Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”
Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh di Ruang Batin
Matahari mulai condong ke ufuk barat ketika Li Fan dan Jin Tianyu melangkah keluar dari Kedai Angin Awan. Berbekal informasi yang cukup dari pelayan tadi, Li Fan memimpin jalan menuju deretan asrama kayu di pusat Pos Pertama.
Setibanya di depan bangunan asrama terbesar, seorang penjaga berpakaian abu-abu mencegat mereka dengan wajah masam.
“Kamar biasa sudah penuh. Kalau kalian mau tidur, cari saja tempat di lorong atau di bawah pohon,” ucap penjaga itu dengan nada meremehkan.
Li Fan tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia langsung merogoh kantongnya dan melemparkan dua keping emas utuh yang berbunyi nyaring saat berbenturan dengan meja kayu penjaga. Mata penjaga itu langsung membelalak lebar, sikap masamnya seketika berubah menjadi senyuman pelayan yang paling ramah.
“Tuan Muda! Silakan, silakan! Kami masih memiliki satu kamar kelas atas di paviliun sayap timur. Kamar itu memiliki ranjang yang hangat dan formasi pengumpul Qi tingkat rendah. Sangat cocok untuk Tuan Muda yang terhormat!” kata penjaga itu sambil membungkuk berkali-kali.
Li Fan hanya mendengus pelan dan mengambil kunci kayu yang disodorkan. Ia dan Jin Tianyu segera menuju kamar yang dimaksud. Begitu pintu ditutup dan dikunci dari dalam, Li Fan menghela napas panjang dan melepaskan postur angkuhnya.
Li Fan menatap Jin Tianyu yang masih berdiri canggung di tengah ruangan, memandangi kemewahan ranjang giok yang memancarkan pendaran hijau pucat.
“Duduklah, Tianyu. Jangan biarkan matamu tertipu oleh batu berkilau itu. Malam ini, kita akan mulai merombak nasibmu,” ucap Li Fan. Suaranya tidak lagi cempreng khas bocah, melainkan berat dan penuh otoritas.
Jin Tianyu menelan ludah, lalu duduk bersila di lantai kayu sesuai instruksi. “Tuan Muda... maksud saya, Li Fan, apa yang harus saya lakukan? Saya merasa tubuh saya sangat kaku setelah mendaki tangga tadi.”
Li Fan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Jin Tianyu. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan aliran darah dan kepadatan tulang temannya. “Fisikmu adalah modal utamamu. Kau hidup di hutan, bergulat dengan binatang buas, dan memakan daging mentah. Itu membuat tulangmu sekeras baja fana, tapi meridianmu tersumbat oleh kotoran duniawi. Teknik pernapasan sekte besok hanya akan membuatmu sesak napas. Ikuti kata-kataku.”
Li Fan mulai mendiktekan bait-bait kuno dari Teknik Penguatan Tulang Harimau Langit. Ini adalah teknik dasar di Alam Dewa, namun bagi penghuni dunia fana, ini adalah kitab suci yang bisa memicu peperangan antar negara. “Tarik napas melalui hidung, bayangkan udara itu adalah cairan panas yang masuk ke sumsum tulangmu. Tahan di sana. Rasakan tulangmu bergetar. Jangan lepaskan sampai kau merasa tulangmu akan retak.”
Jin Tianyu mencoba. Wajahnya segera memerah, keringat sebesar biji jagung mulai muncul di dahinya. Ia mengerang pelan, namun Li Fan menekan bahunya dengan keras. “Tahan! Jika kau menyerah sekarang, kau akan tetap menjadi pelayan selamanya. Jadilah bejana yang kuat, Tianyu!”
Melihat Jin Tianyu mulai memasuki kondisi meditasinya, Li Fan perlahan melepaskan tangannya. Ia berjalan menuju ranjang giok, duduk bersila, dan menghela napas panjang. Sekarang, giliran dirinya.
Selama menjadi tuan baru di tubuh ini, Li Fan tidak pernah benar-benar mencoba berkultivasi. Ia tahu, tanpa lingkungan yang kaya Qi, mencoba mendobrak gerbang nadi hanya akan merusak fondasinya. Namun sekarang, di kaki gunung sekte ini, energinya cukup untuk memulai.
Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya terjun ke dalam kegelapan batinnya.
Dalam ingatannya, ia adalah Su Fan. Seorang pangeran di Alam Dewa yang memiliki segalanya kecuali kemampuan untuk berkultivasi. Tubuhnya yang memiliki Sepuluh Ribu Akar Spiritual adalah sebuah ironi kosmik—terlalu banyak jalan sehingga tidak ada energi yang bisa mengalir. Ia menghabiskan ribuan tahun hanya membaca, menghafal setiap teknik, setiap hukum, dan setiap rahasia alam semesta, berharap suatu hari keajaiban terjadi.
