NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DUPULAU DEWATA DAN JEBAKAB YANG TERENCANA

Udara Jakarta terasa semakin menyesakkan bagi Kira sejak makan malam penuh ketegangan dengan Maura. Namun, pekerjaan tidak bisa menunggu perasaan. Pagi ini, Arlan harus berangkat ke Bali untuk survei lokasi tapak resort di Uluwatu. Awalnya, rencana awal adalah Arlan akan pergi bersama tim arsitek juniornya. Namun, sebuah pesan masuk ke grup koordinasi proyek saat Arlan sedang memanaskan mobil di depan apartemen Kira.

​"Ra, ada yang nggak beres," Arlan mematikan mesin mobilnya, wajahnya tampak gusar menatap layar ponsel.

​Kira yang baru saja hendak memberikan bekal roti lapis terhenti. "Ada apa lagi, Lan? Pesawatnya delay?"

​"Bukan. Maura baru saja mengirim pesan. Dia bilang tim juniorku nggak perlu ikut hari ini karena dia sudah menyiapkan konsultan independen dari Bali yang lebih paham struktur tanah di sana. Dia bilang, 'Cukup Arlan saja yang datang agar diskusi konsep lebih efisien'." Arlan mendesah berat. "Ini jelas taktiknya, Ra."

​Kira terdiam, menyandarkan punggungnya di pintu mobil. "Dan kamu nggak bisa menolak karena dia klien utama?"

​"Secara profesional, dia punya hak untuk menentukan siapa yang hadir di survei pertama. Tapi secara personal... aku benci ini." Arlan keluar dari mobil, menggenggam tangan Kira. "Kamu ikut ya? Aku belikan tiket sekarang."

​Kira tersenyum pahit, lalu menggeleng pelan. "Aku nggak bisa, Lan. Hari ini aku ada deadline revisi desain interior untuk hotel di Kemang. Kalau aku tinggal, kita bisa kena pinalti. Lagipula... kalau aku selalu membuntutimu, Maura akan makin merasa dia berhasil membuatku insecure."

​"Tapi Ra—"

​"Percaya sama aku, Lan. Dan yang paling penting, percaya sama diri kamu sendiri. Kamu ke sana buat kerja, buat masa depan kita. Jangan biarkan dia menang cuma karena dia punya uang dan proyek."

​Arlan menarik Kira ke dalam pelukannya, mencium keningnya lama. "Aku akan telepon kamu setiap jam. Kalau dia macam-macam, aku langsung pulang."

​"Jangan konyol. Selesaikan tugasmu dengan profesional. Aku tunggu di sini," bisik Kira.

​Bandara Ngurah Rai menyambut Arlan dengan hawa panas yang menyengat dan aroma dupa yang khas. Begitu ia keluar dari pintu kedatangan, seorang supir dengan papan nama "Arlan Dirgantara" sudah menunggu. Namun, di samping supir itu, berdiri Maura dengan kacamata hitam besar dan topi pantai yang lebar. Ia mengenakan terusan linen tipis yang sangat kontras dengan kemeja rapi Arlan.

​"Selamat datang di surga, Lan," sapa Maura dengan nada yang terlalu riang.

​"Mana tim konsultan lokalnya?" tanya Arlan tanpa basa-basi, mengabaikan sapaan Maura.

​Maura tersenyum tipis, menyesap air kelapa di tangannya. "Mereka langsung menunggu di lokasi, di tebing Uluwatu. Ayo, mobilnya sudah siap. Perjalanan ke sana sekitar satu jam kalau tidak macet."

​Di dalam mobil, suasana terasa sangat canggung. Arlan terus menyibukkan diri dengan draf di tabletnya, sementara Maura terus mencoba membuka percakapan.

​"Ingat nggak, Lan? Dulu waktu di London, kita pernah berjanji kalau punya uang banyak, kita mau beli tanah di Bali dan bangun rumah tanpa dinding biar bisa lihat laut setiap hari," ucap Maura, matanya menatap pemandangan luar jendela.

​"Itu khayalan anak kuliahan yang belum tahu kerasnya dunia, Mau. Sekarang aku tahu, rumah tanpa dinding itu cuma bakal bikin kita masuk angin dan privasi terganggu," jawab Arlan dingin.

​Maura tertawa kecil. "Kamu jadi sangat praktis dan membosankan sejak sama Kira. Apa dia yang membunuh imajinasimu?"

