NovelToon NovelToon
Detektif Kacau Balau

Detektif Kacau Balau

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mata-mata/Agen / Persahabatan / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pencarian Soto Ayam yang Hilang

Langit pagi di Malang penuh dengan awan kelabu seperti selimut tebal yang dihamparkan tergesa-gesa oleh orang yang malas merapikan tempat tidur. Udara basah meresap masuk ke dalam lapisan kain jaket hoodie hijau tua yang dikenakan oleh Tento, memberi sensasi sejuk di kulitnya. Ia keluar dari gerbang rumah kontrakan yang kecil, sambil menyeringai kepada Pak RT yang sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Bau tanah basah bercampur dengan aroma cabai goreng dari dapur rumah tetangga menyelimuti jalan sempit itu, membuat perutnya keroncongan meski baru saja sarapan roti bakar tipis dan teh tawar.

Lalu, telepon bergetar di saku celananya, membuatnya terhenti di tengah langkah. Suara mesin motor dari kejauhan terdengar semakin dekat, dengan suara knalpot bising seperti orang batuk kronis. Tentunya, itu adalah motor Perikus, teman sepetualangannya yang gemuk dan tak pernah bosan membakar rokok satu batang demi satu batang. Motor tua berwarna hitam itu berhenti dengan rem mendadak di depan rumah kontrakan, hampir mencium dinding pagar yang baru dicat.

“Pagi, bro!” seru Perikus, sambil meletakkan kedua kakinya ke tanah, rokok kretek terselip di bibirnya, membuat aroma khas tembakau dan cengkeh terbang bercampur dengan bau mesin oli panas. Mata merahnya sedikit melotot, mengundang pertanyaan apakah dia tidur semalam atau menonton film horor sampai subuh.

“Pagi dari mana? Ini udah hampir jam sebelas. Gila, hidupmu mulainya siang banget,” jawab Tento sambil menguap, kemudian tersenyum. Kaca mata tebalnya berembun sebentar karena uap panas dari mulutnya yang belum sepenuhnya terbangun.

Perikus membuang abu rokoknya sembarangan ke tanah, kemudian menoleh dengan ekspresi serius yang sulit dipercaya. “Kamu harus ikut aku sekarang. Ada kasus baru. Dan ini bukan perkara rantai motorku putus karena ngebut di jalan,” ucapnya. Ia membuka kantung plastik di tangannya, memperlihatkan dua bungkus soto ayam yang berair dan masih hangat, aroma kaldu yang kaya rempah langsung naik ke udara.

“Ini bukan soto ayam sembarang, bro. Aku tadi mau makan di warung pakde Mat Selam di ujung gang, pas lagi nunggu soto datang, tiba-tiba ada nenek-nenek yang nyodorin secarik kertas sambil bilang, ‘Tolong kasih ini ke mantan aktivis kurus berkacamata, hobi minum teh tawar.’ Aku langsung mikir: astaga, deskripsinya kayak kamu banget, jadi aku ambil. Ini dia suratnya,” jelas Perikus sambil menyodorkan kertas kusut yang sudah agak basah oleh kuah soto yang menetes.

Tento meraih kertas itu dengan jari-jarinya yang kurus, membuka lipatan perlahan. Tinta di kertas itu hampir pudar, tetapi masih bisa terbaca: “Keputusan berada di tanganmu. Ada sesuatu yang lebih besar di balik kasus soto ayam ini. Temui kami di Lapangan Tidar malam ini sebelum jam delapan. Jangan sendirian.”

Tangan Tento sedikit gemetar, bukan karena takut, tetapi karena keingintahuan yang selalu menghantuinya. “Bahasanya begitu,” desisnya, sebuah kalimat refleks yang kerap keluar saat ia mencoba mengartikan keanehan yang terjadi. Pikirannya langsung berjalan cepat, menghubungkan titik-titik yang mungkin tidak berkaitan, seperti membangun jembatan imajinatif antara soto ayam dan konspirasi global.

