"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai
Sinar matahari musim semi menembus kaca jendela kelas 3-A SMA Fujimi, memantulkan debu-debu halus yang menari di udara yang tenang seperti partikel bintang jatuh. Suara dengung kipas angin di langit-langit bergelombang pelan, menyatu dengan suara monoton guru sejarah yang mengalir seperti aliran air yang tidak pernah berubah arah – sebuah melodi pengantar tidur yang bekerja terlalu baik bagi sebagian besar siswa yang sudah mulai menguap atau menyandarkan kepala di atas meja.
Yuuichi Shiro terbangun dengan napas tersengal, bahunya melompat ke atas seolah terkena kejutan dari dalam diri sendiri. Jantungnya berdegup kencang, kerasnya terdengar di telinganya sendiri seperti gendang perang yang dipukul tanpa jeda. Ia merasa seperti baru saja berlari melintasi gurun yang tak berujung, atau bahkan lebih buruk – berlari dari sesuatu yang mengincar nyawanya di dalam kegelapan yang pekat.
Keringat dingin membasahi tengkuknya, menetes perlahan di atas bekas luka lama yang membentang dari leher hingga bahu kiri – bekas yang selalu ia tutupi dengan kerah tinggi jaket kulit hitamnya yang sudah sedikit aus di sudut-sudutnya.
Matanya yang berwarna merah pekat – warna yang ia selalu sembunyikan di balik tatapan yang terlihat malas dan tidak peduli – kini bergetar hebat, menembus setiap sudut kelas seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Ia melihat tangannya dengan tatapan yang penuh ketakutan dan harapan bercampur. Kulitnya halus, tanpa noda darah yang pernah mengering di sana, tanpa bekas luka bakar yang menyakitkan akibat ledakan yang menghancurkan laboratorium, tanpa rasa dingin menusuk tulang yang pernah diberikan oleh virus Chimera yang merobek sel tubuhnya satu per satu.
"Aku... kembali?"
Bisikannya sangat pelan, hampir tidak terdengar di tengah riuh rendah suara murmur siswa dan dengungan kipas angin. Bibirnya sedikit menggigil saat ia melihat sekeliling kelas – meja-meja yang rapi, papan tulis yang penuh dengan catatan tentang Restorasi Meiji, tas-tas sekolah yang bersusun rapi di bawah kursi. Semuanya sama seperti dulu. Semuanya masih normal.
Ia menoleh ke samping, pandangannya langsung tertuju ke barisan depan. Di sana, Sakura Hoshino duduk dengan punggung tegap, ikat kepala hitam-merahnya yang selalu ia kenakan tepat di tengah dahi membuat helai rambut hitamnya tampak lebih rapi. Gadis itu sedang mencatat dengan tekun, tangan kirinya yang memegang pulpen bergerak dengan ritme yang teratur, sementara tangan kanannya menyusun buku catatan dengan hati-hati.
Pemandangan itu begitu biasa saja, begitu damai hingga membuat dada Yuuichi terasa sesak dan menyakitkan. Ia masih bisa merasakan sensasi menyakitkan di ujung jarinya – sensasi menyentuh wajah Sakura yang penuh dengan darah dan debu saat ia menghancur di tangan monster yang tak dikenal di kehidupan sebelumnya.
Tiba-tiba, sebuah suara sangat familiar menyambar langsung ke dalam kesadarannya – suara feminim dengan nada tajam yang selalu bisa membuat darahnya mendidih dan merindukan pada saat yang sama.
[ SISTEM PENDAKIAN APOKALIPS TELAH DIAKTIFKAN ]
"Oh, lihat siapa yang akhirnya bangun dari tidur cantiknya. Kau terlihat benar-benar menyedihkan, Kakak Bodoh. Apa kau sedang mencoba mengingat bagaimana cara bernapas – ataukah kau sudah lupa karena terlalu lama tenggelam di dalam mimpi burukmu?"
Yuuichi memejamkan mata sejenak, sebuah senyum tipis menyelimuti bibirnya – senyum yang penuh dengan kerinduan dan sedikit kesal. Miu. Masih sama seperti dulu, selalu menyindir namun selalu ada di sana ketika ia membutuhkannya.
"Miu, berapa lama lagi?" – tanyanya dalam hati, tidak perlu mengeluarkan suaranya.