​Arlan meletakkan tabletnya, menatap Maura tajam. "Kira nggak membunuh apa pun. Dia justru memberiku fondasi. Imajinasi tanpa fondasi itu cuma mimpi buruk yang mahal harganya. Dan soal membosankan... aku lebih suka hidup 'membosankan' yang tenang daripada hidup penuh drama yang melelahkan."

​Maura terdiam, ada kilat kemarahan di matanya, namun ia segera menutupinya. "Kita lihat saja nanti, Lan. Saat kamu lihat tebing itu, jiwa arsitekmu pasti akan bicara lain."

​Lokasi proyek itu memang luar biasa. Sebuah tebing curam yang menghadap langsung ke Samudra Hindia. Ombak besar menghantam karang di bawahnya, menciptakan suara gemuruh yang megah. Namun, begitu sampai, Arlan tidak menemukan siapa pun. Hanya ada lahan kosong yang dipagari.

​"Mana konsultan lokalnya, Mau?" Arlan melihat sekeliling dengan curiga.

​Maura melihat jam tangannya, berpura-pura terkejut. "Oh, astaga! Aku baru dapat pesan. Katanya mereka terjebak upacara adat di desa sebelah, jalanan ditutup total. Mungkin baru bisa ke sini dua atau tiga jam lagi."

​Arlan mendengus, ia tahu ini bohong. "Bagus. Jadi kita di sini cuma berdua?"

​"Kenapa? Kamu takut aku makan?" Maura mendekat, angin kencang meniup rambutnya yang tergerai. "Nikmati saja pemandangannya, Lan. Ayo duduk di sana, ada saung kecil."

​Arlan mengabaikannya dan mulai mengeluarkan meteran laser serta alat surveinya. Ia sibuk mengukur kontur tanah, mencatat koordinat, dan memotret sudut-sudut tebing. Ia bekerja seolah Maura tidak ada di sana.

​"Lan, berhentilah sejenak," Maura menyusulnya ke pinggir tebing. "Kenapa kamu begitu benci padaku? Apa karena aku pergi waktu itu? Aku punya alasan, Lan. Karier keluargaku di Paris sedang di ujung tanduk. Aku harus membantu Ayah."

​"Aku nggak benci kamu, Mau. Benci itu butuh energi. Aku cuma sudah tidak peduli," Arlan terus memotret. "Dan alasanmu pergi itu hak kamu. Tapi memaksaku untuk kembali ke masa lalu itu salah."

​"Bagaimana kalau aku bilang aku menyesal?" Maura meraih lengan kemeja Arlan, memaksa pria itu berhenti. "Bagaimana kalau aku bilang proyek ini cuma caraku buat minta maaf dan memulai lagi?"

​Arlan melepaskan tangan Maura dengan gerakan halus namun tegas. "Maka kamu sudah membuang-buang uang Ayahmu. Karena maafmu aku terima, tapi hatiku sudah penuh. Nggak ada ruang lagi buat kamu, bahkan untuk satu inci pun."

​Tiba-tiba, langit yang tadinya cerah berubah gelap dengan sangat cepat. Bali di musim pancaroba memang tidak terduga. Angin kencang mulai membawa butiran air hujan yang besar. Dalam hitungan menit, badai tropis menerjang tebing itu.

​"Cepat ke mobil!" teriak Arlan.

​Namun, saat mereka berlari menuju tempat parkir, supir tadi sudah tidak ada. Mobilnya hilang. Arlan mencoba menelepon, tapi sinyal di tebing itu mendadak hilang total karena badai.

​"Di mana mobilnya, Maura?!" bentak Arlan di tengah deru angin.

​"Aku... aku nggak tahu! Tadi aku suruh dia beli makan siang ke bawah!" Maura tampak ketakutan, atau setidaknya berakting sangat baik.

​Hujan turun sangat deras hingga jarak pandang hanya satu meter. Mereka terpaksa berlindung di saung kecil yang hanya beratap rumbia tipis. Air mulai merembes masuk.

​"Arlan, aku kedinginan," Maura menggigil, mencoba mendekat ke arah Arlan.

​Arlan melepaskan jaket luarannya yang tahan air dan melemparkannya ke arah Maura. "Pakai itu. Jangan dekat-dekat."

​Arlan berdiri di pojok saung, berusaha mencari sinyal di ponselnya. Pikirannya hanya satu: Kira. Ia tahu Kira pasti sedang menunggunya menelepon. Ia tidak ingin Kira khawatir jika ia hilang kontak.