“Aku tahu kamu bakal bilang gitu,” kata Perikus sambil mengambil tisu dari sakunya, mengelap keringat di pelipis. “Seharian ini aku nggak berhenti mikir, bro. Mungkin ada orang yang mau bikin soto ayam jadi portal ke dunia lain, atau mungkin sotonya diisi microchip buat mind control. Aku nggak tahu. Tapi, nenek itu ngomong sama aku dengan mata nanar seperti abis liat sesuatu. Aku nggak bisa bayangin… soalnya itu ngeri banget.”

Tento berusaha menahan tawa, namun tetap menjaga nada suaranya serius. “Kenapa kamu yang ketemu nenek itu, bukan aku? Mungkin semesta mau ngasih kamu kesempatan jadi pahlawan. Atau, ya, semesta lagi iseng aja ngirim orang random ke kita,” katanya sambil melipat kembali kertas itu.

“Apapun itu, aku rasa kita harus datang. Kalau nggak, aku takut bakalan kepikiran terus,” lanjut Perikus. Ia menyeka sedikit minyak di pipinya, kemudian menyerahkan satu bungkus soto kepada Tento. “Jangan lupa makan dulu, aku tahu kamu nggak suka makan pisang, tapi soto ayam pasti bikin otakmu jalan.”

“Kamu benar. Tapi kita belum tahu ini jebakan atau bukan. Kita harus persiapkan semuanya. Aku nggak mau dateng terus tiba-tiba kita dikepung sekelompok orang berjas hitam yang menodong pistol,” ujar Tento sambil membuka bungkus soto ayam. Aroma serai, kunyit, dan bawang merah yang ditumis menghampar ke udara, membuat air liurnya mengalir. Ia menyorotkan mata tajam ke Perikus. “Kamu punya feeling gimana soal ini? Jangan bilang lagi-lagi kamu ngeliat bayangan noni Belanda di warung.”

Perikus menghisap rokok dalam-dalam. “Aku nggak tahu, bro, aku cuma ngerasa ini bukan hal yang main-main. Mungkin ini berkaitan sama hilangnya beberapa pedagang soto minggu lalu… ingat? Atau mungkin yang hilang bukan sotonya, tapi ayamnya, dan ayamnya punya rahasia besar. Bisa jadi ini kelihatan receh tapi dalam banget, seperti lagu dangdut yang liriknya lucu tapi membuat kita merenung.”

Tento menahan tawa. “Kamu bener-bener butuh tidur lebih banyak,” ucapnya. “Tapi oke, aku setuju. Kita dateng ke Lapangan Tidar malam ini. Tapi sebelum itu, kita harus kumpulin informasi. Aku akan coba tanya beberapa kenalan dari kelompok aktivis lama, mungkin mereka punya isu yang lagi beredar.”

Mereka masuk ke dalam rumah kontrakan untuk makan soto ayam. Kuahnya panas, gurih, penuh potongan daging ayam dan taburan bawang goreng. Perasaan hangat membanjiri tenggorokan, namun pikiran mereka berdua mengembara ke malam hari nanti. Mereka duduk bersila di lantai, sebuah karpet tipis menjadi alas. Di sekitar mereka, suara televisi tetangga menyala memutar sinetron, bercampur dengan suara anak-anak bermain kejar-kejaran di luar.

Saat sendok mengetuk mangkuk, suara ponsel berdering lagi. Kali ini dari nomor yang sama sekali tak dikenal oleh mereka berdua. Tento mengangkat ponsel itu, menekan layar. Suara asing yang terdengar dari seberang; suara berat dengan latar belakang gemerisik, seperti seseorang berbicara sambil bersembunyi di balik tirai.

“Kalian menerima pesannya?” tanya suara itu tanpa identitas. “Jika iya, jangan bawa orang lain. Jangan bawa polisi. Ini bukan lelucon. Kami tahu siapa kalian. Kami tahu masa lalu kalian. Jika kalian gagal, konsekuensinya akan dirasakan banyak orang.”

Tento merasakan kulitnya merinding. “Kamu siapa? Kenapa harus kami?” tanyanya dengan suara tegas namun berusaha tenang. Ia menggerakkan jari-jari tangannya yang basah oleh kuah soto, menunjukkan tanda diam kepada Perikus.