"Enam menit tiga puluh dua detik sebelum acara utama dimulai. Jangan hanya duduk seperti patung kayu yang ditempatkan di taman. Statusmu sekarang memang cukup memuaskan... untuk seorang warga sipil yang dalam hitungan menit akan menjadi makanan untuk makhluk yang tidak punya hati nurani."
Sebuah layar transparan berwarna biru pucat muncul perlahan di depan matanya – hanya bisa dilihat olehnya sendirian. Garis-garis tulisan muncul satu per satu dengan efek cahaya yang lembut.
STATUS KARAKTER
Nama: Yuuichi Shiro
Level: 1
Poin Atribut: 0
ATRIBUT DASAR
Kekuatan (STR): 15
Kelincahan (AGI): 18
Ketahanan (VIT): 12
Kecepatan (SPD): 17
Penyembuhan (REC): 10
Kecerdasan (INT): 20
KETERAMPILAN AKTIF
- Pernapasan Matahari (Tingkat 1)
- Taekwondo Jin Mori (Tingkat 1)
- Keahlian Memasak (Tingkat 3)
Sebuah aliran energi hangat mulai merambat dari bagian tengah dadanya, menyebar perlahan ke seluruh ujung sarafnya seperti air hangat yang mengalir melalui pipa. Itu adalah efek dari paket hadiah yang diberikan oleh dewa sistem sebelum ia dikirim kembali ke masa lalu – sesuatu yang sudah terintegrasi dengan baik ke dalam tubuhnya meskipun levelnya masih rendah.
Ia berdiri secara tiba-tiba, membuat kaki kursinya yang terbuat dari kayu mengeluarkan suara decit yang keras di lantai kayu kelas. Seluruh kelas tiba-tiba sunyi – bahkan siswa yang sedang tertidur pun terbangun kaget. Pak Takagi, guru sejarah yang sedang menjelaskan tentang perubahan sosial setelah Restorasi Meiji, berhenti berbicara dan membetulkan letak kacamatanya yang tergeser.
"Shiro-kun? Ada masalahkah denganmu?" – tanya Pak Takagi dengan nada yang bingung namun tetap sopan.
Yuuichi tidak menjawab langsung. Matanya beralih ke jendela besar di sisi kanan kelas, menatap jauh ke arah gerbang sekolah yang terletak di bagian depan kompleks. Di sana, seorang pria berpakaian lusuh dengan baju yang sobek-sobek sedang berdiri di depan pagar besi. Ia membenturkan kepalanya ke jeruji baja secara terus-menerus – thump... thump... thump – dengan kekuatan yang luar biasa. Darah mulai melumuri permukaan besi yang dingin, namun pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Beberapa guru yang sedang berjalan di halaman mulai mendekat dengan langkah khawatir, ingin memeriksa apa yang terjadi pada pria itu.
Yuuichi tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Guru pertama yang berani menyentuh bahu pria itu akan kehilangan lehernya dalam hitungan detik – rahang makhluk itu akan menggigit dengan kekuatan yang cukup untuk memotong tulang leher seperti pisau memotong mentega.
"Pak," – suara Yuuichi terdengar dalam dan tenang, namun ada kekuatan tersembunyi di dalamnya yang membuat seluruh kelas seketika benar-benar sunyi. "Tutup semua jendela dan kunci pintu kelas sekarang juga. Jangan tunda-tunda."
"Apa maksudmu dengan omongan itu, Shiro? Jangan sekali-kali bercanda di jam pelajaran saya. Kita sedang membahas materi penting yang akan keluar di ujian nasional –"
"LAKUKAN!"
Yuuichi membentak dengan suara yang menusuk, dan untuk sesaat, warna merah matanya berubah menjadi biru es yang sangat tajam. Suatu aura tegang dan menakutkan terpancar dari tubuhnya – cukup kuat untuk membuat Pak Takagi mundur selangkah hingga punggungnya menabrak papan tulis putih, membuat beberapa kapur terjatuh ke lantai.
Sakura Hoshino – sang ketua klub bela diri yang selalu dikenal dengan ketenangan dan kebijaksanaannya – berdiri dengan cepat dari kursinya. Matanya yang besar berwarna coklat tua menatap Yuuichi dengan tatapan penuh keheranan dan sedikit kekhawatiran.
"Shiro-kun, ada apa denganmu? Kau terlihat sangat berbeda dari biasanya. Seperti... seperti kau sudah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui."
