Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA SANG RATU MAFIA
Pintu katedral besar di Berlin terbuka perlahan, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menyinari lorong panjang menuju altar. Musik organ menggema megah, namun seketika hening saat sosok wanita di ambang pintu melangkah maju.
Jaydane Shelby, pria yang dikenal berhati es dan tak punya belas kasihan, berdiri kaku di depan altar. Saat matanya menangkap sosok Flaire, pertahanannya runtuh. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Jaydane menunduk, bahunya sedikit bergetar saat ia mencoba menahan air mata haru yang mendesak keluar.
Ia tidak pernah menyangka, setelah empat tahun neraka, ia bisa melihat wanita ini berjalan ke arahnya dengan gaun putih.
Di depan Flaire, Jorden berjalan dengan bangga membawa bantalan beludru berisi cincin pernikahan. Bocah kecil itu tampak menggemaskan dengan tuksedo mini yang senada dengan ayahnya, sesekali melambai ke arah kerumunan.
Seluruh tamu yang hadir yang terdiri dari para gembong mafia internasional, bos kartel, dan miliarder kelas atas ternganga tanpa suara. Mereka terbiasa melihat model-model cantik, namun Flaire berada di level yang berbeda.
Flaire tampak jauh lebih dewasa dari usianya yang baru sembilan belas tahun.
Gaun pengantin yang dirancang khusus itu memeluk tubuhnya dengan sangat provokatif namun elegan. Hourglass body miliknya yang menyerupai gitar Spanyol terpampang nyata; pinggangnya yang sangat kecil kontras dengan dada sintal padat yang menyembul indah di balik potongan sweetheart neckline, serta bokong super semok yang menonjol sempurna saat ia melangkah. Kulitnya yang putih bening seolah bercahaya di bawah lampu kristal, kontras dengan rambut pirang madunya yang tergerai indah.
Para bos mafia di barisan depan mulai saling berbisik, mata mereka tak lepas dari Flaire, namun mereka segera menunduk saat Jaydane mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan maut yang memperingatkan siapa pun yang berani menatap istrinya terlalu lama.
"Pilihan bos kita benar-benar bukan main-main," bisik salah satu kepala keluarga mafia dari Rusia kepada rekannya. "Mantan kekasih yang sempat ia benci, malah ia beri anak hingga sampai ke ikatan suci ini."
"Benar," sahut yang lain dengan nada ngeri sekaligus kagum. "Sedangkan mantan tunangannya dikirim langsung dengan tiket kelas satu ke neraka, hanya demi meresmikan masa lalunya menjadi masa depannya. Shelby benar-benar iblis yang sedang jatuh cinta."
Flaire akhirnya sampai di depan Jaydane. Jaydane mengulurkan tangannya yang besar, menyambut tangan mungil Flaire yang gemetar. Ia mengecup punggung tangan itu lama, menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya gila.
"Kau sangat cantik, Little Bird. Terlalu cantik sampai aku ingin menyembunyikanmu dari semua mata pria di ruangan ini," bisik Jaydane, suaranya serak karena emosi.
Flaire tersenyum, matanya yang Crush Green berkaca-kaca. "Kau sudah memilikiku, Jay. Selamanya."
Pendeta memulai upacara, namun suasana di dalam katedral itu lebih terasa seperti penobatan seorang Ratu daripada sekadar pernikahan. Di hadapan ribuan saksi dari dunia bawah, Jaydane Shelby secara resmi menyatakan bahwa Flaire adalah dunianya, hukumnya, dan satu-satunya orang yang memegang kendali atas hidupnya.
Saat mereka bertukar cincin, Jorden menarik jas Jaydane. "Papa, apa Mama sekarang sudah jadi milik kita selamanya?"
Jaydane menggendong Jorden dengan satu tangan dan merangkul pinggang semok Flaire dengan tangan lainnya. "Ya, Jagoan. Selamanya. Dan siapa pun yang mencoba memisahkan kita, akan berakhir seperti abu."