“Karena kalian berdua punya kapasitas yang orang lain nggak punya. Satu skeptis, satu absurd. Kombinasi itu menakutkan bagi musuh kami,” balas suara itu. “Kami mengandalkan kalian untuk mengungkap sesuatu yang tersembunyi. Ingat, jam delapan malam ini, Lapangan Tidar. Kalau kalian batal, semua yang kalian cintai akan mendapat masalah.”

Klik. Sambungan terputus.

Perikus mengerutkan kening, menggigit cabai rawit kecil. “Seram juga ya, nada suaranya kayak tetangga kita yang selalu nuntut uang arisan,” katanya mencoba meredakan ketegangan. “Tapi, bro, ini makin jelas kita nggak bisa main-main. Kita harus siapin rencana cadangan.”

Setelah menyelesaikan makan siang mereka, mereka mulai mempersiapkan diri. Tento mengambil buku catatannya yang berwarna hitam, yang penuh dengan coretan-coretan teori konspirasi, nama-nama orang penting, dan diagram yang hanya masuk akal di kepalanya. Ia menuliskan beberapa poin: “Lapangan Tidar, jam 8 malam. Bawa senter. Sediakan rute keluar. Bawa minuman penyegar.” Sementara itu, Perikus mengemas tas kainnya dengan rokok, korek api, sebuah sarung yang entah kenapa selalu ia bawa, dan beberapa benda aneh seperti botol parfum masjid, yang katanya bisa mengusir roh jahat.

Tidak lama setelah itu, mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, mencari informasi di warung kopi tempat biasa para tukang ojek berkumpul. Warung kopi itu berada di pojok jalan yang ramai, atapnya dari seng, dindingnya hanya triplek. Aroma kopi hitam segar yang baru digiling menyeruak dari teko besar. Di meja, ada potongan singkong goreng dan pisang goreng yang menarik, meski Tento berpaling karena tak suka pisang.

Pak Mulyono, pemilik warung kopi, sedang membersihkan meja. Ia mengenal baik Tento karena sering berdiskusi tentang politik daerah sambil menonton siaran bola. Hari ini, matanya menatap heran melihat mereka berdua datang siang-siang.

“Kok tumben kalian datang jam segini? Biasanya kan malam-malam,” tanya Pak Mulyono. Suaranya parau namun hangat. “Minum kopi apa biasa?”

Tento duduk di bangku kayu, merasakan permukaannya yang kasar dan sedikit lengket. “Kopi hitam satu, Pak. Ini rokokku, Pak, buat tambahan dagangan,” kata Perikus sambil meletakkan bungkus rokok di meja. Ia memandang Pak Mulyono lekat-lekat. “Pak, aku mau nanya. Seminggu terakhir ada nggak orang aneh yang ngopi di sini? Atau mungkin ada kabar pedagang soto yang hilang?”

Pak Mulyono berhenti mengelap meja, matanya menyipit. Ia duduk di samping mereka dan menyalakan rokok. “Pedagang soto hilang? Waduh, banyak isu, Nak. Tapi kalau soal orang aneh, banyak,” ia tertawa kecil. “Serius, beberapa hari lalu ada laki-laki tinggi pakai jas hujan meski cuaca panas, duduk di pojok situ. Dia pesan kopi terus nanya soal seorang mantan aktivis kurus berkacamata. Aku kira dia cari kamu, Ten. Tapi aku bilang: ‘Nggak ada. Di sini adanya mantan aktivis gendut bau kopi.’ Dia langsung pergi, mukanya cemberut. Aku nggak tahu siapa.”

“Jas hujan? Panas-panas?” tanya Tento dengan alis terangkat. “Itu jelas aneh. Dan kenapa nanya tentang aku? Bahasanya begitu, kan, Pak?”

“Mungkin dia agen rahasia,” kata Perikus enteng. “Atau penjual jas hujan yang lagi promosi.”

Pak Mulyono tertawa lagi, namun lekukan di wajahnya berubah menjadi serius. “Selain itu, ada satu hal lagi, Nak. Dengar-dengar, ada pabrik tua di pinggiran kota yang dulu produksi makanan kaleng kini dipakai buat kegiatan penelitian rahasia. Beberapa orang yang kerja di sana nggak pernah pulang. Istri-istri mereka datang ke sini nangis, minta tolong. Tapi polisi nggak bisa bantu karena gak ada bukti. Mungkin itu yang kalian maksud.”