Yuuichi menatap Sakura, dan dalam sekejap, seluruh kenangan tentang masa lalu yang menyakitkan menghantam dirinya – bagaimana ia melihat gadis ini berjuang sendirian, bagaimana ia tidak bisa sampai tepat waktu untuk menyelamatkannya. Namun sekarang bukan saatnya untuk nostalgia atau penyesalan.
Ia berjalan mendekat ke arah Sakura, melewati meja-meja siswa yang masih kebingungan dan mulai berbisik satu sama lain. Saat ia berdiri tepat di depan gadis itu, tinggi badannya yang 185 cm membuat Sakura harus sedikit mengangkat kepala untuk melihat matanya.
Tanpa berkata apa-apa, Yuuichi mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut ikat kepala merah yang dikenakan Sakura. Ia merapikannya dengan hati-hati, menyelaraskan bagian yang sedikit bergeser karena gerakan gadis itu saat menulis. Sentuhan itu lembut namun penuh makna – seperti sebuah janji dan peringatan pada saat yang sama.
"Sakura, ambil pedang kayumu yang selalu kamu simpan. Kiamat tidak akan menunggu kita sampai kita merasa siap menghadapinya."
"Heh, romantis sekali ya Kakak. Apa kau ingin aku memutar musik latar untuk momen drama yang penuh dengan sentuhan menyentuh hati ini? Bisa saja aku putar lagu slow yang cocok untuk adegan cinta di tengah akhir dunia lho."
Diam saja, Miu. Siapkan Inventaris untukku. Aku butuh Pedang Nichirin segera setelah segala sesuatunya mulai berantakan. – perintah Yuuichi dalam hati, sambil tetap memegang pandangan dengan Sakura.
Di luar kelas, sebuah teriakan melengking tiba-tiba memecah keheningan yang sudah mulai terasa tegang di sekolah. Teriakan yang penuh dengan rasa sakit yang luar biasa dan kengerian yang murni – suara yang tidak mungkin keluar dari mulut manusia yang normal.
Yuuichi menoleh cepat ke arah jendela tepat saat melihat guru olahraga mereka, Pak Suzuki, terguling di tanah dengan tenggorokan yang robek lebar. Darah mengalir deras ke atas rumput halus halaman sekolah, sementara 'pria' yang tadi membenturkan kepalanya ke pagar sekarang sedang mengoyak daging Pak Suzuki dengan tangan yang sudah berubah bentuk menjadi cakar panjang dan tajam.
Kekacauan sungguhan telah dimulai.
Siswa-siswa di kelas mulai berhamburan ke arah jendela, beberapa di antaranya menjerit histeris saat melihat pemandangan berdarah di luar sana. Suara jeritan dan teriakan mulai terdengar dari koridor dan kelas-kelas lain di sekitar mereka.
Yuuichi tetap berdiri tenang di tengah badai kepanikan yang mulai melanda. Ia mengambil jaket kulit hitamnya yang tersampir di sandaran kursinya, mengenakannya dengan gerakan yang lancar dan tertata – seperti seseorang yang sudah melakukan hal itu ribuan kali sebelumnya. Kulit jaket yang hangat menyelimuti tubuhnya, memberikan rasa nyaman yang ia butuhkan di saat seperti ini.
"Misi Utama sudah muncul belum, Miu?"
"Tentu saja sudah, Kakak. Selamat datang di hari pertama dari sisa hidupmu yang akan penuh dengan darah dan pertempuran. Semoga kau menikmatinya."
[ MISI UTAMA DIAKTIFKAN: SURVIVAL SEKOLAH ]
- Tujuan: Amankan keamanan Chika Kudou (berada di Ruang UKS) dalam waktu 10 menit.
- Hadiah: 5 Poin Atribut & Peningkatan Tingkat Keterampilan Pernapasan Matahari.
- Kegagalan: Kehilangan akses ke sumber daya medis utama dan penurunan stabilitas mental secara drastis bagi seluruh kelompok yang akan terbentuk.
Yuuichi menyeringai tipis – sebuah senyum yang tampak berbahaya namun juga sedikit menawan. Bibirnya sedikit menggerutu. "Chika-sensei, ya? Tunggu saja, aku sudah datang untukmu."
Ia menoleh kembali ke arah Sakura yang masih berdiri dengan wajah pucat, matanya menatap tak bergerak ke arah jendela di mana seorang siswa baru saja ditarik keluar oleh tiga sosok yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi. Yuuichi mencengkeram bahu Sakura dengan cukup kuat, memberikan sedikit tekanan untuk membawanya kembali ke realitas yang menyakitkan ini.