​"Lan, maafkan aku soal hari ini," bisik Maura, suaranya gemetar. "Aku nggak tahu bakal ada badai seburuk ini."

​"Aku nggak butuh maafmu, Mau. Aku butuh sinyal dan mobil," jawab Arlan ketus.

​Tiba-tiba, Maura bergerak cepat. Ia memeluk Arlan dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung pria itu. "Tolong, Lan... cuma sebentar. Aku kedinginan banget. Anggap saja aku teman lama yang sedang butuh bantuan."

​Arlan mematung. Di saat yang bersamaan, kilat menyambar, menerangi saung itu. Arlan dengan kasar melepaskan tangan Maura.

​"Cukup, Maura! Kamu pikir aku sebodoh itu? Kamu pikir dengan situasi 'terjebak badai' begini aku bakal luluh?" Arlan menatap Maura dengan kemarahan yang meluap. "Kamu nggak kedinginan karena cuaca, kamu cuma haus perhatian. Aku mencintai Kira. Sebelas tahun aku nunggu dia, dan aku nggak akan menghancurkan itu cuma buat satu sore yang menyedihkan bersamamu."

​Arlan berjalan keluar dari saung, membiarkan dirinya basah kuyup oleh air hujan. Ia lebih memilih kedinginan di bawah badai daripada harus terjebak dalam manipulasi Maura.

​Dua jam kemudian, badai mulai mereda. Sebuah mobil jip tua lewat di jalan setapak tebing, rupanya penduduk lokal yang hendak mengecek ternaknya. Arlan segera menghentikannya.

​Begitu sampai di hotel dan mendapatkan sinyal, Arlan melihat ada 25 panggilan tak terjawab dari Kira. Ia segera menelepon balik.

​"Halo, Ra? Ra, maaf... tadi di tebing badai besar dan sinyal hilang," ucap Arlan cepat, suaranya terdengar cemas.

​Di seberang telepon, suara Kira terdengar tenang, namun Arlan bisa merasakan ada getaran di sana. "Lan... Maura baru saja mengunggah foto di Instagram Story-nya."

​Jantung Arlan berdegup kencang. "Foto apa?"

​"Foto jaket kamu yang menutupi bahunya di dalam sebuah saung. Dengan tulisan, 'Terjebak badai bersama orang yang selalu ada buatku. Masa lalu memang nggak pernah benar-benar pergi.'"

​Arlan memejamkan mata, memukul tembok hotel dengan tangannya. "Ra, dengerin aku. Itu jebakan. Aku kasih dia jaket karena dia menggigil, tapi aku bahkan nggak duduk di sampingnya. Aku hujan-hujanan di luar saung."

​"Aku tahu, Lan," suara Kira mulai terisak. "Aku tahu kamu nggak akan melakukan itu. Tapi melihat fotonya... melihat betapa kerasnya dia berusaha merebut kamu... itu sakit banget."

​"Aku pulang sekarang, Ra. Aku nggak peduli proyek ini. Aku akan batalkan kontraknya kalau perlu."

​"Jangan, Lan. Jangan jadi pecundang," Kira menghapus air matanya. "Kalau kamu batalkan, dia akan merasa menang karena sudah merusak kariermu. Selesaikan surveinya besok, pulanglah dengan kepala tegak. Aku nggak akan kalah sama foto Instagram murahan itu."

​"Ra... kamu hebat banget. Aku benar-benar nggak pantas dapetin kamu."

​"Emang nggak pantas! Makanya, jangan berani-berani macam-macam di sana. Dan satu lagi, Lan..."

​"Apa?"

​"Besok kalau survei, jangan kasih jaket kamu ke siapa pun lagi. Biarin dia kedinginan. Kamu denger?"

​Arlan tertawa kecil, rasa sesak di dadanya sedikit terangkat. "Siap, Calon Istri. Aku dengar jelas. Aku cinta kamu, Ra."

​"Aku juga, Lan. Sudah, sana mandi air hangat. Jangan sampai sakit."

​Setelah menutup telepon, Arlan menatap pemandangan laut dari balkon hotelnya. Ia menyadari bahwa Maura bukan hanya ingin merebut hatinya, tapi ingin menghancurkan kepercayaan Kira. Dan ia bersumpah, esok hari, ia akan memberikan "kejutan" profesional yang tidak akan pernah dilupakan oleh Maura Anastasia.

1
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!