Tento dan Perikus saling pandang. “Pabrik tua? Apakah itu…,” ujar Tento, ingatannya melesat ke gedung yang mereka kunjungi beberapa waktu lalu. Ia merasakan kerongkongannya mengering. “Terima kasih, Pak. Info ini sangat berguna.”

Setelah minum kopi dan membayar, mereka meninggalkan warung kopi tersebut dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu yang besar yang menunggu malam itu. Mereka berjalan melewati jalanan kota yang mulai padat, suara klakson, pedagang kaki lima yang menjerit menawarkan dagangannya, dan anak-anak kecil yang memainkan petasan di sudut gang. Bau terasi dari warung nasi pecel menerobos hidung mereka, membuat perut kembali bernyanyi, tetapi kepala mereka sudah penuh dengan skenario.

Jam terus merangkak. Matahari bergeser ke barat, menebarkan cahaya emas ke sisi gedung-gedung tua. Tento duduk di depan laptopnya, mencari berita tentang pabrik makanan kaleng yang disebut Pak Mulyono. Ia menemukan sebuah artikel pendek yang menceritakan pabrik itu ditutup karena bangkrut, lalu dibeli oleh sebuah perusahaan besar bernama Pharmavita untuk dijadikan pusat penelitian. Namun, tak banyak informasi yang bisa didapatkan karena berita itu dicabut beberapa hari setelah terbit. Ini hanya semakin membuatnya curiga.

Perikus berada di sudut ruangan, berdoa dalam hati sambil memegang butiran tasbih. Matanya terpejam, bibirnya bergerak lambat. Meskipun sering memberikan ide-ide konyol, ia memiliki sisi religius yang kuat. Setelah selesai berdoa, ia memasang earphone, memutar lagu rock lawas dengan volume tinggi, menganggukkan kepala mengikuti irama. “Aku harus tenang,” katanya, meski musik keras itu malah memompa adrenalinnya.

Malam tiba. Suara azan berkumandang dari masjid dekat rumah, memantul di dinding-dinding rumah. Kedua sahabat itu bersiap. Mereka mengenakan jaket tambahan karena angin malam di kota bisa menusuk tulang. Tento memeriksa ponsel, memastikan baterai penuh, mematikan lokasi GPS. Ia memasukkan catatan kecil ke saku dalam jaket. Perikus mengambil sarung, melilitkannya di pinggang seperti sabuk, lalu menyelipkan rokok dan korek ke dalam saku besar di depan.

Perjalanan ke Lapangan Tidar memakan waktu sekitar dua puluh menit dengan motor. Jalanan malam itu lebih sepi dari biasanya, lampu-lampu jalan bergantungan di sepanjang trotoar, memancarkan cahaya kuning yang redup. Suara motor yang mereka kendarai menggema di jalanan beraspal halus, menjadi latar belakang keheningan yang menegangkan.

Lapangan Tidar berada di tengah kota, biasanya dipakai untuk pasar malam dan festival rakyat. Tapi malam itu, lapangan terlihat kosong. Lampu-lampu di sekeliling padam, hanya ada beberapa bola lampu redup menggantung di tiang kayu. Angin bertiup pelan, membuat rumput bergoyang seperti bisikan. Dari kejauhan, mereka melihat bayangan tiga orang berdiri di tengah lapangan. Mereka mengenakan jaket gelap dengan tudung kepala, wajahnya sulit dikenali.

Tento dan Perikus mematikan motor beberapa meter dari bayangan tersebut, lalu berjalan kaki. Setiap langkah menimbulkan suara menggesek rumput basah, jantung mereka berdegup kencang. Mereka bisa merasakan bulu-bulu halus di belakang leher berdiri. Mereka saling meremas tangan, tanda keberanian tipis yang mereka miliki.

“Selamat datang,” kata salah satu dari tiga orang itu dengan suara yang terdengar familiar; sama seperti suara di telepon. “Kalian tepat waktu. Bagus.”