"Ikut aku jika kau benar-benar ingin tetap hidup, Sakura. Dan jangan pernah sekali-kali lepaskan pandanganmu dari diriku. Jangan menyimpang dari jalan yang akan kutunjukkan."
Koridor SMA Fujimi yang biasanya dipenuhi dengan tawa siswa, suara tertawa yang riang, dan langkah kaki ringan saat mereka berlari dari satu kelas ke kelas lain – kini telah berubah menjadi lorong kegelapan dan kematian dalam hitungan detik saja. Suara kaca yang pecah berkumandang seperti petasan, bersahutan dengan jeritan histeris dari dalam kelas-kelas tetangga. Bau tembaga dari darah segar mulai menguar di udara, menggantikan aroma parfum siswa dan wewangian yang biasanya memenuhi koridor. Udara yang sebelumnya terasa membosankan dan hangat kini terasa berat dan menusuk hidung.
Yuuichi tidak punya waktu untuk membuang-buang tenaga. Ia menyambar tas sekolahnya yang terletak di atas meja – bukan untuk mengambil buku atau alat tulis, melainkan untuk memberikan sedikit beban pada ayunan tangannya jika diperlukan dalam pertempuran. Matanya bergerak cepat, mengamati setiap sudut koridor saat ia berjalan, sementara Sakura mengikuti di belakangnya dengan langkah yang sedikit gemetar.
Wajah cantik Sakura – yang biasanya selalu penuh dengan semangat dan senyum – kini tampak pucat seperti kain kertas, matanya yang besar menatap nanar ke arah jendela koridor di mana seorang siswi kelas dua baru saja ditarik keluar oleh makhluk yang kulitnya sudah berubah menjadi warna kebiruan pucat.
"Sakura! Fokuslah!"
Yuuichi meraih jemari tangan Sakura dengan cepat, meremasnya cukup kuat untuk menyampaikan kehangatan dari tubuhnya sekaligus sebagai peringatan agar gadis itu tidak lagi terpana. Kulit Sakura terasa dingin karena ketakutan, namun ada kekerasan tersembunyi di dalamnya yang membuat Yuuichi merasa lega.
"Pedangmu – di mana kamu menyimpan pedang kayumu?"
Sakura mengerjap mata dengan cepat, napasnya tersengal seperti baru saja tercekik. Ia menunjuk ke arah belakang kelas dengan tangan yang sedikit gemetar. "Di... di dalam loker belakang kelas milikku. Tapi Yuuichi-kun, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Guru Pak Suzuki tadi... dia benar-benar memakan orang!"
Yuuichi menghela napas pelan, tidak bisa menyalahkan Sakura karena merasa kaget. Siapa yang bisa menyangka bahwa dunia yang damai bisa berubah menjadi tempat surgawi dalam sekejap?
"Dunia sudah berubah, Sakura. Dan jika kau tidak bergerak sekarang juga, kau akan menjadi bagian dari kegilaan yang sudah mulai menyebar di mana-mana ini."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Yuuichi berjalan dengan langkah lebar namun tetap waspada ke arah loker kayu yang terletak di sudut belakang kelas. Ia membuka pintu loker milik Sakura dengan sedikit kekuatan – kuncinya sudah tidak bisa digunakan lagi karena ia tidak punya waktu untuk mencari kunci. Di dalam loker, sebuah bokken (pedang kayu) yang terbuat dari kayu ek merah yang kokoh terletak rapi di atas bungkusan serbaguna.
Ia menyerahkan pedang kayu itu kepada Sakura, sementara di dalam pikirannya ia memanggil Miu lagi.
Miu, buka Inventaris. Keluarkan Pedang Nichirin untukku sekarang juga.
"Dimengerti, Kakak Bodoh. Sedang menarik barang dari celah dimensi penyimpanan... Jangan salahkan aku jika kamu merasakan sentuhan dingin di dalam kepalamu ya – celahnya memang sedikit dingin seperti lemari es yang tidak pernah dihidupkan."
[ ITEM DIKELUARKAN: PEDANG NICHIRIN (VARIAN BIRU ES) ]
Sebuah pendaran cahaya berwarna biru redup muncul perlahan di genggaman kanan Yuuichi, mulai dengan titik kecil yang kemudian membesar dan memadat menjadi bentuk yang jelas. Sebuah katana dengan sarung pedang berwarna hitam legam muncul di tangannya – gagang pedangnya memiliki ukiran motif es yang tampak se