NovelToon NovelToon
THE DEVIL'S WIFE

THE DEVIL'S WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:

Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.

Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.

Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.

Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.

Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.

Aku melihat kematianku sendiri.

Dan aku tersenyum.

Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.

Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pintu di Dasar Kegelapan

Jam menunjukkan pukul 02:47.

Alea tahu persis kapan Damian Kecil akan muncul. Tiga jam setelah Damian dewasa meminum obat tidur yang diletakkan Rania di atas meja nakas. Tiga jam setelah lampu-lampu mansion diredupkan hingga hanya menyisakan nyala redup dari lampu taman di luar. Tiga jam setelah keheningan menjadi begitu pekat, sampai-sampai Alea bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Ia sudah mempelajari pola ini selama dua belas malam.

Dan malam ini, ia tidak akan menunggu Damian Kecil datang padanya.

Alea bangkit dari ranjang. Kaki telanjangnya menyentuh lantai marmer yang dingin—begitu dingin hingga bulu kuduknya meremang. Ia tidak peduli. Tangannya meraih gagang pintu, memutarnya perlahan.

Terkunci.

Seperti biasa.

Tapi Alea sudah menyiapkan kunci cadangan. Seminggu lalu, saat Rania lengah membawakan kopi, Alea sempat mengambil gantungan kunci yang tergantung di pinggang wanita itu. Ia tidak mengambil semua. Hanya satu. Kunci yang terlihat paling tua, paling usang, dengan kepala kunci berbentuk lingkaran yang sudah memudar.

Kunci itu sekarang tersembunyi di balik bantal.

Alea mengambilnya. Dingin. Lebih dingin dari marmer.

Ia memasukkannya ke lubang kunci. Pelan. Takut suara klik-nya terlalu keras. Tapi kunci itu masuk dengan sempurna, dan pintu terbuka tanpa suara.

Lorong di luar gelap.

Alea sudah hafal setiap sudutnya. Tiga langkah ke kanan, melewati vas bunga kering yang tidak pernah diganti. Tujuh langkah lurus, melewati lukisan pemandangan pegunungan yang matanya seolah mengikuti siapa pun yang lewat. Belok kiri, dan ia akan sampai di tangga menuju basement.

Tangga yang selama ini dijaga ketat oleh dua pria berseragam hitam.

Tapi malam ini, kursi jaga mereka kosong.

Alea menahan napas. Ia merapat ke dinding, menunggu. Tidak ada suara. Tidak ada langkah. Hanya angin malam yang menerobos celah-celah jendela, membawa aroma tanah basah dan… sesuatu yang manis. Busuk.

Seperti bangkai yang terlalu lama membusuk.

Perutnya mual. Tapi ia terus melangkah.

Pintu menuju basement tidak terkunci. Alea tahu karena ia sudah mencoba dari kejauhan—mengirim Damian Kecil untuk memeriksa seminggu lalu. Damian Kecil memang tidak bisa membuka pintu, tapi ia bisa melewatinya. Bocah itu bilang, “Di balik pintu ada tangga. Panjang. Gelap. Aku takut.”

Sekarang Alea yang akan turun.

Tangga itu beton, dingin, dan setiap anak tangga berderit pelan di bawah telapak kakinya. Alea menghitung. Satu. Dua. Tiga.

Creek.

Ia berhenti. Mendengar.

Tidak ada yang mengejar.

Lanjut. Empat. Lima. Enam.

Udara semakin berat. Bukan hanya dingin, tapi juga lembap, seperti masuk ke dalam gua yang tidak pernah tersentuh matahari. Bau busuk itu semakin kuat. Alea menutup hidung dengan ujung lengan bajunya.

Tujuh. Delapan. Sembilan.

Matanya mulai terbiasa dengan kegelapan. Di ujung tangga, samar-samar, ia melihat sesuatu.

Sebuah pintu.