“Siapa kalian? Apa tujuan kita ke sini?” tanya Tento, suaranya rendah namun jelas. Ia menjaga jarak, matanya bergerak cepat, mengamati sekitar, mencari tanda kemungkinan pengkhianatan.

“Nama kami tidak penting. Yang penting, kami adalah bagian dari kelompok yang berusaha mengungkap sebuah kejahatan besar. Kejahatan yang dilakukan oleh perusahaan besar dan pejabat tinggi. Mereka sedang mengembangkan sesuatu yang berbahaya di pabrik tua itu,” ujar orang itu. “Kami tidak bisa mengandalkan aparat hukum karena mereka dibeli. Kalian adalah harapan kami. Kami tahu kalian berdua berbeda. Kritis dan konyol. Itu kombinasi yang mereka tidak curigai.”

“Kenapa soto ayam?” tanya Perikus tiba-tiba. “Kenapa pesan itu harus lewat soto ayam? Kenapa nggak lewat bakso atau ketoprak? Aku bingung.”

Orang itu menoleh ke Perikus, tertawa kecil. “Karena salah satu dari kalian suka soto ayam. Pesan lewat makanan favorit selalu berhasil. Selain itu, kami ingin melihat apakah kalian cukup peka untuk menangkap pesan aneh dari nenek misterius. Ternyata, kalian lolos.”

Tento menghela napas, mencoba memproses. “Oke. Lalu apa selanjutnya? Apa yang kalian ingin kami lakukan?” tanyanya.

Salah seorang dari mereka maju, menyerahkan sebuah map coklat. “Di sini ada semua informasi yang kami dapat. Nama-nama, foto, jadwal pengiriman. Kami ingin kalian menyelidiki pabrik itu. Kami tahu kalian pernah ke sana, jadi kalian tahu jalur masuknya. Kalian harus menemukan bukti-bukti. Tapi ingat, kalian tidak boleh tertangkap. Kalau tertangkap, kami tidak bisa menolong.”

Tento menerima map itu, merasakan tekstur kasar kertas di ujung jari. Ia membukanya perlahan. Di dalam, ada foto-foto hitam putih ruangan pabrik: laboratorium, tabung besar, orang-orang mengenakan jas lab. Ada juga catatan tangan yang menjelaskan percobaan berlabel “Project B16,” referensi ke sesuatu yang tidak ia pahami. Ada nama-nama pejabat pemerintah dan perusahaan farmasi asing. Jantungnya berdegup semakin cepat, adrenaline mengalir. Ini lebih besar dari dugaannya.

“Kenapa kalian tidak melakukan sendiri?” tanya Perikus, sekali lagi menghisap rokok hingga bara api merah menyala. “Kami cuma berdua. Kami bahkan nggak punya senjata. Kalian kira kami James Bond dan Mr. Bean?”

Orang ketiga yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. “Kami diawasi. Kami tidak bebas bergerak. Para ilmuwan di dalam pabrik itu dimonitor ketat. Kami butuh orang luar yang tidak terkait. Kami butuh orang yang kalau ketahuan, tidak akan dihubungkan dengan kami. Kalian jawabannya.”

Tento menelan ludah. “Bahasanya begitu,” gumamnya. Ia menatap Perikus yang mengangguk pelan. Mereka berdua tahu, ini sudah di luar rencana mereka untuk sekadar hidup santai. Tapi rasa keadilan dalam diri mereka masih menyala. Masa lalu sebagai aktivis kampus yang pernah melawan korupsi dan ketidakadilan memanggil mereka kembali. Ini bukan sekadar tentang soto ayam.

“Baiklah,” kata Tento akhirnya. “Kami akan coba. Tapi kami butuh bantuan. Kami butuh alat untuk merekam, untuk keluar masuk. Kami butuh rencana yang jelas.” Ia mencoba menyembunyikan rasa takutnya dengan nada suara datar.

