal, dia melemparkan ludahnya ke arah Rani, tapi ludahnya malah terpental dan mengenai gelas milik Hatta sampai gelas itu pecah dan hancur berkeping keping.
Prang.
"Astaga! kenapa ini bisa pecah" kaget Hatta dan asisten rumah tangga segera membereskan pacahan gelas itu.
"Pergi!" perintah Radini pada para asisten rumah tangganya.
"Baik nyai" jawab semuanya segera meninggalkan ruang makan bahkan mereka pergi ke paviliun tempat mereka tidur karena kalau Radini meminta mereka pergi, itu artinya pergi juga dari dalam area rumah.
Rani menunduk, dia menggenggam tangan Roman karena energi Luca benar benar membuatnya ketakutan, tapi dia tidak mau menyerah, dia ingin sekolah dan dia ingin bertemu dengan Argadana dan Anggadana di luar rumah itu, bahkan dia ingin pergi sejauh mungkin dari rumah yang sudah membuatnya kehilangan ibu dan dua kakaknya.
"Apa yang terjadi?" bisik Radini
"Aku ingin membuat anak itu kesakitan dengan ludahku, tapi ludahku terpental seperti ada sesuatu yang sudah melindungi anak itu" bisik Luca
"Ibu, mungkin itu teluh dari musuh ibu, sebaiknya jangan makan makanan ini" ucap Roman
"Tidak, itu hanya kebetulan saja gelasnya pecah" jawab Radiah melirik Hatta yang juga mulai curiga.
"Nak Hatta, jangan di pikirkan, makanan ini bersih dan ibu akan membuktikannya" bujuk Radiah memakan makanan di piringnya.
Satu suapan tidak ada yang terjadi, bahkan Radini juga makan dengan lahap, tapi di suapan ke tiga, tenggorokan Radiah mulai terasa panas, bahkan Radiah sudah tidak mampu lagi mengunyah makanannya.
"Hhkkk..."
"Ibu!" panik Roman saat Radiah memegangi lehernya.
"Minum ini Bu, sudah Roman bilang jangan di makan, banyak yang tidak suka pada ibu dan Radini" ucap Roman lagi terlihat khawatir
"Ada apa dengan ibu, jangan jangan benar ini teluh, Radini jangan makan makanan ini" ucap Hatta membuang piring Radini.
"Kang mas, kenapa di buang!" bentak Radini
"Itu ada teluhnya Radini" jawab Hatta
"Aakhhhh! Teluh Teluh terus! ibu hanya sakit tenggorokan!" bentak Radini mengambil kembali makanan yang sudah berserakan di lantai ke dalam piring baru, bahkan Radini tidak peduli meskipun ada pecahan beling di dalam nasi itu.
Radini harus menghabiskan makanan itu tanpa sisa, karena kalau dia tidak menghabiskan makanan itu, Luca akan memarahinya dan mengambil salah satu ladang kekayaan Radini.
"Radini! itu kotor!" kaget Hatta berusaha menghentikan Radini tapi Radini malah mendorong Hatta.
"Roman, bawa Hatta!" ucap Radiah dengan suara serak karena dia terkena pengaruh dari ari ari yang di bawa oleh Rani.
Luca melotot pada Rani, di tahu semua kegaduhan itu adalah karena ulah Rani tapi dia tidak bisa mengurusnya sekarang dia harus membantu Radini yang sekarang sedang memakan nasi bercampur pecahan kecil dari piring yang di jatuhkan Hatta.
"Radini!"
"Hatta hentikan, Radini tidak akan mendengarkan siapapun kalau masalah makanan itu, berhenti!" ucap Roman menarik tangan Hatta
"Tapi itu kotor dan ada belingnya" jawab Hatta
"Kak Roman!" bentak Radini dan Roman segera memukul tengkuk Hatta hingga pingsan.
"Nak, segera selesaikan ritual kamu setelah itu pergi ke kamar, jangan sampai suami kamu curiga pada kita, dan kamu Roman! urus anak kamu itu! jauhkan dari kami karena dia anak pembawa malapetaka!" bentak Radiah mulai merasa kepanasan.
"Istriku, aku akan menyembuhkan lukamu, makan makanan itu sampai tak bersisa dan datanglah ke kamar persembahan, aku akan menyembuhkan kamu" ucap Luca
"Baik yang mulia" jawab Radini yang lidahnya sudah di penuhi darah.
Roman menatap tak percaya pemandangan kedua perempuan yang ada di hadapannya, yang satu sudah kepanasan memegangi lehernya karena dia sudah tidak di lindungi Luca lagi, dan yang satu memakan makanan penuh dengan pecahan beling, benar benar perempuan pemuja iblis yang sesungguhnya, lebih peduli pada harta dan kekuasaan mereka di banding nyawa mereka sendiri.
"Roman! bawa ibu ke kamar!" ucap Radiah
Roman menoleh, dia menatap Rani lalu mengangguk agar anaknya itu kembali ke kamar dan Roman membawa Radiah ke kamarnya. Tapi saat Rani berlari ke arah kamar Roman, Luca melesat dengan kencang menghadang jalan Rani sampai Rani terjatuh karena berhenti mendadak.
"Hahahah... bocah kecil seperti kamu bisa apa saat tidak ada yang melindungi! aku.. aku akan memakan kamu seperti aku memakan kakak kakakmu!" ejek Luca tapi Rani sebisa mungkin tidak menanggapi omongan Luca.
Sahara ayo neng bales it si rudin