Besi. Tua. Karat menggerogoti hampir seluruh permukaannya, seperti penyakit kulit yang tidak bisa dihentikan. Gagang pintunya berbentuk lingkaran besar, dengan gembok yang sudah berkarat pula. Tapi Alea tahu gembok itu tidak terkunci. Damian Kecil bilang, “Damian dewasa lupa menguncinya. Tapi dia suruh aku jangan masuk. Katanya di dalam ada yang jahat.”

Siapa yang jahat?

Alea meraih gagang pintu. Dinginnya menusuk telapak tangannya. Ia menarik.

Pintu itu terbuka dengan suara pekikan logam yang panjang, seperti tangisan anak kecil yang tertahan.

---

Di dalam ruangan itu, kegelapan bukan sekadar ketiadaan cahaya.

Kegelapan di sini terasa padat, seperti kain beludru hitam yang membungkus Alea dari kepala hingga ujung kaki. Ia meraba dinding di sampingnya—licin, dingin, ada goresan-goresan tajam yang meninggalkan bekas dalam di beton.

Kuku. Atau mungkin… sesuatu yang lebih tajam.

Alea menyalakan ponselnya. Cahaya biru pucat menyapu ruangan itu perlahan.

Dan Alea berhenti bernapas.

Ruangan itu tidak besar. Mungkin hanya dua kali tiga meter. Tapi apa yang ada di dalamnya membuat seluruh tubuh Alea membeku.

Di sudut kiri, ada tumpukan mainan anak-anak. Boneka beruang dengan satu mata, mobil-mobilan yang rodanya copot, buku bergambar yang halamannya robek. Semuanya tertata rapi, seolah seseorang baru saja membereskannya.

Di sudut kanan, ada kasur tipis beralas kardus. Di atasnya, selimut berlumuran noda hitam—darah tua yang sudah membeku berpuluh-puluh tahun.

Tapi yang paling menghentikan detak jantung Alea adalah dinding di hadapannya.

Dinding itu penuh dengan coretan.

Kapur. Atau mungkin kapur dari tulang yang dihaluskan. Warna putih pucat itu bercahaya samar di bawah lampu ponsel, membentuk huruf-huruf yang tidak rapi. Tulisan anak kecil yang baru belajar menulis.

“Aku minta maaf.”

“Aku tidak nakal.”

“Ayah, jangan marah.”

“Aku mau keluar.”

“Aku lapar.”

“Aku takut gelap.”

“Tolong.”

“Aku mau mama.”

“Aku baik.”

“Aku janji tidak akan menangis lagi.”

Alea merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Air mata. Ia tidak tahu sejak kapan menangis.

Tapi ada satu coretan yang berbeda. Paling bawah, hampir menyentuh lantai, dengan huruf yang lebih kecil dan lebih rapi. Seperti seseorang yang sudah kehilangan harapan tapi masih memaksakan diri untuk menulis.

“Aku mati di sini. Yang hidup sekarang bukan aku.”

Alea teringat buku harian yang ia temukan minggu lalu. Halaman terakhir dengan tulisan yang sama.

“Aku mati di sini.”

Tangannya gemetar. Ia menyentuh dinding itu, meraba goresan-goresan kasar yang dibuat oleh jari-jari mungil. Bukan kapur. Bukan kapur dari tulang.

Kuku.

Anak kecil itu menggores dinding dengan kukunya sendiri sampai berdarah, hanya untuk menulis kata-kata itu.

“Damian…” bisik Alea. Suaranya pecah.

Ia membalikkan badan. Cahaya ponsel menyapu sudut ruangan yang belum tersentuh.

Dan di sana, di pojok paling gelap, ada sebuah cermin.

Cermin besar dengan bingkai kayu hitam. Permukaannya retak, seperti pernah dihantam benda keras. Tapi Alea bisa melihat pantulan dirinya di sana—wajah pucat, mata sembab, rambut acak-acakan.

Dan di belakang pantulannya, sesosok anak kecil berdiri.