Orang itu mengangguk. “Semua kami sediakan. Kalian akan menerima paket lewat kurir besok siang. Di dalamnya ada peralatan yang kalian butuhkan. Peralatan sederhana: kamera mini, kunci palsu, dan peta. Kami juga akan berikan akses ke jaringan informasi. Kita akan saling berkomunikasi lewat kode. Ingat, jangan pernah menghubungi kami langsung. Gunakan kode melalui warung soto ayam. Dan ingat, jam tiga pagi adalah waktu terbaik masuk ke pabrik. Penjaga tertidur, dan sensor inframerah dimatikan karena kalibrasi. Ini kesempatan kalian.”

Angin meniup rambut bergelombang Tento, membuatnya terlempar ke nostalgia saat memimpin demonstrasi dan dikejar polisi. Perasaan itu muncul kembali. Tapi kali ini, ia tidak hanya membawa spanduk, ia membawa rasa tanggung jawab yang lebih luas. Ia berbalik menatap Perikus. Mata sahabatnya penuh tekad meski nampak bayangan kelelahan. Mereka memang kacau, tapi dalam kekacauan mereka ada keberanian yang tidak mereka sadari. Dan dalam humor yang mereka bawa, ada kekuatan untuk melawan ketakutan.

“Baik. Kami mengerti,” kata Tento. “Tapi aku punya satu syarat. Setelah ini selesai, kalian traktir soto ayam sepuasnya.” Ia mencoba tersenyum.

Semua orang tertawa kecil di balik tudung kepala mereka. “Deal,” jawab si suara berat. “Tapi pastikan kalian selamat lebih dulu.”

Pembicaraan selesai, mereka membubarkan diri. Bayangan mereka menghilang di balik pohon-pohon besar di sekitar lapangan. Lapangan kembali sepi, tersisa suara jangkrik dan angin malam. Tento dan Perikus menaiki motor mereka lagi. Perjalanan pulang menembus keheningan memberi mereka waktu untuk merenung. Lampu-lampu kota yang berkelip seperti bintang di bumi menjadi saksi bisu awal sebuah petualangan yang mereka sendiri tidak tahu akhirnya.

Sampai di rumah, mereka duduk di depan rumah kontrakan sambil menyesap teh tawar dan kopi. Rasa pahit dari kopi dan sedikit manis dari teh menghadirkan keseimbangan aneh. Mereka tidak banyak bicara, hanya sesekali saling pandang lalu tertawa kecil untuk melepaskan ketegangan. Di balik tawa itu, mereka menyusun strategi, membuat janji kepada diri sendiri bahwa apapun yang terjadi, mereka akan menghadapi bersama.

Perikus kemudian memecah keheningan. “Bro, kamu pikir kenapa mereka milih kita? Dari ribuan aktivis, kenapa kamu yang mereka sebut? Mungkin karena kamu punya magnet konspirasi yang lebih kuat dari magnet kulkas,” candanya.

“Aku nggak tahu. Mungkin karena memang takdir kita demikian. Mungkin karena semesta percaya orang absurd kayak kamu juga bisa menyelamatkan dunia,” jawab Tento sambil mengangkat mugnya. “Bahasanya begitu.”

Mereka tertawa, lalu terdiam kembali. Malam semakin larut. Bulan naik tinggi, menerangi atap rumah. Di kejauhan, suara anjing melolong, diikuti dengan bunyi motor yang lewat. Mereka tahu, hidup mereka tidak akan sama lagi. Mulai sekarang, setiap langkah akan penuh bahaya dan lelucon yang tak terduga. Dan entah bagaimana, mereka siap untuk itu.

Di balik langit malam, mungkin ada entitas yang menertawakan keberanian mereka, mungkin ada kekuatan yang ingin mereka gagal. Tapi di hati mereka, ada keinginan kuat untuk melihat keadilan terungkap, meski jalannya pelik. Pahit dan manis seperti campuran kopi dan teh yang mereka minum, petualangan ini akan menjadi kisah yang selalu mereka kenang. Mereka menatap purnama, lalu masuk ke rumah untuk tidur sejenak. Esok pagi akan membawa paket aneh dan rencana gila. Untuk sekarang, mereka beristirahat, menyimpan energi untuk menyingkap kebenaran yang siap menyelamatkan soto ayam dan dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!