Revania Agatha, Ibu muda berusia 32 tahun yang sudah memiliki seorang putra. Terjebak dalam dilema antara bertahan atau pergi disaat rumah tangganya tak lagi membuatnya merasa diinginkan oleh suaminya sendiri.
Nathan Alexander, pria dewasa dan mapan yang masih betah melajang dan disibukkan dengan karir yang dibangunnya. Namun tanpa di duga dirinya justru tertarik pada wanita yang sudah bersuami.
Gimana ya kisahnya, yuk ikutin ceritanya. ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vennyrosmalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Hari keberangkatan keluarga kecil Vania sudah tiba. Resa terus saja bertanya mereka akan pergi kemana. Barang-barang penting sudah diberangkatkan dua hari yang lalu oleh tim perusahaan.
Vania diberitahu oleh Satria jika mereka pindah hanya tinggal membawa diri saja. Semua kebutuhan juga Rumah bahkan sudah disediakan oleh perusahaan pusat.
Vania semakin bersyukur karena suaminya bekerja di perusahaan yang begitu mementingkan karyawannya.
"Wah Bunda, apa kita akan masuk ke dalam sana?" tanya Resa yang berjalan bergandengan tangan dengannya sambil menunjuk pesawat yang dilihat Resa.
"Iya Sayang, Resa tidak takut kan?" tanya Vania balik.
Resa menggelengkan kepalanya, justru Resa sangat antusias akan menaiki pesawat terbang sungguhan. Malah sejujurnya Vania yang sedikit cema menaiki pesawat, sebab ini adalah untuk kali pertama Vania naik pesawat.
"Ayo kita masuk." ajak Satria dan di angguki Vania.
.
.
Begitu duduk di pesawat, Vania rasanya semakin gugup. Entah kenapa perasaannya gelisah saat harus meninggalkan tanah air.
Vania kemudian merangkul lengan Satria dan bersandar untuk mengurangi kegugupannya. Menyadari Suaminya yang menoleh padanya, Vania juga mendongak untuk menatap wajah Satria.
Rasanya sudah lama sekali Vania tidak berada dalam dekapan hangat suaminya. Entah Satria yang berubah atau Vania yang juga jarang bermanja semua berjalan begitu saja.
"Kenapa?" tanya Satria.
"Aku gugup naik pesawat Mas, pinjam bahumu sebentar ya." jawab Vania sembari merekatkan pelukannya di lengan sang suami.
Satria tidak menolak, dia membiarkan Vania bersandar di lengannya. Beruntung Resa sangat anteng di pesawat, jadi Satria tidak perlu repot dengan keduanya.
.
.
Pesawat sudah mengudara selama 8 jam, mereka harus transit dulu di Negara A selama 1 jam sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke Negara tujuan mereka.
Satria mengajak Vania dan Resa ke Restoran yang ada di Bandara karena Vania sama sekali tidak mau memakan makanan yang di sediakan pesawat.
Vania memilih menu makanan nusantara karena memang dia sama sekali tidak suka dengan makanan western atau yang lainnya.
"Saat kita sudah di Negara B kamu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan juga makanannya. Bikin repot saja." keluh Satria pada Vania.
Vania memang merasa kampungan karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Tapi Vania tidak mengambil hati perkataan suami nya yang cukup sarkas untuknya.
"Iya Mas, aku mengerti." hanya itu saja yang selalu Vania katakan karena Vania tidak mau berdebat apalagi di depan Resa.
Setelah menghabiskan makanannya, panggilan untuk perjalanan ke Negara tujuan mereka sudah terdengar. Satria berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan Vania yang berjalan mengimbangi langkah putra mereka.
Karena tidak memperhatikan jalan, Vania dan Resa menubruk seseorang di depannya dengan tidak sengaja.
"Sorry, sorry mister." ucap Vania menggunakan bahasa asing karena mereka ada di Negara A.
Vania kemudian membungkuk untuk memastikan Resa baik-baik saja.
Ketika mengangkat pandangannya, Vania bersitatap dengan Pria Asing dengan wajah tegas dan tatapan yang tajam.
Vania menelan ludah karena mengira pria asing itu pasti akan memarahinya sebab sudah menabraknya.
"Are you okay, Boy?" tanya pria asing itu tiba-tiba.