Alea berbalik cepat. Tidak ada siapa-siapa.

Ia menatap cermin lagi. Sosok itu masih ada. Damian Kecil. Dengan piyama biru yang terlalu besar, rambut kusut, mata hitam legam yang tidak pernah berkedip.

“Kak…” suara Damian Kecil tidak datang dari arah cermin. Tapi dari dalam kepala Alea. Atau dari dinding. Atau dari lantai. Ia tidak tahu.

“Kak, kenapa kakak masuk ke sini?” tanya Damian Kecil. Bibirnya di cermin tidak bergerak, tapi suaranya terdengar jelas. “Aku bilang jangan masuk. Di sini jahat.”

“Ini ruanganmu?” tanya Alea. Ia mencoba menenangkan suaranya. Gagal.

Damian Kecil di cermin menggeleng pelan. “Bukan. Ini ruangan Damian Kecil yang dulu. Yang sekarang aku tinggal di dalam kepala Damian dewasa.”

Alea merasakan dadanya sesak. “Kamu… kamu dulu dikurung di sini?”

“Iya.” Damian Kecil tersenyum. Tapi senyum yang salah. Terlalu polos untuk tempat sekotor ini. “Ayah marah karena aku tidak mau bunuh anjing. Kata Ayah, anak lelaki harus tegar. Kalau tidak tegar, bukan anak Ayah.”

Alea menggigit bibir bawahnya. Darahnya terasa asin.

“Lama?” tanyanya.

“Tiga bulan.” Damian Kecil menunduk. “Tapi aku tidak tahu. Aku lupa hitung hari. Cuma ingat kalau gelap terus. Dan dingin. Dan ada bau.”

“Bau apa?”

Damian Kecil diam sejenak. Lalu ia menunjuk ke sudut lain ruangan yang belum tersentuh cahaya ponsel. Alea mengarahkan lampunya ke sana.

Dan ia melihat tulang-belulang.

Bukan tulang hewan. Tulang manusia. Telapak tangan yang masih utuh, jari-jari yang mengkerut, pakaian wanita yang sudah lapuk.

Alea mundur tiga langkah. Punggungnya membentur dinding dingin. Ia ingin berteriak, tapi suaranya mati di tenggorokan.

“Itu ibu tiri aku,” kata Damian Kecil datar. “Ayah bunuh dia di sini. Biar aku lihat. Kata Ayah, kalau aku tidak menurut, nasibku sama.”

“Dia… dia membunuhnya di depanmu?”

“Iya. Lalu Ayah pergi. Aku di sini sama mayatnya. Tiga bulan.” Damian Kecil mengangkat wajahnya. Di cermin, air mata mengalir di pipi bocah itu. Tapi Alea tidak mendengar isak. Hanya kesunyian. “Aku ngobrol sama dia, Kak. Setiap hari. Sampai suatu hari dia tidak bau lagi. Dan aku… aku lupa wajahnya.”

Alea ingin berlari. Tapi kakinya tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa berdiri di sana, dengan cahaya ponsel yang perlahan redup karena baterai menipis, sementara Damian Kecil terus bicara.

“Damian dewasa itu aku yang memutuskan untuk tidak ingat. Dia bunuh aku di sini. Tapi aku tidak mati. Aku cuma tidur. Sampai kakak datang.”

“Aku?” Alea berkedip. “Kenapa aku?”

“Karena kakak bisa lihat aku. Yang lain cuma lihat Damian dewasa.” Damian Kecil mendekat ke cermin. Wajahnya membesar di permukaan retak itu. “Kakak, tolong aku.”

“Tolong apa?”

“Bunuh Damian dewasa.”

Alea tersentak. “Apa?”