Keajaiban itu adalah kematian, dan reinkarnasi ke tubuh bocah bernama Li Fan ini.
“Mari kita lihat modal apa yang aku punya kali ini,” bisiknya dalam batin.
Kesadarannya menyapu Dantian—pusat energi di bawah pusar. Di sana, ia melihat lima untaian cahaya redup dengan warna berbeda: merah, biru, kuning, hijau, dan emas.
Merah mewakili Api, Biru mewakili Air, Kuning mewakili Angin, Hijau mewakili Kayu, dan terakhir Emas mewakili Logam.
“Lima Akar Spiritual Semu,” Li Fan mendesah, namun ada nada syukur di sana. “Bagi para Tetua sekte ini, aku adalah sampah yang tidak punya masa depan. Tapi bagiku... ini adalah kanvas kosong yang sempurna. Dibandingkan dengan kutukan sepuluh ribu akar spiritual dulu, lima akar ini adalah jalan bebas hambatan.”
Ia mulai menarik napas, mencoba memutar teknik pernapasan pertamanya. Namun, tepat saat ia menyentuh Hukum Ruang dan Waktu yang ia pahami dari pencerahan kehidupan sebelumnya, ruang batinnya berguncang hebat.
Dunia hitam yang sunyi itu tiba-tiba meledak.
Kegelapan itu terkoyak, digantikan oleh hamparan galaksi yang berputar dengan kecepatan cahaya. Bintang-bintang lahir dan mati dalam hitungan detik di hadapan kesadarannya. Dan di pusat segala kekacauan kosmik itu, muncul sebuah entitas yang membuat jiwa Li Fan bergetar hebat.
Sebuah jam pasir emas raksasa.
Ukurannya melampaui imajinasi, puncaknya seolah menyentuh langit tertinggi dan dasarnya tertanam di dasar samudera jiwa. Pasir di dalamnya bukanlah pasir biasa, melainkan butiran cahaya keemasan yang berkilau. Tepat saat Li Fan memperhatikannya, butiran pertama jatuh. Ting.
Suara itu bergema ke seluruh dunia luar.
Tanpa disadari Li Fan, di Paviliun Sayap Timur, udara seolah tersedot habis. Selama sepersekian detik, seluruh energi spiritual di wilayah Pos Pertama menghilang, masuk ke dalam pori-pori kulit Li Fan dalam satu tarikan napas tunggal yang mengerikan.
Di puncak gunung, beberapa Tetua yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka mata. Wajah mereka pucat pasi.
“Apa itu tadi? Qi spiritual menghilang?”
“Hanya sesaat... apakah ada ahli tingkat tinggi yang lewat?”
Mereka mencari, namun tidak menemukan apa-apa. Fenomena itu terlalu singkat, terlalu bersih, seolah-olah alam semesta sendiri yang mengambil kembali energinya.
Di dalam ruang batin, Li Fan tertegun menatap jam pasir itu. “Apa yang terjadi? Mengapa Dao Ruang dan Waktuku bermanifestasi menjadi benda ini?”
Ia mencoba keluar, mencoba membuka matanya di dunia nyata, namun ia gagal. Kesadarannya seolah dipaku di hadapan jam pasir emas itu. Ia melihat pasir emas itu turun dengan sangat lambat.
“Aku terjebak,” gumam Li Fan. “Jika aku tidak bisa keluar, maka aku akan menggunakan waktu ini. Jika pasir ini adalah hitungan umurku di sini, maka aku harus menjadi kuat sebelum butir terakhir jatuh.”
Ia duduk bersila di bawah bayangan jam pasir raksasa. Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, Li Fan mulai benar-benar mengolah Qi. Ia membimbing energi yang terserap tadi menuju gerbang nadi spiritual pertamanya.
Rasa sakitnya luar biasa. Tubuhnya yang kecil bergetar hebat. Gerbang itu terasa seperti dinding baja yang tebal. Li Fan menggertakkan gigi imajinernya. “Dulu aku hanya bisa membaca tentang rasa sakit ini. Sekarang, biarkan aku merasakannya sepenuhnya!”
Dengan pengetahuan tentang titik terlemah meridian, ia memusatkan Qi-nya menjadi seujung jarum yang tajam.
DUAR!
Gerbang pertama hancur.
Jalur energi pertama terbuka.
Li Fan merasa seolah ada aliran air sejuk yang mengalir di lengannya. Ia ingin bersorak, namun ia tidak berhenti. Ia tahu, jam pasir itu tidak akan menunggunya.
Cerdas...
Lucu...