Vania melongo, dia kira akan di marahi oleh pria itu, namun justru pria tersebut menanyakan keadaan anaknya.
"Bunda." cicit Resa pelan sambil bersembunyi di balik kaki Vania.
"Okay mister, We are Okay." jawab Vania sedikit gugup.
Pria asing itu hanya mengangguk dan Vania mengulas senyum tipis karena tidak mengira pria itu ternyata baik, tidak seperti tampangnya yang cukup sangar.
"Vania." panggil Satria.
"Kamu lama sekali, ayo nanti kita ketinggalan pesawat." gerutu Satria sembari menggendong Resa ke pangkuannya.
Vania berjalan mengekori Satria, namun dia berbalik untuk melihat pria asing yang ternyata juga masih menatapnya.
Vania menganggukan kepalanya tanda berpamitan pada pria asing itu, setidaknya meski tidak akan bertemu lagi Vania harus berlaku sopan pada siapapun yang ditemuinya.
.
.
"Bos." sapa seorang pria pada atasannya yang sedang berdiri menatap ke arah tempat boarding pesawat.
"Kenapa lama sekali?" kesal Pria yang tadi di tabrak oleh Vania pada asistennya.
"Maaf Bos, panggilan alam." jawabnya.
Nathan Alexander, pria dewasa yang tampan dan mapan mendengus sebal karena memiliki asisten yang selalu bertingkah konyol.
Namun dia tidak bisa mengabaikan asistennya yang sudah bekerja dengan baik dan menemaninya dengan setia dari awal membangun karirnya.
"Bos, kenapa lihat kesana terus?" tanya asisten Nathan yang bernama Bram.
"Sudah ayo cepat, kita bisa ketinggalan pesawat." ajak Nathan tanpa menjawab pertanyaan Bram.
Bram akhirnya mengikuti langkah panjang Bos nya karena tidak mau membuat mood sang Bos buruk.
.
.
Akhirnya Vania dan keluarganya sampai di Negara B. Mereka dijemput sebuah mobil yang Satria bilang jika ini juga termasuk fasilitas dari perusahaan.
Vania hanya mengangguk tidak bertanya lagi, sebab dirinya merasakan jetlag yang cukup membuat tubuhnya lemas.
Beruntung Satria berinisiatif mengambil alih Resa dan menggendongnya. Perjalanan menuju rumah pun hanya 1 jam saja.
Vania langsung berpamitan ke kamar pada Satria setelah diberitahu letak kamar mereka. Sementara Satria harus menidurkan Resa terlebih dulu di kamarnya.
"Haahh, lelah sekali." keluh Vania yang langsung merebahkan diri di atas kasur empuknya.
Rasa nyaman di kasur itu membuat Vania tidak lama langsung terlelap tanpa membersihkan diri terlebih dulu.
Satria menyusul kemudian setelah menidurkan Resa di kamar. Dia melihat Vania yang sudah tidur tanpa mengganti pakaiannya lebih dulu.
Satria mendekat perlahan dan duduk di sisi Vania. Melihat wajah Vania yang lelah, Satria tidak tega membangunkannya untuk membersihkan diri.
Mau tidak mau Satria akan menggantikan baju Vania dengan pakaian tidur agar lebih nyaman.
Selesai menggantikan pakaian istrinya, Satria melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan saat itu juga Vania membuka kedua matanya.
"Mas Satria masih mau menggantikan bajuku, tapi apa dia tidak tergoda lagi dengan tubuhku?" gumam Vania.
Sebenarnya saat tangan Satria denga. telaten membuka pakaiannya, Vania sudah terjaga dari tidurnya. Dia ingin tahu apakah suaminya akan membangunkannya jika sudah melihat tubuh naked nya.
Namun Vania merasa Satria justru lurus-lurus saja, sampai selesai menggantikan bajunya. Vania jadi berfikir apakan suaminya itu sudah tidak tergoda dengan tubuhnya.
Padahal Vania merasa tubuhnya tidak berubah meskipun sudah melahirkan Resa. Bisa terhitung dalam sebulan Satria hanya akan melakukan hubungan dengannya sebanyak dua kali.
Tapi Vania tidak mau memikirkan hal itu, karena mungkin suaminya tahu jika dirinya malam ini sudah lelah dalam perjalanan. Vania pun kembali memejamkan matanya untuk tidur beristirahat.
......................