“Kalau Damian dewasa mati, aku bisa hidup. Aku bisa keluar. Aku bisa jadi Damian lagi. Yang asli.” Damian Kecil menempelkan telapak tangannya di sisi cermin yang retak. “Aku janji tidak akan jahat. Aku cuma mau main di luar. Aku mau lihat matahari. Aku mau makan es krim. Kak, tolong…”

“Aku tidak bisa membunuh orang,” bisik Alea.

“Tapi kakak lihat, kan? Damian dewasa akan mati ditikam istrinya. Itu kakak. Kakak yang bunuh dia.”

Alea membeku.

Visi itu. Damian mati di tangannya. Ia pikir itu hanya kemungkinan. Tapi Damian Kecil bicara seolah itu sudah pasti.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena aku yang kasih visi itu ke kakak.” Damian Kecil tersenyum lagi. Kali ini senyumnya berbeda. Tidak polos. Tapi licik. Terlalu licik untuk anak seusianya. “Aku bisa lakukan itu. Aku kirim mimpi, aku kirim visi, aku buat orang lihat apa yang aku mau. Aku cuma butuh kakak untuk melakukan sisanya.”

Alea mundur. Dadanya naik turun. “Kamu… kamu yang mengirim visi itu?”

“Iya.” Damian Kecil mengangguk. “Aku mau kakak takut. Aku mau kakak benci Damian dewasa. Aku mau kakak siap bunuh dia. Karena cuma itu caranya aku bisa keluar.”

“Kamu jahat,” bisik Alea. Bukan tuduhan. Hanya fakta yang baru ia sadari.

“Aku cuma anak kecil yang dikurung tiga puluh tahun,” balas Damian Kecil. Suaranya bergetar. “Kamu nggak tahu rasanya dikubur hidup-hidup di dalam tubuh sendiri. Melihat tangan ini membunuh orang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mendengar Damian dewasa bilang aku sudah mati, padahal aku di sini, mengetuk-ngetuk, berteriak, tapi dia tutup telinga. Tiga puluh tahun, Kak. Tiga puluh tahun.”

Alea menutup mulutnya dengan tangan. Air mata mengalir deras.

“Aku bukan jahat. Aku cuma lelah,” kata Damian Kecil pelan. “Kak, tolong aku.”

---

Baterai ponsel mati.

Kegelapan menyergap dalam sekejap.

Alea tidak bisa melihat apa-apa. Tapi ia bisa mendengar suara Damian Kecil bergema di seluruh ruangan, dari dinding, dari langit-langit, dari lantai.

“Kak, jangan takut. Aku di sini.”

“Aku tidak takut padamu,” jawab Alea. Suaranya gemetar, tapi ia memaksakan tenang.

“Kak, cepat keluar. Damian dewasa bangun.”

Alea meraba dinding. Tangga. Ia harus menemukan tangga.

“Dia tahu kakak di sini,” lanjut Damian Kecil. “Dia marah. Aku dengar dia marah.”

Alea menemukan anak tangga pertama. Ia memanjat cepat, tanpa peduli lututnya tergores besi karat.

“Kak, maafkan aku.”

Suara Damian Kecil mulai memudar.

“Maafin aku karena aku tipu kakak.”

Alea terus memanjat. Tiga anak tangga. Empat. Lima.

“Tapi aku sayang kakak.”

Enam. Tujuh. Delapan.

“Aku sayang kakak karena kakak satu-satunya yang lihat aku.”

Sembilan.

Alea mencapai pintu basement. Ia mendorongnya—terkunci.

Tidak. Tidak. Tidak!

Ia mengguncang gagang pintu. Tak bergerak.

“Dia kunci dari luar,” bisik Damian Kecil. “Kak, aku cuma mau kakak tahu… aku nggak bakal biarin kakak mati di sini. Janji.”

Alea mendengar suara langkah kaki di balik pintu.

Langkah berat. Lambat. Disengaja.

Damian dewasa.

Alea memukul-mukul pintu besi itu. “Damian! Buka!”

Tidak ada jawaban. Tapi langkah itu berhenti tepat di depan pintu.

Kelebatan bayangan di celah bawah pintu. Damian berdiri di sana.

“Alea.”

Satu kata. Dingin. Dalam. Tanpa emosi.

Alea berhenti memukul. Dadanya naik turun. Ia menempelkan telinga ke pintu.

“Aku tahu kau di dalam,” kata Damian. Suaranya terdengar jelas, seperti ia berbicara tepat di depan hidung Alea. “Kau lihat semuanya?”

Alea tidak menjawab.

“Kau lihat ruangan itu. Kau lihat coretan. Kau lihat tulang.”

Masih diam.

“Sekarang kau tahu.” Damian menarik napas panjang. “Kau tahu monster macam apa yang kau nikahi.”

Alea menggigit bibir.

“Aku akan buka pintu ini,” lanjut Damian. “Tapi sebelum itu, aku ingin kau dengar satu hal.”

Alea menunggu.

“Damian Kecil yang kau lihat itu… dia bukan korban.”

Alea membeku.

“Dia yang mengunci aku di sini tiga puluh tahun lalu. Dia yang memaksa aku menjadi monster. Dan sekarang… dia mau kau bunuh aku.”

“Kau bohong,” bisik Alea.

“Aku tidak pernah bohong.” Suara Damian datar. Membeku. “Aku tidak bisa bohong. Karena aku bukan manusia. Aku cuma… apa yang tersisa setelah Damian Kecil membunuh semua yang baik dalam diriku.”

Alea merasakan dingin menjalari tulang punggungnya.

“Sekarang,” kata Damian. “Kau pilih. Kau mau tetap di sana bersama Damian Kecil? Atau kau mau keluar dan menghadapi monster yang sebenarnya?”

Alea mendengar bunyi kunci berputar.

Pintu terbuka perlahan.

Di balik pintu, Damian berdiri dengan setelan hitam rapi, wajah tanpa ekspresi, mata hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya apapun.

Tapi di tangannya, ia memegang pisau.

Bukan untuk menikam Alea. Pisau itu ia sodorkan dengan gagang menghadap ke depan.

“Ini,” kata Damian. “Kau bisa bunuh aku sekarang. Atau kau bisa bunuh Damian Kecil di dalam kepalaku. Pilih.”

Alea menatap pisau itu. Lalu menatap mata Damian.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di sana.

Bukan kegelapan.

Tapi air mata yang tidak pernah jatuh.

---Bersambung---

Hai Raiders.....

Bagaimana? Jantung kalian berdegup kencang juga, kan?

Damian Kecil yang selama ini kita kira korban, ternyata punya sisi lain. Damian dewasa yang dingin, ternyata menyimpan luka yang bahkan lebih dalam. Dan Alea... gadis yang hanya ingin menyelamatkan, sekarang terjebak di antara dua jiwa yang sama-sama membutuhkannya.

Kalau kalian penasaran—

✨ Apa yang akan Alea pilih? Membunuh Damian dewasa, atau membiarkan Damian Kecil terkubur selamanya?

✨ Siapa sebenarnya yang mengirim visi kematian itu? Damian Kecil? Atau ada kekuatan lain yang lebih tua dan lebih gelap?

✨ Dan satu pertanyaan yang belum terjawab: mengapa Damian dewasa tidak pernah menyentuh Alea?

Jawabannya ada di bab-bab selanjutnya. Dukung terus cerita THE DEVIL'S WIFE dengan like, komen, dan share ke teman-teman kalian. Setiap vote kalian adalah energi untuk Damian Kecil agar tidak tenggelam dalam kegelapan. Setiap komen kalian adalah cahaya untuk Alea agar tetap kuat.

Sampai jumpa di Bab berikut

1
Amelia
Ceritanya penuh misteri Dokter RSJ vs Monster pasangan yang cocok jiwa mereka sama" kayak tidak memiliki Jiwa dan sakit jiwa😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!